
Sekretaris Ang kembali melajukan mobilnya, kali ini ia menuju kediaman Gani Kuncoro. Namun Yuri, belum menyadarinya.
Gadis kecil itu nampak duduk manis di samping nya dengan sesekali melirik pria Tunangan nya itu dengan senyuman berkembang di bibirnya.
"Apa kita mau makan dulu? Kau belum makan siang kan? Ini sudah hampir sore padahal."
"Terserah kakak saja."
Mendengar jawaban Yuri, sekretaris Ang membelokkan mobilnya ke sebuah Restoran. Kemudian menuruni mobil dan segera membuka pintu mobil untuk gadis kecilnya.
Dengan semangat sekretaris Ang menggandeng tangan Yuri dan membawanya melangkah memasuki Restoran tersebut.
Sekretaris Ang langsung menarik kursi untuk Yuri.
"Tunggu sebentar ya? Aku akan memanggil pelayan." ucap sekretaris Ang saat tidak dapat melambaikan tangan nya karena para pelayan Restoran seperti nya terlihat sangat sibuk.
Yuri mengangguk saja, lalu menatap punggung sekretaris Ang yang sudah melangkah menjauh.
Yuri tersentak dan cepat menoleh, ketika sebuah tangan menepuk bahunya.
"Yuri! Kau di sini rupanya?"
"Kak Samuel! " Yuri menutup mulutnya sambil menoleh ke arah sekretaris Ang yang sedang berbicara pada seorang pelayan.
"Yuri, kenapa kaget sekali? Apa kau bersama Tuan sekretaris dingin itu di sini?" tanya Samuel, sambil celingukan.
"Tentu saja kak Sam, dia kan calon suamiku. Jelas saja di mana pun ada aku pasti ada dia juga. Cepat pergi dari sini kak Sam . Jika tidak , kau tidak akan selamat kali ini." sahut Yuri mendorong tubuh Samuel agar cepat cepat pergi dari sana.
Samuel yang tadi nya mengira jika Yuri datang sendiri tidak bersama Sekretaris Ang pun segera mengangguk.
"Eh iya. Aku pergi ya?" Samuel takut juga rupanya.
Tapi baru saja Samuel memutar tubuhnya,
sebuah tangan kekar menangkap bahunya.
Samuel menoleh, "Tuan Sekretaris! Maafkan saya. Saya, saya tidak sengaja bertemu dengan Yuri di sini. Sungguh, saya tidak bermaksud mengganggu nya." dengan wajah pias ketika melihat wajah penuh wibawa itu sudah menatapnya. Begitu juga dengan Yuri yang sama piasnya.
Siapa sangka sekretaris Ang lalu tersenyum ramah pada Samuel dan mempersilahkan Samuel untuk duduk, bergabung dengan mereka.
"Duduk lah dulu, temani kita makan siang."
Samuel dan Yuri saling melempar pandang, seperti sedang ingin menebak jalan pikiran sekretaris Ang saat ini.
"Kenapa? Kau menolak kebaikan ku hari ini?"
"Ah, tidak mungkin Tuan Sekretaris? Mana mungkin saya berani." jawab Samuel.
"Kalau begitu duduk lah."
Dengan perasaan takut dan khawatir, Samuel terpaksa menarik kursi dan duduk dihadapan mereka setelah melirik Yuri yang mengangguk samar padanya.
Semua sejenak terdiam, hingga tak lama kemudian meja sudah di penuhi hidangan dari para pelayan.
Tangan sekretaris Ang bergerak mengambil piring dan menuangkan makanan ke piring tersebut.
"Sayang, Ayo makan lah...?" sekretaris Ang sudah menyodorkan sendok ke mulut Yuri.
"Eh tidak perlu kakak? Aku bisa sendiri."
Sekretaris Ang tersenyum. "Kenapa menolak? Biasanya kau meminta aku menyuapimu setiap kali kita makan bersama. Kau malu dengan nya?"
'Kapan? Kapan hah! Kau yang memaksa untuk menyuapiku kakak? Kau mau pamer kemesraan padanya kan?'
__ADS_1
Tak ingin membuat sekretaris Ang marah di depan Samuel, Yuri terpaksa mengalah, dengan rasa canggung dan wajah tersipu Yuri membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari tangan sekretaris Ang.
Samuel hanya bisa menelan ludah melirik keromantisan sepasang kekasih di hadapannya itu, apalagi saat jari sekretaris Ang menyentuh ujung bibir Yuri untuk membersihkan makanan yang tak sengaja menempel di sana. Jiwa jomblonya seketika meronta ronta.
"Kakak makan juga geh?" ucap Yuri pada Sekretaris Ang, untuk mengusir kecanggungan.
Sekretaris Ang kembali tersenyum dan mengangguk. Lalu menoleh pada Samuel yang langsung menarik matanya dari menatap mereka berdua.
"Kau juga makan. Silahkan."
"Oh, iya Tuan Sekretaris. Terimakasih. Tapi sepertinya saya harus pergi dari sini. Saya tidak ingin mengganggu acara makan siang kalian berdua." jawab Samuel.
Sekretaris Ang tertawa kecil sambil menyuap mulutnya.
"Sayang,. Suruh teman mu ini makan.
Mungkin dia tidak enak jika bukan kau yang mengajaknya." ucap sekretaris Ang pada Yuri.
Yuri melirik pada Samuel dan mengisyaratkan agar Samuel mengambil makanan, tapi Samuel menggeleng samar.
"Em," Yuri hampir saja menyebut nama kak Sam. Untung segera ingat. 'Bisa gawat ini.'
"Sam, ah.. Samuel. Makan lah, Tuan Sekretaris memintamu untuk ikut makan." Yuri sungguh canggung sekali memanggil Samuel dengan sebutan nama. Samuel juga terlihat sedikit terkejut dengan panggilan baru Yuri pada dirinya. Untung Samuel segera mengerti jika Yuri mungkin ingin menjaga perasaan Sekretaris Ang.
Tapi untuk sekretaris Ang sendiri, panggilan barusan Yuri pada Samuel memberinya kepuasan tersendiri di dalam hatinya. 'Hanya boleh memanggil kakak pada diriku saja.'
Dengan perasaan yang tidak enak, mau tidak mau Samuel akhirnya ikut makan juga. Walau dengan menunduk menghindari pandangan di depan nya yang berhasil mencemari otaknya itu. Cepat menghabiskan makanan nya lalu segera bangun. Mengucapkan terimakasih berkali kali lalu berpamitan.
"Jika kau buru buru, baiklah. Terimakasih sudah mau menemani kami makan." ucap Sekretaris Ang.
'Menemani apa! Jadi obat nyamuk iya.'
"Hai Sam, kau tidak mendengar ku?"
Ucap Samuel, tak berani menyebut nama Yuri di hadapan sekretaris Ang. Lalu segera menarik langkah nya.
"Tunggu dulu."
Deg...! Dada Samuel langsung berdetak cepat. ' Apa lagi ini?' sudah sangat khawatir lalu menoleh kembali.
"Iya Tuan."
"Minggu besok, bisakah kau hadir di hari pernikahan kami. Sebagai satu satunya teman Yuri yang ku kenal, kau sangat di harapkan kehadiran nya." ucap sekretaris Ang tanpa menatap wajah Samuel malah sibuk memainkan rambut Yuri.
"Minggu ini? Hari pernikahan, maksudnya??"
Sekretaris Ang tergelak, lalu menoleh. Gelak nya berubah menjadi senyum sinis menatap Samuel.
"Kenapa begitu terkejut? Kami akan menikah hari Minggu besok. Iya kan sayang..?" menoleh pada Yuri.
"Ah, iya. Kami.. kami akan menikah di hari itu. Jika kamu tidak keberatan boleh datang ke acara kami." sahut Yuri terpaksa.
'Kenapa pake mengundang kak Sam sih, kakak??? Pamer..!!! Pamer!!'
"Harus! Kau harus datang. Jika tidak , sama saja kau tidak menghargai ku sebagai atasan mu!" ucapan sekretaris Ang seperti sebuah ancaman bagi Samuel.
"Tentu saja Tuan, tentu saja saya akan datang dengan senang hati. Ini suatu kehormatan bagi saya." jawab Samuel cepat. 'Dia pasti akan memecat ku jika aku tidak datang.' Samuel cari amannya.
"Baguslah. Berhubung kami belum menyebar undangan. Catat saja alamat yang harus kau datangi hari Minggu ini." ucap sekretaris Ang. Berpikir jika tidak begitu, pasti Samuel akan menghubungi Yuri untuk menanyakan alamat kemana dia harus datang.
Samuel merogoh Hp nya dan dengan cepat mencatat alamat yang di sebutkan sekretaris Ang. Lalu segera berpamitan untuk pergi dari hadapan serigala mengerikan itu. Mengingat kejadian di kantor Tempo lalu, Samuel sempat Merinding. Tangan nya saja masih terasa ngilu akibat di cengkeraman sekretaris Ang saat itu.
Samuel terus melangkah meninggalkan mereka dengan hati yang tak henti menistakan sekretaris Ang.
__ADS_1
"Bisa bisanya, Sekretaris gila itu mau menikahi Yuri. Bahkan usia Yuri saja belum genap Tujuh belas tahun. Mana bisa. Mana boleh. Yang lebih gila lagi Yuri, kenapa bisa mau dengan pria yang pantas menjadi Paman nya itu."
"Eh, tapi Tuan sekretaris itu memang tampan, belum lagi tajir. Banyak uang dan begitu terkenal. Sekretaris Utama Mahendra Group. Siapa wanita yang sanggup menolak nya. Tapi, kenapa Tuan sekretaris itu bisa menyukai Yuri. Padahal banyak wanita dewasa yang pasti menggilainya."
"Ah,... Yuri.. Remuk sudah harapanku!" Samuel memukul mukul kepalanya sendiri. Nampak begitu frustrasi dengan harapan nya. Meski hatinya tidak ikhlas melepas Perasaan nya terhadap Yuri yang sejak dulu terjaga di lubuk hati. Tapi untuk memperjuangkan cintanya, mana mungkin. Yang ia hadapi itu sekretaris Ang?? Di luar batas kemampuan nya. Berat, berat!
Samuel hanya bisa mengigit jari!
Sementara sekretaris Ang tersenyum puas sudah membuat Si Sam itu patah harapan. Ia merasa menang , lalu Segera mengajak Yuri kembali ke mobil setelah mereka menyelesaikan makan nya.
Sekretaris Ang melajukan kembali mobilnya. Kali ini Yuri merasa bingung ketika sekretaris Ang berhenti di depan sebuah Rumah yang ternyata kediaman orang tua nya.
Lalu Yuri menoleh pada sekretaris Ang saat mereka sudah berada di depan pintu.
"Kakak??"
"Aku sengaja mengantar mu pulang ke rumah orang tuamu sebelum mereka menjemput mu."
"Kakak? Apa maksud nya??" Entah kenapa, mendengar ucapan Sekretaris Ang Yuri begitu terkejut. Pikiran nya sudah berburuk sangka saja.
"Kau harus tinggal bersama mereka." sahut sekretaris Ang.
"Kakak??" wajah Yuri seketika pucat.
"Kita tidak akan bertemu untuk beberapa hari ke depan. Kau bisa menunggu ku kan? Sampai di hari pernikahan kita? Kita akan menikah di rumah orang tua mu ini."
Mendadak Yuri menubruk sekretaris Ang. Memeluk nya dengan erat.
"Kau menakutiku Kak?? Ku pikir kau mengantarku kemari karena tidak jadi menikahi ku!" seketika lega.
"Kau kira aku sudah gila apa?? Mana mungkin begitu? Baru saja aku mengenalkan mu pada orangtuaku??" sekretaris Ang mengangkat wajah Yuri.
"Maafkan aku, aku sudah berburuk sangka. Kakak tidak mengatakan ini sebelum nya."
"Oh, iya. Aku sampai lupa. Sebenarnya waktu makan siang tadi aku mau mengatakan nya jika aku akan mengantarmu pulang. Meskipun aku tidak mengantarmu , Tuan Gani akan menjemput mu juga malam ini."
"Kenapa sampai lupa..?"
"Sam Sam mu itu, membuat aku lupa." jawab sekretaris Ang.
"Kakak..!"
"Sudah lah, ayo kita masuk. Aku harus menyerahkan dirimu pada orang tuamu. Aku harus segera pulang sebelum sore. Banyak yang harus aku persiapkan." ucap sekretaris Ang. Tapi Yuri masih enggan melepaskan pelukan nya.
"Kakak!! " mempererat pelukannya.
"Kenapa? Kau tidak tahan berpisah dengan ku walau hanya untuk tiga hari saja?"
Yuri mengangguk, masih di dada sekretaris Ang. Pria itu memeluk Yuri, memeluk dengan erat seperti tidak sanggup juga untuk berpisah walau hanya untuk sementara saja.
"Kita harus bersabar. Tiga hari lagi, kita akan bersatu untuk selamanya. Tunggu aku ya??" sekretaris Ang menciumi pucuk Kepala Yuri.
Brak..!!!!
Pintu dibuka seseorang.
"Yuri..! Kalian.!!" Tiara dan Gani Kuncoro sudah berdiri menatap putri mereka yang sedang berada di pelukan seorang pria.
Seketika Ang melepaskan pelukannya.
"Tuan Gani, Nyonya Tiara. Selamat Sore." Ang tersipu!
__________________
__ADS_1