Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Pengakuan cinta dari Mia.


__ADS_3

Citra masih di bawah kekuasaan tangan Mia yang saat ini sedang mencengkeram kembali rambut pirangnya. Dengan wajah nya yang semakin pias.


Citra tidak pernah menyangka, tidak pernah menduga. Tanpa mengira jika Wanita yang bernama Mia istri dari mantan calon pacarnya dulu itu se arogan dan sekuat ini.


Mia kembali meneruskan aksinya. Bukan hanya tangan nya yang kasar, umpatan kasar dan sumpah serapah pun tak luput keluar dari mulut nya. Kali ini, rupanya Mia bukan sedang berakting. Bukan sedang ngikuti gaya artis favoritnya, melainkan hati Mia ,pikiran Mia benar benar sedang terbakar cemburu.


"Jika kau masih sayang dengan wajah cantik mu ini, maka hentikan niatmu untuk mendekati suami ku. Hapus ingatanmu dari seluruh kenangan mu bersama Suamiku." ucap Mia kembali.


"Iya Nyonya muda. Saya tidak mungkin mengulangi nya lagi. Mohon lepaskan saya. Ampuni saya...!" Citra mengiba.


"Baik lah, karena Nyonya Mahendra adalah wanita yang lemah lembut dan penuh kebaikan, Maka kali ini aku akan mengampuni mu dan melepaskan mu. Tapi ingat!! Sekali saja kau berani menentang ku, berarti kau sengaja mengibarkan bendera perang dengan ku..!! Aku akan menghancurkan wajah cantik mu ini dan membuat hidup mu tidak bisa kau gunakan lagi. Kau dengar....!!!!???"


"Iya Nyonya muda. Saya dengar???" Citra terisak.


'Mana ada kau baik dan lembut?? Hu..hu.. Kau serigala betina Mia..!' umpat Citra masih sempat memaki di dalam hati.


"Jangan kan untuk menyentuh atau mendekati Suami ku. Memandang pun tak boleh. Memikirkan nya pun tak ku ijinkan. Kau paham....!!" kembali Mia menekankan dengan penuh emosi.


"Iya Nyonya .. iya.. Saya akan lakukan. Saya janji.!" jawab Citra.


Mia melepaskan tangan nya dari rambut Citra, lalu menoleh pada Ang yang ternyata sudah berdiri di sana, di ujung pintu sedari tadi. Ang yang terpaku membisu melihat secara langsung amarah sengit dari Nyonya mudanya itu.


Mia memanggil Ang,


"Ang... Kemari.!" panggil Mia. Tanpa Tuan tampan Sekretaris lagi.


"Iya Nyonya." jawab Ang cepat. Sontak mendekat.


"Seret Babon Ulet ini keluar dan pasti kan agar dia tidak mengulangi lagi perbuatannya!" perintah Mia.


"Siap Nyonya!" jawab sekretaris Ang, langsung menyeret tangan Citra.


Brug....!!!


Sekretaris Ang melempar tubuh Citra dengan kasar ke dalam mobil setelah membuka pintu mobil milik Citra.


"Pergi lah Nona. Pergi sejauh jauhnya dari kehidupan Tuan muda, atau Nyonya kami akan menghapus jejak mu di dunia ini!" ucap Sekretaris Ang menutup pintu mobil Citra.


"Sekretaris Sialan!!! Brengsek kau...!!!" Citra mengumpat, lagi lagi hanya berani di dalam hati dan segera tancap Gas meninggalkan rumah Garra dengan membawa kekalahan sekaligus Malu yang berlipat ganda.


**


".... Aku berhenti berharap! Dan menunggu datang Gelap. Hingga suatu saat, tak ada cinta ku dapat.. Kenapa ada derita saat bahagia menyapa. Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?????


Aku pulang....!!! Tanpa menang...!!! Ku akui... Kekalahan ku....!!!..


Song by Sheila on seven. Berhenti Berharap!


Musik sendu mengiringi Isak tangis milik Citra yang kebetulan tak sengaja terdengar oleh nya dari sebuah tip kecil milik nya di mobil, yang terputar secara otomatis saat ia menghidupkan mobilnya. Seolah mewakili perasaan Citra saat ini. Semakin membuat kelam hati Citra.


"Brengsek....!!!" Citra segera mematikan tip itu. Merasa tersinggung hatinya.


Sementara sekretaris Ang, mengibaskan kedua telapak tangan nya, lalu melenggang masuk.

__ADS_1


Mia yang saat ini menghela nafas lega menoleh pada Yuri yang langsung Mengacungkan dua jempol nya.


"Good Mia! Kau hebat! Kau juara!"


Mia tersenyum bangga!


Di ujung sana, di balik tembok pembatas ruangan. Kakek Abian dan Nenek Sulis pun tersenyum bangga. Melakukan tos dan berjalan bergandengan menuju kamar mereka.


"Lihatlah, betapa hebatnya Cucu menantuku. Begitu mudahnya menyingkirkan calon pelakor. Tidak sia sia wanita pilihan ku itu." ucap Kakek Abian pada Istri nya.


"Kau benar Suamiku. Ternyata di balik kepolosan istri Garra, tersimpan keberanian yang dahsyat. Aku bangga padamu suami ku. Kau tidak pernah salah dalam memilih." sahut Nenek Sulis. Kemudian mereka masuk kedalam kamar mereka dengan perasaan bangga bercampur senang.


Mia masih tersenyum bangga.


"Satu masalah kelar. Ah, ternyata mudah. Tak sesulit yang ku bayangkan." ucap Mia.


"Kau benar Mia. Wanita itu pasti kapok selangit." sahut Yuri.


"Tinggal satu masalah lagi." ucap Mia membuat Yuri bertanya.


"Satu lagi? Apa Mia?"


"Suamiku!"


"Hah! Kau jangan menyalahkan suami mu Mia. Dia tidak bersalah." cegah Yuri, mengerti maksud dari Mia.


"Tidak bisa! Tidak akan ada asap jika tidak ada apinya. Dan aku harus memadamkan titik api itu sebelum membesar. Garra harus ku siram dengan air, agar titik api di tubuhnya padam untuk selamanya." ucap Mia, melangkah.


"Mia.. Jangan bertengkar dengan Suamimu. Dia kan tidak bersalah." Yuri tetap berusaha mencegah.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan bertengkar dengan nya." jawab Mia.


"Kau kembali saja ke kamar mu Yuri. Tugas mu sudah selesai. Dan terimakasih yang sebesar-besarnya tak lupa aku ucapkan padamu. Tanpa mu, aku tidak akan sekuat ini. Tanpa mu aku tidak mungkin berhasil tadi." sambung Mia menepuk bahu Yuri.


"Ye, macam pidato aja. Baiklah. Aku ke kamar. Ingat ya..!! Jangan bertengkar dengan Suamimu. Kau harus ingat pesan Ku. Introspeksi diri. Jadi istri yang baik dan melayani suami dengan baik, agar Suami mu tidak akan tergoda dengan wanita lain."


Mia mengangguk, melangkah ke kamar.


Berhenti di depan pintu sebentar. Terbayang kembali bayangan yang sempat di gambarkan oleh Yuri. Kali ini Bayangan Garra memeluk Citra, bayangan Citra bermanja manja pada Garra. Lalu bayangan mereka berdua sedang berciuman.


Detak jantung Mia kembali meningkat tajam.


Lalu Mia membuka pintu. Menatap tajam Garra yang sedang duduk termangu di ujung sofa.


Melihat Mia sudah kembali, Garra langsung berdiri menghampiri Mia.


Awalnya, Garra mengira jika Mia saat itu sedang berakting marah, berakting cemburu. Dan bangga pada keberanian Mia yang berani melawan Citra.


Tapi perkiraan Garra meleset sempurna.


Mia menepis tangan Garra ketika menyentuh lengan nya.


"Singkirkan tangan mu, aku tidak mau. Tangan mu itu bekas Mantan calon pacar mu tadi."

__ADS_1


"Mia!!"


"Jawab pertanyaan ku Garra! Apa wanita itu tadi sempat mendatangi mu ke kantor? Sebelum dia kemari?"


"Mia.. Dia..Dia.."


"Jawab saja!"


"Ya. Dia memang menemuiku di kantor. Tapi aku.._"


"Apa yang sudah kalian lakukan di sana???" Mia histeris, menangis meraung raung memukuli dada Garra.


"Aku benci pada mu Garra. Aku benci!!!" teriak Mia.


"Mia.. Mia. Dengar kan aku. Tidak ada yang terjadi apapun di antara kami. Tidak terjadi sentuhan fisik secuil pun. Sungguh! Percayalah." ucap Garra berusaha menenangkan hati Mia.


"Kau bohong. Kau pasti sudah bohong padaku!"


"Mia... Aku Berani bersumpah! Aku mengusir nya. Aku juga tidak menyangka jika Citra nekad kemari untuk menemui mu. Dan tadi.. Aku kecolongan saat dia menarik tangan ku. Percaya padaku Mia.. Jangan membuat ku sedih Mia.. Tolong. Ku mohon percaya lah." Garra berusaha mendekap Mia yang terus saja meronta.


"Kau tidak tau ya?? Aku ini juga wanita. Aku ini istri mu. Aku juga bisa Cemburu memikirkan mu dengan wanita lain Garra! Hatiku sakit. Aku cemburu!!"


Plup..!!!


Tak ada pilihan lain untuk menenangkan hati Mia. Garra membungkam paksa mulut Mia dengan bibirnya. Sesaat menyesap dalam. Lalu kembali menatap wajah Mia.


"Aku hanya mencintaimu. Dengarkan aku istriku. Aku hanya menyentuh mu. Memilikimu. Aku milik mu. Hanya Milik mu. Kau harus percaya itu. Harus!" Garra memegang kedua pipi Mia.


"Benar??" Mia mulai tenang.


Garra mengangguk. Membimbing Mia ke ranjang dan mendudukkan nya di sana.


Garra berlutut di hadapan Mia. Menggenggam kedua tangan Mia.


"Kau harus percaya padaku. Tidak ada yang bisa memikat hati ku selain kamu Mia. Bahkan saat kau belum mengenal ku. Saat kau belum menikahi ku, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku sudah menginginkan mu untuk menjadi cucu menantu kakek. Kau masih ingat pertama kita bertemu? Saat itu kau bahkan belum mengenal ku. Tapi aku sudah menyukaimu."


Mia terdiam. Lama. Lalu mengangguk.


"Janji .. Bang Garra tidak akan menduakan Mia???"


"Janji. Sumpah! Berani demi apapun."


Mia tersenyum. Lalu mendekap kepala Garra.


"Aku mencintaimu bang Garra!"


"Hah! Apa Mia?" Garra tersentak, lalu mendongak, tidak menyangka akan mendapat kan pengakuan dari Mia.


"Ulangi sekali lagi."


Mia ternganga, menutup mulut nya dengan tangan nya. Tak sadar dengan ucapan cinta nya yang terlontar begitu saja. Namun itu sebenarnya tulus dan itu berasal dari hati Mia yang paling dalam.


________________

__ADS_1


__ADS_2