
Masih di kediaman keluarga Kuncoro.
Pagi sudah berganti setengah hari, keluarga ini masih terlibat obrolan hangat yang ringan dengan terkadang masih di selingi tawa bahagia dari mereka.
Jihan, yang tadi nya terpuruk dalam kedengkian itu kini mulai tertawa ikhlas. Mulai membuly Yuri dengan candaan candaan.
"Kau melangkahi ku Yuri. Aku akan meminta pelangkah padamu. Pokoknya kau harus memberikan pelangkahan padaku karena mendahuluiku menikah." ucap Jihan.
Yuri tergelak. Lalu menoleh pada kekasihnya. "Kakak dengar? Jihan meminta pelangkah pada ku." ujar Yuri pada sekretaris Ang yang ikut tergelak.
"Kau tenang saja calon kakak ipar. Kau bisa menyebutkan apa saja. Aku akan memberikan nya padamu."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan meminta mobil padamu. Mobil keluaran terbaru!" seru Jihan membuat Tiara langsung mencubit dengan kuat pinggang Jihan hingga Jihan menjerit kesakitan.
"Argh... Ibu.. Kenapa mencubit ku?"
"Dasar anak laknat, tidak tau diri kau ini. Tidak ada sopan santunnya sekali. Kau lupa dengan siapa berbicara hah! Seenak jidat saja meminta barang!" bentak Tiara pada Jihan.
"Jihan tau Bu, Karena sekretaris Ang banyak uang . Kalau tidak , mana Jihan berani meminta. Jihan yakin jika hanya sebuah mobil , sekretaris Ang tidak akan mungkin kesusahan untuk membelinya." sarkah Jihan.
Ang hanya tersenyum mendengar ucapan Jihan.
"Ah, tolong jangan di ambil hati ucapannya Tuan sekretaris. Maafkan Putri saya Tuan, maafkan saya tidak bisa mendidik Jihan dengan benar. Lupakan ucapannya. Tidak perlu ada pelangkahan segala. Kita ini kan sekarang hidup di zaman modern yang sudah tidak menggunakan tradisi orang zaman dulu yang harus pakai pelangkahan pelangkahan segala." ucap Tiara pada sekretaris Ang.
"Tapi Bu, itu harus lho. Jika tidak, Jihan akan kesulitan mendapatkan jodoh. Kakek dulu pernah cerita kepadaku begitu? Kau dengar juga kan Yuri, waktu dulu kakek masih hidup pernah bercerita begitu?" protes Jihan pada Ibunya.
"Diam kau tengil!" bentak Tiara.
"Tidak usah di dengarkan Tuan Sekretaris. Anak ini memang sudah konslet otaknya." ucap Tiara lagi, membuat Jihan langsung cemberut.
"Benar Tuan Sekretaris, jangan pikirkan apapun. Sebaiknya sekarang ini kita membicarakan hari untuk pernikahan kalian saja." Gani Kuncoro.
"Anda benar Calon Ayah mertua,kita memang harus membahas masalah hari pernikahan, tapi Jihan juga benar. Keluarga kami dulu juga sering membicarakan tentang Langkahan seperti kata Jihan tadi. Jadi tidak apa, saya akan memikirkan permintaan nya." jawab Sekretaris Ang.
"Begini Tuan sekretaris. Sebenarnya,jika menurut agama kita, menjelaskan bahwa menikah mendahului kakak perempuan itu diperbolehkan, karena tidak ditemukan dalil yang melarangnya. Yang diharuskan bagi adik adalah menghormati kakaknya, itu baru benar." ucap Gani sambil melirik Jihan.
"Dan masalah memberi pelangkah sebenarnya termasuk dalam kategori 'penting, tidak penting', tergantung pada kebiasaan di dalam keluarga atau budaya. Jadi semua itu terserah kesepakatan kalian saja. Jika bagi saya dan istri, itu tidak lah penting dan jangan terlalu di pikirkan." sambung Gani Kuncoro.
"Baiklah Ayah mertua. Itu biar menjadi urusan mereka. Sekarang ini kita membahas masalah pernikahan mereka saja. Bagaimana Ang?" kini Garra angkat bicara.
Sekretaris Ang mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu menurut anda kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Gani Kuncoro pada sekretaris Ang dengan serius.
"Lebih cepat itu lebih baik Tuan Gani, saya hanya ingin menjaga dari fitnah atau kemungkinan yang tidak kita inginkan." jawab Sekretaris Ang.
__ADS_1
"Anda benar Tuan. Saya sependapat dengan Anda. Kalau begitu bagaimana jika Akhir Minggu ini saja." ucap Gani.
Sekretaris Ang menoleh pada Yuri, masih dengan menggenggam tangan nya.
"Apa kau setuju sayang?"
"Eh, iya. Aku, ikut keputusan kakak saja." jawab Yuri tersenyum.
"Ah baiklah. Tuan Gani, saya akan mempersiapkan acara nya Minggu ini." ucap sekretaris Ang pada Gani Kuncoro.
Mereka pun akhirnya setuju, dan segera menentukan hari pernikahan untuk sekretaris Ang dan Yuri.
Setelah Minggu ini, enam hari lagi setelah hari ini.
Mengingat usia Yuri yang masih belum cukup umur untuk mendaftar ke Departemen catatan agama, mereka tidak akan mengadakan resepsi pernikahan yang megah karena pernikahan mereka besok hanya akan dilakukan dengan menikah di bawah tangan dahulu dan sepakat akan mengadakan resepsi setelah Yuri sudah cukup umur.
Patut diperhatikan, mengenai batas usia minimal seseorang boleh menikah, Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU 16/2019”) mengatur bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa:Hukum pernikahan dibawah umur menurut hukum islam adalah sah asal sudah baligh. Baligh untuk perempuan yaitu ketika Perempuan sudah mengalami Menstruasi. Sementara untuk pria , yaitu jika sudah pernah bermimpi basah, Mumayyiz, bisa bertanggung jawab serta rukun dan syarat sahnya pernikahan di penuhi, akan tetapi dampak dari pernikahan tersebut juga perlu dipertimbangkan untuk kebaikan kedua belah pihak.
Sekretaris Ang sendiri sudah mempelajari dan memahami tentang dampak pernikahan dini bagi Yuri.
Seperti cenderung kepada kekerasan seksuall , kelahiran di usia muda dan sebagainya.
Sekretaris Ang sudah memikirkan itu jauh jauh hari. Sudah tau apa yang harus ia lakukan dan berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa menjaga Yuri kelak setelah menikahinya dari hal hal yang akan membahayakan diri Yuri.
Yuri , Mia , Jihan dan Tiara kini berada di dapur untuk menyiapkan makan siang, meninggalkan para pria yang masih melanjutkan obrolan mereka.
Sampai semua hidangan sudah siap di atas meja, Yuri berlari kecil memanggil Calon suaminya , Ayahnya dan juga Tuan muda Garra untuk makan.
Kini mereka semua sudah siap di meja makan. Mia yang pertama kali mengambil piring untuk suaminya disusul Tiara dan Yuri.
Suapan pertama mereka mulai dengan senyuman kedamaian.
Namun belum juga separuh perjalanan nasi, tiba tiba Garra menghentikan makannya.
"Bang Garra? Bang Garra kenapa?" tanya Mia melihat suaminya menutup mulutnya dengan tangan nya.
Garra hanya menggeleng saja lalu segera beranjak dari kursi nya. Garra berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur itu juga dan memuntahkan semua makanan yang baru saja ia telan.
Mia yang khawatir menyusul Garra. Melihat keadaan Garra , Mia langsung panik.
"Bang Garra, kau kenapa?" Mia memijat tengkuk Garra.
"Entah sayang? Aku juga tidak tau, kenapa perut ku tiba tiba saja begitu mual!"
__ADS_1
"Apa masakan nya tidak enak?"
"Enak Mia, enak. Beneran enak. Tapi entah kenapa perutku mendadak seperti tidak mau di isi."
Hoek...Hoek...!!!
Garra kembali muntah. Kali ini bukan hanya makanan yang baru ia telan saja yang keluar, tapi sekopi kopi nya dan sisa sarapan pagi nya ikut terkuras habis.
Mia semakin panik.
"Bang Garra!! Kau seperti nya sakit parah, bagaimana ini?" Mia mulai menangis, apalagi ketika melihat wajah Garra sudah pucat dengan keringat dingin mengalir ke rahang.
"Tidak apa, tidak apa apa. Mungkin bang Garra hanya masuk angin." ucap Garra berusaha kuat untuk menenangkan hati Mia.
"Ayo, ayo. Kita keluar. Sudah sudah, jangan menangis. Mual nya sudah hilang." ucap Garra melangkah keluar dengan berpegangan tangan Mia yang menuntut nya.
Mereka yang melihat keadaan Garra pun ikut khawatir. Terlebih Tiara, ia berpikir mungkin hidangannya tidak disukai menantu hebatnya itu.
"Tuan muda Garra, maafkan saya. Mungkin hidangan ini yang salah dan sudah membuat Tuan muda seperti ini." ucap Tiara dengan nada bersalah.
"Tidak Ibu mertua. Masakan nya enak kok, saya juga sangat suka. Tidak ada kaitan dengan hidangan ini. Mungkin saya sedang masuk angin saja." jawab Garra.
"Sudah, jangan dipikirkan. Lanjutkan saja makan siangnya. Tapi maafkan saya, Seperti nya saya tidak bisa melanjutkannya." sambung Garra lalu menoleh pada Mia.
"Sayang. Maafkan aku, sudah mengacaukan makan siang kita. Kau tidak apa apa kan jika ku tinggal? Aku akan menunggu di ruang depan saja. Kau lanjutkan makan mu, temani mereka." ucap Garra.
Mia mengangguk. "Mia antar bang Garra ke depan dulu." balas Mia, menggandeng tangan Garra.
Mereka pun melangkah meninggalkan ruangan makan. Namun baru beberapa langkah, tiba tiba Garra ambruk ke lantai. Beruntung Mia sempat menopang kepala Garra hingga tak terbentur lantai.
"Bang Garra.. Bang Garra!!" Mia histeris mengguncang tubuh suaminya.
Semua yang ada langsung berlari kearah mereka.
"Tuan Muda. Tuan Muda!! Anda kenapa?" jerit Sekretaris Ang panik.
Sekretaris Ang langsung mengganti posisi Mia.
" Tuan sekretaris, Kita bawa Tuan muda ke rumah sakit sekarang!" ucap Gani Kuncoro.
__________________
Note:
Mumayyiz : dalam Islam memiliki pengertian anak yang telah mencapai usia sekitar 7 tahun, dianggap bisa membedakan antara hal bermanfaat dan berbahaya bagi dirinya. Istilah Mumayyiz merujuk pada seseorang yang telah mampu melakukan banyak hal, baik tindakan untuk diri sendiri maupun orang lain.
__ADS_1
Bersambung....!!!
[ Hayo... Garra kenapa Tuh...??? Ada yang bisa nebak..?]