Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Malaikat tak bersayap?? Cih...!!!


__ADS_3

Mau tidak mau Citra kembali ke mobilnya, setelah Garra mengusirnya dan sekretaris andalan Garra itu juga ikut mengusir Citra.


Citra mengendarai mobil nya. Bukan menuju jalan untuk pulang, melainkan menuju rumah Garra.


Di pikiran nya saat ini, ia sungguh penasaran setengah mati dengan wanita yang bernama Mia itu. Seperti apa wajahnya, apa melebihinya cantiknya?


Rumor yang ia dengar, wanita itu hanya di dapat kan oleh Abraham dari hasil sebuah jual beli saja. Lalu apa keistimewaan nya. Sampai sampai membuat Garra seperti nya sangat menggilainya. Belum lagi Kakek dan Nenek Garra. Bisa bisa nya mereka menyukai wanita itu.


'Selama ini aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan restu Kakek dan Nenek Garra. Tapi belum berhasil. Enak benar wanita itu merusak impian ku.'


Citra sungguh geram, terlebih memikirkan jika semua ini adalah salah ayah nya yang memaksa Citra untuk pergi dari Garra dan menyuruh nya membatalkan niatnya untuk menaklukkan hati Garra, saat mengetahui jika saat itu Garra jatuh sakit dan lumpuh seluruh tubuhnya bahkan bisu.


Jelas saja Ayah dari Citra tidak mau putri semata wayangnya menjalin hubungan dengan pria Cacat. Sekaya apapun pria itu. Sama saja mencoreng nama baik nya. Bodohnya Citra terpengaruh oleh Ayahnya.


Pergi meninggalkan Garra tanpa sempat membuktikan cinta nya.


Citra juga menyesal, kenapa tidak menemani Garra saat Garra sakit. Coba saja waktu itu Citra ada di sisi Garra, kemungkinan mendapatkan restu Kakek dan Nenek Garra makin besar. Lalu akhirnya Garra sembuh juga dari lumpuhnya, dan Citra sudah pasti akan menjadi wanita nya Garra. Wanita yang puja dan puji Garra karena kesetiaan nya. Karena peduli padanya. Kemudian menikahi nya.


Pada akhirnya, gelar Nyonya muda Mahendra di Sandang olehnya.


"Ah.... brengsek...!! Sekarang...Semua sudah terlanjur..!!" teriak Citra. Sendirian di dalam mobilnya yang masih melaju.


"Tidak. Harapan ku belum sirna. Masih bisa. Aku masih bisa melakukan sesuatu. Wanita itu, pasti akan mudah aku singkirkan. Memang nya siapa dia. Garra pasti hanya membual jika mencintai nya. Mana mungkin? Aku saja yang secantik ini terus di tolak nya. Apalagi hanya wanita hasil perjodohan."


"Baiklah Citra. Tenangkan diri mu. Kau pasti bisa. Ambil dulu hati Kakek dan Nenek Garra. Baru singkirkan wanita itu." Citra terus bergumam sampai tidak terasa sudah sampai di depan rumah Garra.


Citra turun , langsung di sambut pelayan perempuan. Lalu Bu Asri di ujung sana menghampiri nya.


"Nona Citra."


"Bu Asri masih mengenaliku?"


"Tentu saja Nona. Apa anda ingin bertemu dengan Tuan Muda? Tuan muda tidak ada di rumah. Masih berada di perusahaan. Sore baru kembali." ucap Bu Asri mempersilahkan Citra untuk masuk.


Bu Asri mengenal baik tentang wanita ini. Citra dulu sering sekali datang ke rumah ini, meskipun tidak ada Garra sekalipun. Citra sengaja datang untuk menemui Kakek dan Nenek Garra. Mereka sebenarnya akrab. Citra dan Nenek Sulis. Walau sejatinya Nenek dan Kakek Garra tidak pernah menyukai Citra karena sifat manja dan mewah nya Citra. Belum lagi orang tua Citra, terkenal sebagai manusia yang suka memilah milih dalam berteman dan bergaul. Harus yang sederajat dengan mereka.


Kakek Abian tau betul itu. Dulu sebelum Bastian Ayah Garra sukses, mana mau Ayah Citra berbaik baik dengan Bastian. Tapi setelah Bastian menjadi orang kaya, Ayah Citra mendekati Bastian. Bahkan bermaksud ingin mendekatkan Garra dengan putrinya.


Kakek Abian tau itu, makanya sebaik baik nya Citra, kakek Abian tidak menyukai nya. Terlebih ketika Garra cucunya jatuh sakit, batang hidung Citra tidak pernah nampak. Jangan kan batang hidung nya, pesan dari jempol nya saja nya pun tak pernah ada.


Kini Citra sudah duduk manis di sofa pada ruangan tamu rumah Garra. Sementara Bu Asri sedang pergi menemui Nenek Sulis dan Kakek Abian. Menyampaikan jika Ada Nona Citra di bawah.


Kedua orang tua itu saling pandang.

__ADS_1


"Mau apa anak Bunglon itu kemari?" tanya Kakek Abian pada Bu Asri.


"Tidak tau Tuan besar."


"Kau tidak bilang jika Garra tidak ada."


"Sudah Tuan, Tapi Katanya hanya ingin menengok Tuan dan Nyonya."


"Baik lah, kami akan menemuinya. Buat kan minum saja." perintah Kakek Abian.


"Baik Tuan." Bu Asri bergegas.


"Jangan jangan Citra ingin kembali mendekati Garra." tebak Nenek Sulis menatap suaminya.


"Bisa jadi." jawab sang suami setuju dengan pemikiran istrinya.


"Tidak bisa. Kita harus menghalangi nya. Hahaha.. Enak saja ulet bulu itu. Yang susah payah Mia mengurus Garra dari sakit hingga sembuh. Dia datang mau seneng nya aja. Oo... tidak bisa. Itu tidak akan pernah terjadi." tambah Nenek Sulis.


"Kalau begitu kita temui dia. Dan buat dia jera dengan cara halus!" sahut Sang Kakek.


"Oke lah .. Mari kerja sama yang baik, untuk menyelamatkan rumah tangga cucu kita." kedua nya pun tos dan melangkah bersama.


Dari jauh mereka sudah bisa melihat Citra yang duduk dengan santai nya di sana sambil meneguk Jus jeruk buatan Bu Asri.


Nenek Sulis melangkah berat dengan cemberut. Tapi segera tersenyum setelah di paksa tersenyum oleh suaminya.


Citra tersenyum lebar, segera menyambut tangan kedua orang tua itu dan memeluknya secara bergantian.


"Citra baik baik saja Nek, Kek. Kalian bagaimana? Sehat kan?" tanya Citra duduk kembali.


"Oh, tentu. Kami tentu selalu sehat. Jika tidak , mana mungkin masih bisa menemui mu seperti sekarang ini." jawab sang Kakek, sudah ikut duduk manis bersama sang istri.


"Iya benar kek. Syukur lah kalau begitu."


"Ini ngomong ngomong Citra dari mana mau kemana? Tumben nongol setelah sekian lama?" tanya Nenek Sulis, seperti sebuah sindiran halus.


"Ini, Citra dari rumah. Baru saja datang semalam dari luar negri. Baru selesai studinya di sana Nek. Dan langsung kemari ingin menengok Kakek dan Nenek."


"Yang benar langsung kemari? Tidak menemui Garra dulu gitu tadi?" selidik Nenek Sulis.


"Oh, iya. Tadi menemui Garra sebentar. Dan Garra menyuruh Citra ke rumah dulu untuk menemui Kalian. Sekalian disuruh menunggu Garra di rumah saja katanya." Citra berkilah.


"Oo..." kedua orang tua itu saling pandang. Lalu berbisik.

__ADS_1


"Mana mungkin Garra begitu.? Dia pasti membual." bisik Nenek Sulis.


" Kalau tidak , dia sedang ber khayal." sahut Kakek Abian,berbisik juga.


"Kek, Nek.. Citra mau minta maaf. Selama Garra sakit, Citra tidak bisa menemaninya. Maafkan Citra Kek, Nek. Citra sungguh tidak berniat. Citra harus menurut pada ayah. Agar menyelesaikan sekolah Citra di luar. Makanya setelah Citra sampai di rumah, Citra langsung tancap kemari." ucap Citra.


"Oh, tidak apa apa Citra. Toh Garra sudah sembuh dan baik baik saja." jawab Nenek Sulis.


"Syukur lah nek, Citra khawatir siang malam memikirkan Garra."


"Kamu tidak tau bagaimana sulit nya Garra pada waktu itu. Beruntung, Tuhan mengirim malaikat tak bersayap nya untuk merawat Garra hingga Garra bisa sembuh seperti sedia kala." ucap Sang Kakek.


"Malaikat tak bersayap? Maksud Kakek?"


"Istri Garra." jawab sang Kakek. Membuat Citra meradang.


'Malaikat tak bersayap? Cih..! Seperti apa sih bentuk nya?'


"Kau tau Garra sudah menikah? Atau belum?" giliran Nenek Sulis yang menyahut kali ini.


"Iya, Citra tau. Tapi sepertinya Garra tidak bahagia dengan pernikahannya Nek? Terlihat dari wajah Garra yang tidak bersemangat tadi." sahut Citra berbohong lagi.


"Hahaha.. Sok tau kamu. Garra itu bahagia. Sangat bahagia. Saking bahagianya, Istrinya saja sangat di istimewa kan. Kau mau kenal? Aku akan panggilkan." sahut Nenek Sulis.


"Ah, iya nek. Citra ingin berkenalan dengan nya." jawab Citra bersemangat. Citra ternyata benar benar penasaran dengan Mia.


Mendengar ucapan istrinya Kakek Abian kaget, Menoleh cepat pada istrinya dan menarik lengannya serta berbisik.


"Kau ini apa apaan sih?? Mia itu polos sekali. Kalau kau pertemukan dia dengan ulet bulu ini yang ada malah bahaya. Ulet bulu ini bakal menghina nya atau malah akan memanfaatkan kepolosan Mia." bisik Kakek Abian.


"Tenang saja. Serahkan padaku." jawab Mantap Nenek Sulis.Lalu berdiri dan melangkah.


Nenek Sulis melangkah, tapi bukan ke arah kamar Mia, melainkan ke kamar Yuri. Berdiri di depan pintu , lalu mengetuk.


Yuri tentu saja sangat terkejut melihat siapa yang datang.


"Nyonya Sulis!" sapa Yuri, gugup melihat tatap tajam perempuan tua terhormat itu.


"Aku ingin bicara penting padamu. Ini menyangkut Mia, Nyonya Muda Mahendra. Cucu menantu ku. Istri Tuan muda Garra sekaligus saudara mu itu. Apa kau paham?"


"I.. iya Nyonya." jawab Yuri. ' Aduh, ada apalagi sih ini? Mia... apa kau berulah?' Yuri menebak nebak.


”Yuri.. Apa kau menyayangi saudaramu itu?"

__ADS_1


"Tentu Nyonya, tentu saja."


"Baiklah. Seperti nya aku butuh bantuan mu untuk menyelamatkan Nyonya Muda Mahendra. Menyelamatkan Rumah tangga nya dari Pelakor."


__ADS_2