
Di dapur utama milik keluarga Mahendra.
Yuri berjalan mengekor di belakang sekretaris Ang.
Pagi ini, setelah menemui Yuri di kamar nya sekretaris Ang ingin mengenalkan Yuri pada para pelayan yang ada. Satu pesan dari sekretaris Ang yang harus selalu di ingat oleh Yuri.
"Tidak perlu mengatakan tentang siapapun diri mu di depan Mereka."
Yuri terdiam, sejenak berpikir.
"Eh, eh apa maksudnya. Mereka tidak boleh tau jika aku ini adik Nyonya muda begitu?"
Tidak mendapat jawaban dari sekretaris Ang, melainkan hanya senyuman tipis. Ah, bukan bukan , itu bukan senyuman tipis, tapi senyuman sinis!
Tiba di dapur utama yang super luas itu, mungkin seukuran dua atau tiga bahkan bisa lebih kali dari rumah kita.
Yuri sempat berdecak kagum hanya melihat bagian dari dapur itu saja.
Belum dengan para pelayan yang sengaja sudah di kumpulkan oleh Bu Asri selaku Kepala pelayan, nampak berjejer rapi dengan baju ciri khas Pelayan keluarga Mahendra. Semakin kagum Yuri di buatnya.
Wajah mereka meskipun biasa saja,
tapi terlihat begitu terawat dari ujung kuku sampai dengan rambut mereka,hingga menjadikan kesan cantik dan anggun bagi yang perempuan dan gagah serta tampan bagi yang pelayan pria nya.
Itu sudah terjadi sejak Tuan muda Garra mereka sembuh, sengaja membangun salon kecantikan khusus bagi para pelayan wanitanya dan ruangan Gym untuk para pelayan pria. Mereka mendapatkan jadwal masing masing secara berkelompok untuk memanjakan diri mereka ke salon dan ruangan tersebut.
Garra melakukan itu, semata untuk Mia istrinya. Dia ingin semua pelayan di rumah nya terurus, bukan hanya dari segi makan dan kamar mereka saja, tapi dari penampilan mereka juga.
Ada dendam tersendiri di hati Garra , ketika Garra pernah mendengar Mia mengeluh, jika Mia tidak pernah mempunyai uang untuk membeli skincare apalagi mau ke salon. Padahal jauh di hati Mia, dia juga ingin seperti Jihan dan Yuri , yang selalu bisa pergi ke salon dan mempunyai barang barang Branded.
Semenjak itu lah, Garra menerapkan satu peraturan baru di rumah itu. Harus ke salon bagi seluruh pelayan di rumah nya. Ya jelas saja lah mereka senang, sangat senang. Apalagi bagi kaum hawanya. Nama Mia sebagai Nyonya muda mereka semakin di elu elu kan mereka, sebagai pembawa berkah.
**
Para pelayan itu menoleh pada Yuri, melempar senyum ramah dan menunduk hormat pada sekretaris Ang.
Namun , pertanyaan pertanyaan hebat mulai muncul berkeliaran di otak mereka.
Siapa itu?
Pelayan baru kah?
Mana mungkin?
Atau...??
Semua menatap Yuri, dan menunggu Tuan sekretaris mereka memulai bicara.
"Aku hanya ingin mengenalkan pelayan baru ini pada kalian." ucap sekretaris Ang, membuat mereka seketika tercengang.
"Nama nya Yuri. Ku harap kalian semua bisa menerimanya dengan baik dan bisa bekerja sama dengan baik. Jangan sungkan untuk menegur atau Memberitahu apapun yang belum ia mengerti."
"Baik Tuan Sekretaris!!" jawab mereka serempak.
Sekretaris Ang beralih menoleh pada Yuri.
"Mulai lah bekerja dengan baik jika ingin menyelamatkan hidupmu. Bu Asri akan membimbingimu." ucap Sekretaris Ang, membuat nyali Yuri semakin menciut. Rasanya itu bukan seperti perintah, tapi lebih seperti ancaman bagi Yuri.
__ADS_1
"Jika ada yang perlu di tanyakan, kau boleh mencari ku." tambah Sekretaris Ang kemudian pergi meninggalkan Yuri di situ, di tengah tengah para manusia yang asing baginya. Manusia yang langsung menatap aneh pada Yuri.
'Sejak kapan Tuan sekretaris peduli dengan pelayan baru dan mau bersusah payah mengenalkannya pada kami? Biasanya, meskipun ada pelayan baru, Bu Asri lah yang akan mengenal kan nya.' pertanyaan di otak mereka semakin berlanjut ketika mengetahui jika Sekretaris Ang sengaja menyuruh Bu Asri mengumpulkan Mereka hanya untuk mengenal kan seorang pelayan.
Tidak ada yang berani bertanya, tidak mungkin juga ada yang berani, jika itu menyangkut sekretaris Ang mereka memilih bungkam tenggelam dengan rasa penasaran. Apapun dan siapapun dia , pasti dia orang yang spesial. ' Tidak mungkin tidak.' kembali mereka menebak tanpa tujuan. Hanya melempar senyuman termanis mereka pada Yuri lalu bubar untuk melanjutkan pekerjaan masing masing.
Bu Asri menghampiri Yuri. Membawa nya untuk menemui seseorang di sebuah dapur khusus.
Mbak Endang sedang sibuk menyiapkan menu sarapan untuk Tuan muda dan Nyonya muda, menoleh ketika Bu Asri memanggilnya.
"Endang, mulai saat ini dia akan membantu mu mengurus semua keperluan Nyonya muda Mahendra."
Mbak Endang mengangguk.
"Jika kau sedang sibuk di luar, maka Yuri yang akan menemani Nyonya muda di kamar. Begitu juga sebaliknya. Tuan muda tidak ingin Nyonya sendirian di kamar ketika Tuan muda sedang tidak ada. Kecuali Nyonya sendiri yang menginginkan nya." sambung Bu Asri.
"Baik Bu Asri." jawab Mbak Endang.
Bu Asri kemudian berbicara pada Yuri.
"Nona Yuri, apa anda paham?"
Yuri mengangguk, paham yang di ucapkan Bu Asri pada mbak Endang. Yuri mendapatkan pekerjaan untuk membantu Mbak Endang yang artinya Yuri akan menjadi orang terdekat Mia juga.
Terlihat tampak senang dan berbisik di hati.
'Ah, tidak terlalu buruk. Aku masih bisa sering bertemu dengan Mia kalau begitu.'
Selanjutnya setelah Bu Asri pergi, mbak Endang memanggil Yuri, menyuruh Yuri untuk mendekat.
Mbak Endang menunjukkan beberapa hal yang perlu di ketahui oleh Yuri. Seperti menu sarapan, makan siang dan makan malam untuk Nyonya muda Mahendra. Secara detail dan wajib untuk di perhatikan. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun , atau pecat sebagai hukuman nya.
Yuri semakin merasa kan nyeri di ulu hatinya, apalagi setelah mbak Endang menjelaskan jika ini adalah rahasia yang tidak boleh bocor pada pelayan lain nya. Hanya orang orang terdekat Nyonya Mia lah yang boleh mengetahui ketidak pintaran Sang Nyonya muda.
Terlalu buruk keluarga nya memperlakukan Mia. Hingga Mia tumbuh penuh tekanan, tumbuh tanpa pendidikan, tanpa fasilitas apapun dan tanpa kasih sayang , bahkan tanpa pergaulan. Terlalu sakit Mia menjalani hidup nya di rumah ayahnya sendiri. Hanya karena kesalahan masa lalu orang tua nya. Mia yang tidak tau apa apa, yang seharusnya tidak menanggung dosa Mereka, harus menjadi korban nya.
Memikirkan itu, Yuri mengutuk keluarga nya. Tidak lupa mengutuk dirinya juga. Dirinya yang tidak luput pernah, bahkan sering ikut menyakiti Mia. Meskipun Yuri melakukan itu bukan karena kehendak hatinya. Tapi Yuri tetap Menyesal, kenapa tidak menolak perilaku jahat mereka. Kenapa tidak mencegah kelakuan mereka.
Tanpa di sadari Air mata Yuri menetes. Sedih, lalu terharu. Berbisik rasa syukur. 'Mia.. kau pantas bahagia. Tuhan telah mengganti penderitaan mu dengan kebahagiaan yang begitu besar.'
Lalu berjanji. 'Aku akan menebus kesalahanku padamu Mia. Aku berjanji. Maafkan aku.. maafkan aku.. maafkan aku.'
Meski harus menjadi pelayan Mia seumur hidupnya sekali pun, Yuri bersedia. Demi ingin menebus kesalahannya. Lalu membenci ibu nya dan Jihan, pasti akan Yuri lakukan demi Mia.
**
Di kamar Garra,
Wajah Mia masih tenggelam di bantal. Mia bukan sedang kesiangan. Bukan malas bangun.
Tapi malu, sangat malu.
Pagi buta tadi sebenarnya Mia sudah bangun, begitu terkejut ketika mendapati dirinya tidur dengan posisi mendekap erat tubuh Garra. Dengan posisi kepala di dada Garra dan tangan yang mencengkeram kuat pinggang Garra. Mia lalu mengangkat tangannya pelan pelan, berharap Garra tidak terbangun dengan gerakan nya.
Tapi sayang, baru saja tubuh Mia bergerak.
Grep...!!!
__ADS_1
Tangan Garra lebih cepat menangkap tubuhnya. Cepat dan kuat hingga tubuh Mia sontak menindih tubuh Garra.
"Mau kemana?"
"Aku.. aku..!"
"Semalam saja kau menerobos pembatas wilayah kekuasaan ku. Sekarang, enak saja mau pergi begitu saja. Mirip jelangkung saja."
"Hah!!" Mia terbelalak.
"Datang tak diundang, pergi semau diri."
"Masa iya?" sambil berontak melepaskan diri, lalu melirik ke samping.
Benar saja, dua guling besar pembatas wilayah kekuasaan masing masing mereka sudah jatuh berserak di lantai. Bahkan selimut Mia pun juga.
"Tidak percaya..?" Garra bangun dan menatap Mia.
"Mungkin aku ngelindur. Jadi anggap saja ini hanya kecelakaan .. Atau kebetulan." bantah Mia, segera beralih ke samping kembali.
"Ngelindur apa memang senang?"
"Diam..!!" Mia meringkuk kembali.
"Atau Mia sudah jatuh cinta padaku?"
"Mana ku tau.?" Mia menoleh lagi.
"Di sini apa rasanya ketika tadi ada di atas tubuh ku?" Garra bertanya, tapi mirip seperti mengintrogasi sambil menunjuk dada Mia.
"Seperti... Apa ya??" Mia masih sempat untuk berpikir , padahal rasa malu nya saja belum menghilang.
"Apa Mia..? Berdenyut? Atau jedag jedug begitu?" Garra semakin penasaran, makin mendekat kan wajah nya pada Mia.
Mia menatap bola mata Garra.
Beberapa detik, lalu lebih dari detik.
Sesak..! Sesak..! Dada Mia terasa sesak.
"Awas..!" Mia mendorong wajah Garra agar menjauh, lalu memegangi dadanya.
"Kenapa..? Apa sesak?"
Mia mengangguk.
"Seperti nya aku terkena asma. Tidak tidak.. Ini seperti serangan jantung ringan."
"Saat menatap ku?" Garra bertanya kembali.
Mia mengangguk, masih memegangi dadanya.
Bukannya khawatir dengan keadaan paru paru atau jantung Mia, Garra malah tersenyum senang!
______________
bersambung....
__ADS_1
[ Komen sebanyak kalian mau, gak papa lah...] biar rame...!!!