Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Sekali lagi. Selamat sekretaris Ang!


__ADS_3

Walau harus dengan bolak balik, pagi sebelum berangkat ke kantor lalu sore hari sepulang dari kantor sekretaris Ang harus singgah dulu ke Rumah Mertuanya demi melihat istri kecilnya itu. Hingga sampai hampir tengah malam, baru akan pulang. Kembali meninggalkan istrinya di sana.


Sekretaris Ang mampu juga menjalaninya, meski tidak dipungkiri jika itu sungguh sangat menyiksanya. Jika di suruh memilih, Sekretaris Ang lebih memilih di gebukin rame orang, dari pada harus menanggung siksa hati yang memberinya tekanan luar biasa baginya itu.


Pada akhirnya seminggu berlalu sudah, di ujung penantian Sekretaris Ang bertepatan dengan masa menstruasi Yuri yang sudah berakhir tuntas.


Dengan saling memeluk erat keduanya bertemu di pagi itu yang kebetulan memang akhir pekan.


Sesudah berpamitan dan mengucapkan berkali kali maaf dan terimakasih pada kedua mertuanya, Sekretaris Ang mengangkat tubuh Yuri untuk membawanya ke mobilnya. Di penuhi gelak kemenangan mereka. Sekertaris Ang tidak lagi malu ketika menggendong Yuri dari hadapan mertuanya hingga ke mobil.


Mereka yang di tinggal pun melepas sepasang pengantin baru itu dengan senyum kebahagiaan.


"Hati hati ya!! Bahagia selalu!! Jangan lupa sering sering menengok kami!" teriak Tiara.


Yuri hanya melambaikan tangannya dari balik pintu mobil kearah mereka.


Sekretaris Ang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menoleh sesekali pada istrinya dan sesekali meraih tangan Yuri untuk sekedar membawanya pada bibirnya.


Sekretaris Ang tidak langsung membawa Yuri pulang ke Apartemennya melainkan ke Rumah sakit, dimana di sana Dokter Sinta sudah menunggu mereka. Sudah membuat janji dengan sekretaris Ang tanpa peduli jika hari ini adalah hari libur.


Dokter Sinta langsung menyambut sendiri kedatangan mereka tanpa perantara. Kemudian membimbing Yuri masuk keruangan dan meminta sekretaris Ang untuk menunggu sebentar.


Bukan sekretaris Ang jika akan tenang dengan situasi seperti itu. Berjalan mondar mandir dengan gelisah. Kemudian duduk, mengaitkan jari jemarinya sendiri dan menaruhnya tepat di depan mulutnya.


Cepat menoleh, ketika Dokter Sinta membuka pintu. Tanpa di panggil pun sekretaris Ang menghampirinya sendiri.


"Bagaimana hasilnya?" langsung bertanya.


Dokter Sinta tersenyum, mempersilahkan Sekretaris Ang untuk masuk terlebih dahulu.


Sekretaris Ang gusar, menatap Yuri yang masih berdiri tanpa duduk di sisi ranjang kecil yang ditaruh dibalik tirai yang terbuka.


Lalu berganti menatap Dokter Sinta yang sudah duduk di kursi khususnya sambil membuka selembar kertas dengan sebuah alat Tes Pack di sisi kertas itu.


"Apa hasilnya?" kembali bertanya. Mendekat, menarik kursi tapi tidak mendudukinya.


Dokter Sinta tersenyum tipis, mengangguk samar. Lalu berdiri. Membuat sekretaris Ang semakin gusar saja.


Tidak di sangka dokter Sinta mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Sekretaris Ang. Dengan ragu dan pelan sekretaris Ang menyambut jabatan tangan dokter Sinta.


"Selamat Tuan Sekretaris!"


"A..Apa..??" terbata.


"Selamat!" sekali lagi Dokter Sinta mengucapkan kata selamat, belum juga melepaskan jabatan tangannya.


"Maksudnya apa???" membentak, menarik tangannya dengan kasar.


"Mohon maafkan saya Tuan. Sebenarnya, saya tidak tau apakah benar jika saya mengucapkan selamat kepada anda." menjeda kalimat, membuat sekretaris Ang semakin risau.


Melihat wajah pria itu mulai berubah pias Dokter Sinta tersentak dan cepat melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Selamat Tuan. Nyonya Ang, Negatif hamil!"


"Hah! Apa?? Ulangi sekali lagi??"


"Ya. Semua tes membuktikan jika Nyonya Ang, benar benar tidak hamil!"


Wajah sekretaris Ang yang tadi sempat pias, mendadak cerah seketika. Mendekatkan wajah nya pada Dokter Sinta dan bertanya sekali lagi. Dokter Sinta pun menjawab sekali lagi dengan jelas.


Kini mata sekretaris Ang langsung tertuju pada Yuri yang tersenyum kearahnya.


Mendekat pelan, lalu menarik dengan kasar pinggang Yuri hingga menabraknya. Memeluk begitu erat.


"Terimakasih Tuhan. Kau mengabulkan doaku. Bukan tidak mau, bukan tidak ingin. Aku menyayanginya. Sungguh! Aku ingin membuatnya nyaman dan bahagia dulu dengan menjaganya setelah itu baru titipan mu ya Tuhan..!!" sekretaris Ang berbisik pelan.


"Yuri, maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Mungkin kau berpikir jika aku ini suami yang bodoh. Seorang suami yang jahat. Tapi kau tau alasanku apa. Meskipun banyak cara, tapi usiamu terlalu dini untuk mengandung. Kau belum pantas menjadi seorang ibu. Menikahi mu saja aku sudah merasa bersalah, apalagi sampai membiarkan mu hamil untuk saat ini."


"Seharusnya kau bersenang senang dulu dengan usiamu yang sekarang. Jadi marilah, bersenang senang dengan ku. Bahagia bersama ku. Aku akan menyenangkan hari harimu, membahagiakan hidup mu. Aku mencintaimu Yuri. Aku menyayangimu. Kau paham kan sayang..??" memegang kedua pipi Yuri. Meyakinkan jika saat ini dia senang bukan karena tidak ingin memiliki anak. Melainkan senang bisa menjaga istrinya dari kehamilan di usia dini.


Yuri tidak bisa berkata apapun, selain mengangguk. Tidak ada alasan untuk Yuri membantah semua alasan sekretaris Ang. Pria itu lebih mementingkan istrinya dari pada keturunan yang biasanya dicari setiap laki laki yang menikahi seorang wanita.


"Ah, baiklah." menoleh lagi pada Dokter Sinta berjalan mendekat sambil menggandeng tangan Yuri.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" bertanya.


"Tuan sekretaris. Mulai hari ini, Nyonya Ang bisa mengikuti program KB." kembali duduk di kursi nya. Mengambil sesuatu dari laci besar di samping belakang.


"Menurut saya, sebaiknya Nyonya Ang menggunakan pil KB saja." menyodorkan beberapa buah Pil KB.


Mereka tergelak.


"Kau tidak perlu khawatir sayang? Aku akan membelikan salon kecantikan khusus untuk merawat wajah dan seluruh tubuhmu. Flek tidak mungkin berani mendekati mu." ucap sekretaris Ang.


Mereka tergelak kembali.


"Ah, baiklah Dokter Sinta. Terimakasih atas waktu mu. Terimakasih atas bantuan mu. Ini seharusnya hari libur mu. Tapi kau malah sibuk dengan urusan kami." ucap sekretaris Ang.


"Tidak apa apa Tuan sekretaris. Saya senang melakukannya. Ini adalah suatu kehormatan tersendiri bagi saya saat sekretaris Ang mempercayai saya untuk membantu anda."


"Baiklah. Tolong catat nomor rekening mu. Aku ingin memberi bonus padamu untuk lembur mu hari ini."


Dokter Sinta tersenyum, "Benarkah Tuan. Sesenang itu kah anda?"


"Tentu saja."


"Baiklah, saya tidak mungkin menolak rejeki." jawab Dokter Sinta, segera mencatat nomor rekening miliknya dan mengulurkan nya pada Sekretaris Ang yang langsung memberikan pada Yuri untuk menyimpannya di dalam tas kecilnya.


Dalam hati, Dokter Sinta bersorak. 'Rejeki nomplok. Sumpah!'


Sudah bisa dipastikan jika bonus dari sekretaris Ang akan lebih dari tiga bulan gajinya sebagai dokter spesialis kandungan di Rumah sakit tempatnya bekerja ini.


"Kalau begitu kami pamit. Ayo sayang!" menggenggam erat tangan Yuri dan membawanya melangkah.

__ADS_1


"Hati hati Tuan sekretaris, Nyonya Ang. Sekali lagi selamat ya??? Atas ketidak hamilannya!!" setengah berteriak.


Sekretaris Ang dan Yuri yang sudah berada di pintu menoleh sambil tersenyum lebar.


Kemudian melangkah keluar dengan semangat. Semangat baru yang menggebu kuat.


Segera menuju mobil mereka dan melaju cepat ke Apartemen mereka.


Sepanjang perjalanan sekretaris Ang tersenyum bahagia. Sesering mungkin menoleh pada istrinya.


"Sayang.. kau tidak marah dengan kebahagiaan ku kan? Kau tidak kecewa padaku kan? Tidak akan memakiku di dalam hatimu?"


"Mana mungkin kakak? Aku mendukung Rencana mu. Sungguh aku ikhlas melakukan ini."


"Terimakasih Yuri! Terimakasih atas pengertian mu. Setelah sembilan belas tahun tepat usiamu nanti. Kau boleh berhenti mengkonsumsi pil itu. Kita akan bersiap menunggu kehamilan mu."


Yuri mengangguk, berkali kali mengangguk. Memastikan jika dia setuju, meyakinkan suaminya jika dia juga ikut senang dan mendukung keinginan suaminya.


Mobil mereka kini sudah terparkir rapi tepat di depan Apartemen mereka. Sekretaris Ang meloncat turun. Segera membuka pintu mobil untuk Yuri. Kemudian dengan sigap menangkap tubuh istrinya.


Dengan gagah menggendong kembali Tubuh Yuri. Yuri melingkarkan tangannya dengan erat ke leher Suaminya. Kembali terdengar tawa bahagia dari keduanya. Sekretaris Ang melangkah dan baru menurunkan tubuh istrinya ketika sampai di depan lift.


**


"Sekarang kau boleh menggodaku kapan pun kau mau Sayang...!" ucap sekretaris Ang pada malam harinya. Memeluk Yuri dari belakang.


"Benarkah?" Memutar tubuhnya.


"Ya. Nikmati tubuh ku sesuka hatimu! Bukan kah selama ini kau mengaguminya?"


"Hahaha.. Kakak tau saja!" memukul dada suaminya.


"Tentu saja. Air liur mu selalu jatuh tanpa kau sadari saat menatap tubuhku."


"Mana ada!" sahut Yuri, tapi tersipu.


Begitu lah, hari hari sekretaris Ang dan Yuri. Kini menjalani pernikahan nya tanpa beban lagi. Tanpa ketakutan di hati sekretaris Ang. Siap kapan pun mereguk kenikmatan tanpa ragu lagi. Dan tentunya Yuri tidak pernah terlupa untuk meminum pil keamanannya setiap hari dengan waktu yang rutin. Walaupun Yuri tidak pernah melupakannya , Sekretaris Ang masih saja telaten untuk mengingatkannya juga.


Tapi setelah ini nanti, mereka tidak pernah tau, tidak pernah menduga jika akan kembali terseret masalah yang akan semakin membuat mereka lebih gusar dari pada ini.


Jika sekarang ini mereka senang karena ketidak hamilan Yuri. Bagaimana masa depan mereka? Jika ketidak hamilan Yuri berlanjut hingga sampai ketika mereka sudah siap dan bahkan sudah sangat menginginkannya?


Sampai titik di mana mereka mulai menyerah saat ujung penantian mereka yang kembali berakhir harus sia sia. Kemudian menyesal sempat bahagia di hari ini. Bahagia karena tidak menginginkan bayi dahulu.


Sekali lagi, sekretaris Ang nanti akan di uji ditengah tengah kebahagiaannya. Sekali lagi nanti Yuri di uji dalam mendampingi suaminya.


Tapi cinta. Sekali lagi Cinta diantara mereka yang begitu kuat, mengalahkan segala masalah. Menyisihkan segala kesedihan yang menyertai kebahagiaan mereka.


Kita akan segera kembali pada kisah mereka setelah nanti. Karena sekian waktu ini kita sudah mengikuti kisah mereka. Kita akan kembali dulu pada pasangan yang selalu bahagia dengan kehadiran sang kehidupan baru di dalam perut si istri.


Sampai jumpa...!!!

__ADS_1


___________________________


__ADS_2