
Di kantor,
Saat ini Sekretaris Ang tengah duduk bersandar di sofa dengan beberapa kertas di depan nya. Lagi lagi pikirannya tak bisa fokus pada kertas kertas itu. Rupanya bayangan Si bocah kelinci terus menari di otak nya.
Ang tidak sadar jika Garra sudah berdiri di hadapan nya , melihat bagaimana Ang sedang tersenyum senyum sendiri.
"Ehem.!"
Sekretaris Ang tersentak." Tuan Muda! Anda , anda kemari?" mendongak.
"Rupanya ada yang sedang terkena sumpah nih!"
"Tuan Muda , Anda bicara apa?" sedikit tersipu.
"Sudah lah Ang, kelinci kecil itu sangat lah manis. Sayang sekali jika sampai di ambil orang." sindir Garra.
Sekretaris Ang tersenyum, " Saya tidak mungkin akan membiarkan semua itu terjadi."
"Kalau begitu cepatlah kau menemui Gani Kuncoro untuk melamar nya."
Ang tak menjawab, terlihat raut wajah yang tadi semangat mendadak muram.
"Ada apa Ang? Apa yang kau ragukan?" tanya Garra melihat keraguan di mata Ang.
Ang menghela nafas berat nya. " Yuri masih terlalu muda. Jika saya melamarnya untuk saat ini, saya tidak mungkin tahan untuk menunggu. Karena sebenarnya saya ingin cepat menikah. Saya hanya takut merusak masa remajanya. Seharusnya dia sedang senang senang nya menikmati masa mudanya bukan malah mengurus rumah tangga."..
"Ku rasa itu bukan alasan yang tepat." Garra menangkap jika bukan itu alasan sebenarnya Ang.
Kembali Ang menghela nafas. " Menikahi anak di bawah umur, bukan kah melanggar hukum di negara kita Tuan muda?"
"Alasan mu memang benar Ang. Tapi menurut ku kau bisa mengambil keputusan yang tepat agar kau tak menyesal. Jika kau mau, Kau bisa menikah di bawah tangan dengan nya, Saat usianya sudah cukup kalian bisa mengurus surat nikah resmi. Bukan kah itu adalah solusi yang terbaik?"
Ang tersenyum,benarkan ucapan Garra.
"Baiklah Tuan. Saya akan memikirkan nya. Tapi.."
"Ada apa lagi?"
"Saya ingin menunggu sebentar. Memastikan Nyonya muda Mahendra mengandung penerus anda. Baru saya akan tenang dan akan segera memikirkan diri saya."
Mendengar jawaban Ang, Garra tergelak.
"Sebentar katamu? Jika iya. Jika butuh waktu yang lama Bagaimana? Kita tidak tau rencana Tuhan ke depan nya Ang? Kita hanya bisa berencana dan berkeinginan, tapi lagi lagi hanya Tuhan yang bisa menentukan."
Ang kembali terdiam. "Kita lihat nanti saja Tuan. Tapi saya sungguh berharap Nyonya muda segera hamil. Tuan besar pasti akan sangat senang. Dan hidup saya akan tenang setelah itu."
Garra hanya mengangguk ringan, ia tau jika dirinya lah yang sebenarnya menjadi alasan utama sekretaris Ang dalam memikirkan hidupnya sendiri. Garra tau itu. Dari pertama Ang menjadi orang kepercayaan Ayah nya dulu, Ang selalu mengutamakan kepentingan Garra walau Ang tidak menampakan dengan terang terangan.
Saat kejadian dulu yang membuat Garra harus terbaring di ranjang pun, Ang begitu menyesal. Karena pada saat itu Ang tidak terlalu memperhatikan Garra karena sibuk dengan mengurus perusahaan setelah Orang tua Garra meninggal dunia. Ang tidak ingin mengecewakan Tuan Bastian, Ang menjaga perusahaan dengan segenap jiwa raganya hingga melupakan Garra dan menyebabkan kecolongan.
Sejak itu, Ang yang penuh penyesalan akhirnya kembali fokus pada Garra. Lalu Perusahaan hampir saja hancur pada masa itu di bawah kepemimpinan Abraham karena Ang lebih fokus pada Garra.
Saat ini semua sudah stabil, Abraham penyebab semua masalah sudah tidak ada, dan Ang tidak ingin kecolongan lagi. Ang tidak ingin mengulangi kesalahan lagi.
__ADS_1
Entah lah, Ang masih bingung menentukan sikap. Harus apa? Sudah waktunya kah ia memikirkan hidup nya. Tapi sekali lagi Ang ingin memastikan jika Tuan muda Garra benar benar sudah hidup dengan baik dan bahagia bersama Nyonya muda.
Sekali lagi Ang menarik nafas sesaat setelah tepukan tangan Garra mendarat di bahunya. Lalu Garra pergi meninggalkan Ang.
Ang hanya bisa melihat punggung pria itu yang terus menjauh.
"Tuan muda. Anda sudah bahagia, anda tidak salah bertemu dengan Nyonya muda. Semoga Nyonya muda cepat mengandung.
Baiklah, saya akan segera memikirkan hidup saya dan mengikuti saran Anda."
Ang kembali menunduk pada kertas kertas di hadapannya. Lalu bangkit untuk berpindah duduk di meja kerjanya. Membuka laptop milik nya dan kini fokus pada kerjaan nya.
Tapi baru saja Ang membuka beberapa file, seorang karyawan datang dengan mengucapkan permisi terlebih dahulu.
"Ada apa?"
"Tuan Sekretaris Ang, Taun muda memanggil anda." ujar karyawan itu dengan raut khawatir.
Menangkap hal itu,
Ang bangun seketika dan berlari Kecil ke ruangan Garra.
Benar yang ia pikirkan, sesampai nya di sana Ang melihat dua pria sedang berlutut dan menunduk di hadapan Garra. Mereka direktur pemasaran dan bagian personalia yang mungkin sudah melakukan kesalahan.
"Tuan Muda, ada apa ini?"
Garra menoleh pada Ang dengan mata memerah karena marah lalu menunjuk dua pria di hadapan nya itu.
"Kasih mereka pelajaran Ang. Mereka tidak becus dalam bekerja." Garra melempar berkas yang segera di tangkap oleh Ang. Sejenak Ang memeriksanya.
"Apa apaan ini?" melempar berkas itu tepat di wajah mereka.
"Sudah , pecat saja mereka Ang, perusahaan tidak membutuhkan manusia bodoh seperti mereka!" seru Garra membuat kedua orang itu pucat pasi.
"Maafkan kami Tuan muda.
Ampuni kami Tuan sekretaris. Kami teledor. Kami tidak akan mengulangi nya lagi. Jangan pecat kami. Kami mohon.."
"Enak sekali kalian bicara! Bisa memikirkan berapa kerugian perusahaan ini hah??" Ang kini mencengkeram bahu salah satu dari mereka.
"Bang Garra..!!!" suara Mia memecah ketegangan yang ada. Baik Garra maupun Ang menoleh ke arah yang sama. Mia bersama Yuri sudah berdiri di sana. Ang langsung melepas tangan nya dari bahu orang itu.
"Mia sayang, kenapa bisa ke sini?" tanya Garra keheranan sambil mendekati Mia.
"Maafkan Mia bang Garra. Mia sengaja ingin memberi kejutan. Bang Garra tidak marah kan? Lihat ni, Mia membawa makan siang untuk bang Garra." ucap Mia memeluk pinggang Garra.
Meskipun ingin marah karena tiba tiba Mia bisa berada di kantornya, tapi melihat senyum manis Mia dan perlakuan Mia hati Garra seketika meleleh.
"Tentu tidak Mia. Ya Tuhan.. Bang Garra senang sekali." jawab Garra menciumi Mia, lalu menoleh pada Ang.
"Lihat Ang, Mia ku mengantar makan siang untukku. Mungkin Yuri membawakan makan siang untukmu juga. Benar begitu Yuri?" lalu menoleh pada Yuri.
"Tentu saja Tuan muda. Tentu saja. Ini!" Yuri dengan semangat mengangkat tangannya yang juga menenteng sebuah rantang.
__ADS_1
"Ang, lihat lah. Gadis kecilmu juga membawakan makan siang untukmu..!" seru Garra dengan Bahagia , melupakan dua pria yang sedang di interogasinya.
Ang pun sumringah dengan kehadiran Yuri disini dan segera menghampirinya.
"Kau membawakan makan siang untuk ku?"
Yuri mengangguk.
"Baik lah, kita ke ruangan ku saja." Ang segera menggandeng tangan Yuri.
Garra pun melakukan hal yang sama, menggandeng tangan Mia dan mengajaknya ke sofa.
Mia melirik dua pria yang masih berlutut di sana dan menegurnya.
"Pak, kenapa kalian berlutut begini?" tanya Mia , memerhatikan salah satu dari mereka.
Ang yang mendengar itu menghentikan langkah nya dan menoleh. Ia sampai melupakan dua pria yang akan di hukum nya tadi hanya karena kehadiran Yuri.
"Bang Garra, mereka kenapa? Bukan kah itu bapak yang menjadi majikan Bu Asri?"
Garra terkejut dan menoleh. ' Ah benar, kenapa aku bisa lupa.?'
"Pak, jangan begini. Bangun lah. Apa yang kalian lakukan berlutut begini?" Mia hendak meraih pundak pria itu, namun Garra segera mencegah.
"Mia. Tidak perlu. Mereka berbuat kesalahan, aku sedang meminta sekretaris Ang untuk segera menghukum mereka."
"Apa yang mereka lakukan? Apa kesalahan nya terlalu parah?"
"Tidak juga , tapi.."
"Bang Garra, tidak boleh seperti itu. Tidak boleh asal menghukum kesalahan seseorang, apa lagi jika tidak terlalu parah. Maafkan saja mereka dan beri kesempatan sekali lagi ya? Bang Garra kan orang yang baik." pinta Mia.
Garra terdiam, kemudian menoleh pada sekretaris Ang yang sempat menggelengkan kepalanya , lalu menatap wajah penuh ketulusan milik istrinya.
"Baik lah Mia. Demi mu." lalu menatap kembali pada mereka yang masih berlutut.
"Cepat kalian pergi. Nyonya muda Mahendra memintaku untuk memaafkan kalian. Cepat pergi lah dan jangan mengulangi kesalahan kalian lagi."
Kedua pria itu saling berpandangan, merasa seperti tidak percaya.
"Benarkah Tuan? Anda mengampuni kami?" mereka masih belum percaya , jika Tuan muda Garra mengampuni kesalahan mereka hanya karena nasehat istrinya.
"Kalian tidak dengar tadi aku bicara apa? Cepat lah sebelum aku berubah pikiran.!"
"Baik Tuan, baik. Terimakasih Tuan .. Terimakasih. Nyonya muda Mahendra. Terimakasih sudah menolong kami. Terimakasih..!!" ucap mereka berkali kali, sambil bangun dan meringsut pelan keluar dari ruangan Garra .
Ang yang masih di situ pun merasa aneh dengan sikap Garra yang langsung berubah dan mau memaafkan kesalahan kedua orang tadi. Tapi berhubung ada Yuri di situ, Ang juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bergegas membimbing Yuri untuk ke ruangan nya sendiri.
Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka berjalan. Merasa heran melihat sekretaris Ang berjalan dengan seorang wanita. Baru kali ini mereka melihat Sekretaris Ang mau berjalan dengan seorang wanita. Apalagi berjalan dengan mesra dan senyum yang tak lepas dari bibir sang sekretaris utama.
Lalu dari arah berlawanan seorang pria berlari mendekati Yuri sambil berteriak.
"Yuri..!!!"
__ADS_1
"Kak Samuel." Yuri terkejut melihat Samuel ada di sini juga, lalu melirik Sekretaris Ang yang langsung memasang wajah sangar nya.
_________________