
Di Rumah sakit,
Jika di lihat dari luar nampak biasa saja. Beberapa kesibukan terlihat masih dalam batas kewajaran.
Tapi di lantai VVIP tidak seperti itu. Di sebuah ruangan persalinan khusus telah di penuhi dengan suasana panik. Kepanikan yang meraja.
Mia akan melahirkan hari ini. Meleset dari perkiraan Dokter. Bukan meleset, tapi Perkiraan itu memang bisa kurang atau lebih sedikit.
Tim Dokter andalan sudah siap siaga. Begitu juga dengan segala alat medisnya. Tinggal menunggu waktu saja.
Beruntung Dokter Sinta, satu satunya Seorang Dokter yang terlihat dekat dengan keluarga Mahendra sudah memberi penjelasan dengan tanpa pantang menyerah pada Garra , membuat Garra bisa lebih sedikit tenang dari pada tadi saat mengetahui jika istrinya akan melahirkan hari ini.
Sempat mengamuk karena Perkiraan Dokter meleset beberapa hari. Beberapa hari apanya, hanya Dua hari saja. Itu padahal wajar.
"Mia.. Mia.. Maafkan aku!" gemetaran, mengelus punggung istrinya yang miring mengikuti instruksi dari dokter.
"Bang Garra, aku tidak apa apa. Huh..!" menggenggam erat tangan suaminya . Denyutan yang tadinya sempat hilang kembali lagi. Kali ini dengan rasa yang lebih meningkat dari yang tadi.
Tapi Mia masih tersenyum. Kontraksi yang ia rasakan itu tidak mengurangi semangatnya sedikit pun.
Apalagi melirik Ayahnya dan Tiara yang sudah ada di sudut sana. Datang sejak tadi untuk memberi doa dan dukungan. Ketika tangan sang Ayah mengelus kepalanya dan membisikan doa ditelinga Mia, membuat Mia semakin percaya jika dia mampu melewati dengan baik perjuangannya ini.
Kakek Abian dan Nenek Sulis yang sempat berguling guling ingin menemani, akhirnya bersedia untuk menunggu di rumah saja sambil terus berdoa demi keselamatan Calon Cicit dan cucu menantunya. Sempat melakukan video call segala tadi. Melambai pada Mia , memberi semangat dari sana.
Belum lagi Yuri dan sekretaris Ang yang dari rumah tadi sudah menemani.
Lalu menoleh pada pria yang sedang berlutut di sampingnya itu sambil menggenggam kuat tangannya.
Isakannya, gurat gusar dan tatapan kekhawatirannya menambah energi berlipat ganda bagi Mia.
"Mia..!!??" mengelap keringat di wajah Mia.
"Maafkan Aku.. Ini salahku! Seharusnya aku saja yang merasakan ini?"
"Bang Garra , Mia tidak apa apa..?" meringis, meremas pinggiran ranjang.
"Tidak apa apa bagaimana? Kau sampai meringis begitu. Ini pasti sakit sekali ya?" mengelap lagi.
"Kontraksi memang begini? Bang Garra jangan terlalu khawatir begitu? Jangan berlutut begitu, duduklah disini." Mia tersenyum, menepuk pinggiran ranjang tempatnya berbaring.
Sakitnya kembali mereda pelan.
Kontraksi melahirkan memang begitu, datang dengan frekuensi. Saat sakit nya menghilang, Mia bahkan sempat berbincang dengan Suaminya.
Tapi hanya sebentar saja, sakit itu kembali melanda dengan denyutan yang semakin hebat.
Mia mulai mengerang sambil menggigit bibirnya. Denyutan di pinggang nya sudah menyerang dari tadi secara konstan. Terasa panas yang menjalar dan sakit seperti mau patah saja.
"Ya Tuhan...!" Garra kembali menggenggam tangan Mia.
"Sakit ya? Mana yang sakit?"
Mia tak menjawab, sepertinya kali ini sakit yang datang semakin hebat.
Mia sampai mengerang agak keras.
Wajah Garra memerah melihat itu, menoleh pada Tim Dokter.
"Kalian ini kenapa diam di situ saja? Bagaimana istriku ini hah!" berdiri.
"Mohon maafkan kami Tuan Muda. Pembukaan Nyonya Mahendra belum penuh. Belum waktunya. Kami tidak bisa melakukan apapun saat ini." hanya dokter Sinta yang berani maju untuk menjelaskan pada Garra. Yang lain hanya bisa tertunduk diam, mencari aman.
"Belum belum terus dari tadi. Lalu kapan hah! Kalian tidak melihat istriku sudah kesakitan seperti ini sejak tadi? Bodoh kalian semua itu!!" berteriak, menuding kasar.
"Tuan Muda!" kini giliran Ang yang
__ADS_1
mendekat. Sambil berbisik pelan.
"Anda harus bisa tenang agar Nyonya juga tenang."
"Tenang Kepalamu itu Ang! Istri ku sedang kesakitan sekali, tapi dokter dokter itu malah diam saja. Coba kau merasakan menjadi aku dengan kondisiku seperti saat ini. Apa kau juga bisa tenang?" mendorong dada Ang dengan telunjuknya.
"Arg..!" Mia mengerang kembali.
"Mia.. Mia.. sayang?? Ah, maafkan aku Mia. Semua ini karena aku. Kalau aku tau sakit mu akan separah ini, aku tidak akan memaksamu untuk hamil dan melahirkan Cicit untuk kakek.!"
"Arg...!" Mia kembali mengerang.
"Ya Tuhan!! Mia..!" saraf di seluruh tubuh Garra rasanya hampir tercabut. Mendengar erangan Mia kali ini tulang belulang Garra mendadak ngilu.
"Mia..! Ku mohon maafkan aku. Bertahanlah sayang. Bertahanlah! Maafkan aku, maafkan aku. Semua ini salahku. Harusnya aku tidak menyetujui kau melahirkan normal.." kembali berlutut, merengkuh tubuh istrinya. Mengelus ngelus perutnya.
Mia tersenyum lagi, menampakkan giginya. "Hihi, kau ini. Lucu sekali jika sedang panik!"
"Mia.. kenapa tersenyum? Kalau sakit bilang saja. Kalau ingin menangis, menangis saja. Jangan menahannya. Apa kau takut pada mereka? Kalau begitu aku akan menghajar mereka." berdiri lagi.
"Bang Garra??" meraih tangan Garra.
"Duduklah disini." menarik.
"Jangan seperti itu. Mia tau kalau ini akan terjadi. Mia kan sudah siap dari awal."
"Huh!" menarik nafas panjang, meremas lengan Garra yang kini duduk disampingnya.
"Aku tidak tega melihatmu. Sungguh!" pelan, nadanya serak dan berat.
"Arg..!" Mia mengerang, menutup wajahnya dengan tangan. Mungkin sudah sangat kesakitan.
"Mia..!" Garra menangis.
"Dokter Sialan! Kenapa diam saja. Brengsek!" berdiri, kini menghampiri seorang dokter pria dan menarik kerah jas putihnya.
"Lakukan sesuatu! Lakukan sesuatu! Jangan diam saja! Atau ku bakar rumah sakit ini. Kau kira istriku sedang bercanda ya??"
Sang dokter gemetaran. 'Mana bisa Tuan muda. Anda benar benar sudah gila. Mau melahirkan memang seperti itu? Kami harus apa? Jungkir balik??'
"Tuan Muda, Tuan Muda Garra! Mohon jangan begini!" Sekretaris Ang yang terkejut dengan apa yang dilakukan Garra langsung menarik tubuh Garra dan membawanya kembali disisi Mia.
"Kenapa kau malah kompak dengan mereka Ang??" melotot lotot.
"Tuan Muda.. Anda harus bisa menahan diri. Kasian Nyonya Mahendra, beban melihat Tuan Muda tidak bisa mengendalikan diri seperti ini." melirik Mia yang terus meringis.
Lagi lagi, Mia menyisihkan tenaga untuk meraih tangan suaminya.
"Jangan pergi pergi, tetap disini saja. Jangan marah marah, sakit ku tambah parah kalau kau marah."
"Iya Mia.. iya. Maafkan aku. Maaf. Kau sungguh tidak sanggup melihatmu seperti ini." menangis kembali.
"Aku ingin memukul mereka Mia. Aku ingin menghajar mereka!" kembali menuding tim dokter.
Semua yang ada sungguh panik dan khawatir. Panik dan khawatir bukan karena Mia akan melahirkan tapi karena sikap Garra yang mendadak arogan.
Gani Kuncoro dan Tiara yang dari tadi melihat sikap menantunya itu kini melangkah, mereka mendekat. Gani duduk di sisi Mia berhadapan dengan Garra. Sementara Tiara berdiri disisi Sekretaris Ang.
Yuri, masih terisak di pojokan. Hatinya nyeri menyaksikan kakaknya yang sudah setengah hari lebih tersiksa di ruangan ini.
Gani mengelus kepala Mia. Mengecup kening Putrinya berulang kali.
"Mia.. kau kuat kan Nak?"
Mia hanya membalas dengan senyuman yang terlihat sudah sangat terpaksa ia lakukan itu. Pembukaan Mia sudah hampir mendekati sempurna, sebab itu Mia sudah merasa sakit yang luar biasa. Separuh tenaganya rasanya sudah habis untuk menahan sakitnya.
__ADS_1
"Ayah mertua. Ibu Mertua. Maafkan aku, maafkan aku. Semua ini salahku. Aku yang salah. Hu.. hu.." Garra menangis meraih tangan Gani Kuncoro dan menciuminya.
Mia sebenarnya ingin tergelak melihat itu.
Tapi rasa sakitnya kembali menyerang dengan berlipat lipat ganda. Mia meringis, mengerang kembali.
"Mia.." melepaskan tangan Gani, beralih pada tangan Mia.
"Ibu, Ayah. Bagaimana ini? Tolong, tolong kami." Garra berteriak lagi.
"Tuan Muda!" Gani menepuk bahu Garra.
"Ayah. Aku tidak tega melihat istriku.."
"Nak Garra. Setiap wanita yang akan melahirkan memang begini. Dan setiap wanita memiliki kontraksi yang berbeda beda. Dan istrimu ini terbilang yang mengalami kontraksi dengan batas yang wajar."
"Kau harus bersyukur bisa menemani Mia,dari pada Ayah mertuamu ini dulu. Bahkan tidak tau kapan dan dimana ibu Mia saat melahirkannya."
"Tuan Muda Garra, jika anda tenang Mia akan tenang. Percayalah, semua calon ibu merasakan ini sebelum melahirkan bayinya. Bukan kah begitu Bu?" menengok ke arah Tiara.
"Iya Tuan Muda. Anda boleh bertanya pada semua ibu di dunia ini."
Garra menggigit bibir.
"Aku takut Ayah! Aku takut! Aku sudah kehilangan Ayah dan Ibuku. Aku takut kehilangan istriku."
"Tidak akan, semua akan baik baik saja. Mia adalah wanita yang kuat. Anda pasti tau itu." menepuk bahu Garra.
"Jika anda tidak kuat, bagaimana jika kita menunggu di luar saja. Serahkan semua ini pada Tim Dokter. Karena kepanikan anda itu bisa menggangu konsentrasi kerja mereka. Untuk menolong proses persalinan membutuhkan konsentrasi yang penuh." ucap Gani.
Garra terdiam.
"Bagaimana? Kau akan di sini dengan tenang menemani istrimu atau akan ikut bersama kami menunggu di luar?" tanya Gani.
Garra masih terdiam, menatap Mia yang terus mengerang lalu menoleh pada Tim Dokter yang sudah mulai mendekat, bersiap siap karena waktu Mia pembukaan penuh tidak akan lama lagi.
"Mia..!"
"Jangan pergi, jangan. Temani Mia." Mia merengek, menarik ujung kaos Garra.
"Iya , iya Sayang. Iya. Aku akan disini."
"Dokter! Biarkan aku disini. Aku berjanji akan tenang. Aku tidak akan marah marah lagi. Aku ingin menemani istriku sampai dia melahirkan bayiku!"
"Baiklah kalau begitu. Kau harus tenang Nak. Jika kau tidak kuat! Kau boleh pejamkan mata dan jangan putus membaca Alfatihah ya?" Gani yang menjawab. Sekali lagi menepuk bahu menantunya.
Semua yang ada keluar! Tersisa Garra yang kini mengikuti instruksi dokter untuk berpindah tempat. Duduk di ujung ranjang memangku kepala Mia. Tim Dokter pun sudah merapat. Berdiri siap di samping kanan kiri dan bawah Mia.
"Apa masih lama?" Garra bertanya.
"Sebentar lagi Tuan Muda. Anda harus tenang, Semua akan baik baik saja." baru saja Dokter pria itu selesai berbicara.
"Ah.. Dokter Bayinya mendorong kuat!!" jerit Mia.
Wajah Garra seketika memucat, tangan kekarnya yang cukup terlihat gemetaran itu segera meraih tangan Istrinya.
Tim Dokter langsung mengambil posisi masing masing. Namun hanya Dokter Sinta yang berani memegang kedua sisi paha Mia. Yang lain hanya menunggu perintah dari dokter Sinta.
"Nyonya Mahendra! Lihat pusar anda. Terus!"
Di tengah erangan Mia yang semakin melengking keras, Garra Junior akan segera menatap dunia, akan ada dalam dekapan kedua orang tua yang sangat mengasihinya dan tentunya akan di sambut oleh orang orang yang sudah sangat menantikan kehadirannya.
___________
Salam hangat buat seluruh Ibu yang sudah pernah berjuang untuk melahirkan Putra dan Putrinya...!!!!
__ADS_1