
Di Taman belakang rumah Mahendra,
"Ara…!" Pemuda yang sudah lulus SMA dan kini sudah berada di bangku fakultas itu berteriak memanggil gadis kecil berpipi chubby itu.
Yang dipanggil pun berlari menyongsong kedatangannya dengan ceria.
"Kak Mig."
Pemuda yang tak lain adalah Rayyan Miga itu langsung menyambar tubuh mungil itu ke gendongannya.
"Adik cantikku, kenapa disini? Kakak mencari mu!"
Yura kecil menyandarkan kepalanya dengan manja di dada pemuda yang membawa tubuhnya masuk kedalam rumah itu.
"Apa kau sedang marah?" Menaruh tubuh kecil itu di sofa.
"Apa kak Mig membawakan Ara es krim hari ini?"
Rayyan tersenyum.
" Ara tidak boleh memakan es krim." Sahut Rayyan.
"Ara hanya ingin es krim sesekali saja. Tapi kenapa tidak boleh?" Protes Yura.
"Karena Ara akan demam setelah memakannya.
Sebagai gantinya bagaimana jika Kak Mig akan mengajakmu jalan jalan nanti malam! Nanti malam, malam Minggu kan?"
Wajah itu langsung sumringah.
"Benar?"
"Ya benar. Sekarang kak Mig antar Ara ke kamar ya?" Rayyan memasang punggungnya yang langsung disambut oleh Yura.
"Tuan muda!" Yuri berlari kecil menghampiri Rayyan yang sedang berjalan menggendong Yura di punggungnya.
"Anda menemukan Yura dimana?"
"Di taman belakang."
Yuri membukakan pintu kamar Ara.
"Dia marah karena meminta es krim sejak kemarin."
"Bibi tenang saja. Rayyan sudah membujuknya." Sahut Rayyan menurunkan Yura di kasur.
Yuri hanya diam, menatap Rayyan yang dengan sangat manis membelai rambut Putrinya.
"Ara tidak mau dengan ibu kak. Ara mau dengan kak Mig saja." Teriak Yura dengan tatapan kekecewaan pada sang ibu.
"Sebaiknya bibi istirahat saja, biar Rayyan yang menemani Ara."
Yuri hanya mengangguk dan tidak berani membantah, meninggalkan Rayyan bersama Putrinya.
"Ara." Rayyan merebahkan tubuh Yura kecil dan memeluk hangat.
"Dengar kak Mig. Fisik Ara itu lemah. Ara tidak boleh membantah ibu. Kami melarangmu karena kami semua sangat menyayangimu." Bisik Rayyan.
"Kak Mig. Apa Ara bukan anak kandung ibu? Apa Ara bukan asli bagian dari keluarga ini?" Yura menoleh pada Rayyan yang ada di belakang tubuhnya.
"Kau bicara apa sih?"
"Ara itu berbeda dengan kalian. Ayah ibu, Aunty dan Uncle juga kak Mig, memiliki tubuh yang sehat. Kak Mig juga sangat pintar. Lalu Ara. Lihatlah. Ara gampang sekali sakit. Ara juga bodoh!"
"Hus!" Rayyan langsung menutup mulut Yura.
"Kau itu anak kandung Ibumu. Apa kau tau? Kami sudah sangat lama menanti kehadiranmu. Jadi jangan membuat kami sedih. Tuhan memang sudah memberimu keadaan seperti ini. Kita tidak boleh mengeluh." Ucap Rayyan.
"Ara tenang saja, ada kak Mig yang akan menjagamu seumur hidupku."
"Sampai kak Mig punya pacar?"
__ADS_1
Rayyan tersenyum.
"Sampai kak Mig nanti menikah?" Yura kembali bertanya.
"Tentu saja. Kak Mig tidak akan menikah."
"Sampai tua?"
"Hahaha.. iya benar. Kak Mig akan bersama Ara sampai tua."
Gadis kecil itu tersenyum senang lalu memeluk Rayyan dengan erat.
"Tidurlah sebentar. Nanti malam kak Mig akan mengajakmu jalan jalan."
Yura segera menurut. Melepaskan pelukannya dan memejamkan matanya.
Rayyan menarik selimut. Mengusap ngusap punggung gadis kecil itu dengan lembut. Setelah memastikan Yura tertidur Rayyan baru beranjak.
Melirik kembali Yura.
"Aku tidak akan menikah dengan siapa pun Ara, selain denganmu. Karena kau adalah calon pengantinku kelak!" Bisik Rayyan kemudian melangkah meninggalkan kamar Yura.
"Tuan Muda!"
"Bibi. Kau tidak perlu khawatir. Ara sudah tidur." Ucap Rayyan pada Yuri yang berdiri di pintu.
Yuri hanya mengangguk menatap langkah pemuda tampan itu yang meninggalkannya, lalu mengintip Putrinya yang sudah terlelap di balik selimutnya.
Malam pukul Tujuh.
Rayyan dengan sigap membukakan pintu. Membopong tubuh kecil Ara turun dari mobil. Kemudian menuntunnya masuk ke sebuah wahana permainan.
"Ara mau main apa?"
"Ara ingin naik itu." Menunjuk sebuah Kereta jalan.
"Ah, baiklah. Tapi hanya boleh sebentar."
Yura mengangguk dan berlari kecil menghampiri kereta itu.
"Kak Mig! Ara bisa sendiri. Jangan ikut naik. Ini kan hanya untuk anak anak!" Protes Yura melihat Rayyan sudah duduk di sampingnya.
"Tidak bisa Ara. Kak Mig harus menjagamu." Rayyan menggenggam erat tangan Yura ketika kereta itu mulia berjalan berputar.
"Sudah kita turun!"
"Sekali putaran lagi ya?" Yura merengek.
"Tidak bisa Ara. Kau akan lelah!" Rayyan tak menggubris rengekan Yura, segera membopong tubuh itu dan membawanya menjauh dari kereta.
"Kau mau itu?" Menunjuk sebuah kembang gula yang besar.
Yura dengan senang mengangguk.
"Tunggu disini sebentar. Kakak akan membelinya untuk mu." Rayyan mendudukkan Yura di bangku dan ia bergegas membeli kembang gula atau kembang kapas yang ada di ujung sana.
"Ray..!" Beberapa pemuda dan perempuan menghampiri Rayyan.
"Hai.. kalian disini juga?" Sapa Rayyan pada mereka.
"Tentu saja. Ini kan malam Minggu." Jawab seorang teman wanita Rayyan itu.
"Kau ternyata malam mingguan juga ya? Kenapa menolak ku saat aku mengajakmu kemarin?" Tanya Renata.
"Aku pergi bersama gadis kecilku!" Jawab Rayyan menunjuk Yura yang sedang menatapnya tidak jauh dari mereka disana.
"Kau menghabiskan malam Minggu bersama adikmu lagi?" Tanya teman laki lakinya.
"Dia bukan adikku! Sudah ku bilang berkali kali pada kalian, dia bukan adikku!" Jawab Rayyan.
"Ray..! Kalau bukan adikmu lalu siapa?"
__ADS_1
"Dia calon istri ku! Wajar saja kalau aku akan keluar hanya bersamanya!"
"Kau benar benar sudah gila Ray! Dia itu bahkan masih kelas empat SD!" Teriak Claudia.
"Memang kenapa? Ada masalah? Aku yang akan menjalani nya kenapa kau yang sewot?"
"Kau sudah gila Ray. Kau menolak ku berkali kali hanya demi anak ingusan yang belum tau apa apa itu?" Claudia mendekat.
"Kau berani mengataiku gila?" Rayyan melototi Claudia.
"Bagaimana aku tidak mengataimu Gila? Dia itu adikmu sendiri!"
"Yura Sebantian. Dia Putri Tuan Anggara! Bukan Putri Tuan Garra Mahendra! Kau lupa? Jadi dia bukan adik kandungku!" bantah Rayyan.
"Tapi dia itu masih kecil Rayyan? Seperti tidak ada wanita dewasa lainnya?" Claudia pun ngotot.
"Kau ini. Suatu saat nanti dia juga dewasa Claudia! Seperti mu , seperti kita! Jangan mengganggu kami!" Rayyan segera pergi meninggalkan mereka yang bengong.
"Rayyan.. Dasar gila!" Claudia meneriaki Rayyan yang tetap melangkah menghampiri Yura.
Teman teman Claudia terbahak menertawakan Claudia yang kesal.
"Kasian sekali! Kalah bersaing dengan anak SD." ledek mereka.
"Itu karena Rayyan bukan pria waras! Percuma sekali aku mendekatinya. Dasar tidak waras!" umpat Claudia.
"Rayyan bukan tidak waras. Tapi ingin menepati janjinya. Dia pernah bilang padaku, jika bibinya melahirkan bayi perempuan maka dia akan menikahinya kelak setelah dewasa. Rayyan laki laki sejati yang memegang janji!" sahut salah satu pria.
Claudia semakin mendengus kesal.
"Kau tidak perlu terlalu cemas Clau! Anak itu masih kecil. Menunggu dewasa juga masih butuh sepuluh tahunan lagi. Jadi kau masih punya banyak kesempatan untuk menaklukkan hati Rayyan." ucap Teman perempuannya.
Claudia hanya bisa mengangguk, sambil menatap Rayyan yang sudah kembali membopong Yura ke mobilnya.
"Kak Mig! Kakak cantik itu siapa? Sepertinya marah padamu? Apa dia pacar kak Mig?" tanya Yura sesaat setelah Rayyan mendudukkannya di dalam mobil.
"Dia hanya teman kak Mig."
"Cantik kak ya? Kak Mig tidak menyukainya?"
Rayyan menoleh, kemudian membelai wajah Yura. Menyelipkan rambut hitam milik Yura dibalik telinga.
"Gadis yang paling cantik di dunia ini hanyalah Yura Sebastian! Tidak ada yang lain lagi." ucap Rayyan.
Yura kecil tersenyum senang mendengar itu. Rayyan pun menjalankan mobilnya pelan. Melirik Yura yang sedang asyik menyantap Kembang gula besar ditangannya.
"Jangan dihabiskan!"
"Tidak apa apa , sekali ini. Ibu tidak melihatnya ini." bantah Yura tetap asyik menyantap.
"Kak Mig!"
"Em!" Rayyan menoleh.
"Apa kakak akan berhenti menemaniku setelah punya pacar?"
Rayyan tersenyum.
"Harus berapa kali kak Mig bilang pada Ara, kak Mig tidak akan punya pacar!"
"Tapi kan kak Mig harus menikah? Seperti Ayah dan Ibu juga Aunty dan Uncle?"
"Aku akan menemanimu sampai kau Tua! Sudah! Jangan bertanya seperti itu lagi!"
Yura pun terdiam, hati kecilnya senang mendengar janji kak Mig nya.
Sementara Rayyan sendiri, hatinya pun merasa bahagia dan puas karena merasa bisa menjaga sepenuhnya calon pengantinnya kelak!
________________
Catatan :
__ADS_1
Cerita ini sudah memasuki Part 2 dengan judul I Love You Dik! [ Tuan Muda Posesif ]
Kisah cinta yang akan berbeda dan pastinya akan terlarang dari kedua orangtuanya!