
Hari telah berlalu berganti malam. Gelap malam pun telah di geser lagi oleh sinar mentari yang ceria.
Bahkan malam kembali menyapa. Begitu lah keadaan di rumah besar keluarga Mahendra.
Hari hari terasa cepat berganti bagi para penghuni nya. Mungkin karena isi nya hanya lah kebahagiaan dan kedamaian.
Keceriaan dan kesenangan, menyebabkan hari hari terasa begitu cepat.
Dan hari ini semua berjalan normal, namun sedikit apa perubahan.
Mia sudah diperbolehkan untuk keluar kamar sesuka hati. Mau ke dapur kek, ke kolam renang , ke halaman belakang ataupun ke parkiran. Boleh, sangat boleh malah. Asal jangan sendirian. Asal ada Yuri yang menemani , atau mbak Endang juga boleh. Sekedar untuk mengawasi. Jaga jaga saja, takut kepolosan Mia kumat di tengah tengah para pelayan yang mengelu elukan Nyonya muda nya.
Mia juga sudah boleh keluar rumah untuk jalan jalan. Bukan lagi pasar impres yang selalu ia datangi dulu untuk berbelanja sayuran lho. Mall donk. Super market minimal lah. Kan sudah jadi Nyonya muda Mahendra. Mana bisa Garra membiarkan istrinya menginjak kan kaki nya ke pasar kumuh. Mana boleh istrinya berbelanja sayuran lagi. Itu tidak akan pernah terjadi selama Garra Mahendra masih sanggup bernafas.
Tapi lagi lagi harus dengan ada Yuri di samping nya, dengan pak Abu sopir pribadi Mia.
Masih takut Mia polos, masih takut Mia tidak tau itu apa, ini apa. Yuri akan selalu di samping nya hanya dengan jarak paling jauh satu langkah saja dari Mia.
Tapi ternyata tidak. Keadaan sudah mulai berubah. Mia sudah mulai pintar, sudah banyak perubahan. Andai Mia tidak tau atau tidak mengerti, Mia memilih untuk diam. Menunggu kesempatan untuk bertanya pada Yuri. Lalu Yuri akan menjelaskan dengan sedetail detail nya. Jika memang Mia belum juga mengerti, Yuri menyarankan untuk PR saja.
Itu lah hari hari Mia. Lalu malam hari, Mia akan setia menunggu kepulangan suami tercinta nya. Dengan senyuman manis yang selalu mampu membuat Garra mabuk kepayang. Terguling guling nya hati Garra.
Lelah seharian bekerja terbayar sudah jika sesampai nya di kamar. Dengan rengekan rengekan manja Mia. Lalu tarikan lembut tangan Mia yang memapahnya ke ranjang. Kemudian pijitan pijatan, Garra akan dapat kan dari ketulusan Mia. Oh, merasa orang nomor satu yang paling bahagia.
Namun Garra tak pernah menduga, jika Kebahagiaan nya ini akan menyeretnya pada sebuah penderitaan yang tak berujung. Derita namun bahagia. Sengsara namun senang.
Saat di suatu malam Mia , seperti biasa sudah menunggu Garra pulang. Menyuruh Garra mandi segera. Menyiapkan baju Garra. Menanyakan apakah Garra sudah makan? Banyak tidak makannya tadi? Bang Garra sedang fit kan? Garra menjawab iya dengan semangat.
"Baik lah, berhubung bang Garra fit dan tadi sudah makan banyak. Malam ini kita akan memulai perjuangan panjang kita lagi. Kali ini mungkin akan sedikit lebih berat."
Eh, eh. Tunggu tunggu apa ini? Ada apa. Tak biasa biasa nya Mia berkata seperti ini.
Namun belum saja sempat mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya, Garra sudah panas. Panas dingin badan nya karena perlakuan Mia. Entah kenapa saat ini segala perlakuan Mia, segala tingkah Mia begitu menggodanya. Bergerak sedikit saja Mia bagi Garra sudah terlihat indah. Garra sudah benar benar bucin di buat Mia.
Hingga di tengah malam ini, setelah pertempuran panas mereka berakhir. Badan kedua nya sudah di penuhi keringat. Keringat Mia atau Garra tak bisa lagi di bedakan yang mana. Menjadi satu. Lalu kedua nya ambruk tak berdaya dalam dekapan penuh cinta.
Dan ini, entah jam berapa. Tidak tau. Tidak sempat melihat jam. Mia kembali terbangun. Menindih tubuh Garra, menciumi wajah Garra, menciumi leher nya , kemudian dada nya. Meninggal kan bekas merah di mana mana.
Garra terperangah, "Mia kau mau apa?"
"Mengulangi nya." masih menciumi.
"Kau akan lelah." menolak halus.
"Tidak akan."
"Tapi bang Garra lelah."
"Sekali lagi ya." masih merambat.
__ADS_1
"Mia. Bang Garra besok harus bekerja. Ayo tidur." merayu.
"Libur dulu saja." tak berhenti menciumi.
"Tapi kalau libur terus nanti bisa bangkrut bagaimana?" sudah mulai bergairah kembali karena sentuhan sentuhan Mia.
"Tidak akan. Uang bang Garra banyak kan? Kalau cuma tidak kerja sesekali mana mungkin akan bangkrut?" sudah sedikit pintar rupanya, sambil masih saja menggoda Garra.
"Tapi, tapi.. Nanti..!"
Mia mendongak, mendekatkan wajahnya ke wajah Garra.
"Sekali lagi ya?" bisik Mia.
'Aaa... kenapa wajah mu benar benar meruntuhkan ku Mia...!'
"Baiklah, lakukan sesuka Mia saja." akhirnya tak kuasa. Nafas Garra sudah naik turun tak beraturan lagi. Lalu meraup tubuh Mia.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa malam ini begitu bersemangat?" tanya Garra di sela sela kesibukannya beraksi.
"Mulai malam ini harus sesering mungkin berusaha!" jawab Mia dengan berbisik juga.
"Kau mulai suka? Kau mulai ketagihan rupanya."
"Tidak juga." sambil menahan nafas.
"Lalu?" masih dengan aksinya.
Glubrak...!!!
Lemas sudah Garra. Bukan karena hanya aktifitas nya yang menguras tenaga. Tapi ulah kakek dan nenek nya yang lagi lagi memanfaatkan kepolosan istrinya.
'Ku pikir karena kau menyukai nya Mia. Ternyata ini ulah dua provokator itu lagi." umpat Garra. Akhirnya menyelesaikan pekerjaan beratnya.
Mia tersenyum bahagia, lagi lagi senyuman yang mampu memporak porandakan kewarasan Garra.
Tertidur lelap tanpa dosa. Sementara Garra merasa lelah. Ikut tertidur di sampingnya.
Bangun saat pagi, merasakan lemah letih lesu, badan sakit semua seperti dari di massa orang sekampung.
Tapi tak apalah. Sekali lagi usaha memang harus dengan perjuangan yang keras. Agar mendapatkan hasil yang baik. Melelahkan memang. Tapi menyenangkan. Sengsara memang, tapi kan bahagia.
Begitu juga hari hari Yuri. Penuh perjuangan saat ia harus mengakui jika benar ia sudah terlanjur jatuh hati pada Panglima es batu itu. Panglima dari pangeran Garra, alias sekretaris dingin Tuan muda Garra.
Ang, masih angkuh. Sekretaris Ang masih saja munak. Tak mau mengakui perasaan nya yang jelas jelas berdebar saat dekat dekat Yuri. Jangan kan dekat dekat, memikirkan nya saja sudah bisa membuat jantung nya tak stabil.
Tapi ucapan yang keluar dari mulut nya tetap lah sama. Bocah. Kau masih bocah. Mana bisa. Itu itu saja.
Pernah di suatu malam, saat Yuri dan Ang kembali dari toko buku. Di mana Saat itu Yuri minta di temani sekretaris Ang untuk mencari buku panduan buat Mia. Sempat mampir nonton. Sempat makan dulu. Itu pun karena Yuri merengek tak habis habis. Dengan seluruh kekuatan untuk merayu Sekretaris Ang yang akhirnya luluh karena Yuri memasang wajah menyedihkan nya.
__ADS_1
Saat kembali ke rumah, tekad yang sudah di kumpulan Yuri jauh jauh kemarin. Di bulat kan malam ini untuk menyatakan perasaan nya pada Tuan Sekretaris.
"Tuan Ang." panggil Yuri ketika Sekretaris Ang sudah membuka pintu mobil menarik turun tubuh Yuri dari mobil.
Panggilan yang tak biasanya dari Yuri, terdengar merdu mampir ke telinga Sekretaris Ang. Baru kali ini Yuri memanggil nama Ang.
Sekretaris Ang menoleh. Melirik tangan bocah yang sudah meraih dan menggenggam erat jemarinya.
"Bisakah anda menjadikan saya kekasih mu? Saya menyukai mu." ngos ngos.. jedag jedug.
Sekretaris Ang memutar tubuhnya. Lalu bergeser maju. Yuri mundur. Ang, maju kembali. Yuri mundur lagi. Gugup! Dada nya naik turun. 'Ya Tuhan.. Matanya indah.' mengagumi lalu menunduk. Malu. Masih jedag jedug sambil kembali mundur sampai badan terbentur badan mobil.
"Apa kau serius dengan ucapan mu?" suara itu .. suara itu. Aaa... Yuri ingin berteriak. Suara Ang begitu lembut. Lalu Yuri mendongak. Wajah tampan milik es batu, sudah tak berjarak dari wajah nya.
"Kau serius ingin menjadi kekasih ku?" kembali bertanya. Kali ini kedua tangan Ang mengurung tubuh Yuri dengan dengan mencengkeram badan mobil.
Wajah itu semakin mendekat. 'Ya ampun.. tolong . Tolong. Bagaimana ini. Dia mau mencium ku. Aku butuh jawaban nya dulu. bukan ciuman.' nafas Yuri sesak ketika beradu mata dengan sekretaris Ang. Tangan Ang bergerak, meraih tengkuk Yuri.
"Jawab!"
"Eh,eh. Iya. Serius Tuan. Tidak peduli anda sudah tua. Saya bocah!"
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan. Tapi.." menjeda kalimat.
Blus!!! Wajah Yuri memerah. Panas. Apalagi tangan Sekretaris Ang kembali bergerak. Yuri gugup. Menutup kedua matanya. Pasrah!
Pluk...pluk..!!!
Tepukan tangan halus Ang, mendarat di ubun ubun Yuri. Membuat Yuri membuka matanya.
"Besar dulu. Baru aku akan memberimu kesempatan itu."
'Aaaaa...!!' Hancur sudah hati Yuri.
Masih dalam keadaan terdiam seribu bahasa.
"Kau berharap aku mencium mu? Baiklah!"
Cup! Mendarat di pucuk kepala juga. Sambil terus menepuk nepuk kepala Yuri.
"Hentikan. Jangan terus menepuk kepala ku!! Aku bukan Bocah! Aaa...." Yuri kesal. Berlari masuk meninggalkan Ang tanpa menoleh lagi.
"Dasar tidak berhati...!! Awas kau. Mulai besok aku tidak mau menegur mu lagi." sambil berlari sambil mengumpat.
Sekretaris Ang tersenyum, ikut melangkah masuk ke kamar nya. Sambil memijit mijit dadanya.
Yuri Kuncoro.
__ADS_1
__________________