Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Ang, keceplosan!


__ADS_3

Terjadi beberapa jam yang lalu,


Sebelum mobil yang dikendarai sekretaris Ang terparkir kembali di halaman luas Rumah Keluarga Mahendra hampir sore ini.


Di sebuah Mall tepatnya,


Yuri gelap mata, mengambil barang barang mewah seenak jidatnya. Tapi sebelum nya menoleh dulu pada Tuan sekretaris yang mengikuti di belakang nya, seperti meminta persetujuan tanpa bicara.


Saat sekretaris Ang mengangguk, maka Yuri segera menyikatnya. Dua barang setiap pilihan nya. Sama persis hanya beda warna saja.


Setelah merasa puas, dengan beberapa kantong di tangan kanan dan tangan kiri nya Yuri pun melangkah mendekati Sekretaris Ang.


"Sudah selesai?" tanya sekretaris Ang.


"Memang masih boleh?" Yuri balik bertanya.


"Boleh saja. Kalau tidak malu!" jawab Sekretaris Ang melangkah pergi meninggalkan Yuri.


"Tuan.. Tunggu!" jerit Yuri, berlari kecil menyusul sekretaris Ang.


"Huuh..!! Kirain beneran masih boleh. Ckk..!" keluh Yuri. Tapi segera tersenyum puas melirik kantong kantong besar yang bergelayut di kedua tangannya.


Lalu segera menyusul Sekretaris Ang duduk di jok depan.


"Taruh di kursi belakang! Kenapa di sini sih?? Sempit!" bentak Sekretaris Ang lalu melempar beberapa kantong milik Yuri ke kursi belakang.


"Maaf Tuan. Saya lupa. Tapi jangan kasar kasar donk. Nanti rusak , barang mahal ini." sahut Yuri , cemberut sambil memindahkan kantong kantong nya ke kursi belakang.


"Mahal juga bukan kamu yang mengeluarkan uang nya." jawab Sekretaris Ang ketus.


"Iya Tuan, saya paham. Tapi itu barang sebagian milik Nyonya muda juga lho. Kemarin Nyonya muda sempat berpesan,jika saya keluar, suruh membelikan dulu barang barang itu. Kalau sampai rusak. Lihat saja. Saya akan mengadu kan pada Nyonya jika Tuan sekretaris yang sudah merusaknya."


"Ck, Aku tidak sengaja. Sudah diam. Mau melesat ini. Pakai sabuk pengaman mu. Atau kau akan terjun keluar." jawab Sekretaris Ang kalah telak ketika Yuri mengatakan jika sebagian barang yang sudah di lemparnya secara kasar tadi adalah milik Nyonya muda. Seperti sangat menyesali perbuatannya.


Lalu menoleh pada Yuri yang sibuk memakai sabuk pengaman nya.


"Lama sekali. Bisa tidak??"


"Sabar Tuan, ini susah." jawab Yuri.


"Ini kenapa juga sih... kok susah di buka." Yuri memukul mukul pengait sabut pengamanan itu.


Tak sabar melihat Yuri, Ang bertindak.


"Hah!! Tuan.. Apa yang anda lakukan??" Teriak Yuri ketika tangan sekretaris Ang sudah berada di depan tubuh nya.


"Diam! Kau pikir aku mau apa hah?? Dasar otak mesum. Kecil kecil sudah berpikiran orang dewasa." umpat sekretaris Ang segera menyelesaikan kancing pengaman di tubuh Yuri dan segera kembali ke posisi nya semula.

__ADS_1


Yuri tersenyum malu. "Hehe... Terimakasih Tuan , atas bantuan nya."


Ang, tidak menjawab. Segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran mall tersebut.


"Huh, Terimakasih ya Tuan atas belanjaan nya. Sungguh tidak menyangka jika Tuan Sekretaris yang saya kenal sinis , ternyata baik juga. Mau membelanjakan saya sebanyak ini." ucap Yuri masih dengan hati yang berbunga bunga.


"Jangan berterimakasih kepada ku. Itu semua juga bukan uang ku." jawab Ang, dengan santai.


"Hah! Jadi, uang Siapa???" tanya Yuri tersentak.


Ang, tergelak.


"Paling juga kau tidak akan mendapat gaji selama lima bulan bekerja."


Yuri semakin kaget.


"Maksud nya... Aaa... tidak , tidak mau. Kalau begitu pulang kan saja semuanya!!" Teriak Yuri, membayangkan gaji selama lima bulan tidak terima nya. Padahal mendengar para pelayan itu mengatakan gaji bulanan mereka satu persatu sudah membuat Yuri senang. Bangga sekali bisa bekerja di rumah Keluarga Mahendra. Walaupun sebagai pelayan ternyata gaji mereka tiga kali lipat dengan Gaji penunggu Mall sekali pun.


Yuri sudah berkhayal, bisa membeli apa apa sendiri dengan uang hasil keringatnya. Lalu akan pamer pada Ibu dan juga Jihan yang dulu sering meremehkan nya.


"Tidak usah terlalu panik Nona Yuri. Berterima kasih lah pada Tuan Muda Garra. Tuan Muda yang memintaku untuk mengajak mu belanja." ucap Ang tanpa menoleh.


Mendengar itu, Yuri langsung lega.


"Kau ini ya.?? Bercanda mu itu jelek!! Tau tidak! Aku sudah panik!" Yuri tak sadar menampol bahu Ang, membuat pria dewasa itu menoleh cepat dan melirik tajam tangan Yuri.


"Ma.. maaf Tuan. Maafkan saya. Saya tidak sengaja. Kelepasan." jawab Yuri, segera menyadari kesalahannya dan memukul mukul tangan nya sendiri.


Hati Ang, sebenarnya terkekeh melihat kelakuan Yuri.


'Lucu sekali anak ini. Sayang nya masih belia. Coba saja kalau di sudah...'


'Ah... Apa sih ini?' Ang, tersadar dari Traveling nya, menepuk pipinya sendiri.


'Ingat Ang. Ingat umur. Bocah itu. Bocil.!'


Kemudian Ang berkonsentrasi menyetir dan membelok kan mobilnya pada sebuah rumah makan.


Setelah menghentikan mobilnya, Ang menuruni mobil dan membukakan pintu untuk Yuri.


"Kenapa berhenti di sini Tuan?" tanya Yuri.


"Kau lapar tidak? Jika tidak ya sudah. Diam saja di mobil. Aku lapar, mau makan." jawab Sekretaris Ang, melenggang masuk ke rumah makan meninggal kan Yuri.


"Eh, tunggu Tuan." Yuri kembali berlari kecil menyusul langkah sekretaris Ang.


"Katanya tidak lapar? Kenapa menyusul?"

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan tidak lapar. Saya tadi belum menjawab Tuan." bantah Yuri.


"Jadi kau lapar?"


"Iya saya lapar.. Lapar sekali. Tadi bahkan saya belum sempat sarapan di rumah." jawab Yuri cepat.


"Mau makan?"


"I..iya. Mau."


"Kalau begitu makan lah. Aku tunggu di mobil." Ang memutar langkah.


Yuri mendadak menghentikan langkahnya.


"Kenapa? Tidak jadi lapar?" tanya Ang, melihat Yuri berhenti melangkah dengan wajah cemberut.


"Kirain mau mengajak makan."


"Oh.. kamu mau ditemani. Baik lah. Berhubung aku sedang baik hati. Aku akan menemanimu." ucap Ang, kembali melangkah masuk ke dalam Rumah makan itu.


Yuri sangat geram dengan kelakuan sekretaris Ang karena sudah mengerjainya, kembali mengekor di belakang Ang dengan mengepal kan tangan nya kearah Ang.


"Apa yang kau lakukan???" Sekretaris Ang menoleh.


"Tidak Tuan, ini tangan saya pegal. Iya..pegal sekali." jawab Yuri , pias dengan merentangkan tangan nya berkali laki , tidak lupa melepaskan kepalan tangan nya.


"Cepat masuk. Lambat sekali!"


"Iya Tuan." Yuri cepat menyusul langkah sekretaris Ang.


"Dasar Tuan Sekretaris nyebelin....!! iiih..." Yuri gereget dalam hati.


Mereka akhirnya duduk di salah satu kursi dengan meja bulat besar di depan nya.


Tak lama kemudian, meja itu sudah di penuhi makanan nikmat semua.


"Ayo makan. Puasin. Aku tau, kau sudah lama tidak makan enak di rumah Gani Kuncoro." ucap Sekretaris Ang, membuat Yuri mendongak menatap nya.


"Dari mana Tuan Sekretaris tau jika saya sudah lama tidak makan makanan enak?" tanya Yuri, sambil mulai mengunyah.


"Jelas tau lah. Keluarga mu sudah bangkrut sejak sebelum kau ikut kami kemari. Apa yang tidak aku tau hah?? Bahkan di mana sekarang mereka tinggal saja aku tau." sahut Ang, sambil memasukan makanan ke mulut nya.


"Apa? Tuan tau dimana mereka tinggal sekarang? Memang di mana Tuan? Tolong beri tahu saya. Saya ingin mengunjungi mereka. Mengajak Nyonya muda untuk melihat keadaan keluarga kami. Saya tidak berhasil menghubungi mereka, jadi tidak tau kabar mereka sekarang bagaimana. Tolong beritahu saya Tuan??" pinta Yuri, mengiba.


Ang tersentak, baru tersadar dari kesalahannya.


'Aduh... kenapa keceplosan sih?? Bisa gawat ini. Jika Yuri tau di mana mereka tinggal dan mengajak Nyonya muda kesana? Mampus Aku!! Bisa di gantung oleh Tuan muda Garra...!!!' batin Ang menepuk jidat sendiri.

__ADS_1


___________


__ADS_2