Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Patah harapan.


__ADS_3

Sekretaris Ang cepat melangkah keluar. Di sana Garra rupanya sudah menunggu.


Sekretaris Ang langsung menghampiri Tuan muda nya.


"Mari Tuan Muda."


Garra tidak menjawab, hanya tersenyum miring sambil mengangkat bahunya.


Kemudian Ang bergegas ke mobil. Membuka kan pintu mobil untuk Garra.


Garra duduk. Sekretaris Ang menyusul. Kemudian meleset kan mobilnya setelah berada di luar pagar.


Belum ada percakapan di antara mereka.


Sekretaris Ang masih berpikir keras. Berpikir keras untuk menyiapkan jawaban jika saja Tuan Muda nya mengungkit kejadian tadi.


Garra menoleh pada Sekretaris Ang, kebetulan bertepatan dengan Ang yang tak sengaja menoleh pada Garra juga.


Garra terkekeh, membungkam mulut nya.


Kemudian menghela nafas. "Sepertinya, kutukan sang peri kecil itu mulai berjalan."


Telinga sekretaris Ang memerah, ciri khas sekretaris Ang rupanya berbeda dari orang lain. Jika malu, orang lain akan memerah wajahnya. Tapi sekretaris Ang ada kelainan genetik mungkin. Saat malu, telinganya yang memerah. Sebab itu, banyak yang tidak bisa menebak , apa sekretaris Ang sedang malu atau tidak.


Garra satu satunya manusia yang tau tentang kelainan ini.


"Anda bicara apa Tuan. Saya tidak mengerti?" berpura pura bego.


"Hahaha..!" Garra tergelak nyaring.


Menendang kaki Sekretaris Ang.


"Tidak mengerti?? Hahaha..!" kembali terbahak, kali ini memukul bahu Sekretaris Ang.


"Aku tanya. Apa yang kau lakukan dengan adik ipar ku hah!!" masih terbahak.


"Saya. Saya tidak melakukan apa apa?" masih berpura pura bodoh.


Menoleh, lalu tergelak lagi. Kali ini sungguh kuat. Lalu berhenti, mengatur nafas.


"Kau kira aku rabun jauh begitu? Tidak melihat mu memeluk Yuri. Ingat Ang, bocah. Yuri masih bocah. Awas Ang, nanti ada kasus. Bocah melahirkan bocah."


Tak bisa lagi berpura pura bodoh. Sekretaris Ang menarik nafas.


"Anda salah paham Tuan. Justru saat itu saya sedang melakukan yang terbaik."


"Benar, benar. Kau memang memang harus melakukan yang terbaik. Jangan sampai kau menyesal Ang. Sudah ku peringatkan bukan?"

__ADS_1


Kali ini giliran sekretaris Ang yang terbahak.


"Benar Tuan. Saya memang harus melakukan yang terbaik. Untuk Tuan muda Garra. Saya tidak mau ada yang mengganggu usaha perjuangan Tuan Muda Garra pagi ini."


Garra berhenti tertawa lalu menoleh.


"Maksud mu?"


"Anda tidak tau jika Yuri hampir saja menerobos benteng pertahanan saya dan nekad mengetuk pintu anda. Jika itu terjadi di saat seru serunya. Apa jadinya dengan Anda? Masa iya harus menjeda nya?" ucap Sekretaris Ang. Sungguh tidak mau sampai kalah telak.


Garra mendadak berpikir, lalu menoleh.


"Hah! Maksud mu?"


"Yuri hendak mendatangi Nyonya muda. Hendak mengetuk pintu. Berhubung Saya adalah sekretaris yang baik dan penuh pengertian. Saya tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Saya harus mencegahnya apapun yang terjadi, bagaimana pun cara nya." jelas Ang, sekilas melirik wajah Garra yang memerah.


"Kau ini? Terimakasih kalau begitu." merasa tersindir.


"Hahaha.." Ang kini tertawa, kelepasan.


"Kau menertawakan aku??" Garra sontak membentak Ang.


"Tidak tuan muda. Mana berani. Saya hanya merasa lucu dengan si bocah tadi. Saat saya bilang jangan mengganggu Kakak mu yang sedang berusaha membuat cicit untuk Tuan besar, Yuri langsung paham dan berhenti berontak. Rupanya Yuri juga sudah tidak sabar untuk menggendong keponakan nya." Ang terkekeh. Melirik wajah Garra yang makin memerah.


"Tuan. Apa anda sakit?" tiba tiba bertanya.


"Wajah anda sangat pucat! Seharusnya hari ini Tuan tidak usah bekerja dulu. Apa anda tidak merasa ngilu semua badan nya? Mungkin anda memerlukan asupan kalsium dengan kadar yang tinggi untuk memulihkan kekuatan tulang anda setelah beraktivitas berat yang menguras sum sum anda.!"


"Sialan kau Ang. Diam!!" Garra kembali menendang kaki Ang. Tapi kali ini Ang mengelak dengan mengangkat kakinya.


Mereka tergelak bebas! Hingga beberapa saat lamanya. Lalu sama sama terdiam menatap lurus ke depan. Dua laki laki itu tenggelam dengan pikirannya masing masing.


Garra dengan bayangan Mia berperut gendut. Sementara Ang, terbayang kejadian semalam dan beberapa menit yang lalu. Kemudian terdengar nafas nya mengeluh berat saat teringat janji nya pada Yuri.


'Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku pada si bocah?' berpikir keras.


Sampai mobil berhenti di tempat tujuan, mereka sama sama menoleh kembali. Kemudian sama sama tersenyum lagi. Hampir tertawa kembali, namun terpaksa harus menahan nya karena harus menuruni mobil.


"Baik lah, kita fokus pada kerjaan dulu. Masalah hati, nanti setelah kita kembali. Aku akan berjuang kembali dengan istri ku. dan kau Ang, berjuang untuk melawan kutukan Yuri. Hahaha.. " sempat tertawa lagi, sebelum akhirnya kedua nya melangkah dengan gagah dan tegap.


Sementara kedua pria itu bergelut dengan pekerjaan mereka. Dua wanita di rumah besar Garra, tepatnya di kamar yang kini milik Mia juga itu, keduanya terlibat obrolan serius. Lalu terdengar suara Mia tertawa keras. Kemudian terdengar suara rengekan Yuri menyusul.


Apa yang sedang mereka bahas ya..? Kita intip yuk...!


**


"Kenapa kau malah tertawa Mia!! Kau terima ya, adik manis mu ini sudah di lecehkan dan Sudah kehilangan kesucian nya??" rengek Yuri , menarik narik ujung baju Mia.

__ADS_1


"Tidak tidak.. Hehe. Aku tidak mungkin terima. Kau tenang saja. Aku akan membuat perhitungan dengan sekretaris Ang. Aku akan mengadukan perbuatan nya pada bang Garra. Supaya dia di pecat. Ya, di pecat saja."


"Aaa.. jangan donk Mia. Jangan adukan kalau begitu!" semakin menarik kuat ujung baju Mia.


"Lho.. Kamu tidak rela kalau sekretaris Ang di pecat. Kenapa? Bukan nya kau benci karena dia telah melecehkan mu?"heran.


"Kau ini bagaimana sih? Aku kan sedang berusaha mendekati nya . Kalau dia di pecat, bagaimana caranya aku mendekati nya coba."


"Ah, kau benar. Aku lupa. Baiklah, kau tidak perlu khawatir. Sekretaris Ang itu pria sejati. Dia pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya." mengelus kepalanya.


"Jangan lakukan itu!" menepis tangan Mia.


"Aku sedang menyayangi mu Yuri? Kenapa kau jadi sensitif begini sih? Apa semua ini karena sekretaris Ang?" mengelus lagi.


"Menyayangi ku tidak harus menyentuh kepalaku Mia! Aku tidak mau , aku tidak mau..!!" menyingkir kan jauh jauh tangan Mia.


"Kau kenapa? Kepala mu sakit? Apa ada luka? Coba ku periksa Yuri?" mendadak khawatir.


"Aaa .. Mia. Kau ini tidak mengerti!! Aku ini bukan anak kecil lagi. Jangan menyentuh kepala Ku. Pokoknya jangan menyentuh kepala ku! Aku bukan bocah. Jangan menyentuh kepalaku seperti bocah! Aku sudah besar..!!"berteriak.


" Menyentuh kepalamu bukan karena kau masih bocah. Siapa yang mengatakan mu Bocah? Kau memang sudah besar. Buktinya kau sudah menyukai pria. Benarkan?" membujuk.


"Tapi Tuan Ang, selalu melakukan itu padaku?" mengadu lagi.


"Melakukan apa?" mendelik.


"Menyentuh kepalaku dan mengatakan jika aku masih bocah. Menjadikan alasan itu untuk menolak ku terus menerus."


Mia tergelak kembali.


"Itu tidak akan terulang lagi Yuri?" meyakinkan.


"Mana mungkin?" ragu.


"Karena dia sudah memperawani bibirmu. Pasti saat ini dia sedang merasa bersalah sekali dan sebentar lagi akan bertanggung jawab."


Yuri tersenyum. "Apa kira kira Tuan Ang akan melamar ku?"


"Ku rasa tidak. Mana mungkin? Dia kan tidak menyukai wanita yang menurut nya masih bocah. Tapi percaya lah, dia akan bertanggung jawab dengan meminta maaf yang tulus padamu dan tidak akan mengulangi nya lagi karena takut di pecat!" berlari menghindar amukan Yuri.


Yuri melongo.


"Mia.... kau ini benar benar membuat ku patah harapan..!" mengejar Mia.


_____________________


[ Maaf, lawakan nya garing ..]

__ADS_1


__ADS_2