Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Masih menganggap Bocah.


__ADS_3

Sekretaris Ang masih setia memutar mutar Hpnya, dengan bibir tersenyum dan kenyamanan hati yang damai.


Tak sadar jika Yuri sudah membuka pintu dan duduk di sebelahnya.


"Tuan Sekretaris, apa yang anda lakukan?" tanya Yuri melihat sekretaris Ang masih memegangi hp nya.


Sekretaris Ang tentu saja terperanjat dan segera menaruh Hpnya begitu saja di dasboard mobil nya. Lalu segera menatap lurus ke depan. Kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Apa anda tidak menyukai aksesoris itu tuan? Itu bagus lho. Lucu." tanya Yuri. Sekretaris Ang sama sekali tidak menjawab, malah menjalankan mobil nya.


"Tuan. Setidaknya ucapkan terima kasih gitu pada saya. Saya kan sudah membelikan sesuatu untuk tuan Sekretaris." Yuri tak jemu berbicara.


"Apa tidak kebalik?" akhirnya Ang bersuara juga.


"Iya, saya tau.. Saya tau jika membeli nya pakai uang Tuan. Tapi setidaknya kan saya sudah memilihkan untuk Tuan. Kalau tuan mana sempat untuk memikirkan barang selucu itu."


"Apa nya yang lucu, barang tidak berbobot begitu. Murahan."


Yuri melengos lagi. Sedih bercampur kecewa hati nya saat ini. Yuri mengira Sekretaris Ang akan menyukai benda pilihannya itu, setidak nya ucapan terimakasih lah.


Sekretaris Ang melirik sekilas wajah Yuri yang berubah menyedihkan itu, tidak menyangka jika ucapan nya akan membuat si bocah akan tersakiti hatinya. Sekretaris Ang merasa bersalah.


"Tidak usah melon begitu. Ya sudah , Terimakasih Yuri. Puas kau!!"


Yuri menoleh, kesedihan masih tergambar jelas. Lalu dengan pelan Yuri berbicara.


"Jika Tuan Sekretaris tidak menyukainya , di copot saja. Dari pada Mata Tuan akan sakit setiap saat melihatnya." ucap Yuri , lalu meraih Hp milik Sekretaris Ang tanpa permisi.


"Eh, apa yang akan kau lakukan??" seru sekretaris Ang ketika melihat Yuri hendak mencopot benda itu dari Hp nya.


"Mencopotnya. Bukankah Tuan Sekretaris tidak menyukainya.?"


"Letak kan! Taruh kembali!" bentak sekertaris Ang.


Yuri jadi heran, 'Katanya tidak suka?'


"Yuri.. kau tidak mendengar ku. Letak kan! Jangan menyentuh nya!" kembali Sekretaris Ang berseru.


"Buat apa? Anda tidak menyukainya kan? Dari pada nanti anda buang, lebih baik saya berikan pada yang lain. Pasti banyak yang masih mau. Teman saya mungkin.?"


Mengetahui jika Yuri benar benar serius akan mencopot benda itu, rupanya sekretaris Ang mulai panik. Pria itu segera menepikan mobilnya dan berhenti.


Lalu segera merebut Hp nya dari tangan Yuri. Tapi Yuri menghindarkan tangannya. Terjadi lah aksi rebutan diantara mereka.


Yuri menyembunyikan Tangannya di belakang punggung nya.


"Berikan padaku!"


"Tidak. Saya akan mencopotnya terlebih dahulu.!!"


"Dasar tidak tau malu. Sudah memberi tapi hendak di ambil kembali. Kau tidak ikhlas memberikan nya padaku?" ucap sekretaris Ang tangannya mulai merayap ke pinggang Yuri untuk menggapai tangan Yuri.


"Bukan tidak ikhlas, tapi kan sayang jika nanti hanya akan anda buang saja. Yang Couple seperti ini hanya ada satu saja. Saya menyukainya sekali. Diam lah sebentar tuan." ucap Yuri mengiba.


"Kau mau memberikan nya pada siapa lagi memang nya?"


"Siapa saja. Teman pria ku juga banyak. Mereka pasti akan sangat menyukai pemberian dari teman wanitanya."


"Tidak boleh. Barang yang sudah menjadi milik ku tidak bisa menjadi milik orang lain. Enak saja!" Sekretaris Ang.

__ADS_1


"Cepat kemari kan


Yuri. Jangan membuat ku marah!"


"Anda yang sudah membuat saya marah dengan tidak menghargai pemberian dari saya." Yuri mendorong tubuh Sekretaris Ang yang memepetnya.


Tapi sekretaris Ang tidak mau kalah, ia menahan tubuhnya dengan kuat di hadapan Yuri dan kini kedua tangan nya sudah membelenggu tubuh Yuri. Tangannya mulai merayap kembali untuk mendapat kan Hpnya.


"Berikan padaku Yuri." sekretaris Ang menatap tajam mata Yuri yang juga menatapnya. Sesaat adegan rebutan itu berubah menjadi adegan pandang pandangan.


"Berikan padaku atau...?"


"Atau apa? Anda ingin mencekik saya. Silahkan. Lakukan saja..!"


"Atau aku akan mencium mu!"


Hah, mata Yuri terbelalak. Nyalinya langsung menciut. Sekretaris Ang mulai menggerakkan wajahnya, mendekat. Dan mengarah kan bibir nya.


"Tidak..!!" Yuri langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Otomatis Hp milik Ang, berada di depan wajahnya. Ang , segera meraihnya. Dan langsung menarik tubuh nya untuk kembali ke posisi nya. Lalu mengantongi hp nya. Sambil menenangkan jantung nya yang kembali berdebar tak stabil.


Menoleh pada Yuri yang masih mengatur nafas karena takut. Takut di cium es batu. Wajahnya terlihat begitu memerah.


Sekretaris Ang tersenyum. " Tidak mau mengaku jika kau masih bocah?"


Yuri meringsut, dengan mulut cemberut.


"Bocah akan takut dengan sebuah ciuman pria dewasa! Kau paham!"


"Diam...!!!"


Sekretaris Ang tergelak. Kembali menghidupkan mobilnya dan kini melaju pelan. Masih terdengar tertawa.


"Lakukan saja kalau kau bisa." sekretaris Ang kemudian memindahkan Hpnya dari kantong bajunya ke kantong celana nya.


"Ku rasa kau tidak akan berani menyentuh nya."


"Dasar licik. Awas saja jika anda membuangnya. Saya tidak akan memaafkan anda. Seumur hidup."


"Kau sedang mengancam ku?" sekretaris Ang menoleh kembali.


"TIDAK. Tapi menegaskan."


"Aku tidak akan membuangnya. Tidak perlu khawatir lagi."


"Benar?"


Sekretaris Ang mengangguk. " Aku akan menjaganya dengan baik. Diam lah sekarang."


Yuri terdiam.


"Boleh aku berpesan?" tanya sekretaris Ang tanpa menoleh.


"Apa?"


"Jangan gampang memberi hadiah pada orang lain. Apalagi kepada teman pria mu." ucap sekretaris Ang.


"Kenapa?"


"Apa kau sering melakukan nya?" sekretaris Ang malah bertanya kembali.

__ADS_1


"Tidak pernah!"


Seketika hati sekretaris Ang lega.


"Baguslah kalau begitu!" ucap Sekretaris Ang ,kini melajukan mobilnya dengan cepat.


Tak ada percakapan lagi di antara mereka. Saling diam. Hening. Ada di pemikiran masing masing.


Yuri memikirkan tentang pria es batu di samping nya itu. Tingkah nya aneh, berubah ubah. Tadinya menghina ,tiba tiba akan menjaga.


Lalu tiba tiba mengancamnya dengan ciuman nya.


'Sungguh menyebalkan! Sebenarnya dia itu menyukaiku pasti. Hanya saja gengsi. Sok dewasa, sok tua.' hati Yuri memaki.


Sekretaris Ang sendiri tengah bergelut dengan hatinya. Kembali mengingat kejadian beberapa detik yang lalu. Di mana tubuhnya menempel ke tubuh si bocah. Di mana wajahnya hampir tak berjarak.


Jantung Ang kembali berdegup. Kemudian berusaha menenangkan nya dengan menarik oksigen sebanyak banyaknya.


Tak lama , mereka sudah tiba di halaman besar milik rumah Mahendra.


Sekretaris Ang segera meloncat turun. Lalu memutar tubuhnya untuk membuka kan pintu buat Yuri. Tapi lagi lagi, jantung sekretaris Ang terpompa kuat kembali. Ketika tubuh Yuri hampir menabrak nya kerena sudah membuka pintu mobil sendiri dan melangkah turun.


Sekretaris Ang melangkah mundur. Tak ada yang terucap untuk kali ini.


Lalu Yuri melangkah tanpa mempedulikan nya. Yuri bergegas masuk melangkah menuju kamarnya. Setelah berada di depan kamar, Yuri menoleh cepat karena menyadari seseorang mengikuti nya.


"Tuan sekretaris! Kenapa anda mengikuti saya?" terkejut melihat sekretaris Ang sudah ada di belakang nya.


Sekretaris Ang tergugup.


"Aku.. tidak apa apa. Hanya... memastikan mu aman sampai ke kamarmu."


"Segitu nya.??"


"Jangan GR. Aku hanya menjalankan perintah Tuan muda Garra!"


"Hah!"


"Memperlakukan mu dengan baik. Sudah masuk sana. Mandi! Banyak bertanya!"


Yuri melengos, membuka pintu.


"Yuri..!" panggil sekretaris Ang, belum juga Yuri sempat melangkah.


Yuri menoleh kembali.


"Terimakasih atas hadiahnya."


"Ah, tuan . Saya jadi malu. Setelah di pikir pikir, Benar kata Tuan tadi. Seharusnya saya yang berterima kasih atas traktiran nya untuk hari ini." balas Yuri.


Sekretaris Ang kini tersenyum hangat.


"Jangan lupa makan malam. Yang tadi itu kan masih bisa di anggap untuk pengganti makan siang." ucap sekretaris Ang.


"Makan yang banyak, biar cepat besar." Lalu melangkah meninggalkan Yuri yang melongo.


"Apa maksudnya?? Menyuruhku makan banyak biar cepat besar??? Masih saja menganggap ku Bocah!!!"


_____________________

__ADS_1


__ADS_2