
Mia dengan hati penuh dongkol dan dada naik turun terbakar cemburu, berjalan melenggak-lenggok bak Putri yang turun dari kereta kencana.
Berusaha mengumpulkan kharisma diri dan tatapan tajam penuh arti.
Mia sebenarnya tidak tau apa itu kharisma atau segala macam nya, tapi karena pengalaman pernah menonton film Drakor favorit nya , terbesit ingatan untuk mengikuti gaya artis favoritnya yang kebetulan pada saat itu sedang menunjukkan sebuah adegan tentang perlawanan nya saat menghadapi wanita yang merebut kekasihnya.
Yuri tak ketinggalan gaya. Di buat setegas mungkin seolah seorang pengawal pribadi andalan Sang Putri Raja yang sedang mengantar Tuan Putrinya menemui tamu penting nya.
Dari jauh mereka sudah bisa melihat , masih ada kakek Abian dan Nenek Sulis di sana. Sementara di depan mereka duduk seorang wanita seksi yang cantik.
"Itu yang namanya Citra?" bisik Mia, hati nya mendadak gentar.
"Mungkin, siapa lagi..Aku juga belum melihat nya." jawab Yuri, ia menanggap kegentaran di wajah Mia.
"Mia, jaga kharisma mu. Jangan sampai gentar menghadapi ulet bulu macam itu." ucap Yuri mengingatkan Mia.
Mia mengangguk, sebelum melanjutkan langkah nya Mia berhenti sejenak. Mengatur nafas dan memfokuskan pikiran.
'Kuat....kuat....Harus Kuat...?' lalu melangkah kembali.
Mendengar derap langkah mendekat, mereka serempak menoleh.
Ketiganya membelalakkan mata. Nenek Sulis sempat terkejut melihat penampilan Mia yang tak seperti biasa.
'Ya Tuhan....Cucu menantu ku. Benarkah...???' hatinya rasa tak percaya.
Begitu juga dengan Kakek Abian. ' Ini benar si Mia. Kok jadi macam Cinderella begini? Di pakek in apa an sama si Yuri.'
Citra pun tak beda dengan mereka, terbelalak. " Sialan... Cantik juga istri Garra. Pantas saja Garra kelimpungan di buat nya." batin Citra, mulai syok dan patah harapan.
Sungguh di luar bayangan yang di pikirkan Citra. Jika sosok Mia adalah wanita kumel yang kampungan. Tapi yang saat ini sudah berdiri di hadapan nya adalah wanita yang cantik, anggun dan penuh kharisma. Tatapan mata tajam yang sulit di tebak. Itu lah sosok asli Mia yang di tangkap oleh Citra saat ini.
Mia menatap Citra, lalu tersenyum tipis, sengaja di miringkan hingga terlihat sinis.
Lalu menoleh pada Kakek dan Nenek nya yang masih terpana menatapnya.
"Kek.. Nek.. ada apa memanggil saya?" tanya Mia, lembut.
"Oh, Mia. Ini ada tamu. Anu... dia ini. Em... Mungkin suami mu sudah pernah menceritakan nya padamu tentang dia kan.?" ucap Nenek Sulis, sambil mengedipkan matanya pada Mia.
Mia sempat bingung maksud Nenek karena memang Garra belum pernah bercerita apa apa padanya. Tapi Yuri yang tanggap langsung mencubit pinggang Mia , berusaha memberi kode halus pada Mia. Beruntung pada saat itu otak Mia berjalan encer.
Mia mengangguk, dan kembali tersenyum pada Wanita di hadapan nya itu.
Citra membalas senyuman Mia. Lalu mengulurkan tangan nya. " Perkenalkan , nama saya Citra."
Melihat itu, Yuri cepat menyambut tangan Citra.
"Nama nya Mia , nona. Tapi anda harus memanggilnya Nyonya Muda Mahendra. Dan maaf. Saya yang mewakili tangan Nyonya muda. Sebab Tuan muda Garra tidak mengijinkan siapapun menyentuh Nyonya Muda tanpa ijin dari nya. Mohon maaf. Ini sudah peraturan dari Tuan muda. Saya sebagai pengawal pribadi Nyonya muda hanya menjalankan perintah." ucap Yuri dengan tegas, lalu melepaskan jabatan tangan nya.
Citra terperangah. Dengan wajah memerah menahan malu, akhirnya mengangguk berat. Lalu duduk kembali.
Sementara Kakek dan Nenek saling berpandangan. Sempat kagum dengan akting kedua kakak beradik itu. 'Sungguh sempurna.'
__ADS_1
Yuri menepuk nepuk sofa untuk memastikan jika sofa itu nyaman dan bersih, sesaat sebelum mempersilahkan Mia untuk duduk, sementara Yuri sendiri duduk di sebelah Mia.
Sesaat semua nya terdiam.
Citra yang tadinya sangat penasaran dengan wajah Mia dan punya rencana untuk menyingkirkan Mia, tiba tiba saja down. Melihat betapa Mia di perlakukan bak Permaisuri Raja dan wajah penuh keanggunan dan wibawa kuat, otak nya mendadak berhenti berpikir. Dandanan serta perhiasan yang sempurna, belum lagi pengawal pribadi yang seperti nya bukan orang sembarangan meskipun seorang wanita.
Mia terlihat menarik nafas. " Saya tau anda siapa dan hubungan anda dengan suami saya di masa lalu. Jadi saya berhak bertanya pada anda Nona. Ada kepentingan apa Nona berkunjung kemari.?" tanya Mia pada Citra.
Membuat Yuri, Kakek dan Nenek Garra hampir pingsan. Tidak menyangka suara itu benar benar keluar dari mulut tidak pintar nya Mia.
Citra pun terlihat menarik nafas.
"Anda tidak perlu khawatir Nyonya Muda Mahendra. Saya kemari tidak bermaksud apa apa. Saya hanya ingin melihat keadaan Nenek dan Kakek saja." jawab Citra dengan suara sedikit bergetar.
"Oh.. begitu. Apa anda akan menunggu Suami saya?" tanya Mia kembali.
"Jika anda tidak keberatan Nyonya Muda Mahendra. Saya akan menunggu nya. Saya juga ingin bertemu dengan nya. Walau hanya sebentar saja." jawab Citra, sekenanya. Dia pikir, Tidak mungkin Garra akan pulang. Sebab ini belum waktunya. Dia akan menggunakan waktu itu untuk mencari cela dan kejelekan Mia. Pasti ada.
Lalu terdengar Mia berdehem dan menoleh pada Kakek dan Nenek nya.
"Kakek, Nenek.. Sebaiknya kalian istirahat saja. Bukan kah kalian sudah bertemu dan mengobrol dengan Nona ini? Biar saya yang menemani tamu kita ini. Sebentar lagi Tuan Muda Garra juga akan segera tiba." ucap Mia.
Citra sedikit terkejut mendengar ucapan Mia. 'Benarkah Garra sudah mau pulang? Bukan kah ini belum jam nya. Atau perempuan ini hanya membual untuk menakuti ku saja. Ah, tidak tidak. Kalau Garra sungguh datang. Itu adalah kesempatan buat ku. Aku akan menggoda Garra di depan istrinya. Mau tau bagaimana reaksi Mia. Pasti akan ada perang dunia ketiga. Yes...' batin Citra , segera menyusun rencana.
Citra tau betul Garra itu seperti apa. Paling tidak suka melihat wanita yang kasar dan galak. Paling tidak mau di bantah oleh siapapun selain Kakek dan Nenek nya. Citra berpikir jika bisa membuat Mia cemburu dan marah marah, jelas Garra akan balik memarahi Mia. Dan dia akan tersenyum menang melihat Garra memarahi istrinya.
Kakek dan Nenek mengangguk, setuju dengan saran Mia lalu melangkah meninggalkan mereka. Tapi langkah mereka berdua berhenti di sisi sudut ruangan pembatas ruangan tamu itu. Mereka sengaja ingin mengintip apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mia menghela nafas , sebelum kembali berbicara pada Citra.
"Kau datang kemari setelah sekian lama tidak kemari , bukan berniat untuk menggoda suamiku kan?"
Citra kembali terperangah. 'Kok dia bisa tau jalan pikiran ku sih. Sial..!'
"Tentu tidak Nyonya muda. Saya.._ "
"Bagus lah. Karena jika iya, aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi." potong Mia.
"Jadi begini Nona Citra. Berhubung dulu kau dan suami ku pernah ada hubungan spesial. Meskipun hanya sebatas mantan calon pacar, tapi sama saja. Aku resah me memikirkannya. Jadi.. jika kau mau aman , lebih baik ,ini adalah terakhir kali nya kau mengunjungi mereka. Baik Kakek Nenek dan Suami ku, Garra. Kau tidak punya hubungan apapun lagi dengan mereka. Dan jika kau berani melakukan lagi, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu. Aku paling tidak suka, suami ku dekat dengan wanita lain selain aku. Kau paham maksud ku Nona!" ucap Mia.
Citra tidak menjawab, merasa kalah telak Citra hanya diam saja.
"Satu lagi. Aku tau bagaimana hubungan mu dengan Suami ku berakhir. Kau perlu tau bagaimana sulit nya kami menjalani kehidupan kami kemarin. Sebelum Tuan Muda Garra sembuh seperti sekarang ini. Jadi aku, tidak akan membiarkan siapapun dan apapun yang berani mengusik kebahagian kami sekarang." tambah Mia. Semakin membuat Citra kelu.
Dan Yuri, kakek serta nenek yang dari jauh mengintip, sungguh merasa kagum dengan ketegasan Mia. Di mata mereka Mia benar benar sedang bermetamorfosis yang sempurna.
Saat Citra sedang gugup dan dilanda resah, tiba tiba Garra muncul di depan mereka. Garra sempat terkejut melihat ada Citra di sana. Garra tidak menyangka jika Citra nekad ke rumah nya. Lebih terkejut lagi ketika melihat Mia istrinya sudah duduk di depan Citra dengan penampilan yang memukau matanya.
"Mia sayang!!" tanpa mempedulikan Citra maupun Yuri, Garra memeluk Mia. Mia pun membalas nya dengan sangat hangat membuat Citra bergetar menahan panas di dadanya.
Mia seperti sengaja ingin menunjukan keharmonisan mereka di depan Citra.
"Kau sengaja menyambut ku atau bagaimana sayang?" tanya Garra melepas pelukannya dan menghujani kecupan di wajah Mia.
__ADS_1
Citra semakin cemberut di buatnya.
"Iya donk.. kan bang Garra sudah janji akan pulang dua jam lagi. Nah , ini kan pas jam nya. Dan kebetulan ada mantan calon pacarmu dulu datang. Katanya ingin mengunjungi mu." sahut Mia menunjuk kasar pada Citra.
Garra menoleh pada Citra, yang langsung menarik lengan nya dengan kuat hingga menabrak tubuhnya.
"Garra, aku kangen padamu! Aku sengaja menunggu mu pulang..." ucap Citra dengan nada manja dan menaruh kepalanya di bahu Garra.
Deg...!!! Jantung Garra tiba tiba bergemuruh, melirik tangan Citra yang memeluk erat pinggang nya. Seperti sedang terseret ke lembah dosa yang dalam.
Penuh Penyesalan tidak bisa menjaga kesetiannya , kesucian nya kini terenggut begitu saja oleh wanita itu dan bahkan di depan istrinya sendiri. Wajah Garra seketika memerah, menoleh pada Mia yang tak kalah memerah wajahnya.
Begitu juga dengan jantung Mia, berdetak lebih keras di banding jantung Garra.
Seketika Mia bergerak.
"Mia..!!" Garra panik , mengira Mia akan lari ke kamar dan menangis sesenggukan di ujung ranjang.
Citra mengira Mia akan marah marah padanya, memaki dan kemudian menangis. Lalu Garra akan mencegah Mia dan memarahi Mia.
Semua pikiran orang di situ ternyata salah menebak.
Mia bergerak, pelan. Meraih tangan Citra yang masih di pinggang Garra. Di luar dugaan Mia menarik kasar tubuh Citra dan mendorong kuat tubuh Garra hingga terlepas pelukan Citra.
Tangan Mia memelintir tangan Citra, dan memutar nya ke belakang pinggang Citra. Dengan tangan satu nya lagi, Mia menjambak rambut Citra lalu mendorong tubuh Citra ke sofa. Tak sampai di situ Mia menghampiri Citra yang sudah ketakutan dengan perlakuan kasar Mia diluar dugaan nya.
Mia mencengkeram dagu Citra, mengangkat wajah menyedihkan itu.
"Berani nya kau!! Baru saja ku peringatan kan tadi. Kau malah menggoda suami ku langsung di depan ku. Cari mati kau ya???" bentak Mia.
"Kau mau jadi pelakor??? Ingat ya.. Garra itu Suami ku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milik ku..!! Dengar kau Ulet bulu..!" kembali Mia membentak.
Garra sungguh terkejut dengan sikap arogan istrinya. Ia tidak menyangka keberanian Mia akan meningkat tajam seperti itu. Bukannya Garra marah dengan sikap Mia, tapi malah tersenyum bangga.
Tapi Garra segera menarik senyum nya dan kembali di buat terkejut Oleh Mia saat Mia menunjuk hidung nya dengan kasar.
"Kau... ! Masuk ke kamar sekarang! Atau aku akan menghajar mu juga hah! Kau mau macam-macam dengan istrimu ini. Kau mau selingkuh dari ku hah! Mana bisa. Masuk sekarang!" bentak Mia pada Garra dengan penuh amarah.
Garra kelagapan, bukan takut. Tapi takjub!
"Tidak dengar..!! "
"I.. iya Mia ku. Iya sayang. Aku masuk! Aku masuk sekarang. Jangan marah padaku ya? Ini salah nya. Salah kan saja dia yang sudah berani menggoda suami mu ini..Marahi saja dia!" jawab Garra lagi lagi di luar dugaan Citra.
"Garra, jangan pergi. Tolong aku..!!" teriak Citra mengiba di bawah kukungan tangan Mia.
"Enak saja minta tolong. Aku saja takut pada istri ku. Salah mu sendiri. Aku sudah peringatkan kamu jika istriku itu galak. Kau malah nekad. Kau pasti akan habis di bejek nya. Nikmati saja!" jawab Garra kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
Tidak mau ikut campur. Itu urusan perempuan saja. Tidak mau jadi sasaran amarah Mia. Cari aman saja. Sambil terus berpikir kelainan pada Mia.
Garra malah tersenyum, mengagumi Mia.
"Ah.. makin cinta."
__ADS_1
_______________