
Pagi ini benar ,
Mereka telah bersiap untuk pergi ke Perumahan Indah Permai di mana di sana lah keluarga Mia sekarang tinggal.
Garra sudah ada di ruang depan bersama sekretaris Ang. Nampak kedua pria itu berulang kali menoleh ke arah tangga.
"Kenapa lama sekali sih?" keluh Garra.
"Sabar Tuan muda, begitulah wanita." sahut Sekretaris Ang yang paham jika Garra tidak sabar menunggu kedua kakak beradik yang lama sekali turun nya.
"Kau benar Ang. Hahaha.. Mia ku sekarang ini sedang lagi senang senang nya berdandan. Jangankan mau keluar seperti ini, mau tidur saja aku sampai bosan menunggunya." ucap Garra.
Ang pun tergelak,
"Apalagi Yuri. Kelinci kecil itu pasti sedang dempulan, poles sana sini. Haduh.. dasar wanita. Apapun bentuk nya, berdandan sudah menjadi keharusan yang tidak bisa terlupakan."
Kedua pria itu terbahak menistakan pasangan mereka masing masing.
"Tapi Mia ku terlihat cantik bukan, apalagi jika berdandan." ucap Garra di tengah tawanya.
"Kelinci kecilku juga semakin manis Tuan muda. Jangan lupa itu." sahut Ang tak ingin kalah untuk memuji pujaan hatinya.
"Hahaha.. tentu saja Ang, mereka kan sebelas dua belas. Jika punya ku cantik dan punya mu manis."
Kedua nya tertawa lagi dengan terus memuji pasangan masing masing hingga terdengar suara langkah dari arah tangga.
Garra menoleh. "Rupanya mereka sudah datang Ang."
"Maaf bang Garra, lama ya?" ucap Mia menghampiri suaminya.
"Tidak sayang. Tidak apa apa." sahut Garra.
Mereka berempat pun akhirnya melangkah. Garra menggenggam tangan Mia dan Ang tak lupa juga menggenggam tangan Yuri. Dengan satu sisi tangan kedua pria itu menenteng sebuah koper.
Dengan menggunakan mobil yang di kendarai oleh Ang sendiri, mereka meluncur ke rumah Keluarga Mia.
Tak lama di perjalanan mereka pun tiba di kediaman Gani Kuncoro.
Tiara dan Jihan segera menyambut kedatangan mereka yang tiba tiba dan tidak memberi kabar dahulu.
Tiara terlihat sangat senang dengan kedatangan mereka, terlebih kedatangan Yuri anak bungsu nya yang sudah ia rindukan dan juga Mia yang tidak pernah Tiara lupakan jika anak yang di benci nya dulu telah menjadi malaikat tak bersayap bagi keluarga nya. Dan tidak lupa juga jika sekarang ini Mia adalah Nyonya Muda Mahendra, suatu kehormatan baginya di kunjungi oleh Mia apalagi sekalian dengan Tuan Muda Garra dan sekretaris utama yang terkenal hebat itu.
Tiara terlihat begitu bangga.
Jihan? Hanya dia lah yang hatinya masih saja sinis. Jihan juga tersenyum menyambut mereka. Walau senyuman yang belum sampai di hatinya. Melihat Mia membuat nya begitu iri. Lalu melirik Pria di sebelah Yuri. Otak nya mulia konslet dengan pikiran picik.
'Sekretaris Utama Mahendra Group. Tampan dan tajir. Jika aku bisa menikah dengan nya nasib ku tidak akan jauh jauh berbeda dengan Mia.' pikiran Jihan mulai membumbung tinggi.
Sementara Mia dan Yuri tersenyum menatap Tiara. Memeluk secara bergantian. Lalu mereka masuk dan duduk di ruang keluarga.
Mia duduk di sebelah Garra, dan Yuri duduk di sebelah sekretaris Ang. Tiara dan Jihan duduk di depan mereka berbataskan meja kaca.
"Mia, Yuri. Bagaimana kabar kalian?" tanya Tiara.
Yuri menoleh pada Mia. Mia mengerti maksudnya. Mungkin Yuri ingin agar Mia yang menjawab dan berbicara pada ibu nya.
"Kabar kami baik Ibu. Lalu bagaimana kabar kalian?" jawab Mia sambil kembali bertanya.
Tiara tersenyum bangga. "Kami baik Mia, bahkan lebih baik. Semua ini berkat kalian. Terimakasih Mia, Tuan muda Garra. Terimakasih atas semua yang sudah anda berikan pada kami ini." sahut Tiara.
"Tidak perlu berterimakasih ibu mertua. Kita keluarga bukan? Sekali lagi adalah keluarga yang sudah seharusnya saling membantu dan menjaga." ucap Garra.
Mendengar itu Tiara hanya bisa menunduk. Malu dan bahagia serta bangga pada Mia dan juga menantu hebatnya itu.
__ADS_1
"Ibu, Ayah kemana?" tanya Mia melihat Ayahnya tidak nampak menyambut kedatangan mereka.
"Ayah,. Ayahmu sudah pergi ke kantor pagi pagi tadi Mia. Apa kau tau, sejak perusahaan Ayahmu kembali ke tangan nya, Ayah mu tidak pernah mau telah sedetik pun untuk berangkat ke kantor. Katanya, dia tidak mau jika perusahaannya sampai bangkrut lagi. Ayah mu sangat bersemangat untuk bekerja."
"Oh, iya ibu. Tapi bisakah ibu menelponnya dan menyuruh nya pulang dulu? Kami ada keperluan penting dengan Ayah."
"Tentu saja Mia. Tentu saja. Tunggu sebentar, ibu akan menelpon nya." Tiara beranjak untuk menghubungi suaminya, walau di dalam hatinya terselip kekhawatiran. 'Sebenarnya ada apa ini? Jangan jangan perusahaan Ayah bermasalah dengan perusahaan Mahendra Group.'
Tak lama kemudian, Tiara sudah duduk kembali setelah menelpon suaminya untuk mengatakan kedatangan mereka dan mengatakan jika mereka meminta dirinya agar cepat pulang karena ada sesuatu yang penting.
"Ayah mu sudah jalan pulang. Tunggu sebentar ya?" ucap Tiara.
Mia mengangguk, sambil menunggu , Tiara membuatkan minuman untuk mereka.
"Ibu, bagaimana keadaan rumah ini? Apa nyaman?" tanya Mia sambil menatap sekeliling.
"Sangat nyaman Mia. Kau mau melihat lihat?"
Mia menoleh pada Garra. "Boleh Mia melihat lihat rumah ini bang Garra?"
"Tentu saja. Ayo, aku bisa menemanimu." jawab Garra.
"Aku juga ikut, aku juga ingin tau." Yuri pun ikut bangun.
"Kakak, sebentar ya. Kami melihat lihat dulu." ucap Yuri pada sekretaris Ang yang membalasnya dengan senyuman manis dan anggukan ringan membuat Jihan yang melihat itu langsung bertanya dalam hati.
'Kakak? Sekretaris Ang juga tersenyum begitu manis pada Yuri. Apa mereka..? Ah, tidak , tidak. Mana mungkin Sekretaris Ang suka pada Yuri yang masih ingusan. Jika harus suka pantasnya dengan ku saja. Secara kan aku lebih seksi dan cantik serta lebih pantas jika bersanding dengan Sekretaris Ang.'
Sepeninggal Garra Mia dan juga Yuri yang sedang ingin melihat lihat keadaan rumah baru milik keluarga Kuncoro dan Tiara yang mengantar mereka, kini hanya tinggal Sekretaris Ang dan Jihan saja di ruangan itu.
Rupanya Jihan ingin menjadikan kesempatan itu untuk mendekati Sekretaris Ang. Jihan kini berpindah duduk di sebelah sekretaris Ang.
Ang sama sekali tak melirik. Ia tetap tenang menatap layar hp milik nya sambil menyeruput kopi buatan Tiara.
Sekretaris Ang menoleh. "Kau bertanya padaku?"
"Ah, iya tuan, tentu saja. Tidak ada orang lain di sini."
"Bukankah kita sudah saling kenal? Kau Nona Jihan bukan? Kakak Yuri. Dan aku, kau pasti sudah mengenalku." jawab Ang, kembali menatap layar hp nya.
"Ah iya. Aku tau itu. Tapi maksudku. Bagaimana jika aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi? Apa boleh?"
Ang tersenyum, kali ini menoleh kembali.
"Kau tenang saja Nona, sebentar lagi kita akan menjadi dekat. Bahkan menjadi keluarga." sahut Ang.
'Hah! Apa maksudnya? Menjadi dekat, menjadi Keluarga?' Jihan penuh tanda tanya.
"Tuan,maksud anda?"
"Kau akan segera tau Nona."
Belum sempat Jihan bertanya lagi, Gani Kuncoro sudah berdiri didepan pintu.
Langsung menghampiri, mereka. Melihat kedatangan Gani Kuncoro, Sekretaris Ang yang biasanya selalu tenang jika bertemu dengan Gani dalam urusan apapun tapi kali ini lain, pria itu langsung berdiri dan mengangguk hormat dengan jantung yang berdegup keras. Antara gugup dan sungkan. Bukan hanya itu, tapi sekretaris Ang menyambut tangan Gani Kuncoro dan mencium nya. Membuat, baik Jihan maupun Gani sendiri tercengang dengan tingkah sekretaris Ang yang tak biasa itu.
"Tuan Sekretaris. Apa yang anda lakukan?" tanya Gani yang juga cepat cepat menunduk memberi hormat pada Pria itu.
"Maafkan saya Tuan Gani, saya hanya ingin memberi hormat kepada mertua Tuan muda Garra." kilah Ang, menutupi rasa malunya yang tidak bisa mengontrol diri ketika bertemu Calon mertua.
"Oh, Anda tidak perlu melakukan ini Tuan. Saya ini kan hanya mertua yang tidak berguna." sahut Gani, mempersilahkan Ang untuk duduk kembali. Ang pun duduk kembali, masih dengan jantung yang berdegup tanpa menatap Gani sedikit pun lagi.
'Begini rasanya bertemu dengan calon mertua rupanya. Tegang sekali.' menghela nafas.
__ADS_1
"Istri saya tadi bilang, anda kemari bersama Tuan muda Garra dan Putri Putri saya. Di mana mereka?" tanya Gani.
"Mereka sedang ke dalam , ingin melihat lihat keadaan rumah ini Tuan." jawab Ang, masih saja gugup.
"Oh, begitu. Jihan, bisakah memanggil kan mereka. Katakan jika Ayah sudah pulang." ucap Gani pada Jihan yang mengangguk kemudian bergegas pergi untuk memanggil mereka.
Tak lama kemudian mereka pun datang.
Mia dan Yuri segera memeluk Ayah nya secara bergantian. Garra pun menyambut tangan Gani dengan sopan.
Kini semuanya mengambil posisi duduk masing masing , mulai menciptakan keheningan.
"Tuan muda Garra, terimakasih sudah mau berkunjung kemari. Dan Terima kasih atas bantuan nya dalam mengembalikan perusahaan saya. Kami tidak tau harus seperti apa mengucapakan terimakasih atas kebaikan hati Tuan Muda Garra." ucap Gani membuka obrolan.
"Tidak perlu berterimakasih Ayah mertua. Itu sudah menjadi tugas ku sebagai suami dari Putri anda." jawab Garra dengan sangat sopan.
"Ah, iya. Saya sungguh tidak menyangka dengan semua ini." ucap Gani.
"Ini ngomong ngomong apakah kemari hanya sekedar kunjungan biasa atau benar ada kepentingan lain seperti yang di katakan istri saya tadi?" tanya Gani Kuncoro.
Nampak Garra menoleh pada Sekretaris Ang yang juga menoleh padanya. Rupanya kedua nya sama sama tegang.
Lalu Garra terlihat menarik nafas panjang dahulu sebelum memulai pembicaraan inti.
"Ayah mertua, ibu mertua. Kedatangan kami kemari, khususnya saya dan sekretaris Ang sebenarnya karena ada tujuan serius." ucap Garra menggunakan bahasa formal.
"Begini Ayah. Saya kemari mewakili keluarga besar saya dan juga keluarga Sekretaris Ang yang memang sudah tidak ada. Kakek dan nenek saya sudah sangat Tua jika untuk mewakili kami. Jadi terpaksa kami datang kemari sendiri." Garra menjeda kalimatnya membuat suasana mendadak tegang.
'Apa ini, kenapa serius sekali nampak nya. Mewakili , apa maksudnya.' pikiran Gani dan Tiara saat ini. Jantung mereka pun tak kalah berdegup nya dengan kedua pria gagah di hadapan mereka itu.
"Ayah,. Saya bermaksud untuk melamar Putri bungsu anda untuk sekretaris Ang. Saya berharap Ayah dan Ibu menerima lamaran kami ini. Kedua nya sudah saling mencintai dan merasa cocok."
Ucapan Garra sungguh membuat ketiga orang di hadapan nya itu hampir pingsan mendengarnya.
Jihan terkejut sekali karena tidak menyangka jika sekretaris Ang akan melamar Yuri. Harapan ingin mendekati pria hebat itu langsung ambyar.
Sementara Gani dan Tiara, entah apa yang mereka rasakan saat ini sungguh susah untuk di gambarkan. Antara ragu dan bangga. Ragu ketika mengingat usia Yuri yang masih terlalu muda, bukan tidak percaya pada sekretaris Ang, tapi lebih ragu kepada putri mereka. Apakah Yuri sudah bisa menjadi seorang istri yang baik, apalagi ini adalah untuk pendamping seorang sekretaris utama Mahendra group.
Rasa bangga yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata lagi. Saat dunia mulai mengetahui sedikit demi sedikit tentang Gani Kuncoro yang ternyata adalah Mertua dari Tuan Muda Garra Mahendra, dan kini putri bungsu nya kembali di lamar oleh orang kepercayaan keluarga Mahendra.
'Apa ini? Apa ini? Keberuntungan atau bagaimana?' kedua orang tua itu berpikir.
"Tuan Gani Kuncoro!" kini sekretaris Ang angkat bicara dengan mengumpulkan seluruh keberanian nya.
Gani dan Tiara sama sama menatap Sekretaris Ang.
"Tolong terima saya Tuan. Saya mencintai putri anda. Saya tau, Yuri masih sangat muda. Tapi percaya lah Tuan, saya akan menjaganya dengan segenap jiwa raga saya. Saya akan menyenangkan hidup Yuri. Saya akan membahagiakan lahir batin Yuri. Saya berjanji. Saya tidak akan membuatnya bersedih sedikitpun. Jika saya mengingkari janji saya, Tuan boleh menghukum saya. Apapun hukuman itu, saya akan menerimanya." ucap Sekretaris Ang.
"Kakak!" Yuri meraih tangan sekretaris Ang dan menggenggam nya dengan kuat. Hati Yuri saat ini benar benar tersanjung dengan ungkapan Sekretaris Ang di depan kedua orangtuanya itu.
Baik Gani maupun Tiara , belum mampu untuk berucap sepatah katapun. Kedua nya saling tatap dan setitik air mata menetes di kedua pasang pelupuk mata mereka.
Jika dulu mereka sudah membanting harga diri dan menjual kehormatan mereka dengan memaksa Mia untuk masuk ke dalam keluarga Mahendra atau kasarnya menjual Mia demi uang. Tapi kali ini, sungguh berbalik.
Dengan rasa hormat dan harga diri yang terjunjung tinggi, keluarga Mahendra datang untuk melamar Putri bungsu mereka dengan cara yang begitu sopan.
Sanggupkah mereka menolak lamaran ini? Apapun alasan nya, itu tidak mungkin? Mengingat siapa sekretaris Ang, sungguh suatu keberuntungan bertubi tubi bagi Gani Kuncoro dan istri.
Apa ini kehormatan? Atau mereka semakin malu jika mengingat perlakuan mereka pada Mia di masa dulu? Harusnya mereka mendapatkan hukuman dari keburukan perlakuan mereka. Tapi ini? Lagi lagi keberuntungan menghampiri mereka.
"Ya Tuhan! Seharusnya kami bangga! Tapi tidak. Kami malu Tuan , kami malu! Pantaskah kami menerima kehormatan yang bertubi tubi ini?" ucap Tiara sudah berurai air mata.
__________________________
__ADS_1
bersambung.....!!!!