Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Pria sejati.


__ADS_3

Sepeninggal sekretaris Ang, para pelayan mulai ada yang menghampiri teman satu sama lain nya. Mulai terdengar berbisik bisik dari beberapa orang.


[ Tuan Sekretaris dan Yuri kenapa? Seperti nya Mereka sedang ada masalah. ]


[ Bukan ada masalah nya yang di pertanyakan, tapi sepertinya mereka ada hubungan spesial. Tidak lihat apa , tadi Yuri marah dan memukul Tuan Sekretaris.]


[Benar, jika tidak ada hubungan spesial mana mungkin Yuri seberani begitu. Cari mati..!]


[ Eh,tunggu tunggu, kalian tadi dengar tidak, waktu Yuri memukul Tuan Sekretaris. Yuri sempat menyebut nama Nyonya Muda. Kenapa Yuri seberani itu ya..?]


Bisik bisik.. Semakin penasaran!


Bisik bisik.. Semakin merasa aneh!


**


Ang masih berlari cepat menyusul Yuri. Kepala Ang celingukan mencari keberadaan Yuri yang tak nampak lagi.


Lalu segera menuju kamarnya.


Brak...!!!


Masuk, memeriksa. Membuka kamar mandi. 'Tidak ada manusia.'


'Jangan jangan, Yuri!'


Langsung keluar dan berlari cepat lagi.


Benar dugaan sekretaris Ang. Yuri mendatangi Kamar Mia.


Ang panik, cepat menyusul Yuri.


Hampir saja Yuri mengetuk pintu. Untung Sekretaris Ang cepat menyambar tangan Yuri.


"Kau..!"


"Em.. em.. " membungkam mulut Yuri, kali ini menggunakan tangan nya. Cepat menarik tubuh Yuri untuk menjauhi pintu dengan satu tangan nya.


Yuri berontak, "Lepas.!" terlepas dan segera menjauh dari sekretaris Ang.


"Kau ini! Kenapa mencegahku? Oh.. aku tau. Kau sungguh takut aku mengadu pada Nyonya muda dan Tuan muda atas perlakuan mu ya?" seru Yuri menunjuk dada Sekretaris Ang.


"Aku akan mengadukan mu.!" Yuri melangkah kembali.


"Eh, eh, Yuri. Jangan, jangan." sekretaris Ang cepat mencegahnya.


"Awas minggir!" jerit Yuri.


"Kau sangat takut ya? Hahaha.. Kau rupanya takut jika Mia dan Tuan muda Garra mengetahui perlakuan bejad mu semalam pada ku ya.!"


"Sutttt......Bukan itu, bukan itu. Aku tidak takut." elak Sekretaris Ang.


"Lalu apa? Wajah mu saja sepanik itu!"


"Tidak, ini bukan masalah takut. Hus..hus.. Jangan ke sana ,jangan ke sana." merentangkan kedua tangan nya.

__ADS_1


"Hah, tidak takut? Kalau begitu minggir! Sebentar lagi kau akan Hancur!" Yuri memaksa menerobos benteng pertahanan Panglima es. Hingga tubuh sekretaris Ang terpelanting ke samping.


"Busyet...Ni anak kecil kecil kuat juga tenaganya. Aduh... gawat!"


"Yuri!" tak ada pilihan lain, Sekretaris Ang mengangkat tubuh Yuri dengan cara meraup pinggang Yuri dari belakang ketika Yuri sudah hampir mengetuk pintu kamar Mia kembali. Pria itu kembali membawa tubuh Yuri untuk menjauhi pintu.


"Kau ini bandel sekali sih?? Sudah di bilang jangan ketuk pintu mereka!!"


"Apa.. apa.. Lepas sialan.. Lepas!!" Yuri berontak dari belenggu Sekretaris Ang.


"Tidak akan terjadi, Diam!" mengeratkan belenggu tangannya.


"Kau ini kenapa sih, aku kan cuma mau mengadu pada kakak ku sendiri tentang masalahku! Kenapa kau takut sekali. Kau sungguh takut ya.."


"Tidak untuk sekarang Yuri. Aku bukan takut. Tapi jangan sekarang. Ayo pergi dari sini!"


"Tidak mau. Lepas! Kau ini cari kesempatan ya??"


" Tidak Yuri.. Aku tidak sedang mencari kesempatan, tapi sedang menyelamatkan Tuan muda dan Nyonya muda dari gangguan terkutuk mu!"


"Ngomong apa sih??? Lepas Tuan. Lepas!" Yuri terus berontak, Ang pun semakin kuat menahan tubuh Yuri.


"Ku mohon jangan sekarang. Kau tidak mengerti kalau kita akan mengganggu mereka yang sedang berusaha membuat cicit untuk Tuan besar!!"


"Hah! Apa??" Yuri terkejut dan langsung terdiam.


Brak!!!


"Hei !! Sekretaris Ang.. Yuri... Kalian..? Apa yang kalian lakukan di situ...?" Mia menutup mulut nya melihat dua insan berlainan jenis sedang berpeluk pelukan di depan kamar nya.


Mia dan Garra sudah berdiri di sana. Mia masih dengan Handuk yang membalut tubuhnya, mengintip mereka dari balik punggung Garra.


"Ang.. sedang apa kau itu..? Hah, kau..??" tanya Garra , menatap heran kelakuan mereka.


"Tuan muda! Maaf ini. Ini tidak seperti yang anda lihat." Sekretaris Ang tersadar dengan posisi nya dan langsung melepaskan tubuh Yuri.


"Tadi.. tadi. Ah, saya sedang mengusir hama pengganggu yang ingin mengganggu kalian. Benar kan Yuri?" menoleh pada Yuri dan mengerdipkan matanya.


"A.. iya. Iya Tuan muda , Mia. Begitu kok. Benar. Ada tikus.. iya ada tikus tadi. Hehe.." ucap Yuri.


"Maaf menggangu ya.?? Sebaiknya lanjut kan saja aktivitas kalian. Kita akan segera pergi. Ayo Tuan sekretaris.. Kita pergi. Tikus nya sudah minggat seperti nya." Yuri menarik tangan Sekretaris Ang untuk cepat cepat pergi dari situ.


Mia dan Garra saling berpandangan, kemudian terkikik bersama melihat kelakuan mereka berdua . Segera menutup pintu kembali.


Yuri yang masih menarik tangan sekretaris Ang segera melepaskan tangan nya setelah merasa jauh dari kamar Mia.


"Kenapa tidak bilang dari tadi sih kalau mereka sedang.._"


"Sudah di bilang dari tadi, kau saja yang ngeyel..!" potong sekretaris Ang.


Mereka masih melangkah dan kini duduk di ruangan sekretaris Ang.


Yuri terlihat melamun dan kemudian tersenyum senyum sendiri.


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan bocah?" tegur sekretaris Ang melihat Yuri tersenyum senyum sendiri.

__ADS_1


"Aku sedang memikirkan kelucuan mereka tadi. Ah, senangnya. . Sebentar lagi, aku akan punya keponakan deh!"


"Kalau begitu, kau jangan pernah berniat mengganggu mereka jika mereka sedang ada berdua di kamar. Biar keinginan mu segera terwujud."


"Iya tuan. Maaf. Kan saya tidak tau tadi." jawab Yuri.


"Jadi ini alasan nya kenapa Tuan Ang masih ada di rumah jam segini?" tanya Yuri.


"Itu kau tau."


Sejenak kedua nya terdiam. Lalu sesaat Sekretaris Ang melirik Yuri.


"Yuri. Yang semalam. Aku minta maaf. Aku.. aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku.. sebenarnya niat ku hanya ingin memberi mu pelajaran. Tapi malah kelabasan. Maaf ya..?"


Mendengar itu, Yuri yang masih tersenyum mendadak kembali manyun.


"Enak saja meminta maaf. Kau sudah menghancurkan aku berkali kali. Tidak akan tertebus hanya dengan kata maaf."


"Bekali kali? Hanya sekali saja. Jangan lebay."


"Apa? Lebay kau bilang??" Yuri melotot, jiwa anarkis nya kembali meronta. Ia berdiri dan menunjuk sekretaris Ang.


"Dengar Tuan Angkara murka! Kau banyak melakukan kesalahan padaku. Mau ku jabarkan satu persatu ? Dengar ya..?? Satu, kau selalu memanggilku bocah. Itu sangat menyakitkan telinga ku setiap waktu kau memanggilku dengan sebutan itu. Kedua , kau sudah menolak cinta tulus dari seorang gadis suci seperti ku. Dan dosa terbesar mu yang harus kau sadari adalah, kau sudah merampas ciuman pertama ku." Yuri terisak, menutup mulut nya.


Sekretaris Ang terbengong. Mendengar kata terakhir Yuri yang mengatakan jika dia sudah merampas ciuman pertama Yuri, sekretaris Ang mendadak merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku. Sudah ku bilang aku tidak sengaja melakukan nya."


"Tidak sengaja bagaimana? Jelas jelas kau datang dan tiba tiba menyerobot paksa. Kau sudah merenggut kesucian bibirku dan meminta maaf begitu saja. Kau pikir hanya dengan meminta maaf , kau bisa mengembalikan kesucian bibirku ini yang sudah ternoda oleh mu hah!" Yuri kembali dengan tangisannya.


"Selama ini aku menjaganya dengan segenap jiwa raga ku, hanya akan ku berikan pada kekasih ku. Pria yang akan menikahi ku kelak.Tapi semalam kau sudah menghancurkan nya dalam sekejab. Kau benar benar jahat Tuan Ang..?" semakin terisak.


"Yuri.. Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf. Aku akan menebus nya. Sudah jangan menangis. Aku akan menebus kesalahanku." sahut sekretaris Ang panik melihat Yuri menangis kuat.


Mendengar itu Yuri seperti ada ide untuk mengerjai sekretaris Ang. Yuri berhenti menangis dan menyeka air matanya.


"Kau janji akan menebus kesalahan mu?"


Tak ada pilihan lain , sekretaris Ang hanya bisa mengangguk.


Belum sempat Yuri mengutarakan niatnya, Hp Sekretaris Ang berdering. Rupanya Garra sudah menghubungi nya untuk mengajak Ang berangkat ke kantor.


"Tuan muda sudah bersiap. Kita lanjutkan nanti malam saja ya?"


"Baik lah, tapi ingat kau harus menepati janjimu. Jika tidak , berarti Tuan Ang bukan Pria sejati."


Sekretaris Ang langsung mendelik.


"Aku pria sejati Yuri." lalu mendekati Yuri.


"Aku akan menepati janji ku. Tunggu nanti malam. Akan ku buktikan padamu. Jika aku adalah pria sejati..!! Kau dengar itu?" ucap Sekretaris Ang tepat di telinga Yuri.


Lalu melangkah meninggal kan Yuri.


___________________

__ADS_1


__ADS_2