Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Dinner berjalan lancar.


__ADS_3

Memulai hubungan biasa nya memang tidak lah mudah bagi setiap pasangan. Harus saling mengenal karakter masing masing dan tentunya harus saling percaya. Lalu bagaimana nasib Yuri, saat ia sadar jika hubungan nya dengan Sekretaris Ang yang baru saja akan di mulai bahkan belum bisa ditebak apakah akan benar terjadi hubungan diantara mereka atau tidak, sudah kacau saja sebelum masa nya.


Begitu juga pemikiran sekretaris Ang saat ini yang sedang duduk termangu di bangku taman yang terletak tak jauh dari rumah makan di mana mereka gagal Dinner tadi.


Segumpal ketakutan meraja di hatinya. Pria tampan yang lebih muda, yang lebih pantas bersanding dengan Yuri datang tiba tiba menggores hati Ang dengan kecemburuan tingkat dewa. Lebih muda, lebih tampan, bahkan sempat menjadi idola pada masanya.


Ang, sempat gentar. Bukan takut sama si Samsul. Mana mungkin Seorang Ang takut hanya dengan Rempehan keripik? Bukan takut kalah saing untuk mendapatkan Yuri. Tapi takut Yuri berpaling, takut Yuri kini sudah berpindah hati karena bertemu pria idola kelas mereka dulu lalu melupakan nya. Ketos , ketua OSIS itu. Sungguh mampu membuat sekretaris Ang dongkol hatinya.


Rangkaian kata yang sudah di susun nya rapih sepanjang jalan tadi harus buyar berantakan karena kedatangan nya. "Samsul. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan besok padamu! Aku akan memecat mu. Akan ku tendang kau!" menjerit dalam hati.


Lalu mengambil keputusan untuk menarik kalimat yang sudah tercatat di pikiran nya. Kalimat untuk melamar Yuri. Bukan menarik, lebih tepatnya menyimpan dahulu di saku hatinya. Akan ia keluar kan kelak ketika ia bisa meyakinkan jika Yuri benar benar serius ingin bersama nya. Bukan sekedar cinta monyet, atau karena merasa kesepian saja.


Yuri yang sudah berhasil menyusul sekretaris Ang kini duduk di sebelahnya.


Hatinya takut, hatinya ragu untuk bertanya ataupun memulai bicara. Yuri tau Sekretaris Ang marah karena kedatangan Samuel yang sudah menghancurkan acara makan malamnya. 'Tapi kan Samuel tidak salah, dia tidak sengaja datang? Dia hanya kebetulan melihat ku dan wajar donk mengajak bicara? Namanya sudah lama tidak bertemu. Masa mau diam diam saja ketika bertemu, hanya melongok sambil saling menunjuk lalu pergi. Gak lucu.'


Huh, sebenarnya siapa yang lebih seperti bocah. ' Tuan Ang, gemesin deh kalau ngambek. Jadi pingin nampol kepalanya. Lebih lebih seperti anak TK aja. Main marah, main pergi. Tidak memikirkan perut ku yang lapar apa?'


'Samuel, aku tu tidak tertarik padanya. Tidak. Aku tertarik padamu Tuan Ang. Aku suka padamu. Aku jatuh cinta padamu panglima es batu. Angling darma. Oy, Angkara murka, lirik aku donk.' Yuri kesal sendiri. Kehadiran nya sama sekali tidak dianggap oleh Sekretaris Ang yang masih saja diam menatap ke depan dengan kedua tangan bersilang di dadanya.


"Tuan Ang?" Yuri memanggil pelan. Lama


tak ada jawaban dari sana. Lalu terlihat tubuh pria itu bergerak. Menggeser bokongnya, mungkin terasa panas karena duduk terlalu lama di bangku kayu sambil menghela nafas kasar. Kasar sampai Yuri bisa mendengar nya. Mungkin itu untuk mewakili keluh kesal nya.


"Tuan Ang. Kita makan lagi yuk? Saya kan lapar. Sayang kan makanan yang sudah di pesan tadi. Setidak nya di bungkus , bisa di makan di rumah??" kembali berusaha.


Hanya menoleh sebentar lalu menatap ke depan lagi.


"Baiklah, kalau tidak mau makan. Kita pulang saja. Setidaknya di rumah masih bisa makan." ketus Yuri.


Sepertinya cara Yuri tidak mempan juga.


"Tuan Ang..!! Apa kau marah pada ku karena kak Samuel datang tadi? Itu kan kebetulan. Tidak di sengaja. Bagaimana sih. Kau ini seperti bocah tau. Tidak ada sebab dan masalah tiba tiba mendiamkan aku dan membatalkan dinner. Tau begitu mending aku tidur tadi. Benar benar seperti bocah!" Yuri kesal akhirnya memaki.


"Kau bilang apa? Tidak ada sebab tidak ada masalah?" Kini Ang menoleh.


"Lalu apa masalah nya?" mendekatkan wajahnya.


"Ketos mu itu. Dia berani merayu mu di depan ku.!" menunjuk dada Yuri.


"Mana ada! Dia tidak merayuku, hanya memuji ku dan curhat masalah pekerjaan nya. Kau berlebihan..." menepis tangan Ang.


"Sama saja. Berani memuji mu di depanku!!" mengotot.


Yuri tergelak. "Lucu sekali. Saya ini kan bukan siapa siapa mu. Bebas donk siapapun melakukan apapun padaku. Kecuali anda pacar saya. Baru orang lain harus menjaga." lebih mengotot.


"Yuri!!" Ang berdiri.


"Sudah! Saya tidak mau bertengkar dengan Anda Tuan Ang. Sekarang mau makan atau tidak!" ikut berdiri.


"Tidak!"


"Kalau begitu antar saya pulang!!"


Sekretaris Ang tidak menjawab, malah kembali duduk.


"Baik lah , jika tidak mau. Saya tidak akan memaksa." Yuri kembali ikut duduk dan merogoh Hp nya.


Mengulik hp nya.

__ADS_1


"Hai.. kak Samuel!"


Deg .. Sekretaris Ang langsung menoleh mendengar Yuri menyebut nama sang Rempehan keripik.


"Apa kau masih di situ?" melirik Ang yang masih menatapnya berbicara dengan hpnya. Yuri membuang muka, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan nya. Lalu memelankan nada bicaranya.


"Bisa tidak jemput aku? Aku mau minta antar pulang."


"Hah, apa? Kau mau mengajak makan malam? Tentu mau donk kak. Kebetulan aku lapar sekali ini. Cepat kesini kalau begitu."


"Brengsek!" umpat Ang, meskipun suara Yuri pelan tapi Ang masih bisa mendengar nya dengan jelas.


"Kau mau ke sini? Baik lah, aku akan menunggu mu! Aku saat ini sedang ada di.._!"


Grep...!!!


Tangan sekretaris Ang menyambar Hp Yuri.


Tut...!!


Lalu mematikan panggilan Yuri.


"Tuan.. kenapa mematikan nya..?? Tidak sopan sekali!!" merebut Hpnya.


Tapi Ang langsung memasukkan hp Yuri ke dalam saku celananya. Tau saja kelemahan Yuri. Jika sudah berada di situ Yuri tidak akan berani menyentuh nya.


Lalu menarik tangan Yuri. Dengan cepat membawa nya ke mobil.


"Masuk! Kita akan pulang sekarang!" membuka pintu dan mendorong tubuh Yuri. Segera menyusul duduk.


"Tuan.. Kau kenapa sih. Tadi tidak mau pulang, tidak mau makan. Setelah aku janjian dengan kak Samuel malah mau mengajak ku pulang. Sungguh plin plan dan tidak konsisten!"


"Tuan.. hati hati. Saya takut!!" jerit Yuri , berpegangan di sisi jok, dengan wajah pucat karena kecepatan mobil Ang tidak seperti biasanya.


Ang sempat melirik wajah pias Yuri dan menurunkan laju mobilnya.


"Diam lah, dan jangan bringsik! Jika masih bersuara, aku akan menginjak gas ini sekuat tenaga ku." Ancam sekretaris Ang.


Yuri mengangguk cepat untuk menyelamatkan nyawanya yang seakan sudah di ubun ubun. Yuri benar benar diam. Menatap lurus ke depan. Menyesal sudah menelpon tadi.


'Pasti Tuan Ang semakin marah. Padahal niat ku agar dia sadar. Jika aku ini lapar???'


Yuri menoleh cepat, ketika terdengar suara Deringan dari Hp nya. Sampai berkali kali.


"Tuan. Hp nya. Hp saya.. Angkat sebentar ya?" Yuri memohon dengan suara pelan.


Sekretaris Ang tidak menanggapi rengekan Yuri.


"Tuan, sebentar saja. Hanya ingin mengatakan jika saya sudah pulang. Nanti jadi kepikiran."


Sekretaris Ang akhirnya merogoh Hp nya. Menatap kontak pemanggil. Seketika darahnya yang tadi sempat menormal mendidih kembali. Tanpa menoleh, tangan nya mematikan hp itu dan kembali memasukkan saku nya.


Yuri hanya bisa pasrah, tapi masih sempat mengumpat. "Dasar bocah besar. Tidak punya perasaan. Aku kan hanya ingin mengatakan jika aku baik baik saja dan sudah pulang. Nanti dia khawatir karena aku sudah bicara seperti itu tadi. Menyuruh nya menjemput dan tiba tiba menghilang. Dia pasti bingung?"


"Siapa suruh menghubungi nya??? Kau pergi dengan ku dan pulang harus dengan ku!" jawab Sekretaris Ang.


"Tapi kan aku lapar!!!" tidak mau kalah atau di salah kan.


"Tahan sebentar. Tidak akan membuatmu mati jika hanya terlambat makan beberapa menit."

__ADS_1


Yuri mau tidak mau diam. 'Sudah lah, capek mengahadapi es batu ini. Aaaa... kenapa sial sekali sih aku..? Kenapa harus bertemu manusia seperti ini. Kenapa harus jatuh cinta kepada nya. Kalau tau sesakit ini, lebih baik aku mundur saja...!' geram, kesal. Sakit hati! Meluap menjadi satu. Sampai mobil berhenti dan Sekretaris Ang turun, Yuri pun ikut turun tanpa sepatah kata.


"Yuri.!"


Yuri berhenti, malas menoleh.


"Cepat ke kamarmu. Besok pagi aku baru akan mengantarkan Hp mu."


Yuri menoleh.


"Terserah kau saja! Terserah!" lalu berlari ke kamarnya. Membanting diri.


"Huhu.. kenapa begini nasib ku? Kenapa gagal semua rencana ku, impian ku. Aku kan hanya ingin berusaha merebut hatinya. Bukan nya dapet malah tersiksa begini." Yuri menangis.


" Benar tidak sih, jika tuan Ang itu menyukaiku. Atau jangan jangan, tadi dia hanya emosi sesaat. Hanya cemburu. Tapi seharusnya jangan begitu. Tidak romantis juga tidak apa apa. Tidak jadi menebus kesalahannya juga tidak apa apa. Setidak nya makan dulu... Makan dulu! Aku lapar???"


Tok.. Tok.. Tok..!!


Yuri menoleh, menyeka air matanya. Lalu berjalan kearah pintu dengan malas. Sambil menebak. "Pasti Mia! Maafkan aku Mia. Aku sudah membuatmu khawatir dan harus mendatangi ku."


"Tuan Ang!" memekik ketika melihat siapa yang datang. Sekretaris Ang sudah berdiri dengan baki di tangan nya.


Yuri segera ingin menutup pintunya kembali, tapi sekretaris Ang menahan nya dengan tubuhnya dan mendorong kuat.


"Tunggu Yuri..!" menerobos masuk.


"Mau apa lagi sih? Belum puas juga ya sudah membuatku kesal dan kelaparan!!Cepat keluar, atau malam ini aku kehabisan kesabaran ku dan akan mencekik mu!!"


"Aku hanya ingin mengantar makan malam untuk mu bocah! Bringsik sekali sih. Kalau ada yang dengar bagaimana? Di kira nanti aku hendak mencabuli mu." jawab Ang, menaruh baki yang sedari tadi di bawa nya ke atas meja.


"Benarkah?" Yuri menatap wajah sekretaris Ang, lalu meniti isi baki tersebut.


"Hah!!" mata Yuri terbelalak.


"Salad buah! Salad Sayur. Oh my God, Barbeque! " memekik lalu menoleh pada sekretaris Ang.


"Ini untuk saya?"


Sekretaris Ang mengangguk." Kau tidak menyukainya?"


"Suka..Suka sekali. Dari mana Tuan tau jika ini adalah makanan favorit saya?"


"Itu tidak penting. Makan lah. Aku akan menemanimu." sahut sekretaris Ang, meraih baki itu dengan tangan kanan nya, tangan satunya untuk menuntun Yuri ke sofa.


"Aku menyiapkan ini untuk mu. Untuk mengganti dinner kita yang gagal tadi. Maafkan aku ya.. Aku tadi hanya.. Ah, sudahlah. Makan ini." Sekretaris Ang menyuap potongan barbeque ke mulut Yuri.


"Tuan.. Saya bisa sendiri." Yuri menolak, dengan wajah yang tersipu.


"Tidak apa. Aku ingin menebus kesalahanku yang sudah mengacaukan dinner kita malam ini. Anggap saja ini kita sedang dinner di restoran mewah. Ayo lah. Buka mulut mu!"


' Bodo amat lah dengan malu. Yang penting makan!'


Yuri akhirnya membuka mulutnya, membiarkan sekretaris Ang menyuapi nya. Karena kelaparan, hingga makanan di atas baki itu tak tersisa sedikit pun. Habis oleh mereka berdua dengan saling melempar senyum dan suap suapan.


Dinner mereka pun berjalan lancar walau di hanya dinner di kamar Yuri. Dengan senyum bahagia diantara keduanya.


Mereka tidak tau jika di kamar lain, tepat nya di kamar besar Garra, sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara itu dilanda panik dan kekhawatiran yang dalam , terlebih Mia. Sesaat setelah Yuri menghubungi dan mematikan nomornya.


_____________________

__ADS_1


__ADS_2