
Hari ini, seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan keluarga Mahendra terutama Garra dan juga Mia yang baru saja mendapatkan Seorang Putra Penerus Mahendra Group!
Jangankan untuk memikirkan pemberian Nama untuk Tuan Muda Mahendra, sedikitpun semua belum ada yang terpikirkan karena lagi lagi, sebuah ujian yang cukup membuat mereka ketakutan menghampiri mereka.
Kebahagiaan yang baru beberapa jam yang lalu mereka rasakan, terganti rasa sedih, sesak dan hancur! Terlebih Mia. Ia terisak didalam dekapan Nyonya Ang yang juga ikut terisak.
Siapa wanita yang rela mengangkat rahimnya? Wanita manapun tidak mungkin rela.
Saat ribuan wanita lain menangis menanti sang buah hati dari rahim mereka yang tak kunjung ada, hari ini Mia harus merelakan keputusan suaminya untuk mengangkat satu satunya yang berharga dalam hidup wanita. Yaitu , rahim yang menjadi pusat si buah hati berada.
Walau sudah berapa kali ditegaskan jika sudah Ada Tuan Muda Mahendra, sudah ada seorang Pangeran kecil yang menjadi pelengkap kebahagian rumah tangga Mia., namun sebagai wanita sejati, Mia tetap tidak bisa ikhlas jika harus hanya memiliki satu anak saja.
Kendati dalam hati Mia sendiri belum tau apakah Tuhan masih akan mempercayainya lagi untuk mendapatkan seorang anak lagi? Tapi setidaknya Mia masih berharap untuk itu.
Lain dengan pemikiran Garra yang tidak mau sedikit pun mengambil resiko jika tetap membiarkan rahim Mia yang sudah terinfeksi kanker itu tetap ada ditubuh wanita yang paling berharga baginya itu.
Garra tidak pernah ambil pusing masalah anak yang kedua. Baginya, satu dari Mia sudah lebih dari seribu kebahagiaan. Namun membayangkan istrinya harus menderita karena sakit Kanker itu, Garra patah semangat. Garra kehilangan arah.
"Anak kedua? Hah! Itu Nomor 800. Bagiku Mia adalah urutan pertama! Mana bisa aku membiarkan Malaikat tak bersayap ku itu terisksa oleh penyakit mematikan itu. Aku tidak bisa! Meskipun Kemoterapi atau obat obatan akan bisa menyembuhkannya. Pertanyaannya harus sampa kapan? Jika sembuh, jika tidak! Ini urusan nyawa , urusan hidup. Dan nyawa yang paling berharga buatku. Keputusanku sudah bulat. Mia harus segera terbebas dari penyakit terkutuk itu segera!"
Keputusan Garra sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Operasi pengangkatan rahim Mia sudah ditentukan harinya.
Dan semua yang ada Setuju dan tidak bisa menyalahkan alasan Garra. Cinta nya, pedulinya dan kasih sayangnya yang begitu besar pada Mia membuat Garra menyimpangkan kehadiran Anak kedua ataupun apapun itu. Tujuan dan keinginan nya saat ini hanya satu. Mia tetap berada disampingnya dalam keadaan baik baik saja.
"Yuri!! Kenapa ini semua harus terjadi padaku?" merintih, perih.
"Mia.. Kau sabar. Tuan Muda melakukan ini karena sangat mencintaimu."
"Aku tau, aku tau itu. Tapi cara ini sungguh sungguh membuatku merasa terhina Yuri. Aku akan jadi wanita yang tidak sempurna!" Mia kembali menangis.
Di ujung sana, Garra melirik istrinya dengan hati yang tercabik cabik. Ia mendekat.
"Yuri!"
Yuri menoleh.
"Bisakah kau tinggalkan kami?"
"Baik Tuan Muda!"
Yuri beranjak, menutup pintu. Memberi kesempatan pada Garra dan Mia untuk berbicara sekali lagi.
"Kenapa kau sangat sayang sekali dengan rahimmu? Padahal kau tau jika di sana ada sesuatu yang mengancam nyawamu, bukan hanya nyawamu Mia, kebahagiaan kita. Tuan Muda juga. Kau tidak memikirkan dia Mia! Kau tidak memikirkan aku?" mendekat, duduk di samping Mia yang sudah diperbolehkan untuk duduk menyandar.
"Harus berapa kali aku bicara Mia? Aku sudah cukup, aku sudah sangat Bahagia dengan satu bayi yang berhasil kau lahir kan untukku!"
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu! Aku tidak ingin sedikit pun kau kenapa Napa? Kenapa kau tidak mengerti Mia. Aku takut! Aku takut jika harus hidup tanpamu??" kini memeluk erat tubuh istrinya.
"Bang Garra!!"
"Mia.. Tolong sekali ini dengarkan Suamimu, dengarkan aku. Bagaimana pun kamu, tetap sempurna bagiku. Walaupun kau harus kehilangan rahim, kakimu atau tanganmu sekalipun aku tidak peduli. Asal jangan kehilangan nyawamu."
"Apa kau tidak ingat bagaimana dulu keadaanku. Aku bahkan pria Cacat yang tidak berguna. Tapi kau menerimaku Mia. Kau tetap di sampingku, merawat ku menemaniku. Dan apa bedanya kamu saat ini. Aku ingin sepertimu dulu. Menerimamu dengan segala kekuranganmu."
"Mia.. bagiku kau segalanya. Kau kebahagiaan ku, jangan hancurkan itu Mia. Jangan! Ku Mohon. Biarkan aku bahagia dengan kesehatanmu!"
__ADS_1
Garra sesenggukan.
Tidak bisa lagi berbuat apa apa, Mia hanya bisa mengangguk. Akhirnya mengangguk saja. Akhirnya bersedia.
"Iya bang Garra. Demi mu, demi mu. Aku bersedia!"
Sekali lagi Garra menatap wajah Mia.
"Terimakasih! Terimakasih Istriku.. Terimakasih!"
Epilog.
Persiapan untuk operasi Mia telah dipersiapkan dengan sempurna. Hanya tinggal menunggu Dokter Spesialis bedah yang didatangkan dari luar Negeri saja. Hari bahkan jam pun sudah ditentukan.
"Tuan Muda!" Gani Kuncoro melangkah mendekati Garra dan Mia.
"Ayah!" Mia menoleh pada Ayahnya.
Garra sedikit menggeser duduknya. Gani Kuncoro mendekat pada Mia.
"Mia. Kau harus kuat! Semua yang Suamimu lakukan ini demi dirimu. Karena dia sangat menyayangimu. Kau tidak boleh berkecil hati."
Mia mengangguk. "Iya Ayah. Mia sudah bersedia. Mia mau dioperasi."
Gani tersenyum. Kali ini menoleh pada Garra.
"Nak Garra. Di luar ada Bi Sumi. Dia datang dari kampung karena mendengar kabar tentang Mia. Apa boleh Bi Sumi menemui kalian sebelum Operasi Mia dilakukan?"
"Bi Sumi? Suruh dia masuk Ayah! Suruh Bi Sumi masuk. Aku ingin bertemu dengannya." Mia menyahut.
Garra pun mengangguk.
Tanpa menoleh dulu pada Garra yang berdiri disisi Mia, Bi Sumi langsung berlari menubruk Mia.
"Non Mia!!" Bi Sumi menangis, begitu juga Mia.
Bi Sumi melepaskan pelukannya, membelai wajah Nona kecil momongannya dulu itu.
"Kenapa bisa begini Non?"
"Siapa yang memberitahu Bi Sumi?"
"Tuan. Tuan Gani menceritakan semuanya pada Bibi. Mendengar kabar baik sekaligus kabar buruk itu Bibi langsung kemari Non. Sampai menyater sebuah mobil dari kampung demi cepat sampai kemari."
"Tidak apa apa Bi, tidak perlu khawatir. Mia baik baik saja."
"Apanya yang baik baik saja Non? Operasi pengangkatan rahim itu, apapun alasannya tidak baik bagi wanita muda seperti anda. Hidup anda akan hampa dan merasa tidak akan ada gunanya sebagai seorang istri Jika ada jalan lain, kenapa harus melakukan itu?"
Mendengar itu, tentu saja Garra langsung marah.
"Bi Sumi! Tolong jangan membuat istriku goyah lagi. Kami sudah memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim Mia. Dengan susah payah aku membujuknya agar Mia bersedia. Jangan mempengaruhi Mia lagi. Semua ini demi kebaikan Mia."
Tanpa rasa takut, Bi Sumi berdiri menatap Garra.
"Saya tau itu Tuan Muda. Saya tau, anda melakukan ini demi kebaikan Non Mia. Tapi, Apa anda tidak memikirkan efek samping bagi Nona Mia setelah pengangkatan rahim itu?"
__ADS_1
"Bi Sumi..!" Mia menarik tangan bi Sumi yang hendak melangkah mendekati Garra.
Mia menggelengkan kepala, memberi maksud agar Bi Sumi tidak melanjutkan ucapannya yang mungkin saja bisa menyinggung Suaminya.
"Tidak Non. Suami anda harus tau, jika pengangkatan rahim itu tidak baik untuk Nona. Mungkin baik bagi sebagian wanita , tapi belum tentu bagi Non Mia."
"Bi Sumi!!" Garra sudah memerah wajahnya.
"Mohon ampuni saya Tuan Muda. Biarkan saya bicara dahulu!" Bi Sumi tiba tiba berlutut dilantai, dihadapan Garra.
"Bi, apa yang Bi Sumi lakukan? Bang Garra!" menoleh pada Garra. Mia tidak rela wanita paruh baya yang selama ini mengasihinya dan sudah menjadi pengganti Ibunya sejak bayi itu harus berlutut di kaki Suaminya sekali pun.
Garra tercengang melihat perlakuan bi Sumi. Segera meraih pundak wanita itu.
"Bibi, jangan begini. Berdirilah. Katakan yang ingin kau katakan. Aku tidak akan marah lagi. Aku akan mendengarnya. Tapi tolong, jangan memberi beban pikiran pada Istriku. Kau tau, aku melakukan ini karena sangat mencintai Mia." Garra membantu bi Sumi untuk berdiri.
Membimbing wanita itu untuk kembali duduk di samping Mia.
Terdengar Bi Sumi terisak, menolah lagi pada Garra yang kini sudah duduk dihadapan mereka dengan menarik kursi.
"Tuan Muda. Lihatlah istri anda. Lihatlah Nona Mia. Semenjak dari lahir ke dunia ini, hidupnya belum pernah bahagia. Setelah bertemu dengan anda hidupnya berubah. Non Mia sangat bahagia bersama anda. Tidak kah anda memikirkan kebahagiannya di masa yang akan datang setelah pengangkatan rahim nanti?"
"Saya tau, saya tau apa yang anda lakukan ini demi Istri anda. Karena cinta anda! Tapi saya juga yakin , anda pasti sudah tau, efek samping dari pengangkatan rahim itu selain tidak bisa lagi mengandung?"
"Maksud Bibi..?" Garra kurang mengerti dengan ucapan Bi Sumi.
"Apa Dokter belum menjelaskan pada Tuan Muda efek samping wanita setelah kehilangan rahim selain dari tidak bisa hamil lagi?"
Garra menggeleng. Garra memang tidak bertanya detail tentang efek lainnya. Karena saat itu yang dipikirkan Garra hanyalah keselamatan Mia. Kesembuhan Mia. Tanpa sempat bertanya yang lain lain.
"Saya tau, anda maupun Non Mia cukup dengan satu anak saja. Tapi jika anda tau efek samping dari selain itu, anda akan berpikir ulang untuk melakukan ini"
"Kalau begitu katanya yang Bi Sumi ketahui. Agar aku bisa berpikir ulang." sahut Garra.
"Jika hanya tidak bisa hamil, tentu itu tidak akan jadi masalah untuk kebahagiaan kalian, tapi setahu saya wanita yang kehilangan rahim akan kehilangan gairah nya pada suami nya. Bukan hanya itu, tapi akan mengalami menopause. Jika untuk Tuan Muda, anda mungkin bisa menerimanya karena cinta anda begitu besar pada Non Mia. Tapi untuk Non Mia sendiri, apa anda tidak memikirkannya? Kebahagiaan wanita sudah pasti bukan hanya sekedar harta dan kasih sayang, Anda pasti paham maksud saya. Tolong Pikirkan Tuan Muda. Non Mia masih terlalu muda untuk menerima itu."
"Baiklah, begini saja kita perlu langsung berbicara didepan Dokter yang menangani Non Mia agar tidak ada kesalahan pahaman. Kita bisa bertanya langsung padanya." sambung Bi Sumi.
Garra terdiam, seribu keraguan menghujam hatinya. Ragu hanya ucapan seorang Bi Sumi.
Bi Sumi menyadari keraguan Garra.
"Tuan Muda. Kami adalah orang zaman dulu, dengan memegang kepercayaan obat obatan tradisional. Tanpa dokter kami bisa melawan penyakit mematikan sekalipun." ucap Bi Sumi kembali.
"Jika anda masih ingat, bagaimana keadaan anda dulu sebelum bertemu dengan Non Mia. Anda pasti masih ingat bukan? Bagaimana hampir seluruh saraf ditubuh anda rusak dan bahkan Dokter tidak bisa menangani anda, Non Mia bisa menyembuhkan anda hanya dengan ramuan dari kebun."
Garra tersentak, selama ini ia melupakan itu. Melupakan jika kesembuhan dirinya bukan karena ilmu kedokteran. Melainkan karena obat tradisional dari Mia , totok saraf dari Mia. Dan Mia mendapatkan itu dari Bi Sumi.
"Bukan sekedar untuk mencoba, tapi menjamin kesembuhan Non Mia, Saya bersedia!" ucap Bi Sumi.
"Kanker Rahim, masih jauh dibanding dengan kanker hati. Bahkan kanker terganas sekalipun masih bisa disembuhkan tanpa kemoterapi atau operasi. Percayalah Tuan Muda. Asal kita berusaha dengan yakin. Semua akan ada jalannya."
Garra menghela nafas, menatap sekali lagi wajah yang mulai keriput itu dengan seksama. 'Aku melupakannya. Bi Sumi ahli pengobatan tradisional. Aku bisa seperti sekarang ini, karena dia. Ya, karena Bi Sumi yang sudah mengajari Mia tentang pengobatan!'
Garra merogoh Hpnya.
__ADS_1
"Ang, panggil Dokter yang menangani Mia. Suruh menemui ku , Sekarang!"
__________________