Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Menyelinap ke kamar Yuri??


__ADS_3

Malam ,


Sekretaris Ang sudah ada di kamar nya. Menyandarkan punggung nya di sofa. Pikirannya kembali resah memikirkan Yuri.


Belum genap tujuh belas tahun? Sekretaris Ang menghela nafas kembali, meremas rambutnya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis kecil berusia segitu dan berjanji akan segera melamarnya, sedang kan usianya sudah lebih dari kepala tiga.


Ang merasa seperti pria hidung belang yang gemar memakan daun muda.


"Tapi aku tidak seperti itu..Bahkan aku baru mencium wanita hanya Yuri saja."


Sekretaris Ang meskipun sudah berumur , tapi memang belum pernah dekat dengan wanita manapun. Bukan tidak pernah mencoba, sekali lagi karena Ang selalu gagal dalam menyukai wanita. Dan Yuri, sungguh satu satu nya wanita yang mampu menyentuh hatinya dan bisa membuat sekretaris Ang resah kelimpungan memikirkan nya. Apalagi ketika mengingat perbedaan usia mereka yang terpaut jauh. Sekretaris Ang lagi lagi resah.


"Jika menikahinya lalu Yuri hamil. Ah... kasian sekali jika gadis semuda dia harus mengandung." lagi lagi Ang resah. Namun hatinya sungguh ingin segera memiliki kelinci kecil yang begitu manis itu.


"Aku bisa menunda kehamilan nya. Tapi dengan cara apa? Ah.. Dengan cara tidak menyentuh nya dulu, sampai Yuri berumur Delapan belas atau Sembilan belas. Mana mungkin? Sekarang saja aku sudah panas dingin jika di dekatnya."


"Huh!" terdengar keluh nafas yang begitu berat.


Tok..tok.. tok..!!


Belum sempat mendapat solusi, suara ketukan pintu memecah lamunan Ang.


Ia menoleh ke arah pintu, belum sempat berdiri untuk membuka pintu, seseorang itu sudah membuka pintunya.


"Tuan muda!"


"Ang, boleh aku masuk?" Garra sudah melangkah masuk.


Garra duduk di hadapan Sekretaris Ang.


"Tuan muda, kenapa repot repot kemari?"


"Ada hal yang ingin aku bahas dengan mu." ujar Garra.


"Apa itu Tuan?" tanya Ang, sedikit ada ke khawatiran.


"Apa kau tau, kalau saat ini Istri ku resah karena memikirkan hubungan adik nya dengan mu?" Garra menatap serius sekretaris Ang.


"Maafkan saya Tuan muda. Tapi saya tidak main main dengan hubungan ini." jawab sekretaris Ang.


"Tapi kenapa aku melihat ada keraguan di matamu Ang?"


"Sebenarnya, usia Yuri yang masih belia yang membuat saya ragu Tuan. Saya hanya takut menghancurkan masa muda nya."


Garra tergelak. "Itu yang di resah kan Mia. Dia takut kau akan mundur karena itu. Dan Mia khawatir jika itu sampai terjadi akan membuat Yuri bersedih dan patah hati. Apa kau tidak memikirkan perasaan kedua wanita yang kehadiran begitu berharga bagi kita itu?" ucap Garra.


Ang terdiam.


"Jika kau benar benar mencintai Yuri, kau harus berani mengambil resiko apapun Ang. Ku rasa Yuri adalah anak yang baik. Tidak akan susah mengurusnya. Sebaiknya kau cepat mengambil keputusan. Mana mungkin kau hanya akan mengajak nya berpacaran berlama lama. Itu tidak baik Ang. Justru malah akan membawamu pada kesesatan nantinya."


Ang masih terdiam, lalu mengangguk.


"Baik lah Tuan muda. Saya meminta maaf jika sudah membuat Tuan muda dan Nyonya muda Mahendra resah. Saya memutuskan untuk melamar Yuri secepatnya." jawab Ang.

__ADS_1


Garra langsung menghela nafas lega.


"Baguslah, kalau begitu tidak perlu mencari waktu, besok pagi kita akan pergi ke rumah Gani Kuncoro untuk melamar Yuri. Bagaimana? Kau setuju?"


Ang mengangguk mantap.


"Baiklah. Aku tau , kau memang pria hebat di perusahaan. Tapi untuk urusan wanita, kau tidak ada hebat hebatnya. Haha.. Jadi malam ini persiapkan dulu mental mu sebaik baiknya untuk besok." Garra bangun dan menepuk bahu Ang sebelum akhirnya keluar kamar Ang .


Ang menatap punggung itu, lalu mengusap wajahnya.


Nampak bibirnya tersenyum getir. "Kau benar Tuan muda. Aku sampai resah begini memikirkan semua ini." Ang beranjak keluar kamar. Entah kenapa langkah kakinya membawanya ke kamar Yuri. Mungkin Ang rindu pada kelinci kecil itu. Padahal siang tadi seharian dia bersama Yuri. Sampai sore hingga mereka pulang bersama dari perusahan.


Ang sudah berdiri di depan pintu kamar Yuri dan mengetuk pintu.


Saat pintu di buka sang pemilik kamar, hati sekretaris Ang kembali berdesir menatap sosok imut yang sedang berdiri menatap nya juga. Gadis kecil berwajah manis itu tersenyum padanya .


'Astaga.. melihat senyum nya saja aku sudah ingin sekali menerkam nya. Mana mungkin aku bisa tahan jika begini?'


"Tuan Ang? Eh, kakak. Ada apa ? Ayo masuk?" tegur Yuri.


Sekretaris Ang hanya mengangguk lalu melangkah masuk. Duduk di sisi ranjang milik Yuri. Yuri pun mengikuti nya dengan duduk di sebelah Pria itu. Pria yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya. Pria yang tadi siang mengucapkan kata cinta berkali kali padanya itu.


Lama mereka terdiam. Hingga sekertaris Ang membuka suara.


"Kau sudah makan?"


Yuri tersenyum. "Bukan kah sebelum kita kembali tadi kita sudah makan di luar? Itu sudah termasuk makan malam lho kakak? Apa kakak lapar lagi? Mau makan lagi? Aku akan siapkan kalau begitu?"


"Ah, tidak Yuri. Aku lupa jika kita tadi sudah makan. Ah, iya. Kita sudah makan tadi ya.?" sekretaris Ang tersenyum nyengir, menggaruk rambutnya.


Yuri menggeser duduknya, lebih mendekat pad sekretaris Ang.


"Yuri! Kau mau apa?" sekretaris Ang mendadak panik ketika Yuri sudah melingkarkan tangan nya di pinggang nya.


"Memeluk kakak! Aku kangen." ucap manja Yuri , sudah merebahkan saja kepalanya di dada Ang.


"Kan tadi baru bersama. Masa iya sudah kangen?"


"Memang Kakak tidak ya? Sedihnya aku, kupikir kakak kesini juga karena kangen padaku. Ternyata tidak. Ternyata cuma aku yang kangen." rengek Yuri, melepaskan pelukan tangan nya dan memasang wajah sedihnya.


Melihat wajah sedih Yuri, Ang merasa bersalah.


"Eh ,eh kok jadi sedih .. Iya maafkan aku, aku kangen kok. Kangen banget." Ang segera menarik tubuh Yuri untuk kembali ke pelukannya.


"Bohong!" memukul dada Ang.


"Benar. Aku kangen pada gadis kecil ku ini. Makanya aku kemari." Ang mencium pucuk kepala Yuri berkali-kali sambil mengeratkan pelukannya.


"Benar?"


Ang mengangkat wajah Yuri, mengangguk lalu menyambar bibir mungil itu sekilas.


Yuri sekarang tersenyum, senyum yang nampak semakin manis di mata Ang. Membuat pria dewasa itu menelan Saliva nya dan menghela nafas.

__ADS_1


'Manis sekali, ah.' Sekretaris menundukkan wajah Yuri agar tak berlama lama menatapnya.


"Yuri.. Besok kita akan pergi ke rumah Ayahmu." ucap sekretaris Ang.


"Hah! Mau apa kakak?" Yuri mendongak menatap wajah sekretaris Ang yang terlihat serius.


"Aku ingin melamarmu. Apa kau sudah siap?"


"Kakak serius?"


"Kau kira aku tidak serius dengan hubungan kita ini? Kau meragukan aku atau kau yang mulai ragu dengan hatimu?" kini pertanyaan sekertaris Ang terdengar begitu penuh penekanan sambil mengangkat wajah Yuri dan mendekatkan wajahnya.


"Kakak! Jangan bertanya seperti itu. Aku sungguh mencintaimu tanpa ragu. Mau besok atau pun detik ini juga aku siap kakak. Aku siap. Asal jangan menunggu ku genap duapuluh tahun saja. Aku tidak akan bisa menunggu waktu itu. Itu sangat lama. Aku pasti akan tersiksa." sahut Yuri membuat Ang seketika senang.


"Tidak Yuri. Aku juga tidak mungkin snaggup jika harus menunggu selama itu. Aku mencintaimu. Aku ingin menghalalkan mu segera."


Mendengar itu Yuri tersenyum bahagia. Begitu bahagia nya hati Yuri, ia langsung memegang kedua pipi pria itu dan menghadiahinya kecupan di sana sini. Tak henti henti nya sambil mengucapkan kata cinta yang manis.


"Berhenti Yuri berhenti. Jangan menggodaku atau kau akan menyesal." ucap Sekretaris Ang.


Tapi Yuri tak berhenti, bocah itu malah berpindah ke bibir pria dewasa itu, tanpa mempedulikan jika pria itu sudah menahan keinginan nya yang sedari tadi ingin menerkamnya.


Akhirnya Ang mendorong tubuh Yuri hingga terjatuh berbaring di kasur dan Ang lalu menindihnya.


Ang tak mampu lagi menahan untuk menjelajahi wajah gadis kecil itu, hingga eluhan milik Yuri terdengar di telinga Ang ketika tangan Ang sudah menelungsup ke dalam bajunya.


Sejurus kemudian sebelum Ang hampir saja menarik baju itu, ia menghentikan aksinya ketika Yuri menahan tangan nya.


"Kakak!"


"Astaga...! Maafkan aku.. Maafkan.." Ang terperangah dan segera menarik tangan nya lalu duduk di samping tubuh Yuri yang masih terbaring. Mengusap wajahnya dengan kasar berkali kali.


'Aku sudah gila. Aku sudah gila..!! Hampir saja.' batin Ang penuh penyesalan. Lalu menarik tubuh Yuri untuk duduk di sampingnya. Membawanya ke pelukannya kembali dan membelai rambut Yuri.


"Maafkan aku. Aku khilaf. Tidurlah, kau harus persiapkan dirimu untuk besok." Lalu mengecup kepala Yuri untuk yang kesekian kalinya.


Yuri tersenyum lagi. "Kakak tidur juga ya.. Jangan gugup untuk besok."


Ang hanya tersenyum, 'Kau benar. Aku memang sangat gugup memikirkan besok' kemudian Ang melangkah keluar. Menutup pintu Yuri.


Berjalan gontai ke kamarnya sambil terus menghela nafas.


"Aku sudah gila. Sekali menyentuh nya aku ingin terus mengulanginya. Ah.. Dasar gila! Bagaimana mungkin aku bisa punya pikiran untuk tidak menyentuh nya setelah menikahinya nanti sampai dia berumur delapan belas tahun. Hahaha.. aku bisa bunuh diri jika begitu." ucap Ang bicara pada dirinya sendiri dan merebahkan tubuhnya.


Bila di kamar sana Yuri terlihat sedang tersenyum senyum bahagia membayangkan hari esok. Saat dimana dia akan resmi menjadi tunangan sekretaris Ang. Berpikir jika tidak sia sia usahanya selama ini untuk memenangkan hati pria pujaan nya, lain hal dengan Sekretaris Ang yang begitu gelisah. Hingga larut malam , sedikit pun ia tidak bisa memicingkan matanya.


Banyak hal yang menggangu pikirannya, antara gugup dan senang memikirkan besok' dan juga nalurinya yang terus berontak untuk menyelinap ke kamar Yuri kembali.


'Tidur dengan memeluk nya pasti sangat nyaman ya.?' meraih guling dan memeluknya erat. Sambil tersenyum senyum, entah apa yang sedang di otak nya saat ini hanya Sekretaris Ang dan Tuhan saja yang tau.


_________________________


BERSAMBUNG.....!!!!!

__ADS_1


[ Mohon maaf, Beberapa episode akhir akhir ini banyak membahas Ang dan Yuri . Di mohon pengertiannya yang kangen sama GarMi.]


__ADS_2