Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Sekretaris Ang kena sumpah.


__ADS_3

Pagi telah datang, Mia pun sudah bangun duluan dari pada Garra. Masih dalam keadaan tubuh polosnya , ia pun menuruni ranjang dan segera mandi.


Lalu setelah rapi, baru Mia membangunkan Garra.


Senyuman manis menyambut Garra pertama kali membuka matanya.


Seketika sumringah , semangat semakin menggebu dirasakan oleh Garra. Langsung bangun dan beranjak ke kamar mandi tanpa membantah sedikit pun, ketika Mia menyuruh nya untuk mandi.


Di dalam kamar mandi Garra nampak memegangi pundak nya, lalu pinggang nya.


"Kenapa pegal semua badanku?" rintih Garra, dengan malas terpaksa mengguyur tubuhnya dengan air.


Tak lama, Garra sudah keluar dari kamar mandi. Masih dengan keadaan meringis dan lesu.


Melihat suaminya berjalan lesu sambil memegangi pundak nya, Mia tentu langsung menghampiri.


"Bang Garra kenapa?"


"Tidak tau, badan bang Garra sakit semua. Mungkin masuk angin."


"Biar Mia gosok pakai minyak angin ya?"


Garra mengangguk. Mia lalu menuntun Garra kembali ke ranjang. Menggosok pundak dan punggung Garra dengan minyak angin serta memijitnya dengan lembut.


"Bang Garra pasti kecapean ini. Sudah di bilang sama Mia. Berhenti. Tapi semalam terus saja mengulangi. Begini kan jadinya?" gumam Mia. Mendengar itu Garra tersenyum.


"Nama nya juga usaha Mia.. butuh usaha yang keras! Kalau tidak, cicit Kakek kapan jadinya. Pusing kan , di tanyain Mulu." jawab Garra.


"Alah.. Alasan." Mia memukul bahu Garra pelan.


"Hah! Kok alasan sih?" Garra menoleh.


"Aku tau , itu cuma alasan bang Garra saja kan? Mia sudah tau. Dasarnya bang Garra saja yang ketagihan. Mau lagi mau lagi. Alasan nya biar cicit kakek cepat jadi. Iya kan? Ngaku."


Garra tergelak mendengar ucapan Mia. Tidak menyangka jika istrinya sudah sedikit lebih pintar. Dan sudah tau jika itu hanya akal akalan nya saja supaya Mia mau melakukannya.


"Memang Mia tidak? Hayo..?" tak mau kalah telak Garra membalik kan pertanyaan. Seketika membuat wajah Mia memerah, lalu tersenyum sambil mencubit perut Garra.


"Diam! Setidak nya Mia tidak seperti bang Garra yang terus saja minta mengulangi."

__ADS_1


"Sama saja, bang Garra yang minta tapi Mia yang menerima."


Kedua nya tergelak,


"Sudah sudah. Lebih baik hari ini bang Garra tidak usah bekerja dulu. Istirahat dulu." usul Mia.


Tentu saja Garra setuju dengan usul Mia. Sumringah. Seperti nya otw dapet jatah lagi. Pikir Garra.


"Bang Garra, hari ini kan tidak kerja. Bagaimana kalau bang Garra mengantar Mia mencari tempat tinggal Ayah. Mia ingin tau kabar mereka. Menurut Yuri mereka sudah di usir dari rumah nya." ucap Mia di sela kesibukannya membantu Garra memakai baju.


"Yuri tau dari mana?"


"Dari status Facebook nya Jihan katanya. Terakhir curhat. Dan setelah itu, nomor mereka tidak ada yang bisa di hubungi lagi. Menurut Yuri sepertinya hp mereka ke jual juga." jawab Mia.


Garra terdiam. Memikirkan sesuatu.


"Bang Garra. Walau bagaimana pun juga, mereka satu satunya keluarga yang Mia punya. Mia kasian pada mereka. Tidak tega. Apalagi jika mengingat karena mereka dulu, Mia bertemu dengan bang Garra. Coba saja waktu itu bukan Mia , Jihan yang di bawa kemari. Istri bang Garra pasti jadinya Jihan bukan Mia." ucap Mia.


Garra tersenyum mendengar nya. "Kau ini terlalu baik Mia. Apa kau lupa, aku pernah menjelaskan nya , Ang juga pernah menjelaskan, jika semua itu sudah di atur oleh Ang. Jika saat itu wanita yang akan menikah dengan ku bukan kamu pasti tidak akan di luluskan oleh Ang. Karena meskipun itu ide dari Abraham tapi Ang yang mengatur tak tik nya. Dan Aku yang meminta Ang untuk mendapatkan mu tidak boleh gagal atau terganti yang lain." jelas Garra pada Mia.


"Iya, Mia tau itu. Tapi, jika mereka tidak terpikir untuk menjual Mia..._"


"Bang Garra!!"


"Iya Mia sayang. Hari ini kita pergi, aku akan mengajak Ang dan kau boleh mengajak Yuri. Kita akan pergi mencari keluarga mu. Mia jangan bersedih lagi. Benar katamu. Aku juga harus berterima kasih pada mereka. Setidaknya mereka sudah memberi mu makan sampai kau bisa besar dan bertemu denganku. Ya, meskipun paling banter kamu di kasih makan pake garem. Makanya badan Mia kurus kurang gizi begini." ucap Garra.


"Bang Garra..!!"


"Iya , iya... Kita pergi. Cepat kau hubungi Yuri. Sudah ada nomornya kan?"


Mia sungguh senang, dan mengangguk cepat. Segera meraih hp nya untuk memberitahu Yuri. Sementara Garra juga segera menelepon Sekretaris Ang.


Setelah sarapan, hari ini juga mereka pergi menemui keluarga Gani Kuncoro dengan menumpangi satu mobil bersama.


Mia dan Garra duduk di jok belakang. Yuri dan sekretaris Ang duduk di kursi depan. Ang masih setia sebagai sang sopir andalan.


Mobil pun melaju setelah memastikan penumpangnya duduk dengan nyaman menuju tempat di mana sebenarnya Ang sendiri sudah mengetahui nya.


Sejenak, tak ada percakapan diantara mereka . Hanya, Pasangan yang ada di jok belakang sesekali melempar senyum. Kemudian berbicara bahasa tubuh.

__ADS_1


Garra menggeser duduknya hingga tak berjarak dengan Mia. Lalu meraih tubuh Mia agar bersandar di dada nya. Begitu romantis, sambil saling pandang penuh mesra, tangan terpaut erat dan sesekali Garra mencium kening Mia. Bukan hanya kening, pipi juga.


Tentu saja pemandangan itu tak luput dari dua pasang mata yang berada di jok depan. Tanpa menoleh pun mereka bisa melihat dari kaca kecil di depan mereka. Sesekali Yuri menundukkan kepalanya guna menghindari adegan yang sudah mencemari otak nya itu. Tapi sesekali matanya tak tahan untuk melirik kembali.


Rasa iri meliputi hati Yuri melihat kemesraan mereka. Tapi bahagia juga menyertai hatinya. Melihat Mia bahagia, banyak rasa syukur di hati Yuri. Sampai Yuri terlonjak kaget ketika sebuah kaki sengaja menendang kakinya.


"Jaga pandangan mu Yuri." bisik Sekretaris Ang, sedikit mendekatkan kepalanya.


Yuri langsung menunduk lagi.


"Yuri!" Panggil sekretaris Ang.


"Em," Yuri menoleh.


Sekretaris Ang melempar sebuah sapu tangan yang langsung reflek di tangkap oleh Yuri.


"Lap dulu air liur mu.. Apa yang kau pikirkan sampai air liur mu menetes begitu hah!" ucap Sekretaris Ang tergelak.


"Apa sih?" sahut Yuri langsung meraba mulut nya dengan sapu tangan itu sambil cemberut.


"Dasar, kecil kecil juga sudah otak mesum." ucap Sekretaris Ang, kembali terbahak.


"Diam..!! Selalu mengatakan aku anak kecil. Aku akan menyumpahi mu tergila gila padaku. Lihat saja Tuan sekretaris yang sok Dewasa.." rupanya Yuri tak tahan, terlalu kesal lalu melempar sapu tangan bekas nya itu ke wajah Sekretaris Ang.


Ang kembali tergelak. "Itu tidak akan pernah terjadi. Bermimpi lah bocah." jawab Ang, semakin terbahak.


Rupanya pembicara bisik bisik mereka di depan terdengar oleh pasangan yang ada di kursi belakang.


Mereka ikut terbahak mendengar Yuri menyumpahi sekretaris Ang.


"Hati hati kau Ang. Sebentar lagi kutukan penyihir kecil ini akan menjadi kenyataan. Hahaha...Dan Aku orang pertama yang akan mengucapkan selamat padamu .. Selamat gila Ang.." ucap Garra sontak membuat Mia tertawa terpingkal.


Membuat Ang, menoleh pada Yuri.


"Kau ini, berani menyumpahi ku di depan Tuan Muda Dan Nyonya muda. Awas kau ya..!"


"Bodo amat! Bodo Amat! Kesabaran ku sudah habis. Dari kemarin kau mengataiku anak kecil. Memanggil ku dengan sebutan Bocah, bocah terus! Aku ini sudah besar. Kalau masih anak kecil, aku tidak akan di sini. Tapi di pangkuan ibuku." teriak Yuri.


Mobil itu di penuhi gelak tawa Garra dan Mia. Sementara sekretaris Ang, terdiam seribu kata. Berpura pura tidak mendengar Tuan dan Nyonya nya yang sedang menertawakan nya.

__ADS_1


_____________________


__ADS_2