Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Episode Spesial [ Malam pertama.]


__ADS_3

Yuri rasanya tak sabar menunggu suaminya yang sangat lama di dalam kamar mandi. Dia berjalan mondar-mandir, sama seperti yang di lakukan Ang di dalam.


Yuri mengetuk pintu lagi.


"Kakak! Apa yang kau lakukan sih? Kenapa sangat lama? Kau sakit??"


"Eh, iya. Tunggu. Aku.. Perut ku mules!" jawab yang di dalam.


"Aneh? Kenapa tiba tiba mules?" Yuri terdiam. Menunggu. Masih juga belum terbuka.


'Dia pasti sedang mencari alasan untuk menghindari ku! Mana bisa! Tidak akan ku biarkan itu terjadi!'


"Kak Ang! Jika kau tidak juga membuka pintu ini, aku akan mendobraknya!!" sekali lagi Yuri berteriak.


'Aduh! Kenapa nekad sekali si bocah!' Sekretaris Ang nampak makin tegang.


"Satu.. Dua..!" terdengar Yuri mulai menghitung.


'Cck, ah!' sekretaris Ang mengeluh.


Brak..!!


Sekretaris Ang akhirnya membuka pintu.


Terlihat langsung di mata sekretaris Ang Yuri sudah tersenyum lebar di depannya.


"Kenapa berteriak??"


"Habisnya , kakak lama sekali! Apa yang kau lakukan hah!"


"Apa? Tidak ada. Aku sudah bilang kalau aku sedang mules." jawab sekretaris Ang.


"Kakak diare?" tanya Yuri tiba-tiba khawatir.


"Tidak, tidak. Hanya.. hanya mules saja!"


"Benar begitu? Kakak sedang tidak menghindari ku?" tanya Yuri , mendekat.


"Hehe." Sekretaris Ang tersenyum, sambil menggaruk kepalanya.


"Mana mungkin. Sudah, sudah. Ayo!" sekretaris Ang menarik tangan Yuri dan menuntunnya kembali ke ranjang.


Yuri sekarang sudah duduk di tepi ranjang.


"Tidurlah Yuri! Ini sudah malam. Aku ingin beristirahat sebentar. Perutku sepertinya masih mules." ucap Sekretaris Ang.


"Kakak beneran mules?"


Sekretaris Ang mengangguk.


"Kakak kenapa?"


"Entahlah, mungkin salah makan."


"Salah makan? Memang habis makan apa? Sepertinya hanya nasi goreng tadi. Itu pun tidak pedas?" lagi lagi Yuri bertanya.


"Ya. Mungkin karena.. Karena sudah lama tidak makan nasi goreng. Jadi.. jadinya begini." jawab sekretaris Ang, nampak sekali gugupnya.


Sepertinya Yuri meragukan alasan suaminya itu, tapi ia terpaksa mengiyakan saja.


Lalu sekretaris Ang memilih melangkah meninggalkan Yuri menuju sofa.


"Huh!" helaan nafas beratnya kembali terdengar. Sekretaris Ang terduduk lemas di ujung sofa. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan siku bertumpu di pahanya.


Terlonjak, saat tepukan ringan terasa di bahunya. Sekretaris Ang segera menoleh.


"Yuri!"


"Kakak baik baik saja? Apa mau ku urut dengan minyak angin? Siapa tau kakak masuk angin."


"Tidak, tidak perlu. Sudah terasa baikan." jawab sekretaris Ang.


"Kau kenapa kemari? Aku menyuruhmu tidur. Pergilah tidur. Aku akan menyusul segera." ucap sekretaris Ang.


"Aku ingin menemanimu?"


"Yuri!!"


"Kenapa kau membawaku kemari, tapi membiarkan aku tidur sendirian?" Yuri menundukkan wajahnya, memasang wajah sedih.


Melihat itu, sekretaris Ang merasa bersalah. Cepat merengkuh tubuh Yuri dan membawanya dalam pelukannya.


"Maafkan aku, maafkan aku. Sungguh. Maafkan aku!" mengecupi kepala Yuri.


"Iya. Kau boleh menemaniku, aku juga akan menemanimu! Jangan bersedih lagi." ucap sekretaris Ang kembali, sambil membelai lembut rambut Yuri yang terurai.


Yuri semakin menenggelamkan kepalanya di dada Ang, dan merengkuh kuat pinggang suaminya hingga tubuhnya menempel rapat pada tubuh sekretaris Ang.


Sekretaris Ang sendiri jantungnya makin tak karuan saja.


'Sial! Kenapa aku bisa setegang ini. Padahal aku sangat menginginkan menikahi Yuri. Tapi setelah menikahinya, aku malah jadi gugup sekali.'


'Huh! Ternyata sangat sulit. Tidak semudah yang kubayangkan kemarin.'


Sekretaris Ang kembali membuang nafas kasarnya.


"Tadi, Jihan bicara apa? Kenapa malam malam menelpon mu?" tanya sekretaris Ang, ingin mencairkan suasana yang tiba tiba berubah dingin.

__ADS_1


Yuri menarik tubuhnya, lalu mendongak.


"Jihan. Dia mengucapkan terimakasih padamu atas hadiah pelangkahan yang kakak berikan padanya." jawab Yuri.


"Oh. Iya. Katakan padanya, tidak perlu berterimakasih. Aku melakukan itu demi kamu."


"Tapi kak. Hadiah yang kau berikan itu sangat mahal. Semua itu tidak sesuai kak??"


"Tidak sesuai bagaimana maksudnya?"


"Pernikahan kita sangat sederhana. Tapi kau mengeluarkan uang sebanyak itu. Hadiah untuk Jihan dan hadiah pernikahan kita ini, itu berlebihan. Sungguh tidak sesuai dengan pestanya." ucap Yuri.


Sekretaris Ang tersenyum. "Mana ada. Bukankah Jihan yang meminta pelangkah mobil keluaran terbaru? Aku hanya ingin menuruti permintaan kakak mu agar tidak ada yang kecewa."


"Tapi itu berlebihan.."


"Tidak apa apa. Dengan begitu, Jihan tidak akan meremehkan mu lagi."


"Kakak, kau berlebihan." Yuri memukul kecil dada Ang. Ang langsung menangkap tangan mungil Yuri.


"Berlebihan katamu? Bagaimana dengan jumlah maharnya? Itu sangat sedikit. Jika maharnya satu atau dua koper uang baru namanya berlebihan." ujar Sekretaris Ang.


Mendengar ucapan Suaminya, mendadak Yuri jadi ingat, jika ia ingin mempertanyakan jumlah mahar yang di berikan Sekretaris Ang padanya.


"Eh iya kakak, kenapa kau memberikan mahar padaku segitu? Terasa ganjil mendengar nya."


"Karena kau tidak mau menyebutkan berapa permintaanmu. Kau hanya minta jangan terlalu banyak." jawab sekretaris Ang.


"Tadinya , aku malah akan memberikan mahar sebesar 6.115 saja."


"Kenapa tidak jadi segitu?" tanya Yuri. Saat itu, saat Ang pernah bertanya tentang mahar yang Yuri inginkan, Yuri memang mengatakan jika berapa saja. Tidak usah terlalu besar. Tapi Yuri juga tidak pernah tau alasan kenapa suaminya memberinya mahar dengan jumlah aneh baginya.


"Saat itu, aku bertanya pada ustad. Ustad menjelaskan padaku, jika mahar itu berapa pun saja bisa asalkan jangan kurang dari Sepuluh dirham dan si calon istri ikhlas menerimanya. Sementara sepuluh dirham itu jika di rupiahkan sekitar lima puluh ribu. Jadi tidak mungkin aku memberimu mahar sebesar enam ribu seratus lima belas rupiah saja. Makanya aku memberikan nya enam juta seratus lima belas ribu. Sebenarnya aku hanya mengambil angka enam ribu seratus lima belas nya saja." terang sekretaris Ang.


"Hah! Apa ada makna di balik angka itu kakak? Seperti itu bukan tanggal kelahiran mu atau tanggal kelahiran ku juga?"


"Memang bukan?"


"Lalu?"


"Yuri! Bukan apa apa. Hanya, 6.115 itu adalah jumlah hari genap usiamu hari itu. Dan setelah hari ke 6.116 nya kau sudah akan bersamaku. Makanya aku membayar mahar sesuai dengan usiamu pada saat aku nikahimu."


"Haha.. jadi kakak menghitung usiaku berapa hari?"


"Begitulah, aku hanya memperkirakan saja. Jika setahun itu 365 hari. Lalu di kali 17 tahun usiamu. Karena usiamu 17 belastahun kurang tiga bulan. Makanya Ku kurang 90 hari. Dan hasilnya 6.115." jelas Ang, dengan detail.


Yuri terbahak mendengar penjelasan dari suaminya.


"Kenapa begitu rinci dan rumit hanya untuk sebuah mahar??"


"Kakak! Kau ada ada saja. Tapi terimakasih sekali untuk kepeduliannya. Bahkan sampai serumit itu." ucap Yuri.


Sekretaris Ang hanya tersenyum.


"Sebenarnya mahar itu, besar atau kecil merupakan kewajiban. Walaupun mahar bukan termasuk dalam rukun atau syarat sah pernikahan. Artinya, menikah tanpa mahar sah-sah saja. Sebab, mayoritas ulama berpendapat seperti itu. Namun, meskipun pernikahannya sah, laki-laki yang tidak memberikan mahar berarti telah meninggalkan kewajiban dan berdosa karenanya.


Begitulah sedikit penjelasan yang aku ketahui tentang bagaimana hukum dalam Islam jika tidak memberikan mahar kepada pasangan.


Dan mahar terbaik adalah yang paling mudah. Dan aku merasa itu sangat mudah. Tidak rumit." ucap sekretaris Ang.


"Ah, kakak. Aku jadi makin kagum padamu." Yuri makin mempererat pelukannya.


"Kau tidur ya? Ini sudah malam." kembali sekretaris Ang mengingatkan Yuri.


"Tapi temani?"


"Yuri, aku... Besok malam saja ya? Malam ini, Aku.. Ah..!" Ang gugup kembali setelah tadi sempat melupakan kegugupannya sebentar.


"Apa mules lagi?"


"Eh, iya. Sepertinya begitu!"


"Kalau begitu aku akan mengurutnya." ucap Yuri.


"Tidak usah!"


" Jangan menolak!" Yuri menarik tangan suaminya menuju ranjang.


Sekali lagi sekretaris Ang harus menarik nafas panjang. Hanya bisa pasrah ketika Yuri mendudukkannya di ranjang. Yuri mengambil minyak Angin dan mulai membuka baju Sekretaris Ang.


"Jangan di lepas!" segera mencegah.


"Harus Kakak. Bagaimana aku mengurut perutmu jika masih memakai baju?"


Sekretaris Ang lagi lagi tidak bisa mencegah ketika Yuri sudah melepas Piyamanya dan mendorong tubuhnya hingga terbaring.


Sekretaris Ang hanya bisa memejamkan matanya, tak sanggup untuk menatap wajah Yuri yang begitu menggoda, apalagi ketika tangan lembut Yuri menyentuh perutnya. Sensasi panas dingin langsung menyerang tubuh sekretaris Ang.


Yuri sendiri menelan Saliva nya ketika menatap perut suspek Ang, belum lagi dada bidangnya itu. Tangan Yuri tak sadar malah merambat ke dada pria yang masih memejamkan matanya itu, memejamkan matanya sambil menikmati sentuhan tangan Yuri.


Ang tiba tiba membelalakkan matanya ketika merasakan kecupan Yuri sudah mendarat di dadanya.


"Yuri! Apa yang kau lakukan?" meraba kepala Yuri yang sudah nyungsep di dadanya.


Yuri mendongak, langsung memandangi kedua mata Ang.


"Kakak! Bukan kah ini sudah milik ku? Suka suka aku donk??" ujar Yuri , tak menggubris Ang lagi, kembali ke posisinya semula.

__ADS_1


"Ah!" satu desahann lolos dari mulut pria itu, tubuhnya meradang seketika saat ciuman Yuri merambat di lehernya.


"Yuri! Tolong berhentilah! Kita bisa kelabasan!" Ang mengeluh sudah.


Rupanya, hasrat Yuri tak terbendung lagi. Ia tetap melanjutkan aksinya bahkan semakin brutal. Kini Yuri sudah menduduki perut Ang, menarik tengkuk pria itu dan menyesap bibirnya.


"Kakak! Biarkan saja. Sebentar ya??" bisik Yuri tepat di telinga Ang, sungguh membuat Ang, kalang kabut.


Ang tidak mampu lagi berdiam diri, saat tangan Yuri semakin nakal menyelusuri tubuhnya.


Ang sempat memejamkan matanya, menahan nafas berulang-ulang lalu pada akhirnya tumbang. Meraih tubuh Yuri dan membantingnya lembut di ranjang. Kini Ang, mengganti posisi Yuri. Berada di atas Yuri dan dengan pikiran yang sudah buntu Ang menjelajahi tubuh Yuri.


Tangan Ang mulai menarik satu persatu pakaian Yuri, tanpa sisa.


Kini keduanya sudah bergulat bebas tanpa penghalang lagi. Rasa takut di hati Ang lebur sudah. Terganti gelora yang sangat menggebu.


Saat sekretaris Ang tidak mampu lagi mengendalikan diri dengan memposisikan tubuhnya tepat kesasaran. Yuri hanya bisa meringis. Berusaha untuk tidak menjerit atau menangis. Rupanya Yuri sudah tau yang akan terjadi. Gadis kecil itu sudah mempersiapkan diri dengan baik. Harus menahan sebisa mungkin, jika ia berteriak sudah pasti Ang akan menghentikan aksinya.


"Sayang!!" Ang membelai wajah Yuri yang mulai memucat.


"Apa tidak sakit?"


"Ti.. tidak!" jawab Yuri terbata.


"Sungguh?"


"Iya kakak. Tidak kok, hanya .. hanya.." Yuri menahan sekuat tenaga. Mencengkeram bahu sekretaris Ang dengan kuat.


Sekretaris Ang sempat merasa aneh, bahkan dia kesusahan untuk memasuki Yuri. Berulang kali bahkan meleset sempurna. Namun Yuri mengatakan jika itu tidak sakit.


Tapi karena gelora yang sudah memuncak membuat Ang tak sanggup lagi untuk bertanya. Pria itu terus dan terus berusaha. Hingga pada akhirnya sesuai dengan harapan.


Keringat sudah bercucuran, bercampur menjadi satu. Tak lagi bisa dibedakan keringat siapa. Keringat Ang atau keringat Yuri telah membasahi kedua tubuh yang dengan susah payah itu pada akhirnya bisa bersatu juga.


Sekretaris Ang, walau pun di kuasai naffsu namun masih bisa mengontrol diri untuk tidak gegabah dalam bergerak.


Apalagi saat Ang menyadari percikan darah segar yang cukup banyak mengalir ke sprei , hampir saja sekretaris Ang berteriak dan menyudahi aksinya.


Namun Yuri menahan tubuhnya, dengan bahasa mata dan tubuh yang bisa di mengerti oleh Ang, jika Yuri tidak ingin Ang berhenti.


Ang mengambil nafas panjang, dengan mendekap tubuh istri kecilnya itu, dia bergerak. Lagi dan lagi.


Dengan terus membisikkan kata maaf dan cinta, sekretaris Ang ingin segera menyelesaikan puncak dari pergulatan mereka. Tanpa hitungan setengah jam, keduanya nampak bergetar hebat. Sama sama melambung, merasa terbang ke awan, merasa nikmat yang tiada tara nya. Dan rasa yang sama sama baru pertama kali mereka rasakan dalam hidup mereka. Keduanya mengerang bersamaan. Bahkan Ang setengah menjerit setengah berteriak karena akibat menahan rasa yang menghujam seluruh tubuhnya.


Yuri mencengkeram kepala Ang, dan Ang mencengkeram sprei, lalu mereka melemas bersama.


Sekretaris Ang melepaskan tubuhnya perlahan, lalu berbaring di samping Yuri.


Mengusap wajahnya berkali kali. "Argh..!!" memukul kepalanya.


'Kenapa bisa begini? Ang, bodoh kau! Kenapa tidak bisa menahannya. Setidaknya untuk besok malam saja!' hatinya terus memaki.


Kemudian menatap Yuri dan mendekapnya dari belakang.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya." ucap Sekretaris Ang.


Yuri malah tersenyum, senyum kemenangan.


"Tidak apa apa kak? Bukankah sudah halal?"


"Aku tau! Tapi kau tidak mengerti Yuri? Aku takut kau hamil!!"


"Kakak! Orang lain hamil tanpa pernikahan saja tidak takut! Kenapa kau malah takut sekali sih? Hamil ya sudah! Kan ada suami. Ada yang bertanggung jawab! Kalau kau tidak mau, buang saja bayinya. Bereskan..?"


Plup!! sekretaris Ang langsung menutup mulut Yuri dengan tangan nya.


"Ngomong apa kamu? Tidak mungkin aku membuang bayiku!"


"Ya sudah. Kalau begitu jangan di pusingkan!"


"Yuri? Kau tidak mengerti?"


"Aku mengerti! Aku tau yang kau takutkan! Tapi untuk apa kita menikah cepat cepat jika masih harus menahannya. Sudah lah kak Ang, ketakutan mu itu berlebihan. Serahkan semuanya pada Tuhan. Hanya dia yang berhak mengatur hidup kita. Bukan kita!"


"Ya sudah ya sudah. Maafkan aku!" sekretaris Ang mendekap tubuh Yuri kembali.


"Apa tadi tidak sakit?" Ang kembali bertanya.


"Tidak!"


"Kau bohong, kau pasti bohong kan?"


"Tidak! Kalau aku bilang tidak ya tidak! Tidak percaya?? Boleh reka ulang." Yuri langsung hendak memutar tubuhnya untuk menghadap sekretaris Ang.


"Jangan. Tidak perlu, tidak perlu. Aku percaya!" Sekretaris Ang segera mencegah. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dan akhirnya mereka terlelap juga.


Tapi tak begitu lama, entah jam berapa. Sekretaris Ang terbangun karena merasakan sesuatu yang menggeliat di pelukannya. Saat Ang membuka matanya, kembali pemandangan yang menyesatkan otak nya terpampang jelas di depan matanya.


"Ya Tuhan! Kenapa begitu menggoda?"


Darah Ang kembali berdesir, tangan nya nampak gemetaran. Tidak bisa untuk tidak menyentuh itu. Tidak bisa untuk tidak menempelkan bibirnya di sana. Hingga terjadi kembali, bibirnya menyentuh seluruh tubuh Yuri, membuat Yuri terbangun. Dan sekali lagi, kedua nya kembali mengeluh. Kembali bertukar keringat, kembali berbagi rasa dan kembali saling memanggil nama.


Sampai menjelang subuh, mereka tidak tidur. Mereka masih saling bergerak.


_________________


Bersambung...!!!

__ADS_1


__ADS_2