
Garra masih menatap Mia. Ada keraguan di hatinya. Bukan ragu,tapi bingung untuk memulai dari mana. Bingung memberitahu cara nya pada Mia.
Apalagi ketika melihat Mia menggeser tubuhnya, lalu menatapnya dengan tatapan menunggu.
'Ahhhrgg... '
Sungguh Garra ingin berteriak. Seharusnya momen ini menjadi momen yang indah bagi nya. Tapi tidak. Garra malah terlihat gugup. Sangat gugup. Tidak seperti Mia yang malah tidak merasa apa apa kecuali rasa penasaran dan tak sabar menunggu , menunggu Garra memberitahu nya.
"Mia..!" Garra mencoba kuat.
'Aduh.. kenapa malah gugup begini sih aku.
Payah!' Garra memaki diri sendiri. Lalu menarik nafas dalam dalam. Kembali menatap Mia. Tangan nya menyentuh pipi Mia.
"Mia, banyak tahapan yang harus kamu ikuti terlebih dahulu. Sebelum aku memberitahu mu caranya." Garra akhir nya memulai bicara. Pikirnya memberi tahu Mia step demi step nya, agar Mia tidak syok nantinya.
"Apa kamu mau mengikuti nya?"
"Iya."
"Kamu yakin sudah siap?"
"Yakin Tuan muda. Saya siap. Dari tadi."
"Huh. Baiklah." Garra kembali menarik nafas dalam.
Garra mulai mendekati Mia, lebih dekat lagi. Hingga tidak ada jarak diantara mereka.
Garra meraih kedua tangan Mia. Memegang erat, mata nya tak lepas dari wajah manis Mia yang menurut Garra memang sungguh menggoda.
*Kr**iuk....!!!
Kriuk*...!!!
Bunyi perut Mia. Keras, sampai Garra mendengar nya.
"Kau lapar?" tanya Garra.
Mia mengangguk, tersenyum malu.
Garra mendengus. "Kita makan dulu."
"Jangan,.. Nanti saja Tuan. Kan cuma sebentar..!" rengek Mia.
"Tidak bisa Mia. Itu butuh waktu yang lama."
"Saya masih bisa tahan kok." bantah Mia.
"Kau harus makan dulu. Kita perlu tenaga. Nanti kau akan kehabisan tenaga Mia..!"
"Memang harus angkat berat?"
Garra kembali mendengus. Mengelus dada.
'Sabar Garra.. Sabar .. Harus mengerti, istri mu tidak pintar. Ingat itu.' menasehati diri sendiri.
Garra mengangguk. "Tunggu sebentar ya?"
Garra beranjak, keluar kamar meninggalkan Mia yang masih setia menunggu dengan rasa penasaran yang besar.
Tak lama Garra kembali dengan membawa makanan. Lalu duduk di samping Mia, bersiap menyuapi Mia.
"Tuan Muda, nanti lipstik saya luntur." menolak suapan Garra.
"Tidak akan." jawab Garra kembali menyodorkan sendok.
"Tuan muda. Saya pernah memakai lipstik yang saya beli di pasar. Buat makan ilang..?"
"Ya Tuhan , Mia..! Ini lipstik Luar negri punya. Kau pikir aku beli di pasar komplek. Tidak akan luntur. Cepat buka mulut mu.!" Bentak Garra kesal.
Mia menurut, membuka mulutnya. Garra pun ikut makan juga, demi mendapat kan tenaga ekstra pikirnya.
Suapan demi suapan selesai sudah.
Garra menghela nafas lega, membereskan bekas makan mereka. Lalu membersihkan mulut Mia dengan telaten, sengaja mengulur waktu setidaknya sampai makanan turun ke lambung.
Beberapa menit berselang, Mia mulai mendekati Garra kembali.
"Tuan muda, makan kan sudah. Selanjutnya bagaimana. Jadi kan?" polos.
"Oh, iya. Pasti. Harus jadi." Garra mulai gugup kembali.
"Mia..!"
"Tunggu sebentar. Seperti nya, saya harus ke kamar mandi dulu." Mia segera beranjak, meninggalkan Garra yang tercengang.
"Astaga..!!! Ribet sekali sih..?" Garra mengeluh, menjerit dalam hati. ' Sabar Garra. Sabar. Ingat, istri mu tidak pintar.' menepuk jidat sendiri.
Lama menunggu, akhirnya Mia keluar juga dari kamar mandi. Kembali duduk di samping Garra.
"Sudah siap..?" tanya Garra.
Mia mengangguk mantap.
"Benar?"
Mia kembali mengangguk.
"Tidak mau BAB lagi?"
Mia menggeleng.
__ADS_1
"Tidak kebelet pipis?"
Mia menggeleng.
"Baiklah." Garra menghela nafas kembali.
Mulai menatap Mia.
"Mia.. mulia detik ini, jangan lagi panggil aku tuan muda. Ingat ya? Aku kan Suamimu."
"Lalu panggil apa?"
"Basing.. terserah Mia mau panggil apa."
"Abang ya?" tanya Mia.
"Hah! Abang..? Abang tukang bakso? Enggak. Enak saja.!"
"Ckk. Bang Garra loh. Itu bagus."
"Yang lain donk Mia.. Honey kek, Beby kek!"
"Hah! Kok babi. Gak sopan itu."
"Beby Mia.. bukan babi.... B e b y. Ingat Beby dalam bahasa Inggris artinya sayang." Garra menekankan.
"Ribet sekali, nanti malah lupa, salah memanggil jadi babi. Kan nanti durhaka, panggil suami babi."
Lemas sudah Garra di buat Mia karena kebodohannya.
"Ya sudah. Garra boleh, bang Garra juga boleh." Garra pasrah. Kembali mengumpul kan tenaga.
"Satu lagi Mia."
"Apa?"
"Jangan saya dan anda. Tapi aku dan kamu. Kamu bukan pelayan ku, dan aku bukan majikan mu. Tapi kita ini suami istri. "
Mia mengangguk, kali ini rupanya Mia paham.
Garra naik keranjang. Menepuk kasur disebelah nya. Menyuruh Mia mendekat.Mia menurut merangkak mendekati Garra.
Garra kembali menatap Mia. Lalu Garra mulai melepas bajunya.
"Tuan muda .. Ah, bang Garra. Kenapa melepas baju? Apa gerah?" tanya Mia.
" Ya..iya, Gerah. " Garra cepat menjawab,kembali harus bersabar.
"Oh.." dengus Mia. Padahal kamar ini ber-AC, kok gerah. Sempat heran.
Garra kembali menatap Mia. Kali ini dengan tatapan penuh arti. Mia pun melakukan hal sama, sambil sesekali melirik dada bidang Garra yang sedikit berbulu. Ada sedikit rindu dihatinya. Rindu menyentuh bulu itu, seperti dulu ia sering lakukan ketika memandikan Garra.
"Mia, lihat aku." Mia mendongak. Kembali menatap Garra. Pandangan nya beradu, seperti ada sesuatu dalam tubuh Mia. Mia merasakan getaran demi getaran aneh. Seperti sesuatu yang menuntut. Mia tidak mengerti.
Mia menggeleng.
"Bayi. Kita harus membuat bayi agar cicit untuk Kakek jadi." ucap Garra berusaha menjelaskan sejelas mungkin agar Mia paham. Setidaknya sedikit saja.
"Oh." Mia.
"Kau mau punya bayi?" kembali Garra bertanya, mengusir gugup sambil memainkan jemarinya di wajah Mia.
Mia mengangguk. "Iya aku mau punya bayi."
Garra tersenyum senang. "Kau paham Mia..?" Akhirnya. Mia paham. Pikir Garra.
Mia menggeleng. Membuat Garra mendengus kembali.
"Baik lah, tidak apa apa. Nanti kau akan paham."
Lalu Garra menurunkan tali baju milik Mia.
"Ah, tuan kenapa begini.?" Mia menahan tangan Garra.
"Mau punya bayi kan?" Garra mengingatkan.
Mia mengangguk.
"Ingat, harus menurut. Melakukan apapun untuk Kakek."
Mia mengangguk kembali
Garra membaringkan tubuh mia.,
lalu mulai menarik baju Mia, menyisakan bra dan CD nya saja.Mia tentu kelabakan ,menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Garra tak ingin mencegah, paham jika Mia masih malu.
"Tidak perlu malu. Kita sudah sama sama pernah melihat nya bukan?" Garra merayu. Lalu menarik pelan selimut itu.
Pandangan Garra kini tertuju pada bibir mungil Mia. Lalu perlahan mendekatkan bibirnya.
Cup.... berhenti sesaat.
Mia menahan tubuh Garra, mendorong nya. Tapi Garra tidak membiarkan itu terjadi. Menahan kuat kedua tangan Mia kesamping tubuhnya. Lalu merakus dengan lembut bibir Mia.
Mia tak melawan lagi, diam. Kaku. Membiarkan Garra menguasai'nya.
Garra merasakan kekakuan Mia. Garra tidak lagi peduli. Tidak ingin peduli. Rasa yang hampir meledak di dalam tubuhnya sudah tak terbendung lagi. Garra terus melakukan aksinya. Hingga merasakan nafas Mia tersengal. Garra melepas pagutan nya.
"Bernafas Mia."
__ADS_1
Mia mengangguk, mengambil nafas sebanyak mungkin. Menumpuk oksigen ke dalam paru parunya.
Garra kembali melanjutkan aksinya. Kini Garra beralih, menenggelamkan wajahnya di dadaa Mia.Tangan Garra pun mulai agresif meraba lekukan tubuh Mia. Melepas pakaian yang tersisa dari tubuh Mia.
Kali ini Mia berontak.
"Bang Garra, jangan begitu..?" teriak Mia.
Garra terperangah, menarik tubuhnya.
Melihat wajah ketakutan Mia. Merasa bersalah.
"Baik lah, baiklah. Tenang ya..??" Garra menenangkan Mia.
Ingin mengambil langsung intinya saja. Jika kelamaan , bisa bisa Mia malah kabur.
"Tarik nafas Mia. Lihat aku saja. Aku tampan kan?" rayu Garra, sambil perlahan memposisikan tubuhnya diantara kaki Mia.
Mia menurut, menatap wajah Garra. Walau tidak bisa di pungkiri, jantung Mia terpompa dengan dahsyat nya. Nafas nya sampai terdengar kasar di telinga Garra.
"Mau punya bayi kan?"
Mia mengangguk.
"Boleh menjerit, tapi jangan melawan apapun yang terjadi. Karena pada awal nya memang terasa sakit. Tapi lama lama tidak." Garra berusaha memberitahu Mia.
Mia kembali mengangguk, walau terlihat sedikit ragu.
Garra akan memulai penyerangan. Melirik Mia yang menggigit bibir bawahnya sendiri. Terlihat semakin seksi, membuat Garra semakin menggebu saja.
Garra mulai menghentak. Namun gagal.
"Ahhh...!!" Benar saja, Mia menjerit dengan kuat.
"Tahan Mia."
"Sakit..!"
"Aku tau, tapi perlu usaha keras Mia. Kerja sama yang baik." bujuk Garra.
Dengan nafas tersengal, Mia mengangguk
"Apa bayinya sudah jadi?"
Garra menggeleng, benar benar harus exstra sabar, menghadapi istri tidak pintar nya ini.
'Bagaimana mau jadi..????? Alat nya saja masih di ambang pintu...!!!" batin Garra sungguh menjerit kali ini.
"Bang Garra.. sudah jadi kah.?" Mia kembali bertanya.
"Belum sayang.. ini masuk dulu. Baru nanti jadi."
"Tapi sakit..." Mia kini berontak ketika Garra memaksa menekankan sesuatu pada nya.
"Tidak... Stop bang Garra.. Aku tidak mau..!!" Mia tiba tiba histeris, mendorong kuat tubuh Garra hingga terpelanting ke samping.
"Mia..!!" Garra tercengang. Menatap Mia yang duduk meringsut, menarik selimut dengan terisak. Wajah ketakutan nampak begitu jelas.
Garra segera tersadar, mengusap wajahnya dengan kasar.
Garra tiba tiba merasa bersalah. Menyesal sudah membodohi Mia.
'Tidak.. Aku egois. Aku belum bisa melakukan ini. Mia belum merasakan apa apa. Ini akan menyakiti Mia. Tidak bisa. Tidak bisa di terus kan.' Garra bergerak mendekati Mia.
Membelai rambut Mia.
"Maafkan aku. Maaf..!" mencium kening Mia dengan lembut.
"Lain kali saja." sambung Garra.
Mia mengusap air matanya, menatap kekecewaan di wajah Garra. Merasa bersalah, Menyesal sudah tidak menurut.
"Tuan muda... Bang Garra marah?" tanya Mia, melihat Garra mengenakan kembali pakaiannya.
Garra menggeleng, lalu memunguti pakaian Mia dan mengenakan nya pada Mia.
"Bang Garra..!!" Mia memanggil lembut.
"Kita bisa mencoba nya lagi. Aku akan menahan nya kali ini." sambung Mia.
Garra tersenyum, lalu menggeleng.
"Belum waktunya Mia. Lain kali saja."
"Tapi kakek.?"
"Sudah Mia.. Itu urusan ku. Biar aku yang menjelaskan pada Kakek , ya..?" Garra mengusap kepala Mia. Merengkuh tubuh Mia dalam pelukan nya.
'Maaf Mia.. Maafkan aku..! Aku tidak mungkin menikmatinya sendiri, sementara kamu harus kesakitan. Itu pasti sangat meyiksa. Aku tidak mau kau menderita.' Garra akhirnya mengalah untuk menekan perasaannya. Garra tidak mau menyakiti Mia dengan keegoisan nya. Memanfaatkan kebodohan Mia. Tidak , itu tidak benar!
Garra terus mengelus rambut Mia, berusaha menenangkan Mia., Mia pun semakin menenggelamkan kepalanya di dada Garra. Menemukan ketenangan dan ketulusan di sana.
Garra ingin kembali ke tujuan awalnya.
Membuat Mia jatuh cinta pada nya, lalu Mia bisa merasakan apa yang ia rasakan juga. Itu sekarang yang ada di pikiran Garra.
bersambung...!!!!!
kata bang Garra.
Note: Hanya dunia halu Kakak!!!
__ADS_1
Selamat ngakak...!!!