Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Ang, mulai gila!


__ADS_3

Masih di hari yang sama namun di tempat yang berbeda, terlihat Sekretaris Ang memasuki mobilnya dan Yuri segera menyusul setelah berpamitan pada kedua orang tua nya dan Jihan.


Setelah membantu acara pindahan keluarga Yuri dan tentu nya sekretaris Ang sudah memastikan keadaan baik untuk keluarga Kuncoro itu, mereka memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Tuan muda mereka.


Sekretaris Ang mulai menjalankan mobilnya setelah melirik Yuri sudah duduk dengan nyaman di sebelah jok nya.


"Ah... akhirnya berasa lega sekali. Ayah dan ibu seperti nya sudah mau sadar akan kesalahannya. Tapi Jihan , seperti nya belum mau berubah." ucap Yuri merentangkan tangan nya.


Menoleh kesamping, yang di toleh sama sekali tak menggubris. Tersenyum saja pun tidak.


"Tuan Sekretaris, anda tidak mendengar saya bicara?"


"Oh, kau sedang berbicara padaku?"


"Anda pikir dengan siapa hah! Memang ada orang lain di dalam mobil ini selain anda dan saya?" ucap Yuri, kesal.


"Ya, siapa tau kau sedang curhat pada diri mu sendiri."


"Menyebalkan... Seperti bukan orang hidup saja." Melengos, Yuri lagi lagi memilih untuk melihat ke samping mengintip jalanan yang ramai dengan pengguna jalan yang lain.


Yuri menatap gedung gedung yang tinggi menjulang.


"Tuan, apa anda tidak ada keniatan untuk mengajak ku jalan jalan dahulu. Makan atau ke Mall lagi mungkin. Mumpung kita sedang di luar. Besok dan hari seterusnya anda pasti tidak akan ada waktu seluang ini." lagi lagi Yuri mengajak bicara sekretaris Ang.


Yang di ajak bicara tetap tidak menjawab. Melainkan fokus saja untuk menyetir.


Yuri semakin kesal, menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.


"Dasar batu es! Seperti sedang berada di dalam taksi saja."


"Apa? Kau menyamakan aku dengan sopir taksi?" kini sekretaris Ang bersuara.


"Itu tau. Keadaan seperti ini mengingatkan saya saat menaiki sebuah taksi. Tanpa ada obrolan dengan sang sopir selain memberitahu alamat."


Sekretaris Ang tersenyum mendengar ucapan Yuri. 'Kenapa bocah ini terlihat sangat menggemaskan saat cemberut begitu sih.'


Lalu sekretaris Ang membelokkan mobilnya ke sebuah Mall dan berhenti di sana.


"Kenapa berhenti di sini? Tuan sekretaris mau shoping dulu?" Yuri menoleh.


"Katanya tadi mau ke Mall. Baiklah kalau tidak jadi." sekretaris Ang kembali menghidupkan mobilnya.


"Eh iya iya. Jadi kok. Ayo ayo." Yuri sumringah dan segera turun dari mobil setelah sekretaris Ang turun dahulu.


Yuri melangkah, namun segera berhenti dan menoleh pada sekretaris Ang yang masih diam di tempat.


"Ayo!! Kok diam di situ." seru Yuri.


"Yang ingin shoping kan dirimu. Aku tunggu di sini saja. Cepat lah. Ini sudah sore."


"Mana mungkin..!! Saya kan tidak punya uang. Anda ingin saya meminta minta atau mencuri di dalam sana hah???" jerit Yuri.


Sekretaris Ang menghela nafas , lalu melangkah.

__ADS_1


"Sudah bisa ku tebak. Kau ini hanya ingin memoroti dompet ku saja." ucap sekretaris Ang mendahului Yuri.


Yuri tersenyum menang, tak peduli ucapan sekretaris Ang. Menyusul langkah lebar pria itu.


"Tuan sekretaris, mesra sedikit kenapa? Seperti sedang berjalan dengan majikan kalau begini." protes Yuri yang tertinggal beberapa langkah di belakang.


Sekretaris Ang berhenti, lalu menoleh.


"Kau lupa status mu?"


"Tidak! Saya ini pelayan Nyonya muda. Tapi anda tidak lupa juga kan, kalau saya ini adalah Adik Nyonya muda yang artinya adik ipar Tuan muda Garra. Majikan Tuan sekretaris." menunjuk dada sekretaris Ang.


Merasa kalah telak , sekretaris Ang mendengus.


"Baiklah. Kau menang." sahut Sekretaris Ang.


"Kau ingin aku menggandeng mu?"


Yuri segera mengangguk.


"Tidak masalah!" sekretaris Ang segera meraih lengan Yuri dan kembali melangkah.


"Tuan sekretaris. Anda sedang memperlakukan saya sebagai anak anda? Bukan begini juga.?"


Ang kembali menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau ini bawel sekali sih.? Sebenarnya ngidam apa ibu mu saat mengandung mu?"


"Tidak mau! Kalau begitu biar saya saja yang menggandeng mu." Yuri melepaskan tangan Sekretaris Ang dan melingkarkan satu tangan nya ke pinggang pria itu.


Lagi lagi Ang hanya bisa menahan nafas, lalu membiarkan Yuri sesuka hatinya.


"Tuan, lihat itu. Kita ke sana yuk!" ucap Yuri melepaskan lingkaran tangan nya dan kini menggenggam erat tangan sekretaris Ang untuk melangkah ke tempat yang ia tunjuk tadi.


"Kau mau apa? Cepat lah. Keburu aku bosan nanti." ucap sekretaris Ang.


Yuri melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Sekretaris Ang dan langsung menyerbu pemandangan yang sedari tadi sudah membuat mata dan tangan nya gatal itu. Lalu dengan cepat memilih barang barang yang ia inginkan.


Setelah merasa puas dengan apa yang sudah di tangan nya , Yuri menghampiri pria es batu tadi.


Sekretaris Ang merogoh dompetnya, mengeluarkan kartu kredit milik nya dan memberikan nya pada Yuri.


"Bayar sendiri, aku menunggu mu di mobil."


Yuri dengan senang hati menerima benda itu, lalu melangkah ke arah kasir.


Setelah pembayaran dengan kartu kredit milik Sekretaris Ang selesai, Yuri segera keluar menyusul sekretaris Ang.


Yuri celingukan mencari cari keberadaan sekretaris Ang.


"Yuri!" suara sekretaris Ang memanggil di ujung sana, di depan sebuah rumah makan yang terletak tepat di samping Mall itu.


Yuri berlari kearah sekretaris Ang.

__ADS_1


"Kenapa anda di sini Tuan. Mobil kita kan di sana?"


"Aku lapar." jawab Ang, langsung saja melangkah masuk. Tentu saja Yuri segera mengekor.


Sekretaris Ang memilih sebuah meja. Menarik kursi kemudian duduk. Yuri pun melakukan hal yang sama.


Tak lama makanan lezat sudah tersaji. Tanpa berbicara sepatah pun Sekretaris Ang melahap makanan nya.


Yuri tak mau ketinggalan, ' Mumpung ada kesempatan?'


Lalu menunduk untuk menikmati makanan di piring nya. Sampai terdengar suara sekretaris Ang bertanya.


"Apa yang kau beli tadi?"


"Anda ingin melihatnya?" Yuri bersemangat mengangkat kantong yang dari tadi di bawa nya itu.


"Tidak tidak. Aku hanya sekedar bertanya."


"Oh. Tapi saya membelikan sesuatu untuk anda tuan sekretaris??"


Sekretaris Ang mendongak, tanpa menyahut.


"Boleh pinjam Hp anda Tuan?"


Entah kenapa sekretaris Ang menurut saja. Mengulurkan Hp miliknya pada Yuri yang langsung menerima nya.


Sekretaris Ang rupanya penasaran dengan apa yang akan di lakukan Yuri pada Hp nya.


Yuri mengambil sesuatu yang ia beli dari Mall tadi. Sepasang aksesoris Hp. Lalu menempel kan salah satu aksesoris itu pada belakang Hp sekretaris Ang. Dan menempelkan yang satu nya lagi ke Hp nya sendiri.


Kemudian mendekatkan kedua hp itu.


Muncul lah sinar kelap kelip dari kedua Hp itu. Yuri girang.


"Lihat Tuan. Bagus sekali kan? Ini akan menyala ketika di dekatkan dan akan padam jika di jauhkan. So Sweet sekali. Kita sekarang layak sebagai pasangan kekasih yang romantis dengan aksesoris Couple ini." ucap Yuri kemudian menyerahkan kembali hp milik Sekretaris Ang yang langsung mengantongi kembali tanpa melirik sedikit pun.


"Pasangan kekasih apa? Yang ada seperti Abg labil saja." ketusnya.


Yuri merengut. " Tidak tau terimakasih! Aku kan hanya ingin romantis?"


"Cepat lah makan mu itu. Tuan muda sudah mengirimi ku pesan." Sekretaris Ang meneguk minuman nya lalu bangkit.


"Aku menunggu di mobil." lalu beranjak.


Dengan bersungut sungut, Yuri menghabiskan sisa makanan nya.


Sambil melirik punggung pria es batu yang semakin menjauh itu.


Sekretaris Ang menghampiri mobil nya dan masuk. Duduk menyandarkan punggung nya di jok . Lalu merogoh Hp nya. Mengamati benda kecil berbentuk bintang yang menempel di Hp nya itu.


Tersenyum sendiri.


"Kau benar Tuan Muda. Ternyata aku sudah mulai gila. Sesenang ini hati ku hanya karena benda seperti ini."

__ADS_1


Sekretaris Ang memutar mutar Hpnya.


_______________


__ADS_2