Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Serasa kejatuhan Bulan!


__ADS_3

Jika di sana sekretaris Ang harus mengakui ke kuwalahannya dalam mengimbangi istri kecilnya yang kecil kecil cabe rawit itu, sambil terus bertanya di dalam hati.


' Makan apa sih anak ini? Kuat sekali..!'


Belum lagi rasa takut yang terus saja kalah dengan rasa rakusnya ketika sudah menyentuh atau disentuh oleh Yuri. Pertahannya harus selalu ambruk, otaknya mendadak berhenti berpikir. Tubuh nya meradang panas dingin, dan selalu terjadi lagi dan lagi dengan kelupaannya yang nantinya berujung penyesalan.


Lain hal yang terjadi disini, di Rumah Keluarga Mahendra.


Matanya terus mengikuti pergerakan tangan Bu Asri yang menuangkan makanan dari sebuah mangkok besar ke dalam satu persatu mangkok yang ada di atas nampan. Sambil menelan ludah, rasanya sudah ingin cepat cepat mengunyah semua yang dilihatnya.


"Sudah Nyonya!" mengulurkan nampan berisi mangkok mangkok tersebut.


"Iya Bu, terimakasih. Ibu boleh pergi."


Bu Asri beranjak.


"Mia, cepatlah. Aku tidak sabar!" seru Garra dengan terus tak henti memperhatikan si nampan.


"Eh iya." mendekat, menaruh nampan di atas meja tepat di depan Garra.


"Yang itu, yang itu, eh yang ini, ah.. Aku mau semua." menunjuk satu persatu.


"Iya. Semua saja kalau begitu." mengulurkan sendok Garpu.


Garra langsung menusuknya dan memasukan makanan itu ke mulutnya, mengunyah lalu menelannya.


"Kok begini rasanya?"


Coba yang lain, lalu yang lain lagi.


"Sama saja!" rautnya berubah kecewa ketika semua makanan yang dicicipnya tak sesuai dengan rasa yang sudah ia bayangkan.


"Ayo coba lagi?"


"Tidak mau. Itu tidak enak!" menutup mulutnya.


"Ya Tuhan.. Terus bagaimana? Ini banyak sekali lho. Siapa yang mau menghabiskan nya?" keluh Mia.


"Tapi tidak enak Mia!" bantah Garra, tidak mau lagi meneruskan makannya, menyisihkan jauh jauh nampan itu dari hadapannya.


"Huh!"


Lelah sudah Mia. Entah kenapa, beberapa hari ini Garra selalu meminta makanan makanan yang sebenarnya belum pernah Garra makan sebelumnya. Lebih parahnya lagi, apapun makanan permintaan Garra harus Mia sendiri yang membuat. Jika tidak Garra akan memuntahkan nya kembali.


Seperti sore ini, ada siomai ,cilok, bakso tusuk, tahu gejrot. Makanan pinggir jalan yang belum pernah dimakan oleh Garra , tiba tiba ingin dimakan nya hanya karena sebuah syuting kuliner yang ia tonton dari televisi.


Tapi lagi lagi hanya berujung tidak jadi.


"Ini termasuk bawaan bayi Mia! Jangan salahkan aku. Salahkan bayi kita saja. Dia yang mau." itu itu terus alasan Garra.


"A, baik lah. Aku yang akan menghabiskannya." kesal. Lalu memangku nampan dan melahapnya satu satu makanan itu sambil melirik suaminya yang memperhatikan cara makan Mia yang sengaja di buat begitu menggoda.


"Hem.. enak sekali siomai ini??"


Garra memperhatikan nya.


"Wah.. Ciloknya juga nikmat sekali..!" lagi lagi Mia berusaha menggoda.


Garra memperhatikan Mia yang begitu lahap. Perlahan mendekati. Tak sadar Garra kembali menelan ludah.


"Ah, aku mau juga.!" merebut suapan Mia.


Sekali lagi, Mia mengambil yang lain.


"Aku juga mau yang itu!" kembali di rebut nya suapan Mia kali ini.


Mia mencoba lagi. Eh, benar saja. Apapun yang dimakan Mia diminta Garra lagi.


'Oh ternyata harus begini?' Mia mulai paham, jika Garra akan berselera makan jika melihat Mia memakan duluan dengan nikmat di hadapannya. Garra kemudian akan merebut makanan yang disantap Mia.


Mia tersenyum. Menemukan cara agar suaminya mau makan. Terbukti semua makanan di atas nampan habis tinggal mangkok nya saja.


"Tidak mual?"


Garra menggeleng.


"Bagus bang Garra. Besok mau apa lagi? Mia akan masakin."


Garra tersenyum malu, tadi sempat terkejut saat menyadari jika dia makan sangat banyak. Baru hari ini Garra makan sebanyaknya itu selama masa ngidamnya.


"Sepertinya tidak akan meminta lagi."


'Sekarang bilang begitu, coba saja besok. Ada lagi lagi yang di pinta' Mia memaki. Karena begitulah Garra akhir akhir ini. Banyak sekali permintaan.


Garra beranjak, merangkak ke ranjang.

__ADS_1


"Mia. Sini!" menepuk kasur disebelahnya.


'Ck, mau apa lagi sih. Baru jam berapa ini?' tapi tetap tersenyum dan menghampiri.


"Mau di sayang???" merengek.


'Ya Ampun... Memang tiap hari tidak di sayang apa?'


"Mau bagaimana?" tanya Mia, lembut sambil duduk menyandarkan punggung disisi suaminya.


"Di elus." menaruh kepalanya di pangkuan Mia. Mengangkat tangan Mia dan meletakkan nya di kepalanya. Menciumi perut Mia.


"Bang Garra? Kapan ngidamnya berakhir?"


"Mana ku tau, tanya saja padanya yang menyuruhku Ngidam." menusuk nusuk lembut perut Mia.


"Mia lelah. Tiap hari bang Garra banyak pinta!" celetuk Mia.


"Kau tidak ikhlas mengurusku?" matanya sudah mau keluar saja.


"Eh, ikhlas kok. Besok minta lagi ya?" tak ingin berdebat, cari aman saja.


Garra tersenyum menang.


"Mia dia bergerak!" meraba raba perut Mia.


"Mana ada! Aku tidak merasakannya!" bantah Mia, merasa tidak ada gerakan sedikitpun dari dalam perutnya yang memang masih rata.


"Benar Mia. Tadi dia bergerak. Sepertinya dia mau ditengok ayahnya."


"Masa iya?"


"Iya Mia.. ini permintaan nya lho.."


"Ck, tidak mau. Biar saja. Aku tidak mau menurutinya kali ini. Aku capek, mau tidur saja." Mia berbaring, menarik selimut membelakangi Garra.


"Mia.. Kau tidak sayang pada bayi kita ya? Ini calon cicit kakek lho. Kalau tidak dituruti, nanti bayinya kecewa. Kalau kecewa nanti saat dia sudah diluar akan mengadu pada Kakek."


Mia memutar tubuhnya, menghadap Garra.


"Jangan! Nanti kakek marah pada kita." sahut Mia.


"Itu tau."


"Baiklah, turuti maunya kalau begitu bang Garra." merengkuh pinggang kuat suaminya.


Sekali lagi Mia hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan Garra pada tubuhnya. Sambil mencengkram lengan Garra dan terkadang meremas rambut suaminya. Mia terus saja mengeluh manja dan merdu di telinga Garra.


Meskipun lemah, meskipun malas karena masa ngidam yang sangat menyiksanya itu, tapi jika untuk urusan yang satu ini, Garra selalu kuat. Garra selalu saja punya tenaga cadangan. Garra selalu menginginkannya , bahkan tiap malam. Alasannya selalu sama. Keinginan sang bayi. Jangan membuatnya kecewa atau dia akan mengadu pada Kakek.


Mia yang polos, takut kakek marah. Tentu saja mengiyakan saja.


Hari berganti hari, dan berganti lagi. Kepolosan Mia sangat menguntungkan bagi Garra. Masa sindrom suami ngidam nya di jadikan alasan lagi dan lagi untuk meminta apapun dari Mia tanpa bisa di tolak.


Sementara di Apartemen.


Sekretaris Ang masih dengan perasaan harap harap cemas menanti hari besok, pas satu Minggu pernikahan mereka.


Menghitung dengan jari.


"Sudah berapa kali?"


Tak terhitung lagi dan tidak ada sekalipun yang berhasil menjalani KB alami. Kelabasan tak bisa dihindari. Meskipun tadinya sudah benar benar diniati.


Sekretaris Ang meremas rambutnya, duduk bersandar di sofa. Terlihat sudah mandi sejak pertama pulang dari kantor sore tadi.


Ya, sudah tiga harian ini sekretaris Ang sudah kembali bekerja dengan meninggalkan Yuri dari pagi hingga sore.


Yuri tidak keberatan ditinggal seharian.


Dua Minggu, rencana mereka tinggal di Apartemen. Dan setelah itu akan pulang kembali ke rumah Garra untuk menetap di sana dulu. Hanya akan sesekali kemari.


Dan besok, adalah hari di mana Dokter Sinta akan mendatangi mereka untuk melakukan tes pack pada Yuri.


Tapi harapan sekretaris Ang sepertinya akan sia sia. Jika mengingat dengan apa yang ia lakukan pada istri kecilnya setiap malam.


Mana sekretaris Ang tahan, godaan Yuri begitu kuat. Padahal tanpa di goda pun sekretaris Ang sudah tergoda terlebih dahulu. Maklum lah. Pria dewasa yang telat bercinta. Sekali bercinta dengan gadis belia yang sedang mekar mekarnya.


Meskipun sebelumnya belum pernah merasakan wanita, tapi Yuri sungguh menjadi candu baginya. Tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya buat sekretaris Ang.


"Ah Yuri. Aku benar benar sudah menggilaimu. Aku sungguh mencintaimu!"


Terlonjak kaget ketika suara Yuri memanggilnya dari dalam kamar mandi.


"Iya sayang... sebentar!" berjalan menghampiri pintu kamar mandi. Membuka sedikit dan mengintip.

__ADS_1


Jantung Sekretaris Ang hampir saja meloncat dari tempatnya ketika melihat sang istri kecilnya yang sedang hanya berbalut handuk saja itu dengan darah segar mengalir jelas di pahanya sampai meneteskan ke lantai.


"Yuri..!!" memekik sambil cepat berlari menubruk sang istri.


"Yuri.. Apa yang terjadi padamu??" memeluk erat istrinya sambil terisak.


"Kakak! Kenapa masuk? Aku hanya memanggilmu. Cepat keluar!" Yuri mendorong tubuh sekretaris Ang agar keluar.


"Maafkan aku! Maafkan aku! Apa yang terjadi? Pasti ini karena aku keterlaluan padamu setiap malam." sekretaris Ang meremas rambutnya. Semakin terisak.


"Darah itu. Itu darah..!" jiwa Sekretaris Ang benar benar terguncang. Bayangan kekhawatiran nya selama ini menjadi kenyataan. Istrinya berdarah darah di hadapannya. Sungguh takut. Tidak ada yang di pikirkan lagi oleh sekretaris Ang selain dari pada rasa takut yang menghantam keras tubuhnya.


"Ya Tuhan..!! Dokter..! Dokter..! Bagaimana ini?" memeluk lagi istrinya. Sekali lagi Yuri berontak.


"Kakak, kau apa apaan sih?"


"Yuri.. Yuri.. Kita harus ke rumah sakit sekarang? Kita akan ke rumah sakit. Bertahanlah sayang.." sungguh panik, merengkuh tubuh istrinya dan membopongnya. Tak peduli darah itu menempel di lengannya.


"A.. Turun kan aku. Turunkan aku.. Kau sudah gila ya??" Yuri berontak , bertahan dengan memegang sisi pintu kamar mandi ketika Sekretaris Ang hendak membawanya keluar.


"Yuri, kau sakit. Kau berdarah. Ini pasti karena ulahku. Kita harus ke rumah sakit sebelum terjadi apa apa padamu!"


"Kakak, aku tidak sakit. Kau yang sakit. Turunkan aku!!" memukul mukul dada Sekretaris Ang dengan satu tangannya, satu tangan lagi masih bertahan di sisi pintu.


"Jangan membuat ku panik Yuri. Lepaskan tangan mu. Kita harus segera ke rumah sakit!" berusaha menarik tangah Yuri.


"Kakak!! Aku tidak sakit! Aku tidak sakit!" semakin berontak.


"Darah ini apa?"


"Turunkan aku dulu, turun aku dulu baru ku jelaskan!"


Walau masih dengan khawatir sekretaris Ang menurunkan Yuri.


"Apa sayang..? Apa? Ini darah apa? Ku mohon jangan membuatku takut. Ayo kita ke rumah sakit, cepatlah!" menarik tangan Yuri.


Yuri langsung menepis tangan suaminya.


"Aku sedang halangan! Aku sedang haid. Paham tidak. Bukan sakit tapi HAID..!!"


"Hah! ha.. haid. Jadi...!" sekretaris Ang menepuk jidatnya.


"Astaga... Kenapa tidak mengatakan dari tadi Yuri! Aku hampir mati berdiri karena takut!"


"Kau yang tidak memberiku kesempatan berbicara. Aku memanggil kakak tadi ingin meminta tolong untuk mengambilkan aku pembalut. Tapi kakak malah salah paham."


"Maafkan aku. Aku terlalu khawatir. Kalau begitu, di mana pembalut nya. Aku akan ambilkan." ucap Ang, bernafas lega seketika dan mengusap berkali kali wajahnya yang berkeringat itu.


"Di lemari. Di dalam lacinya."


"Ah, baiklah." sekretaris Ang mencuci dahulu lengannya yang terkena darah Yuri dan bergegas ke luar untuk mencari pembalut yang di maksud Yuri.


"Ini dia." sekretaris Ang menemukannya. Segera mengambilnya dan membawanya melangkah sambil memperhatikan benda empuk di tangannya itu.


Tiba tiba sekretaris Ang menghentikan langkahnya. Sekali lagi memperhatikan benda itu sambil membaca tulisan yang berada di sana. Kemudian berpikir.


"Pembalut? Bukankah benda ini untuk..?" pikiran Ang mendadak mengingat sesuatu yang sangat jelas.


"Hah! Jadi Yuri.. Istriku..!" Seketika berlari kembali ke kamar mandi.


"Sayang...!!"menubruk istrinya kembali.


"Kakak!" Yuri terkejut.


"Yuri.. kau datang bulan? Kau datang bulan ya??"


"Iya. Kenapa?"


"Kenapa tidak bilang dari tadi???"


"Kan tadi sudah bilang. Aku sedang halangan. Aku sedang haid, sama saja dengan datang bulan!" jawab Yuri tegas.


"Ah, iya. Aku sampai lupa." sekretaris Ang menepuk kembali jidatnya. Kemudian menatap Yuri.


"Jadi kau.. Yuri! Kau datang bulan. Artinya kau tidak hamil. Kau tidak hamil Yuri. ooh.. Istriku tidak hamil.. Ya Tuhan istriku tidak Hamil...!!" seperti orang gila, sekretaris Ang melonjak lonjak kegirangan.


"Yuri kau tidak hamil sayang.. Aaa.. aku senang!" menggendong Yuri keluar dari kamar mandi. Dan berputar putar.


"Kakak. Aku sedang berdarah. Aku akan mencucinya dulu dan mengenakan pembalut!"


"Bodo amat! Aku sedang bahagia." sekretaris Ang tidak peduli tetap saja menggendong istrinya.


Jika orang lain akan kecewa mendapati istrinya masih juga datang bulan. Tapi sekretaris Ang tidak. Dia malah senang dan bahagia serasa kejatuhan bulan.


Itulah, sekretaris Ang yang belum juga lepas dari masa lalu orang tuanya yang berakhir menyedihkannya!

__ADS_1


_____________________


__ADS_2