
Malam ini, Yura duduk menyandarkan punggungnya di dada Rayyan. Sementara Rayyan sendiri mendekap erat tubuh Yura sambil terus menciumi pucuk kepala gadis kecil itu.
"Kau harus baik baik saja dirumah. Tunggu kak Mig pulang!"
"Kak Mig akan lama di Manhattan?" Yura menoleh pada wajah di samping wajahnya itu.
"Tidak tau juga. Setelah selesai pendidikannya kak Mig akan langsung pulang. Kak Mig akan giat belajar agar cepat lulus."
"Kata temanku, di New York pergaulan sangat bebas.!"
"Kak Mig tidak tinggal disana. Meskipun harus disana, Kak Mig tidak akan terpengaruh dengan pergaulan bangsa barat. Kau tenang saja." ucap Rayyan ingin meyakinkan hati Yura yang sedang gelisah memikirkan kepergiannya.
"Kak Mig tidak akan mencari pacar disana kan?"
Rayyan kini memutar tubuh Yura, hingga menghadapnya. Memegang kedua pipi chubby Yura.
"Bukan kah Yura sekarang pacar kak Mig? Jadi mana mungkin kak Mig mencari pacar lagi." jawab Rayyan.
"Tapi, Ara masih kecil. Kak Mig pasti lebih suka dengan gadis dewasa!"
"Tidak akan. Itu tidak akan terjadi!"
Cup! Rayyan mencium bibir Yura menyesap sebentar kemudian melepaskannya.
Rasanya Rayyan ingin lama menyesap bibir itu, namun Rayyan masih bisa mengingat jika Yura masih remaja. Ciuman bibir pasti tidak baik untuknya.
"Ara harus janji pada kak Mig. Tidak boleh dekat dengan pria manapun." ucap Rayyan.
"Selain Ayah dan Uncle?"
"Ya.. Selain Ayahmu dan Ayahku. Hanya boleh dekat dengan kak Mig saja. Tidak boleh yang lain. Teman laki laki mu di sekolah ataupun diluar sekolah. Ara harus ingat pesan Kak Mig."
Yura mengangguk.
Malam itu mereka menghabiskan malam Terakhir berdua.
Dan paginya, Rayyan benar benar sudah bersiap untuk pergi ke kota terkecil di Amerika tersebut.
Perpisahan yang sangat berat bagi mereka, Yura bahkan terus terisak di pelukan sekretaris Ang yang mendekapnya. Sementara tangan Yura tak lepas menggenggam erat tangan Rayyan.
"Ara! Jangan seperti ini. Kasian kak Mig mu, dia tidak akan tenang meninggalkanmu." ucap Yuri.
"Ara ingin ikut kak Mig. Ara ingin ikut saja." rengek Yura.
"Kau masih kecil. Belum waktunya pergi kesana. Biarkan kak Mig pergi dengan tenang. Lepaskan tanganmu." ucap Yuri kembali.
Rayyan menatap Yura dengan sedih, kemudian perlahan melepaskan genggaman tangan Yura.
Namun Yura tiba tiba memeluk pinggang Rayyan.
"Kak Mig jangan pergi!" Yura menangis tersedu di punggung Rayyan. Semua yang melihatnya menjadi sedih melihat Yura yang terus meraung itu.
"Ara!" Rayyan memutar tubuhnya. Memeluk gadis itu.
"Kak Mig pergi untuk sementara. Ini juga demi keluarga Mahendra. Ara tidak boleh seperti ini. Katanya akan menjadi wanita yang kuat. Kenapa cengeng?" bisik Rayyan, berkali kali mengecup kepala Yura.
Yura masih terisak, melepaskan pelukan Rayyan. Kembali menatap wajah Rayyan.
__ADS_1
"Cepat pulang?"
Rayyan mengangguk.
"Ara pasti kesepian. Tidak ada yang menemani Ara bermain dan ke Wahana lagi."
Rayyan tersenyum.
"Kak Mig akan cepat pulang! Janji!" melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Yura.
Kemudian, Rayyan mulai melangkah. Yura masih saja menangis, menatap punggung Rayyan yang menghilang dibalik pintu Mobil.
Mobil Rayyan mulai merayap pelan.
Yura tiba tiba menjerit, ketika mobil itu sudah melaju. Yura berlari mengejar mobil itu.
"Kak Mig. Jangan pergi. Jangan tinggalkan Ara!"
Sekretaris Ang berlari menyusul putrinya. Menangkap tubuh Yura yang kini meraung raung di dadanya.
"Ara! Jangan begini putriku. Jangan membuat kami sedih melihatmu seperti ini." Sekretaris Ang terus mengusap kepala Yura.
"Ayah! Kenapa menyuruh kak Mig pergi? Ara tidak ada teman lagi. Ara kehilangan satu satunya teman Ara!" Yura memukul mukul Dada Ayahnya.
Sementara Rayyan yang di dalam mobil itu masih bisa melihat bagaimana Yura sangat terpukul dengan kepergiannya. Tapi, Rayyan hanya bisa menekan semua perasaannya. Air mata pun menetes.
"Kenapa bisa sesedih ini berpisah dengan Ara?" menekan dadanya sendiri.
"Maafkan kak Mig Ara. Kak Mig harus pergi. Kak Mig janji setelah kembali nanti, tidak akan meninggalkan mu walau sedetikpun."
Sementara Ara masih saja menangis di pelukan ayahnya. Sampai tubuhnya melemas.
Sekretaris Ang membaringkan tubuh Yura di ranjang.
Yuri hanya bisa menatap itu, membiarkan suaminya menenangkan putrinya. Karena sejak kecil, Yura memang lebih dekat dengan Sekretaris Ang ketimbang dengan Yuri ibunya.
"Sayang.. Berhentilah menangis. Kasian kak Mig, dia tidak akan tenang di sana jika Ara seperti terus."
"Ayah.. Ara mau kak Mig. Ara tidak bisa jika tidak ada kak Mig!" Yura masih merengek.
"Ayah tau. Ayah tau itu. Tapi kak Mig harus pergi demi keluarga kita. Kak Mig pasti kembali lagi untuk Ara. Kembali pada Ara. Berhentilah. Kau akan sakit lagi jika menangis terus." Sekretaris Ang mendekap kembali putrinya.
Dia bisa merasakan bagaimana perasaan putrinya saat ini. Rayyan satu satunya temannya. Rayyan sangat peduli pada Yura dalam hal terkecil sekalipun. Semenjak dari Yura bayi, Rayyan tidak pernah meninggalkan Yura sebentar pun jika di rumah. Waktu Rayyan dihabiskan untuk menemani Yura siang malam. Kecuali waktu tidur Yura saja. Sekretaris Ang paham itu. Kepergian Rayyan sudah pasti sangat membuat Yura tertekan.
"Ayah akan menemanimu. Berhentilah menangis." Sekretaris Ang melepaskan pelukannya. Menatap wajah putrinya. Mengusap air mata Yura.
Kesedihan kembali mengisi hatinya. Sekian lama Sekretaris Ang menanti kehadiran putrinya. Segala cara dilakukan demi mendapatkan Yura. Setelah berhasil, Yura harus lahir dengan keadaan fisik yang lemah. Tidak bisa menikmati kehidupan dengan bebas seperti teman temannya yang bebas bermain dan makan apapun yang mereka suka.
Tapi sekretaris Ang masih banyak bersyukur, karena kehadiran Yura bisa mewarnai Keluarga Mahendra. Garra, Mia dan tentunya Taun Muda Rayyan yang begitu bahagia atas kelahirannya.
Mereka tidak pernah mengeluh sedikitpun atas kekurangan dan kondisi Yura. Mereka bersama sama menjaga dan merawat Yura hingga sebesar ini dengan penuh kasih sayang.
Bahkan sekretaris Ang sendiri terus terbesit pikiran untuk menikahkan Yura dengan Rayyan. Merestui cinta Rayyan pada Putrinya. Karena sekretaris Ang yakin jika Rayyan satu satunya yang terbaik buat Yura.
Tapi bagaimana dengan Garra? Jika Garra tidak setuju, mana mungkin sekretaris Ang berani memaksakan kehendaknya?
Sekretaris Ang terus mengusap lembut punggung putrinya, hingga Yura terlelap karena kelelahan menangis.
__ADS_1
Setelah memastikan Putrinya tertidur sekretaris Ang beranjak keluar dari kamar Yura.
Hari berganti, bulan pun sudah berlalu.
Meskipun itu terasa menyiksa bagi Rayyan Miga dan Yura yang berada di tempat berbeda. Keduanya sama sama tertekan dengan rindu yang semakin membuncah.
Rayyan bahkan sengaja tidak menghubungi Yura lagi karena tidak ingin menyiksa hatinya sendiri. Pernah ia melakukan panggilan video bersama. Tapi itu malah membuat hati Rayyan menjerit. Ingin berontak untuk pulang ke Indonesia.
Beruntung Rayyan masih bisa menahannya.
Tapi bagi Yura perbuatan Rayyan itu sangat membuatnya kecewa. Yura menganggap Rayyan sudah mengingkari janjinya dan melupakannya.
Yura sempat jatuh sakit memikirkan itu. Namun waktu yang terus berputar membuat Yura sedikit demi sedikit bisa melupakan kesedihannya.
Tahun berganti,
Satu tahun waktu yang seharusnya diambil Rayyan di Kota Manhattan ternyata tidak terjadi. Rayyan kembali harus tinggal satu tahun lagi di sana.
Saat ini, Yura sudah duduk di bangku kelas sebelas SMA.
"Yura!" panggil seorang siswa teman sekelas Yura saat waktu pulang.
"Edo!"
"Kau pulang dengan siapa?"
"Aku. Di jemput sopir."
"Boleh aku mengantarmu! Aku membawa mobil sendiri. Kita akan singgah dulu di Caffe dan minum. Kau mau?" tawar Edo.
Yura seperti sedang berpikir.
"Baiklah. Aku bicara dulu dengan sopirku." jawab Yura.
Tak lama kemudian, Yura sudah menghampiri Edo dan mengangguk setuju.
Edo dengan wajah sumringah langsung membukakan pintu untuk Yura.
"Silahkan Tuan Putri!"
Yura tersenyum mendengar itu, kemudian masuk dan duduk dengan manis di susul Edo di sampingnya.
"Bagaimana jika tidak usah ke Caffe. Aku kurang suka suasana berisik." ucap Yura.
"Kemana pun Tuan Putri mau kalau begitu." jawab Edo.
"Ke Taman saja. Setelah itu antar aku pulang!"
"Baik Tuan Putri Yura. Saya siap!"
Keduanya tertawa bahagia.
Waktu, bisa merubah segalanya. Apakah waktu yang cukup lama ini bisa merubah perasaan Yura pada Rayyan yang disana masih selalu memikirkannya dan merindukannya setiap saat?
Sedangkan disini Yura, semakin melupakan Rayyan.
Dulu, Yura masih remaja ketika ia sempat takut kehilangan Rayyan. Saat ini Yura sudah tumbuh menjadi gadis yang hampir dewasa dengan wajah yang sangat cantik dan manis membuat banyak pria yang terus berusaha mendekatinya tanpa memandang kondisi Yura yang lemah dan Kecerdasannya yang kurang. Bagi mereka, kecantikan Yura dan nama Keluarga Kuncoro serta keluarga Mahendra dibelakang Yura sudah membuat banyak pria berlomba mendapatkan hati Yura.
__ADS_1
____________