Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Judul nya , Kerang ijo.!


__ADS_3

Cerah, begitu cerah langit ini. Hanya beberapa titik awan putih terlihat bergantung. Terik matahari pun terasa begitu menyengat kulit. Itu keadaan di luar rumah Keluarga Mahendra. Namun di dalam sana, didalam kamar Garra, terasa kehangatan mengalir di antara sepasang suami istri yang semalam baru saja mengalami gagal belah duren.


Kedua nya terlihat saling menatap penuh kehangatan, berbalut gaun putih dengan model yang tidak terlalu terbuka pilihan Garra. Di tambah dengan paduan makeup yang tidak lagi setipis semalam, karena hari ini Mia bermake-up di bantu oleh mbak Endang sang pelayan pribadi Mia. Mia tampak begitu manis dan semakin menggemaskan.


Ya, pagi tadi mbak Endang selaku pelayan wanita lama di rumah itu resmi di angkat oleh Garra sebagai pelayan pribadi Nyonya Muda Mahendra alias Mia, dengan gaji tiga kali lipat dengan syarat harus menjadi pelayan yang baik dan dapat di andalkan, jika tidak maka hukuman nya adalah, Pecat!


Menurut Garra, Mia memang harus memiliki pelayan khusus untuk membantu nya dalam segala hal yang tidak di mengerti nya, segala hal kecuali... Hal membuat cicit. Karena urusan itu adalah mutlak urusan Garra saja tentunya.


Garra pun tak ingin di bilang tidak serasi dengan wanitanya, memilih kemeja berwarna putih juga yang di kenakan tanpa dasi. Dengan ciri khas lengan baju di gulung sampai siku dan dua kancing atas di biarkan terbuka.


Benar benar nampak serasi dan cocok mereka berdua.


Hari ini Garra menepati janjinya, janji mengajak Mia jalan jalan.


Tak tanggung tanggung, sebuah restoran seafood besar di kawasan Kebon Kelapa kecamatan Gambir Jakarta pusat


benar benar di Booking nya dengan menyuruh sekretaris Ang yang mengurus segala sesuatu nya agar berjalan sempurna. Nama Restoran nya < kalau tidak salah ya benar berarti >, Pondok Laguna. Restoran seafood terbaik yang menyajikan makanan laut dari masakan mewah hingga masakan klasik.


[Hahaha.. malah promo. Tapi ngomong ngomong ada yang pernah kesana tidak?? Author juga nih, belum pernah ke sana, cuma pernah lewat didepan nya aja menikmati dari jauh.. Jadi mengenang masa masa di perantauan.]


Oke, lanjut.


Garra nampak melangkah keluar pintu depan dengan Mia berjalan di sampingnya, tangan kedua nya saling terpaut satu sama lain.


Sekretaris Ang sedikit berlari, segera membuka kan pintu mobil untuk mereka. Lalu naik di kursi depan berlaku sebagai sopir. Sempat melirik kebelakang dengan menggunakan kaca kecil di depan nya. Melirik tuan muda nya yang sudah duduk manis bersama sang istri tidak pintar nya itu.


Setelah memastikan kedua penumpang di belakang nya duduk dengan nyaman, Sekretaris Ang mulai menghidupkan mesin mobil.


Mercedes warna putih itu melaju dengan tidak terlalu cepat ke arah tujuan. Sengaja Sedikit melamban karena sengaja ingin memberi kesempatan pada Mia agar bisa menikmati perjalanan nya menuju restoran.


Tapi ternyata Mia sama sekali tidak menikmati perjalanan itu. Padahal di luar pemandangan begitu indah. Gedung gedung menjulang tinggi, dan mereka sempat melewati beberapa taman kota yang bagus. Mia tidak melirik keluar sedikit pun, pikiran dan kepala Mia saat ini ternyata hanya di penuhi oleh bayangan kerang ijo yang menumpuk di dalam sebuah mangkok.


Sementara Garra, terus menoleh kesamping kearah Mia, menatap wajah Mia yang begitu manis.


Sadar jika terus di tatap Mia pun menoleh dan bertanya.


"Bang Garra kenapa terus melihat ku? Apa ada yang salah ya dengan make-up nya?"


"Tidak Mia ku, kau terlihat sangat cantik." jawab Garra.


Mia langsung menunduk, tersenyum. Senyum senyum malu. Mia tersipu.


"Seperti tidak percaya di katakan cantik.Bang Garra adalah orang kedua yang mengatakan jika saya cantik." ucap Mia.


Deg...!! Hati Garra seketika terkejut mendengar Mia mengatakan jika dia adalah orang kedua yang mengatakan jika Mia cantik. 'Berarti, aku bukan orang pertama yang mendekati Mia. Lalu Siapa orang pertama yang pernah mendekati Mia? Brengsek..!! Beraninya orang itu mendekati Mia ku.' gumam Garra, memaki orang pertama yang sudah memuji Mia.


Garra menahan kesalnya, lalu mencoba menanyai mia karena rasa penasaran nya.


"Mia.. memang nya sebelum aku, Mia pernah dekat dengan pria lain?"


"Tidak." Mia menggeleng.


"Oh,.. Maksudnya adakah seorang pria yang pernah menyukai mu?"


Mia tertawa ringan. " Mana ada. Jangan kan pria, wanita saja tidak ada yang menyukai ku." jawab Mia.


"Yang menyatakan cinta padamu? Misalnya pria itu tiba tiba mengatakan jika aku menyukaimu Mia, aku mencintaimu Mia. Atau mengatakan, kau cantik Mia.? Ada?" Garra kembali bertanya.


Dan Mia kembali menggeleng.


"Selain Bang Garra tidak ada kok. Bang Garra satu satu nya pria yang pernah bilang mencintai ku, menyayangi ku dan akan memberikan cinta serta kasih sayang nya padaku. Dan satu satunya pria yang mengatakan jika aku cantik." jawab Mia dengan sebenar benarnya.


"Kau bilang tadi aku adalah orang kedua yang mengatakan kalau kau cantik? Bagaimana sih??"


"Memang iya, bang Garra memang orang yang kedua."


"Mia...!! Lalu siapa orang pertama yang memuji mu? Yang mengatakan jika kau cantik..? Bilang padaku Mia. Beritahu aku!!" ucap Garra dengan nada kesal.

__ADS_1


"Kok bang Garra marah?" Mia jadi takut melihat Garra dengan wajah kesal, Mia menggeser duduknya sedikit menjauh.


"Aku tidak marah Mia.. cuma mau tau saja, siapa yang sudah memuji mu sebelum aku. Yang mendahului aku?" ucap Garra menyesal, menurunkan nada nya.


"Ayo coba beritahu aku." Garra masih saja bertanya karena memang masih penasaran.


"Bang Garra mau marah padanya?"


"Tidak Mia... Memang siapa?" kembali bertanya , kali ini dengan nada merayu mirip seperti sedang bicara pada anak kecil.


"Bu Asri."


Glubrak...!!!


Sekali lagi, Garra menjerit dalam hati.


'Aaarhhg.. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau cuma Bu Asri... Menghabiskan waktu dan energi ku saja. Gila... aku benar-benar hampir gila di buat Mia..!!'


'Ingat Garra, hayo ingat... istrimu tidak pintar.' akhirnya menasehati diri sendiri.


Sekretaris Ang, tidak luput juga, terkikik menahan tawa yang hampir saja meledak. Beruntung dengan sekuat tenaga sekretaris Ang masih mampu menahan tawanya.


'Tuan muda yang kurang pintar vs nona muda yang tidak pintar. Pehhh... cocok! Ngakak njir..!' hati Ang.


Mia menoleh kembali pada Garra, ingin memastikan apa Garra masih berwajah kesal.


"Bang Garra tidak marah kan sama Bu Asri? Bu Asri pernah berkata jika aku cantik ketika aku memakai kebaya putih sewaktu kita akan menikah dulu. Itu saja." Mia menjelaskan.


Garra tersenyum, menutupi malunya.


"Tidak sayang. Kenapa mesti marah. Yang di kata kan Bu Asri itu benar adanya. Istriku ini memang cantik kok." jawab Garra , meraih tangan Mia dan menciumi nya. Mia semakin tersipu di buat nya.


Semua kembali terdiam, melanjutkan pikiran mereka masing masing.


Setelah cukup lama di perjalanan, Sekretaris Ang menghentikan mobil nya di depan restoran yang sudah mereka booking itu.


Dan menggandeng nya hati hati untuk melangkah.


Mia menurut, melangkah di samping Garra dengan tangan merengkuh kuat di pinggang Garra. Tidak bisa lepas walau sudah mencoba, karena Garra sudah mengunci tangan Mia. Sementara tangan Garra yang satunya menahan wajah Mia dengan merengkuh bahunya.


"Jangan tengok ke sana kemari Mia! Tatap ke depan saja. Menoleh hanya padaku saja." bisik Garra. Mia hanya mengangguk, padahal mata Mia sudah gatal ingin melihat sekeliling restoran mewah itu.


Mereka terus melangkah, meninggalkan sekretaris Ang sendirian di luar menunggu mobil.


Sebelum berangkat tadi, Garra sudah berpesan pada sekretaris Ang.


"Jangan ikut masuk. Tidak perlu ikut makan. Tunggu di luar saja. Kencan pertama ku ini , aku tidak mau di ganggu oleh siapapun."


"Siap tuan muda. Semoga sukses!" jawab Ang, penuh kepatuhan.


Padahal dalam hati menjerit. 'Pingin...!!'


Mereka kini sudah sampai di depan restoran itu, dan segera di sambut oleh beberapa pelayan dengan pakaian rapi khas restoran Mereka. Semua langsung menunduk hormat.


"Selamat datang Tuan muda Mahendra dan Nyonya muda Mahendra. Mari silahkan." satu pelayan memandu mereka pada sebuah meja panjang yang sudah penuh dengan makanan seafood.


Garra menarik kursi untuk Mia.


Setelah mereka duduk, beberapa pelayan dengan sigap menghampiri untuk siap melayani.


Seorang pelayan segera meraih piring untuk Garra. Tapi Garra segera mencegah nya.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


Pelayan itu tersenyum, menarik tangan nya, lalu beralih pada piring di hadapan Mia.


"Eh, biar aku saja. Aku yang biasa melayani istri ku sendiri." cegah Garra kembali.

__ADS_1


Pelayan itu kembali menarik tangan sambil menunduk hormat. Dalam hati ' Sungguh suami idaman banget'z...!!'


"Kalian semua, pergilah. Biarkan kami berdua saja. Aku akan memanggil jika membutuhkan bantuan." usir Garra. Benar benar tidak ingin ada orang lain di ruangan itu.


Garra menoleh pada Mia yang masih memutar bola matanya. Mia merasa heran, kenapa restoran seafood sekeren ini bisa sepi pengunjung.


"Mia.. apa yang kau lihat? Ayo makan."


"Bang Garra.. Restoran besar seperti ini kenapa tidak ada pengunjung selain kita berdua. Jangan jangan makanannya tidak enak." Mia asal menebak.


"Jelas saja tidak akan ada pengunjung lain yang datang kemari. Tempat ini sudah bang Garra Booking." jawab Garra.


"Booking..?"


"Iya.. Booking itu memesan khusus. Hari ini aku sudah memesan restoran ini, khusus hanya untuk kita berdua. Mia paham?"


Mia mengangguk, sekali ini Mia langsung paham rupanya.


"Syukur lah.. Ayo makan.. Lihat lah, banyak sekali mahluk laut di sini. Ada cumi, ada kepiting, lobster, ada jenis jenis ikan. Tuh.. Lihat.. Gurita nya gede banget..Mia katanya mau makanan seafood kan? Ayo ayo..!" Garra malah yang sangat bersemangat.


Mia melihat, memeriksa seluruh makanan itu dengan seksama. Lalu mendengus kecewa.


"Kenapa tidak ada kerang ijo nya. Masa iya, Restoran semewah ini tidak menyajikan kerang ijo. Padahal kerang ijo sangat populer lho." protes Mia, lagi lagi membuat Garra hampir putus asa.


"Mia.. kerang ijo itu bukan menjadi salah satu seafood yang terkenal di restoran ini. Jadi tidak ada di sini. Tuh sebagai gantinya kerang yang lebih gede ada. Mia mau itu?" bujuk Garra dengan sabar.


Mia menggeleng. Raut wajah Mia terlihat begitu kecewa. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan kemari, Mia sudah membayangkan kerang ijo. Dan kenyataan nya malah membuat kecewa. Kerang ijo yang di dambakan Mia ternyata tidak tersedia.


Melihat wajah kecewa Mia, Garra jadi merasa bersalah. Kenapa tidak mengatakan pada Ang untuk menyuruh restoran ini menyiapkan kerang ijo dambaan Mia.


Garra menghela nafas,


"Ya sudah, nanti sepulang dari sini kita cari kerang ijo ya..?" bujuk Garra lagi.


"Janji..?"


"Emmm." sahut Garra,


"Tapi ngomong ngomong, di mana kita bisa menemukan kerang ijo itu Mia..?" tanya Garra.


"Pasar impres bang Garra?" jawab Mia.


"Pasar impres?" Garra seperti pernah mendengar, tapi tidak paham.


"Iya, pasar yang biasa buat aku belanja sayuran dulu itu. Pademangan Utara lho. Masa tidak tau. Kan dulu pernah kesana nyamperin Mia."


"Oh, iya iya. Ingat. Memang ada di sana??"


"Banyak,. Mia sering melihat Amang Amang jualan di pinggir jalan. Di dorong pake gerobak." jawab Mia. Anteng tanpa dosa.


'Astaga Mia.. makanan begitu di dambain.' Garra menggeleng kepala. Tapi pasrah saja.


"Baiklah, nanti kita kesana. Kita beli. Kita borong se'gerobak gerobak nya. Sekarang makan yang ini dulu." Garra mengambil udang besar dan mengupasnya. Lalu menyuapkan pada Mia. Mia mangap saja. Menguyah.


"Enak??" tanya Garra sambil menyuap mulutnya sendiri juga.


"Enak. Mau lagi." sajut Mia, ketagihan.


Garra tersenyum, kembali mengupas udang itu, tidak perduli tangan nya mau penuh sambel ,saos dan kecap. Asal Mia senang saja.


Dan akhirnya, makan siang mereka di restoran seafood Pondok Laguna berjalan lancar penuh kebahagiaan.


Setelah ini, Garra akan mengajak Mia jalan jalan dan selanjutnya akan mengantar Mia ke rumah Gani Kuncoro, ayah Mia.


bersambung.....!!!


Rahasia!

__ADS_1


Selamat mengakak Ria!....


__ADS_2