Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
TBC...!


__ADS_3

Mia menuruni ranjang setelah melihat Garra sudah keluar dari kamar, entah mau kemana Mia pun tidak menanyakan nya. Berangkat ke kantor mungkin?


Mia memasuki kamar mandi , mematung agak lama di depan cermin.


Melihat wajah nya yang semakin hari semakin mulus saja. Lalu melihat kulit lengan dan kaki nya. Mulus , halus dan putih. "Berkat mbak Endang ini!" seru nya, sambil senyum senyum sendiri.


Mbak Endang yang rajin merawat kulit Mia. Melulurnya hampir setiap hari. Mengganti semua krim kecantikan Mia dengan merek terkenal di dunia.


'Ternyata jadi orang kaya enak ya? Pantas saja Ibu dan Jihan takut jatuh miskin.' batin Mia seperti sedang merasa bahagia.


Lalu teringat pada ibu dan ayahnya.


'Apakah mereka jadi di usir dari rumah ya? Aku sampai lupa tidak membahas nya dengan Bang Garra.'


Sambil mengguyur tubuhnya Mia terus memikirkan itu. Mia bimbang, apakah harus meminta pada Garra agar menolong mereka? Atau biarkan saja Mereka merasakan dulu bagaimana tidak mempunyai apa apa.


Mia belum mendapatkan jawaban untuk hatinya, kini sudah selesai dari mandi nya dan keluar dari kamar mandi.


Jantung Mia hampir saja berhenti memompa ketika membuka pintu Garra sudah berdiri tepat di depan nya.


"Banga Garra..???"


"Kenapa?"


"Aku terkejut!"


Garra tertawa mendekat pada Mia. Mia mundur sambil menutup bagian dada atasnya yang terbuka, karena saat ini Mia hanya mengenakan handuk saja.


"Lama sekali di kamar mandi, sambil melamun?"


"Tidak, tadi tu kepikiran saja." jawab Mia masih melangkah mundur. Garra juga masih melangkah maju. Maju terus sampai Mia mentok di tembok.


"Stop!" seru Mia. Garra tidak berhenti, malah melangkah selangkah lagi. Hingga tidak berjarak lagi. Menatap Mia dengan sangat dekat.


"Kepikiran apa? Bang Garra ya..?" Garra meledek.


"Tidak, enak saja."


"Lalu??? Memikirkan yang lain?"


"Iya. Memikirkan ayah. Takut mereka hidup menderita karena di usir dari rumah mereka bang Garra?" jawab Mia, seperti nya waktu yang tepat pikir Mia untuk membahas ini.


"Pikirkan bang Garra dulu, baru mereka."


"Lho kok begitu?"


"Karena kami sama sama menderita." jawab Garra.


"Memang bang Garra menderita apa?" tanya Mia, mulai polosnya.


"Tekanan Mia!"


"Tekanan .. maksudnya Bang Garra tekanan darah tinggi?"


Garra menggeleng.


"Terus Apa?"


"TBC Mia... Aku terkena TBC akut!"


Mia tercengang, mendengar pengakuan Garra Mia tiba tiba sedih, cepat meraih pundak Garra. Menatap wajah sayu Garra. Mata Mia berkaca kaca.


"Bang Garra.." menarik pundak itu untuk memeluknya. Yang di peluk langsung merapat kan kepalanya. Wajah nya sengaja Nelungsep di bahu dan leher Mia yang terbuka.


Dalam hati Garra, 'Lumayan.. dapet rejeki lagi pagi pagi.'


Sementara Mia sesenggukan.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang jika bang Garra kena TBC. Kenapa harus diam saja. Mia sedih, bang Garra harus berobat harus sembuh. Tidak boleh sakit. Jangan, jangan sakit lagi. Nanti Mia bagaimana? Siapa yang mau jagain Mia dari ibu dan Jihan?" semakin menangis.


'Rupanya Mia gak ngeh, aduh....! Mulai deh polosnya.'


"Mia, kenapa menangis? Sedih ya?" Garra menarik wajahnya.


"Ya iyalah... Bagaimana sih? Suami kena TBC masa iya tidak sedih..." jawab Mia.


"Kalau begitu cium." cari kesempatan.


"Memang bisa sembuh?"


Garra menggeleng. " Biar Mia tertular. Jadi TBC nya bisa bareng bareng..Kita kan suami istri. Masa hanya aku saja yang TBC kamu tidak. Atau jangan jangan Mia sudah tertular?"


Mia melongo, menatap wajah Garra. Lalu memegangi dadanya. ' Sepertinya benar kata bang Garra. Dadaku sesak. Jantung ku juga tidak normal lagi.'


"Benar kan kau sudah tertular..?" Garra kembali merapat.


"Tidak!" Mia membantah karena memang merasakan lain.


"Dada mu sesak saat menatapku kan? Jantung mu berdebar tak karuan juga jika sedekat ini dengan ku?" tanya Garra semakin semangat.


'Ini orang sedang sakit kok semangat ya? Jangan jangan sedang berpura pura.'


"Mia.. benarkan? Ayo akui saja."


"Tidak. Aku tidak terkena TBC. Tapi sepertinya, aku terkena serangan jantung bang Garra?" jerit Mia.


"Ya Tuhan.... Kenapa jadi seperti ini? Bang Garra terkena TBC. Dan aku serangan jantung?? Hiks.. hiks...!! Menyedihkan." Mia terisak.


Garra akhir nya melongo, ternyata candaannya semakin membuat Mia tidak ngeh dan panik.


"Kita harus cepat cepat ke rumah sakit! Aduh bagaimana ini? Cepat panggil Sekretaris Ang Bang Garra?" Mia panik.


"Mia.. mau kemana..?" Garra juga panik, ketika Mia melangkah. Semakin panik.


Melihat itu, Garra langsung menarik tubuh Mia dengan kuat sampai menabrak tubuhnya. Lalu Garra cepat cepat menutup pintu dan menguncinya kembali.


"Bang Garra, kenapa tidak boleh? Aku harus memanggil sekretaris Ang untuk membawamu kita ke rumah sakit."


"Tidak Mia. Jangan." Garra mencegah Mia.


"Lho kenapa bang? Bang Garra sakit TBC dan aku kena serangan jantung. Kalau terjadi apa apa atau makin parah bagaimana? Siapa yang akan menemani kakek dan nenek? Terus bagaimana kelanjutan tentang rencana pembuatan cicit untuk kakek.? Semua bisa gagal Bang Garra?" Mia berontak, bertekad untuk pergi menemui Sekretaris Ang, ingin segera meminta bantuan nya.


Garra yang hampir saja kaku karena kekonyolan Mia, juga sempat terkejut dengan ucapan terakhir Mia. Ternyata Mia masih memikirkan tentang cicit untuk sang kakek. Garra membalikkan tubuh Mia untuk menghadap nya.


"Jangan Mia... Kau jangan nekad begini. Lihat lah dulu bagaimana dirimu. Masa iya mau keluar dengan keadaan begini. Kau cari mati? Setidaknya pakai dulu bajumu!"


"Hah!" Mia segera menyilangkan kembali kedua tangan nya. Baru sadar jika dia masih memakai handuk saja.


Lalu terburu melangkah ke lemari. Mengambil ganti seketemunya dan cepat memakainya. Berganti ceroboh di depan Garra tanpa lagi melirik pada Garra.


Garra tersenyum kembali, sekali lagi bisa cuci mata.


Mia selesai berganti kembali akan memanggil sekretaris Ang, tapi lagi lagi Garra mencegahnya.


"Mia... tidak perlu. Dengar kan aku dulu." Garra meraih tubuh Mia dan mendudukan nya di tepi ranjang.


"Dengar, penyakit TBC ku ini dan Serangan jantung mu tidak akan sembuh meskipun di bawa ke rumah sakit manapun."


Mendengar itu Mia semakin terlihat khawatir.


"Benarkah?"


Garra mengangguk. Memegang kedua pipi Mia.


"Karena penyakit ku hanya kau yang bisa mengobatinya. Begitu juga penyakit baru mu ini. Hanya aku yang bisa menyembuhkan nya." menatap dalam mata Mia.

__ADS_1


"Mana bisa? Aku tidak punya keahlian di bidang TBC, aku hanya punya keahlian tentang saraf." sahut Mia.


"Bisa, dengarkan baik baik!"


Garra menarik nafas, lalu kembali berbicara.


"TBC yang ku derita ini adalah Tekanan Batin Cinta, dan Serangan jantung mu ini karena Mia mulai terkena virus. Virus cinta nya bang Garra."


Mia terdiam, terlihat berpikir keras untuk berusaha memahami penjelasan dari Garra


Lalu tersentak.


"Jadi bang Garra hanya berpura pura?"


"Bukan berpura pura, ini sebenarnya serius. Tapi TBC nya bukan penyakit yang kau kira. Aku memang menderita Mia, tertekan setiap hari. Tekanan batin cinta karena mengharapkan Mia jatuh cinta padaku. Dan Mia. Mia ternyata sudah jatuh cinta. Tapi tidak menyadarinya. Makanya setiap Mia dekat bang Garra dan menatap bang Garra, nafas Mia sesak. Jantung Mia berdebar debat tak karuan. Itu tanda tanda jatuh cinta. Mia bisa merasakan nya hanya belum menyadari nya." jelas Garra panjang lebar .


Rupanya kali ini Mia paham. Lalu Mia menjerit kuat sambil memukul mukul dada Garra.


"Dasar jahat.... Iseng kebangetan!! Ah.... aku benci benci. Tidak tau apa orang sudah panik..!!" Mia mendorong tubuh Garra sampai jatuh ke ranjang, lalu naik di atas tubuh Garra.


"Aku akan mencekik mu Garra. Aku akan membuat mu sakit beneran..!!"


Garra tertawa terbahak bahak, membiarkan Mia memukuli nya sampai puas. Lalu menarik tubuh Mia hingga menindihnya.


Mendekap dengan erat.


"Akui Mia.. akui jika Mia sudah jatuh cinta pada bang Garra."


"Tidak. Itu tidak benar..!" Mia berontak. Akhirnya mereka berguling guling bebas di atas ranjang yang lebar itu. Mia pun ikut terbahak kuat. Mengakui kebodohan nya hingga terpedaya semudah itu oleh Garra.


Kini Mia berada di bawah tubuh Garra. Sesaat keduanya mereda tawa. Saling menatap, saling merasakan debaran jantung masing masing. Lalu saling menunduk dan saling menatap kembali.


Lama.


Hening.


Garra menggerakkan wajahnya pelan... Mengarahkan bibirnya pada bibir Mia yang merekah.


Cup...!!!


Diam.


Menunggu reaksi dari Mia. Takut berontak.


Ternyata tidak.


Garra mulai bergerak, mengecap lembut. Tubuh Mia terlihat sedikit gemetaran. Tangan nya memegang erat kedua lengan Garra.


Berdesir.. darah Mia berdesir cepat. Itu yang Mia rasakan. Otak nya mendadak berhenti. Berhenti berpikir apapun. Ada sesuatu rasa hebat yang menjalari tubuh nya ketika Garra memainkan bibirnya.


Dan....


Tok... Tok...Tok...!!!!


"Nyonya Muda..!! Ini mbak Endang. Waktu nya sarapan Nyonya!"


Brug...


Mia langsung mendorong tubuh Garra hingga terlepas ciuman mereka.


Mia terburu bangun, membenahi rambut nya yang berantakan dan tak lupa menyeka bibir nya yang masih basah. Lalu turun dari ranjang. Sebelum melangkah sempat meraih wajah Garra. Kira Garra ingin kembali mencium nya atau setidaknya memberi kecupan di keningnya. Ternyata di luar dugaan Garra. Mia menyisir rambut Garra dengan jarinya. Lalu menyeka bibir Garra dengan ujung bajunya.


Setelah menganggap sudah selesai, Mia terburu ke pintu.


Garra cemberut, kesal.


"Brengsek mbak Endang. Ahhh... menggangu saja.. Usaha hampir berhasil. Gagal lagi.....!!!"

__ADS_1


__ADS_2