Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Dua koper uang.


__ADS_3

"Ya Tuhan! Seharusnya kami bangga! Tapi tidak. Kami malu Tuan , kami malu! Pantaskah kami menerima kehormatan yang bertubi tubi ini?" ucap Tiara sudah berurai air mata.


Gani Kuncoro menepuk nepuk halus punggung Tiara untuk menenangkan istrinya, ia paham bagaimana perasaan Tiara saat ini. Rasa bersalah masih begitu membekas di istrinya itu, kemudian pria separuh baya ini mulai angkat bicara kembali.


"Tuan Sekretaris. Mohon maafkan saya jika saya lancang. Tapi sebagai Ayah Yuri saya wajib bertanya pada anda. Apa anda sudah memikirkan resiko yang kemungkinan akan anda hadapi jika menikahi Yuri yang masih terlalu muda ini? Dan apakah anda tidak malu mempunyai istri dari putri seorang orang tua yang hina dan tidak tau diri seperti kami ini. Orang tua yang pernah menjual anak nya sendiri demi uang. Kami tidak akan pernah melupakan hal paling memalukan itu Tuan?" ucap Gani Kuncoro menatap tegas ke arah sekretaris Ang.


"Tuan Gani Kuncoro, saya tidak pernah bisa mengatur hati saya akan ditempati oleh siapa. Dan hati saya sendiri lah yang memilih untuk menikah dengan siapa. Pertemuan saya dengan Yuri membuat saya jatuh cinta dan bukan saya tidak memikirkan dahulu sebelum melangkah serta mengambil keputusan. Saya sudah meyakini hati saya dan siap dengan segala resikonya." jawab Sekretaris Ang, kemudian menatap Yuri dan masih menggenggam erat tangan nya.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti kita harus memvonisnya untuk selamanya Tuan. Anda pernah salah, anda merasa bersalah, tapi anda telah sadar dan anda sudah menyesal. Tidak perlu lagi dipikirkan, tidak perlu lagi di ungkit. Semua ini adalah takdir yang menjadi jalan pertemuan kita semua. Jika bukan karena kesalahan anda, kita tidak mungkin saling kenal dan bertemu kemudian menjadi satu seperti ini. Bukan kah begitu? Ke depan nya, mari kita bahagia bersama. Hanya itu harapan saya." sambung sekretaris Ang membuat semua yang ada terpaku oleh ucapan kata mutiara yang bijak dari mulut seorang Ang.


"Ya Tuhan..!" desis Gani Kuncoro, kembali menoleh pada istrinya yang masih sesenggukan.


"Baiklah Tuan. Sekarang saya ingin bertanya pada Putri saya." ucap Gani.


"Yuri."


Yuri mendongak, menatap wajah Ayahnya dan berganti menatap Ibunya.


"Apa kau sudah siap menjadi pendamping tuan Ang? Kau pasti tidak lupa siapa Tuan Ang. Tuan Ang bukan lah laki laki biasa seperti Ayah mu ini. Tuan Ang adalah laki laki terhormat yang menjadi orang kepercayaan nomor satu keluarga Mahendra. Apa kau sanggup menjaga kehormatan suamimu kelak? Apa kau bisa berbakti kepada seorang suami? Menjadi seorang istri itu bukanlah hal yang gampang Yuri. Kau tau, Seorang istri harus pandai menjaga kehormatan suaminya , harus bisa mempertahankan rumah tangga nya dengan segenap jiwa raganya. Bukan asal cinta , bukan hanya untuk senang. Tapi seluruh kehidupan dan nafas mu. Bukan untuk sehari dua hari, sebulan dua bulan atau setahun dua tahun. Tapi untuk selama nya. Bahkan bukan sampai kau tua, melainkan sampai kau mati."


"Yuri tau Ayah, Yuri sudah memikirkan itu. Yuri percaya jika Tuan Ang bisa memimpin Yuri. Mendidik Yuri menjadi istri yang baik. Yuri akan menjadi istri yang patuh. Yuri akan menemani Tuan Ang dalam segala keadaan. Yuri berjanji Ayah. Yuri tidak akan membuat malu keluarga. Yuri tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu."


Gani kembali terdiam setelah mendengar jawaban dari putrinya. Lalu Gani mengangguk perlahan.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, sebagai orang tua kami hanya bisa memberi dukungan dan doa untuk kebaikan putri putrinya. Saya akan menerima Tuan Ang, sebagai menantu saya. Benar begitu bu,?" ucap Gani Kuncoro menoleh pada istrinya yang mengangguk dan tangis Tiara pecah di dada suaminya. Antara bahagia dan juga tidak menyangka. Jika Tuhan begitu menyayangi keluarga nya. Padahal keluarga nya termasuk keluarga yang tidak baik.


Ucapan penerimaan dari Gani Kuncoro membuat semua yang ada menghela nafas lega kecuali Jihan, yang tak perlu kita bahas dulu itu.


Mia menubruk Suaminya dan ikut terisak di pelukan Garra. Sementara Yuri , merengkuh pinggang Sekretaris Ang dan juga mulai terisak.


"Kakak.."


Ang mendekap kepala Yuri, menghujani kecupan di pucuk kepalanya tak peduli jika Jihan ataupun Gani Kuncoro sempat melirik nya.


"Kau percaya padaku Yuri. Aku sudah melamar mu, dan Ayahmu menerimaku Yuri. Ayah mu menerima ku Bocah. Kita akan segera menikah." ucap Ang.

__ADS_1


"Iya kakak. Aku bahagia. Bahagia sekali. Terimakasih kakak, sudah menepati janjimu." sahut Yuri semakin mengeratkan pelukan nya.


"Terimakasih Tuan Gani Kuncoro, Terimakasih Nyonya Tiara. Terimakasih telah menerima saya." ucap Sekretaris Ang tanpa melepaskan kepala Yuri di dekapannya.


Kemudian orang tua itu membalas dengan anggukan berkali kali.


Lama mereka saling berpelukan dengan masing masing pasangan selain Jihan, yang hanya bisa menyengir kuda sambil membayangkan seorang kekasih ada disampingnya sedang mengelus lembut punggungnya.


Hingga mereka saling melepaskan pelukan, saling menatap pasangan nya , lalu menyeka air mata dan kembali pada gelas minuman mereka masing masing kecuali Gani Kuncoro yang memang belum sempat dibuatkan minum.


"Ah, Ayah ternyata tidak punya minuman. Biar Mia membuatkan nya untuk Ayah ya? Tunggu sebentar." Mia berdiri namun Yuri segera mencegahnya.


"Nyonya Mahendra, anda tidak perlu repot repot. Selama ini anda tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur secuil pun. Biar saya yang membuat kan minuman untuk Ayah."


Mia tergelak mendengar ucapan formal Yuri.


"Kau ini. Di rumah sana aku memang nyonya Mahendra, tapi di sini aku tetap putri Ayah. Aku wajib membuatkan minum Ayahku, apalagi aku sudah lama tidak membuatkan Ayah minuman."


"Haha.. Kau benar Istriku. Pergilah, buatkan minum Ayah mertuaku dan aku juga minta tambah." sahut Garra sambil tertawa bahagia.


Tiara pun berdiri.


"Yuri, calon pengantin. Kembali lah duduk. Biar Ibu yang membantu kakakmu Mia. Kau duduk manis saja ya?"


Yuri tersipu dengan ucapan ibunya dan kembali duduk di samping sekretaris Ang yang terus tersenyum padanya itu.


Mia dan Tiara beranjak ke dapur, dan tak lama kemudian sudah kembali dengan membawa minuman, segelas teh untuk Gani Kuncoro dan segelas Kopi putih untuk Garra.


Kembali mereka terlihat fokus sesaat setelah Gani menyeruput minumannya.


Garra kembali menarik nafas dan memulai obrolan yang kedua.


"Ayah dan Ibu. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih atas penerimaan ini. Dan kami minta maaf jika tidak membawa apa apa dalam acara lamaran dadakan ini. Kami tidak mempersiapkan apapun, karena keputusan ini kami ambil semalam. Dan pagi hari ini kami langsung kemari. Tanpa sempat kemana mana dulu."


"Tuan muda Garra, apa yang harus dibawa memangnya? Ini saja sudah membuat kami hampir terbang ke awan. Kami sangat bangga dan tersanjung. Siapa yang menyangka , lagi lagi seperti mimpi, kami bisa menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Dan hari ini putri bungsu kami di pinang seorang sekretaris utama milik perusahaan Mahendra yang terkenal ini." sahut Gani kembali melirik bangga pada calon menantu bungsunya.

__ADS_1


Semua tertawa bahagia. Di tengah riuh tertawa mereka Garra mengangkat satu koper ke atas meja, di susul oleh Ang yang juga melakukan hal yang sama. Kini dua koper itu berada di atas meja. Gani dan Tiara yang sama sama masih tersenyum mendadak menutup mulut mereka rapat rapat. Menatap dua koper dihadapan mereka itu dengan tanda tanya besar.


"Tuan muda, apa ini?" tanya Gani.


"Ayah. Ini hanya sekedar tanda lamaran dari kami. Satu milik sekretaris Ang dan satu lagi milik saya." sahut Garra.


"Ah, sebenarnya saya juga hari ini ingin melamar ulang Mia. Dulu anda tau bagaimana keadaan saya, hingga proses lamaran saya pada Mia tidak berjalan normal seperti lamaran Sekretaris Ang tadi." sambung Garra.


Gani Kuncoro menoleh pada istrinya.


Lalu Tiara memegang kedua koper itu, mendorong nya maju dengan kedua tangannya.


"Tuan muda Garra dan Tuan sekretaris. Tanpa membukanya kami sudah tau ini isinya apa. Maafkan kami, kami tidak perlu ini. Kami yang sekarang bukan lagi kami yang dulu. Uang bukan lagi impian kami. Impian kami adalah kebahagiaan Yuri dan Mia. Hanya itu. Jadi bawa pulang saja, kami tidak bisa menerima ini." ucap Tiara.


Garra tersenyum, "Ibu mertua. Jangan salah paham pada kami. Kami tidak bermaksud apa apa. Ini bukan kasus jual beli. Ini juga bukan mahar. Tapi ini hadiah untuk kalian dari Menantu kalian dan calon menantu kalian. Jika kalian keberatan menerima nya ,kami akan sedih dan merasa terhina, karena kami sudah menyiapkan ini jauh jauh hari sebelumnya. Atau jika kalian tidak mau memakainya, kalian bisa menyimpan nya untuk keperluan mendadak. Jika kalian mau, kalian juga bisa mengurangi nya untuk berbagi kebahagiaan di luar sana."


Tiara terdiam, menoleh pada suaminya.


Gani mengangguk pada istrinya.


"Tuan muda Garra, mana kami berani menghina Keluarga Mahendra. Baiklah kalau begitu, kami akan menerima hadiah ini dengan saat senang. Tapi kali ini tanpa ucapan terimakasih. Bagaimana?" ucap Gani.


Mereka kembali tertawa.


"Kau benar Ayah mertua. Anda tidak perlu berterimakasih atas hadiah ini. Karena hadiah anda pada hari ini untuk kami lebih berharga dari pada seribu koper ini sekali pun." ucap Garra membenarkan ucapan Ayah mertuanya.


Di tengah gelak tawa bahagia mereka, Yuri tiba tiba berseru pada Tiara.


"Ibu, aku dan Mia sudah menepati janji bukan? Jangan menagihnya ya? Waktu itu Mia pernah bilang , jika Yuri ikut bersama Mia, maka ibu akan mendapatkan dua koper uang. Bukan hanya satu koper lagi. Tapi dua koper. Hahaha.. Ternyata benarkan ? Padahal waktu itu aku tau Mia sedang berbohong, sedang mengucapkan janji palsu agar Yuri diijinkan untuk ikut mereka. Hahahaha... Bualan Mia terwujud rupanya ..!!" teriak Yuri membuat semua kembali tertawa.


Tawa bahagia yang sudah tidak bisa lagi terukir dengan kata-kata.


_________________________


Masih bersambung........!!!!

__ADS_1


__ADS_2