
Ini sudah sore.
Sore setelah siang tadi pernikahan Sekretaris Ang dan Yuri berlangsung dengan lancar.
Rumah Gani Kuncoro sudah sepi dari tamu. Bahkan dekorasi pun sudah di bongkar bersih. Hanya terlihat beberapa pelayan yang masih sibuk bebenah untuk mengembalikan keadaan ruang depan keluarga Kuncoro seperti semula.
Garra dan Mia pun sedari tadi sudah pulang. Pulang sejak acara ijab kabul sekretaris Ang selesai. Garra tak sanggup berlama lama berada di situ, tak tahan mencium aroma parfum para tamu. Garra hampir muntah di depan mereka, lalu Mia memutuskan untuk cepat mengajak Suami nya pulang saja.
Saat ini Sekretaris Ang dan Yuri berada di kamar Yuri. Sepasang pengantin baru itu sudah melepas baju masing masing untuk berganti.
"Kak Ang. Tidak apa apa kan jika harus menginap di sini?"
Sekretaris Ang menoleh, menatap wajah gadis kecilnya yang baru saja beberapa jam lalu ia nikahi itu. Wajah itu semakin manis saja di matanya.
"Apa kau mau menginap di sini?"
"Memangnya kak Ang mau mengajakku pulang?"
"Tentu saja. Bukan kah kita sudah menikah? Dan ini adalah malam pertama kita." jawab sekretaris Ang, duduk. Menarik lengan kaos panjangnya sampai ke siku.
"Ah, iya. Terserah kak Ang saja. Aku akan ikut kemana pun itu."
"Benar?"
Yuri mengangguk, bibirnya tersenyum. Padahal hatinya sangat tegang, sejak sekretaris Ang mengatakan jika malam ini adalah malam pertama mereka. Membayangkan, membayangkan. Ingin menjerit. Antara bahagia dan takut.
"Kau kenapa?" sekretaris Ang mendekat.
"Ah, tidak apa apa. Kalau begitu kita harus berkemas. Mumpung masih sore."
Sekretaris Ang mengangguk.
Yuri menarik kopernya.
"Tidak perlu membawa baju." ucap Sekertaris Ang.
"Hah! Ganti ku bagaimana?" tanya Yuri heran.
"Sudah ada di sana."
"Disana? Maksudnya di sana di mana? Di rumah Tuan Muda Garra? Aku sudah membawa nya hampir semua kesini kak?"
"Apa kau kira, kita akan pulang ke rumah Tuan Muda?" Sekretaris Ang kini sudah tak berjarak.
"Lalu? Kemana? Apa kak Ang akan membawaku pulang ke rumah kak Ang? Memang kak Ang punya rumah?" tanya Yuri. Dia berpikir jika selama ini Sekretaris Ang tidak punya tempat tinggal selain Rumah Tuan muda Garra. Karena selama ini Yuri tidak pernah melihat sekretaris Ang pulang kemana pun selain ke rumah itu.
Mau pagi atau malam setelah pulang dari kantor, sekretaris Ang selalu ada di rumah itu.
Sekretaris Ang tergelak mendengar pertanyaan istri kecilnya itu. Mengangkat dagu Yuri dengan telunjuknya.
"Apa menurutmu, aku tidak mempunyai Rumah?"
"Tidak tau. Selama ini kakak tidak pernah menunjukkannya padaku, atau setidaknya mengatakan jika kakak punya tempat tinggal lain selain Rumah Keluarga Mahendra."
"Karena kau belum menjadi istriku, untuk apa aku menunjukkan nya padamu?"
"Ah iya. Kakak benar. Jadi kita sekarang akan kesana?"
Sekretaris Ang mengangguk.
"Tentu saja. Aku sudah lama menantikan hari ini. Menantikan di mana aku akan membawa wanita untuk pertama kali nya ke rumah ku." jawab sekretaris Ang.
"Kalau begitu sekarang saja." ucap Yuri.
"Ya. Kita temui orang tuamu dulu." jawab sekretaris Ang.
Akhirnya mereka pun melangkah menemui Gani Kuncoro dan Tiara untuk berpamitan.
Orang tua Yuri pun setuju dan mengijinkan mereka. Tidak mungkin juga berani meminta agar mereka mau tinggal di rumah mereka walau untuk beberapa hari saja.
Jika menantu mereka bukan sekretaris Ang, mungkin saja. Tapi ini, mana mereka berani.
"Hati hati Yuri! Jaga diri. Urus suamimu dengan baik dan ingat pesan ku." ucap Tiara pada Yuri.
"Ah iya Bu, pasti itu. Pasti Yuri akan mengingatnya selalu."
Akhirnya sekretaris Ang dan Yuri pun masuk kedalam mobil milik sekretaris Ang yang sengaja di tinggal oleh pak Abu.
Sekretaris Ang kali ini mengemudi sendiri sambil sesering mungkin melirik gadis kecil yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu.
Laju mobil yang sengaja di perlambat jalan nya itu membuat kesan romantis semakin terasa diantara mereka berdua. Sesekali sekretaris Ang menyelipkan rambut panjang hitam milik Yuri ke belakang telinga nya. Sesekali pula menggenggam tangan istri kecilnya itu dan membawanya ke bibirnya dengan tangan kirinya.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Yuri ketika menyadari jalan yang di lalui bukan ke arah biasa.
"Ke rumah kita bukan?"
"Eh, iya!" Yuri menarik nafas. Terlihat betul kegugupan di wajahnya.
'Rumah. Rumah kita. Ah, pasti besar sekali. Pasti di sana sepi. Hihi, cuma berdua saja dengan kak Ang. Aduh, apa sih ini? Jantung ku tidak bisa berhenti berdegup!' lagi lagi Yuri menarik nafas panjang sambil memegangi dadanya.
Lama di perjalanan, mobil sekretaris Ang berhenti juga. Tapi bukan di depan sebuah rumah seperti yang ada di bayangan Yuri, namun berhenti di sebuah apartemen yang terdiri dari entah berapa lantai.
Seseorang terlihat dengan sigap menyambut mereka, membukakan pintu mobil untuk keduanya.
"Tuan Sekretaris, Nyonya Ang. Selamat datang!"
Ang hanya membalas senyuman pada seseorang pria itu dan langsung mengambil sebuah kunci yang diulurkannya.
"Selamat bersenang-senang Tuan!" lagi lagi pria itu berseru pada mereka berdua yang sudah melangkah memasuki pintu Apartemen itu.
__ADS_1
Dengan menggunakan sebuah Lift sekretaris Ang membawa Yuri untuk naik ke lantai atas.
"Kakak? Kenapa kita malah kemari? Katanya mau ke rumah kakak?" tanya Yuri yang dari tadi sudah ingin bertanya.
Sekretaris Ang menghentikan langkahnya. Lalu dengan tiba tiba meraih tubuh Yuri dan membopongnya, membawanya melangkah lagi.
"Ini rumah kita!"
"Kakak, turun kan aku!" jerit Yuri. Namun sekretaris Ang tak peduli. Kemudian membuka pintu sebuah kamar dengan kakinya dan membawa tubuh istrinya masuk. Mendudukkan nya di tepi ranjang besar di sana.
Lalu sekretaris Ang berlutut di depan Yuri. Meraih kedua tangan Yuri dan menciuminya.
"Ini rumah kita. Untuk beberapa hari ini aku ingin bersamamu di sini. Apa kau keberatan?" mendongak, menatap wajah tersipu Yuri.
"Ini bukan rumah , kakak? Ini Apartemen. Jangan bilang jika satu Apartemen ini milik mu semua?" tanya Yuri.
"Aku tidak suka berbagi dengan siapapun mengenai kepemilikan kecuali dengan mu. Apa kau tidak menyukai tempat ini?"
"Eh, iya. Suka kakak, suka. Tapi masa iya satu Apartemen ini milik mu semua?" masih heran.
Sekretaris Ang tergelak, lalu berdiri dan duduk di samping Yuri. Menarik tubuh Yuri ke dalam pelukan nya.
"Sebenarnya, sebelum ini aku tidak pernah punya tempat tinggal. Selama hidupku aku hanya berdiam di rumah Tuan Muda. Sejak kecil tinggal bersama keluarga Mahendra. Kemana pun mereka pindah, aku ikut. Dan apartemen ini baru aku beli beberapa hari yang lalu setelah aku melamar mu. Aku sengaja membelinya untuk hadiah pernikahan kita. Apartemen ini juga aku beli atas namamu. Apa kau mau menerima nya dari ku?"
Mendengar itu , Yuri menarik tubuhnya dan seketika membelalakkan matanya.
"Hadiah? Hadiah pernikahan? Atas namaku. Haha.. Kau bercanda kakak? Ini Bukan Rumah. Apartemen lho? Berapa puluh milyar kau habiskan hanya untuk membeli hadiah pernikahan untuk ku?"
"Hanya beberapa puluh milyar saja. Tapi kan aku membelikan nya untuk mu tidak gratis. Kau harus menggantinya."
"Mengganti?"
"Ya! Mengganti dengan hidupmu, seumur hidupmu, kau harus bersama ku."
"Kakak!" Yuri langsung memeluk sekretaris Ang. Hatinya benar benar merasa bahagia dengan penghargaan yang di berikan pria itu padanya.
"Kenapa kau begitu baik padaku?"
Sekretaris Ang tergelak lagi.
"Kau ini aneh. Kau itu istriku. Ini bukan baik namanya. Tapi sudah menjadi tanggung jawab ku untuk membahagiakan mu."
"Kakak!! Aku bahagia sekali?? Sebenarnya tanpa ini pun aku sudah sangat bahagia. Kau berlebihan."
"Tidak Yuri! Dari dulu aku memang sudah bermimpi, untuk mempunyai sebuah apartemen dan menempati nya bersama istriku. Dan hari ini, impian ku terwujud. Terimakasih sayang.. Aku Mencintaimu!" mengecupi pucuk kepala Yuri.
"Apa kita akan tinggal selamanya di sini?" tanya Yuri , mendongak.
"Menurut mu?"
"Jika kita di sini, bagaimana dengan Tuan Muda Garra dan Mia. Mereka masih sangat membutuhkan kita."
"Haha.. Tentu saja kak. Kita kan sudah menikah, mana boleh tidur berpisah."
Kemudian keduanya kembali berpelukan lama. Setelah itu saling melepaskan pelukan dan saling menatap mesra.
"Mandilah dulu, gantimu bisa kau cari di sana, aku sudah menyiapkan nya. Aku akan menyiapkan makan malam kita." ucap Sekretaris Ang.
Yuri mengangguk. Lalu beranjak mandi. Sementara sekretaris Ang melangkah keluar. Rupanya sekretaris Ang pun mandi di kamar mandi yang lain dan segera ke dapur untuk membuat makan malam mereka.
Yuri yang sudah selesai mandi , sibuk mencari ganti di lemari yang ditunjuk sekretaris Ang tadi.
"Ya Tuhan.. Kak Ang benar benar menyiapkan ini semua dengan sempurna!" decak kagum Yuri menatap deretan baju baju di lemari itu. Namun sayang, semua baju hanya lah baju tidur saja.
Yuri mengambil satu dari sekian banyak dan memakainya.
Tak lama, sekretaris Ang sudah masuk dengan membawa sebuah piring berisi nasi goreng dan segelas susu hangat.
"Kau membuatnya sendiri kak?" Yuri menghampiri nya.
Sekretaris Ang mengangguk.
"Hanya nasi goreng. Yang lain mana aku bisa membuatnya."
Lalu duduk dan menyuap Yuri juga dirinya sendiri.
"Enak kan?" tanya sekretaris Ang.
"Ya. Aku saja belum bisa membuat nasi goreng seenak ini."
"Aku belajar dari ayahku. Dulu hampir setiap sore, ayah membuatkan nasi goreng untuk ku. Aku sampai marah karena bosan." sekretaris Ang mulai terdiam, menunduk kan kepalanya.
"Kakak, kau tidak sendiri lagi." Yuri meraih tangan sekretaris Ang.
"Kau benar, aku tidak sendiri lagi. Aku punya dirimu. Jangan tinggalkan aku Yuri.. Aku hanya punya kau satu satunya dalam hidupku. Aku berjanji akan membahagiakan mu! Tetaplah bersama ku , sampai kita menua bersama."
"Pasti Kakak, itu pasti. Aku akan bersama mu sampai ajal menjemput ku!"
"Jangan Yuri, jangan bilang seperti itu. Jangan mengatakan Ajal. Aku takut. Kita harus menua bersama, sampai anak cucu kita lahir. Bahkan sampai cicit kita. Berjanjilah Yuri. Berjanjilah. Aku tidak mau kau meninggalkan aku seperti Ibu ku yang sudah meninggalkan Ayahku." Sekretaris Ang terisak di pelukan Yuri.
Pria tegas itu, kini mendadak jadi cengeng.
"Kakak! Berhenti mengingat kesedihan mu. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Aku atau kau yang duluan akan meninggalkan. Tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk bersama dan bahagia. Jangan takut bayangan!" ucap Yuri.
"Yuri! Apa kau mau melakukan sesuatu padaku?"tanya sekretaris Ang tiba tiba.
"Tentu Kakak! Katakan saja, selagi aku bisa pasti akan ku lakukan untukmu."
"Apapun itu?"
__ADS_1
Yuri mengangguk.
"Kita sudah menikah. Tapi, Maafkan aku jika aku belum bisa menyentuhmu. Aku .. Aku tidak ingin membahayakan hidup mu."
"Maksud.. Maksud kakak apa? Menikahi ku lalu membiarkan aku? Jangan bilang jika kau tidak mau tidur dengan ku? Kita sudah sangat menantikan halal ini kak.?" sahut Yuri , kini sedih mendengar ucapan sekretaris Ang yang mengatakan jika tidak akan menyentuh nya.
Sekretaris Ang menatap Yuri, memegang kedua pipi istrinya.
"Aku tau, Aku tau sayang?? Tapi, aku sungguh takut. Aku takut kau hamil. Aku tidak ingin itu terjadi sebelum waktunya. Sebelum usia mu cukup untuk mengandung anak ku. Kau mau mengerti kan?" ucap Sekretaris Ang.
Yuri mengangguk, Yuri paham bagaimana ketakutan di hati suaminya. Kisah Ayah nya mungkin sangat membekas di hidup Ang. Meninggalkan luka yang sangat dalam.
"Aku cepat cepat menikahi mu karena aku ingin segera memiliki mu, lalu bisa terus bersama mu dan menjagamu. Tapi bukan untuk menguasai dirimu. Aku masih takut sekali. Aku bahkan pernah berkata pada diriku sendiri. Jika aku menikahi mu cepat, aku akan menunggu sampai berusia cukup. Baru aku akan menyentuhmu." ucap sekretaris Ang.
Yuri tersenyum, menatap wajah sekretaris Ang. "Apa kita akan tahan untuk selama itu? Ku rasa aku dan kau sama sama tidak akan tahan!" ucap Yuri , meledek.
"Ah, entahlah. Aku sendiri tidak yakin."
Yuri kembali tersenyum.
"Kita bisa menunda kehamilan ku bukan?" Yuri meraih tengkuk sekretaris Ang menarik nya hingga hidung Ang membentur hidung nya.
"Tidak Yuri! Aku tidak bisa. Aku tidak tau caranya. Aku takut kecolongan. Ku mohon bantu aku! Jangan malah menggodaku seperti ini??" sekretaris Ang gugup ketika Yuri sudah menempelkan bibirnya.
"Aku akan ikut KB. Bagaimana? Kakak Setuju?"
"KB?" sekretaris Ang nampak berpikir serius. Jika ikut KB, artinya mereka bisa menunda kehamilan Yuri. Tapi, bukan kah itu berbahaya atau beresiko bagi seorang wanita yang belum pernah mengandung? Sekertaris Ang kembali menimbang.
"Kakak? Bagaimana?"
"Ah, iya. Baiklah. Besok kita akan menemui dokter kandungan terlebih dahulu untuk membahas ini." jawab sekretaris Ang.
"Sekarang tidurlah,ini sudah malam. Kau pasti lelah." ucap sekretaris Ang mengangkat tubuh Yuri ke tengah ranjang.
Menarik selimut, menutupi tubuh Yuri.
Sekretaris Ang beranjak, namun tangan Yuri mencegah lengan nya.
"Kakak mau kemana? Tidur di sini juga ya?"
Sekretaris Ang menoleh, "Mana mungkin? Aku akan tidur di sofa untuk malam ini."
Yuri langsung bangun, menarik kuat tubuh sekretaris Ang hingga terjatuh di sisinya lalu memeluknya.
"Tidur di sini saja. Tidak apa apa. Kita akan menahan nya bersama." bisik Yuri tepat di telinga sekretaris Ang.
'Ahrg..' sekretaris Ang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah!" lalu mendekap tubuh Yuri dari belakang. Mengusap ngusap lembut rambut Yuri.
"Tidurlah. Cepat tidur, jangan membuatku tersiksa."
Yuri menoleh , memutar tubuhnya hingga mereka kini berhadap hadapan. Yuri menatap wajah suaminya. Wajah mereka tak berjarak lagi.
"Aku merindukanmu Kakak! Beberapa hari kita terpisah. Dan malam ini aku ingin menghabiskan malam bersama mu!" Yuri mendekatkan bibirnya.
"Yuri! Berhenti lah. Aku.. aku!" tubuh sekretaris Ang sudah panas dingin. Darah di tubuhnya sudah berdesir hebat. Nafasnya pun sudah terdengar sangat kasar, dengan dada yang naik turun.
Yuri merapat kan bibirnya pada bibir sekretaris Ang. Lalu bergerak lembut.
Sekretaris Ang terdiam, memejamkan matanya. Satu sisi hatinya menggelora, satu sisinya penuh ketakutan. Lama Yuri menyesap tanpa balasan dari sekretaris Ang, hingga Yuri nekad membuka mulut sekretaris Ang dengan lidahnya. Menerobos benteng pertahanan sekretaris Ang yang makin goyah.
Sekretaris Ang mana tahan dengan itu. Pikiran tiba tiba berhenti. Lalu membuka matanya. Merengkuh pinggang Yuri dan merapatkan tubuhnya.
Dengan brutal kini membalas ciuman Yuri, hingga merambat kemana mana.
Tangan nya pun sudah tak bisa terkendali, menerobos baju tidur Yuri dan menemukan sesuatu yang sangat ingin ia sentuh dari dulu itu. Kemudian mulai meremaasnya.
"Em..!" Yuri menggeliat.
"Yuri!" sekretaris Ang mengeluh. Lalu menyibakkan baju Yuri.
Bibir Sekretaris Ang mulai berlama lama di dada Yuri. Tangan Yuri pun sudah sibuk mengacak lembut rambut sekretaris Ang.
Dret..... Dret.....!
Getaran panjang hp milik Yuri mampu membuat sekretaris Ang tersentak. Dan sadar!
"Maafkan aku! Maaf!" lalu menarik turun kembali baju Yuri. Beranjak duduk di sisi ranjang. Kembali mengusap wajahnya.
"Angkat Hp mu. Jihan!" sekretaris Ang mengulurkan hp Yuri yang sudah ia raih itu.
"Ini orang kenapa mengganggu sih!" Yuri kesal, dengan wajah cemberut menerima hpnya.
"Angkat dulu, siapa tau penting." Sekretaris bangun. Memilih masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri sejenak.
Berjalan mondar-mandir. Sampai lama.
'Tidak bisa! Tidak bisa! Ini tidak boleh terjadi!' mengguyur wajahnya dengan air dingin.
"Kakak!" suara Yuri dari luar, sambil mengetuk ngentuk pintu kamar mandi yang di kunci Ang.
"Kenapa kau lama sekali? Kak Ang ketiduran? Kenapa menguncinya?"
"Iya , tunggu sebentar!!"
Yang di dalam, begitu tegang!
____________________
__ADS_1
bersambung.