
Sekretaris Ang sudah berada di dalam mobilnya kembali, yang saat ini telah meluncur pulang ke Apartemen nya.
'Seminggu.' masih kepikiran jangka waktu yang di sarankan oleh dokter Sinta.
"Argh..!" tiba tiba berteriak.
"Mana bisa!" otaknya berputar untuk mencari solusi agar satu Minggu itu bisa menahan diri.
Mobil sudah berhenti, sekretaris Ang kemudian turun dan berjalan lamban. Masuk, menaiki lift lalu menuju kamarnya.
'Sebenarnya jika Yuri tidak menggodaku, mungkin saja aku bisa menahannya.'
Kemudian membuka pintu kamar, seketika matanya membulat menatap gadis kecil yang sedang berbaring di ranjangnya.
Sekretaris Ang menghampiri. Pipi merona dengan rambut panjang lurus yang indah. Kulit tubuhnya halus dan putih. Belum lagi pemilik bibir imut dan hidung yang mancung itu tertidur pulas dengan posisi terlentang bebas tanpa beban. Menampakkan jelas lekukan tubuhnya yang seksi , yang hanya berbalut baju tidur tipis.
Mungkin karena lelapnya tidur, tali baju yang hanya sejari itu merongsot menyebabkan Tali penyanggah dua bukitnya terlihat, bahkan belahan nya ikut terlihat.
Belum lagi baju bagian bawahnya tersibak dengan kaki sebelah yang naik ke guling.
Sekretaris Ang sampai menelan ludah melihat itu. Duduk di samping tubuh yang tergeletak itu.
"Kenapa bocah ini mempunyai bentuk tubuh yang indah seperti ini sih?" tangan nya menyentuh kaki bagian atas yang mulus itu.
"Ternyata bukan dia yang menggodaku, tapi dasarnya aku yang tergoda." gumamnya, menempelkan bibirnya ke bibir si bocah.
Menyeruput nya pelan. Darah di tubuh Ang kembali berdesir hebat hanya karena menyeruput itu. Kemudian nekad merekahkan bibir itu dengan lidahnya dan kini semakin liar menjelajahinya sambil tangannya tak bisa dikendalikan. Meraba raba.
Tentu saja yang di perlakukan demikian menggeliat karena merasakan sentuhan. Kemudian membuka mata dan sontak mendorong sekuat tenaga dengan reflek nya.
"Aaa..!" Yuri menjerit keras.
Sekretaris Ang terpental jatuh ke lantai.
"Kakak! Kau!!" Yuri menutup mulutnya saat melihat suaminya sudah terlentang di lantai.
Sekretaris Ang mendongak.
"Kenapa mendorongku?" meringis memegangi pinggang nya yang sakit sambil berdiri.
"Kakak! Kau mengagetkan ku. Ku pikir siapa? Maafkan aku." bangun. Membantu sekretaris Ang.
"Kau pikir siapa lagi yang berani masuk kesini selain aku hah!"
"Maaf." Yuri menunduk dengan wajah menyesal.
"Sakit ya?" memijat pinggang Sekretaris Ang.
"Sakit lah. Itu keramik. Bukan Kasur??"
"Maaf kakak. Aku tidak sengaja."
"Lagian, kenapa pulang bukan nya membangunkan aku malah meraba raba. Aku kan kaget!"
"Ku kira ada orang lain yang masuk dan hendak memperkosa ku."
"Ngomong apa sih? Siapa yang berani melakukan itu pada Nyonya Ang hah? Cari mati dia." sekretaris Ang melotot.
"Makanya jangan lagi seperti itu kak! Untung aku cepat melihat wajahmu dan cuma ku dorong. Coba kalau tidak, terus ku gebukin bagaimana?"
Sekretaris Ang tergelak.
"Kamu menggodaku sih? Aku jadi tidak tahan!"
"Mana ada menggoda! Aku cuma tidur sedari tadi." jawab Yuri.
"Posisi tidurmu sangat menggoda. Atau kau sengaja ingin menggodaku ya?"
"Tidak! Enak saja. Aku saja tidak tau kalau kakak sudah pulang." bantah Yuri.
"Dari mana saja? Katanya hanya sebentar. Aku sampai ketiduran karena menunggumu." ucap Yuri lagi.
"Maafkan aku. Tadi aku menemui Tuan Muda Garra. Ada masalah yang harus kami bahas." jawab Sekretaris Ang.
"Masalah? Apa kakak? Apa masalahnya serius?" tanya Yuri dengan nada yang serius juga.
Sekretaris Ang hanya menggeleng.
"Kakak tidak mau bercerita padaku?"
Sekretaris Ang menatap kedua mata Yuri.
'Ini masalah kita Yuri. Masalah kita semalam!'
"Kak!"
"Eh, iya. Pinggang ku sakit sayang.." rengek Ang ingin menghindari pertanyaan Yuri.
"Biar aku pijat kalau begitu. Sini?" Yuri menarik bantal.
Sekretaris Ang tak membantah, segera merangkak ke ranjang dan menaruh tubuhnya tengkurap.
Yuri pun mulai meraba pinggang suaminya dan memijatnya. Sekretaris Ang menikmati setiap pijatan tangan Yuri.
Merasa tidak puas karena memijat dari luar baju, Yuri menarik baju kaos yang dipakai sekretaris Ang keatas.
"Kakak buka saja. Susah."
"Jangan! Tidak usah." cegah Ang. Ternyata sekretaris Ang sudah takut duluan kalau harus membuka bajunya.
__ADS_1
"Kakak malu? Semalam saja kakak tidak pakai apa apa tidak malu. Aku saja juga tidak malu jika harus bertelanjang di depanmu." ucap Yuri.
"Bukan malu sayang.. Tapi."
"Kalau begitu cepat buka!"
"Hem!"
Sekretaris Ang akhirnya kalah. Bangun dan membuka bajunya, melempar nya sembarangan kelantai.
"Sudah! Puas! Nih, nikmati saja tubuhku sepuas mu!"
"Beneran nih?" Seperti mendapatkan angin segar, Yuri segera mendekap tubuh Ang yang telanjang dada itu.
Sekretaris Ang tersenyum saja,membelai rambut Yuri yang sudah di dadanya.
"Seperti nya kau sangat menyukai tubuhku?" bisik sekretaris Ang.
"Tentu saja. Ini kan milikku sekarang." jawab Yuri sambil menciumi dada sekretaris Ang membuat pria itu meradang. Segera mendorong wajah Yuri dengan pelan.
"Pijatnya jadi tidak." sengaja mengalihkan suasana.
"Eh iya."
Sekretaris Ang kembali memutar tubuhnya dan kembali ke posisi semula. Dengan dada yang sudah bergemuruh hebat, sekretaris Ang berpura pura seperti sedang baik baik saja.
Yuri melanjutkan pijatannya.
"Kakak, tadi membahas apa sih? Apa ada masalah di perusahaan?" Yuri masih saja penasaran.
Sekretaris Ang berpikir sejenak, merasa jika Yuri perlu tau. Dia memutar tubuhnya kembali lalu bangun dan kini bersandar di tepi ranjang. Memandangi wajah istri kecilnya itu.
"Sayang..!" membelai lembut wajah itu.
"Apa kamu bersedia jika ikut program KB?"
Yuri diam, tidak jawab.
"Ini semua demi kebaikan mu Yuri. Tolong bantu aku agar aku tidak cemas memikirkan ini. Aku berjanji jika usiamu sudah sampai sembilan belas tahun saja. Kau boleh berhenti. Setelah itu kita baru berencana untukmu hamil."
Yuri memandangi wajah suaminya sekali lagi. Gurat ketakutan dan kecemasan begitu terlihat di sana. Yuri bisa merasakan itu. Yuri mengangguk.
"Apapun itu akan ku lakukan asal kakak bisa nyaman."
Sekretaris Ang langsung meraih tubuh Yuri dan memeluk erat.
"Terimakasih, terimakasih sayang?"
"Aku melakukan ini semua demi kebaikan kita. Dengan begini kau juga akan puas menikmati pernikahan kita bukan?" ucap Ang lagi.
"Baik kakak. Aku setuju kok. Kapan aku harus mulai ber-KB?" tanya Yuri.
"Tadi aku menemui Dokter Sinta. Dia menyarankan untuk menunggu seminggu. Ya .. Seminggu lagi kau bisa mulai ber-KB. Tapi akan dilakukan Tes Pack terlebih dahulu sebelumnya. Apakah yang semalam itu..!"
"Jangan menakuti Yuri??" mata Ang mulai berkaca kaca.
"Kakak kenapa bisa secengeng ini sekarang? Kenapa kakak jadi lemah begini?" Yuri menatap wajah sekretaris Ang.
"Kau tidak pernah merasakan menjadi aku Yuri. Harus hidup tanpa ibu dari lahir. Setiap hari harus melihat ayahku kelelahan mencari uang dan mengurusku. Ayahku sekaligus berperan menjadi ibuku." air mata sekretaris Ang kini sungguh menetes.
"Setiap mengingat itu hatiku ngilu. Setiap menatapmu aku seperti seorang anak durhaka yang telah melanggar pesan Ayahku. Aku tidak bisa mengikuti keinginan nya agar tidak menikahi gadis di bawah umur. Aku hanya bisa berjanji untuk menjagamu. Meskipun aku tau, jika ajal kematian itu sudah takdir. Namun setidaknya aku ingin berusaha menjaga mu. Kau satu satunya yang ku punya di dunia ini."
"Kakak! Maafkan aku sudah membuatmu bersedih. Aku tau, aku mengerti perasaan mu. Jangan bersedih lagi. Aku akan ikut ber-KB seminggu lagi ya? Jangan bersedih lagi." Yuri meraih tangan sekretaris Ang dan menciuminya.
Sekretaris Ang tersenyum, mengusap air matanya.
"Tapi kakak, jika aku sungguh hamil. Ku mohon jangan cemas. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik. Percayalah Kakak , semua akan baik baik saja."
Sekretaris Ang mengangguk, ia mengingat ucapan dokter Sinta.
"Ya, kita akan saling menjaga." menarik tubuh Yuri.
"Apa kau mau menginap di rumah Jihan dalam seminggu ini? Atau di rumah Nyonya Mahendra. Kau bisa menemaninya selama menunggu seminggu ini." ucap sekretaris Ang.
"Maksud kakak? Selama seminggu ini kita berpisah begitu?" Yuri kembali memandangi wajah Ang.
"Hanya seminggu sayang... Ini demi.."
"Aku tidak mau! Aku tidak mau kalau harus begitu. Tidak mau!!" teriak Yuri.
"Ya, ya ya.. Baiklah kalau tidak mau. Tidak usah berteriak."
"Kita di sini saja, dalam seminggu ini. Atau lebih!"
Akhirnya Yuri tersenyum,lalu berbisik nakal.
"Jika nanti khilaf. Kakak bisa melakukan KB alami dulu."
"Hah! Apa?" sekretaris Ang setengah berbisik juga, sambil menatap bingung dengan maksud Yuri.
"Kakak bisa mengeluarkannya di luar."
"Kau ini?" sekretaris Ang tergelak.
"Kecil kecil juga pintar hal begituan." menyentil hidung Yuri.
"Kan pernah sekolah."
"Iya juga."
__ADS_1
"Iya apa? Kakak Setuju?"
"Apa nya?"
"Mengeluarkannya di luar?"
"Yuri?? Aku tidak bisa. Aku tidak tau. Ahh... aku.. kau tau ini pengalaman pertama ku. Mana aku sepintar itu. Sudahlah! Kita cari aman saja!" sahut sekretaris Ang kini beranjak dari ranjang, meraih kaosnya dan mengenakannya kembali.
"Kakak, mau kemana?" Yuri bertanya melihat suaminya melangkah.
"Aku akan memesan makanan untuk makan siang kita." tanpa menunggu jawaban Yuri sekretaris Ang melangkah keluar.
Yuri hanya bisa berdiam diri menunggu suaminya. Dan tak lama sekretaris Ang muncul dengan banyak kantong makanan di tangannya setelah seorang driver taksi online mengantar pesanan makanan untuknya.
"Kakak, banyak sekali memesan makanannya?"
"Untuk sekalian sore nanti."
"Tapi ini banyak sekali!" menyambut kantong itu dari tangan Ang.
"Kita harus banyak makan. Siapa tau nanti malam kau lapar lagi." sahut Sekretaris Ang lalu duduk di sofa.
Yuri menghampiri Ang setelah selesai menuang makanan ke dalam sebuah piring.
Mereka pun menyantap makanan siang itu dengan sesekali saling menyuap, penuh kebahagiaan dan tersenyum.
***
Ini sudah malam, sekitar jam sembilan.
Sekretaris Ang dan Yuri berada di atas ranjang. Yang pria duduk bersandar di tepi ranjang seperti biasa sambil menggeser geser Hpnya. Sementara yang gadis kecil rebahan di dekatnya juga menatap layar Hpnya dengan kedua betis menumpang bebas di paha sang suami.
Merasa bosan dengan hpnya , Yuri melemparnya sembarangan ke atas kasur.
Bangun dan pindah duduk. Duduk di pangkuan Ang, dengan gaya menggodanya, melingkarkan kedua tangannya ke leher sekretaris Ang.
"Kakak! Sepi!"
Sekretaris Ang tersenyum, "Kau mau rame?" juga menaruh Hpnya. Melingkarkan tangannya ke pinggang Yuri.
"Kita bakar Apartemen ini saja!"
."Jangan! Enak saja. Mahal ini? Jika di jual bisa untuk membeli lima rumah seperti yang ditempati Ayahku!" sahut Yuri.
"Mending bakar hati kita saja!" sambung Yuri, mulai.
"Caranya?"
"Begini.." Yuri langsung merapatkan bibirnya.
"Yuri, jangan!" sekretaris Ang terkejut, niat hanya ingin bercanda tapi Yuri malah menyerobot saja. Segera menahan tubuh Yuri agar tidak merapat pada tubuhnya.
Namun lagi lagi usaha pria itu gagal ketika Yuri menyisihkan tangannya ke samping. Dan dengan lembut Yuri menarik tengkuknya, menyesap bibirnya dengan lembut.
Awalnya Sekretaris Ang diam saja. Hingga aksi Yuri semakin panas. Namun lama kelamaan, tangan sekretaris Ang kembali, yang tadinya ingin mendorong tubuh Yuri malah terbalik. Menarik tubuh Yuri hingga merekat padanya. Tidak bisa untuk menolak, tidak bisa untuk tidak membalas.Kemudian meraba punggung mulus Yuri.
Hanya selang beberapa detik , lagi lagi benteng pertahanan sekretaris Ang ambruk seketika. Tubuhnya perlahan merongsot ke bawah. Kini berbaring dengan posisi Yuri di atas tubuhnya.
Sudah tidak bisa di kendalikan. Setelah lama berada diatas tubuhnya, sekretaris Ang merobohkan tubuh Yuri dan kini sudah memposisikan dirinya dengan baik dan benar.
"Yuri, aku ingin lagi!" bisik nya di telinga Yuri dengan nada berat seperti penuh tekanan.
Yuri mengangkat kepala sekretaris Ang, memandangi wajah yang menggigit bibir bawahnya sendiri itu.
"Tidak perlu menahan diri kakak. Kau bisa mencoba untuk mengeluarkan nya di luar. Ingat kakak. Keluarkan di luar."
Sekretaris Ang mengangguk ragu.
Tapi apa, keraguan hanya tinggal keraguan. Setelah Yuri berhasil mencampakkan seluruh pakaiannya, sekretaris Ang pun melakukan hal yang sama. Kemudian dengan brutal menciumi setiap inci tubuh Yuri tanpa ada yang terlewat.
Lalu dengan semangat yang menggebu menghujam istri kecilnya itu tanpa ampun.
Lama, hingga terdengar erangan panjang dari mulut Yuri. Bukan nya berhenti, bukannya mengingat rencana semula. Sekretaris Ang terlupa. Mendekap erat tubuh istrinya dengan tubuh bergetar hebat, merasakan setiap tetes hangat yang mengalir ke dalam rahim istrinya.
"Yuri..!!" suara beratnya, menciumi wajah istrinya.
Ah.. entahlah!
Pikiran Ang terobrak abrik sudah.
Sudah terlanjur. Tidak bisa di hindari. Antara takut dan was was namun sangat menikmati nya.
Dan entah jam berapa ini, kembali terjadi sekali lagi. Terlupa lagi dengan rencana semula. Terlepas lagi di dalam sana.
Kini sekretaris Ang hanya bisa pasrah dengan terbaring lemas di sisi Yuri.
"Aku tidak berguna!" makinya dalam hati.
"Jika nanti benar benar tumbuh janinku di sini. Bukan hanya dokter Sinta. Tapi sepuluh dokter kandungan yang akan aku sewa untuk menjagamu dan bayiku sampai kau melahirkan. Bukan hanya operasi Caesar, bila perlu dokter ahli bedah dari luar negeri yang akan ku undang kemari!" sambil mengelus ngelus perut sang istri.
"Kakak! Geli?" Yuri menampik tangan nya.
"Kau belum tidur?" mengangkat wajahnya untuk menatap istrinya.
"Sudah! Tapi kau mengagetkan aku kembali. Apa kakak ingin lagi?" memutar tubuhnya.
"Jangan tanya begitu, sudah pasti iya. Tapi Kau pasti lelah. Jadi tidurlah. Jangan memancingku lagi." sekretaris Ang mendekap erat tubuh istrinya sambil mengelus kepalanya.
Yuri tersenyum saja di dada sekretaris Ang.
__ADS_1
"Kau ini, kecil kecil cabe rawit!" gerutu pria itu dalam hati.
___________________