
Besok, adalah hari pernikahan Sekretaris Ang dan Yuri.
Sekretaris Ang nampak biasa saja. Tidak terlihat sibuk dengan persiapan persiapan apapun untuk hari spesial nya itu , malah duduk di kursi di dalam ruangan kantornya, menunduk hikmat di meja kerjanya dengan menatap setumpuk berkas dengan sesekali mengulik tombol laptop nya.
Wajahnya terlihat begitu santai, padahal hatinya tidak begitu. Pikiran nya saja tidak bisa fokus di berkas berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga, karena tidak bisa di pungkiri jika hatinya begitu tegang dan gugup memikirkan hari besok. Tapi mau tidak mau, beban berkas itu menjadi tanggung jawabnya. Siapa lagi? Tuan Muda Garra? Saat ini , pria kebanggaan nya itu tengah meringkuk lesu di kamarnya saat tengah hari tadi meminta nya untuk di antar pulang.
Jika Ang, tengah sibuk dengan berkas berkas, lain hal yang terjadi di kediaman keluarga Kuncoro.
Beberapa pelayan dari Dekorasi pelaminan terlihat sangat sibuk mendekorasi ruangan tamu milik rumah itu yang sebelumnya sudah di singkirkan dahulu seluruh benda benda yang tadinya berada di sana.
Tidak mewah atau besar, tapi terlihat indah dan elegan. Sengaja di buat sesederhana mungkin, tapi tetap saja kesan mewah terlihat juga.
Undangan untuk teman dekat pun dengan kilat sudah tercetak dari kemarin. Sedangkan hari ini, Gani Kuncoro dan Tiara menyebarnya secara langsung dengan mendatangi sendiri mereka yang di undang.
"Jangan tidak datang ya? Acara ini sengaja hanya dengan pesta kecil karena permintaan dari Tuan Ang sendiri." ucap Tiara pada mereka saat memberikan undangan.
"Kenapa bisa begitu? Apa alasan Tuan sekretaris tidak mengadakan pesta besar di hari spesial nya? Jika Tuan muda Garra, kami masih memaklumi karena dulu menikahi Putri pertama kalian masih dalam keadaan sakit. Lha ini? Tuan sekretaris? Apa ada masalah juga?" tanya salah satu dari mereka, sedikit nyinyir. Mungkin iri atau sengaja merasa ada yang tidak beres.
Tentu saja Tiara tidak mau jika orang lain sampai tau alasannya kenapa acara pernikahan putrinya di buat sesederhana itu karena usia Yuri yang masih belum cukup umur. Tiara membuat alasan yang sangat masuk akal, bahkan bisa membuat mereka tercengang dan terpukau kagum.
"Sebenarnya Tuan Ang ingin sekali mengadakan pesta besar, tapi karena Tuan Muda Garra saat ini sedang mengalami Sindrom suami ngidam, tidak mungkin jika kami mengadakan pesta besar dalam keadaan Menantu hebat kami itu sedang tersiksa karena kehamilan pertama istrinya , yaitu Putri pertama kami. Hanya teman teman dekat saja yang kami undang kok. Kalau kalian tidak datang, maka bukan hanya kami yang merasa kecewa. Tapi Tuan muda Garra dan juga Tuan sekretaris Utama Mahendra Group calon menantu kami yang juga turut mengundang kalian akan ikut kecewa. Jadi hadir ya??" Tiara menjelaskan dengan bangga nya dan menceritakan Menantu serta Calon menantunya itu.
"Benarkah? Jika saat ini Tuan muda Garra sedang mengalami Ngidam? Benarkah putri kalian sudah mengandung?"
"Iya benar. Kalian tidak percaya?? Kami saja awalnya bingung ketika Tuan muda Garra muntah muntah saat makan siang di rumah kami. Sampai pingsan. Kami sempat panik dan takut. Dan setelah dokter mengatakan jika Tuan muda Garra tidak sakit apa apa melainkan sedang mengalami Sindrom suami ngidam, kami jadi senang dan semakin bangga. Saking cintanya Tuan muda Garra pada Istri nya, Dia sampai yang mengalami ngidamnya." sahut Tiara makin bangga. Yang mendengar semakin kagum pula.
"Tuan Gani dan Nyonya Tiara, sungguh beruntung sekali kalian. Mendapatkan menantu Seorang Tuan Muda dari keluarga Mahendra yang begitu mencintai putri kalian, dan sebentar lagi Sekretaris Utama Perusahaan Mahendra Group juga akan menjadi menantu kalian. Itu bagaimana ceritanya sih, kok bisa seberuntung itu?"
"Ini bukan soal keberuntungan, melainkan mungkin sudah takdir. Bukan kah, kalau jodoh tak kan kemana? Mungkin Putri Putri kami memang sudah berjodoh dengan mereka ,Dua pria hebat itu." jawab Tiara.
Begitulah, Bahagia dan bangga perasaan Tiara dan juga Gani Kuncoro.
Saat ini, semua orang mengagumi mereka. Dan makin menghormati mereka. Dua pria hebat sekaligus , menjadi menantu mereka. Siapa yang tidak bangga? Siapa yang tidak kagum? Hampir semua para pengusaha ternama memimpikan memiliki hubungan serius dengan keluarga Mahendra. Yang memiliki seorang putri sangat bermimpi bisa di lirik oleh dua pria hebat itu. Tapi ternyata nasib baik malah berpihak pada keluarga Kuncoro.
Mereka bukan tidak tau awal kisah pernikahan Putri pertama keluarga Kuncoro dengan Tuan muda dari keluarga Mahendra itu. Semua juga sudah tau, tapi lagi lagi saat ini tidak ada yang berani mengungkitnya. Apalagi ketika Garra pernah mengumumkan beberapa kali tentang pernikahan nya dengan Mia di depan beberapa Pengusaha. Itu sudah menjadi pertanda jika Tuan muda Garra sangat mencintai Putri pertama Gani Kuncoro, terlebih kabar kehamilan Nyonya muda Mahendra saat ini yang telah mengandung calon penerus keluarga Mahendra.
Lagian, Mana ada yang berani jika sudah bersangkutan dengan keluarga Mahendra. Hanya decak kagum, yang lagi lagi terdengar setiap mulut mereka.
Kita berpindah dulu ke sebuah kamar, pada hari yang sama namun sudah dalam waktu yang berbeda.
__ADS_1
Entah jam berapa,
tapi belum terlalu jika malam. Sepasang suami istri yang kebalik itu sedang terdengar mengobrol.
Bagaimana tidak di bilang kebalik. Yang bunting siapa , yang manja siapa.
Yang pria meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil merengek dan sesekali meraba lalu menciumi perut rata istrinya. Sedang sang istri masih setia mengelus ngelus punggung si bayi raksasa sambil memainkan rambut keritingnya.
"Bang Garra, mau coba makan lagi?" bujuk Mia, karena tadi Garra makan hanya beberapa sendok saja.
"Kan tadi sudah."
"Cuma sedikit, nambah lagi ya? Mia ambilkan."
"Sudah malam. Kau mau keluyuran ke dapur?"
"Biar mbak Endang yang mengantar kemari?"
"Tidak mau! Sudahlah besok lagi." Garra tetap menolak.
"Bang Garra makan cuma sedikit sekali. Apa tidak lemas? Apa ada tenaga?"
Mendengar pertanyaan istrinya Garra langsung mengangkat kepalanya.
"Eh, tidak. Bukan begitu. Maksud nya , aku takut bang Garra sakit?"
"Aku tau, bukan itu maksudmu!" Menempelkan bibirnya ke leher Mia.
"Ah.. Banga Garra, geli!" Mia menggeliat ketika Garra menenggelamkan wajahnya ke leher nya dan mulai menjelajah liar.
"Bang Garra, mau apa?" Mia menarik kepala Garra ketika Garra sudah menurunkan tali baju tidurnya dengan menggunakan mulutnya.
"Mau menunjukkan padamu, jika aku tidak lemas. Jika aku masih banyak tenaga. Jika aku masih kuat. Apalagi untuk urusan yang satu ini." berbisik sambil menciumi telinga Mia.
"I..iya ,iya. Percaya. Tapi, tapi.. Kita tidur saja ya? Besok adalah hari pernikahan sekretaris Ang dan Yuri. Nanti bang Garra kelelahan dan tidak bisa hadir. Bang Garra harus menyimpan tenaga nya untuk besok saja." rengek Mia.
"Tidak akan. Malah setelah ini pasti akan semakin segar bugar." terus merambat ke kebagian dada.
"Banga Garra, tapi kan.. Em.. em..!" Garra membungkam mulut Mia dengan bibirnya.
__ADS_1
"Sebentar saja. Aku ingin menengok Garra Junior. Sejak dia ada di dalam perutmu, Aku belum pernah menengoknya." kini sudah menarik pakaian Mia.
"Hah..! Siapa lagi Garra Junior?" lagi lagi mendengar istilah dari suaminya Mia sempat bingung
"Ini yang ada di sini." menunjuk perut Mia.
"Oh.. Tapi bagaimana cara Bang Garra akan menengok nya?" tanya Mia, rupanya belum mengerti maksud Garra perihal menengok Garra Junior.
"Masuk!" jawab Garra, tak ingin Mia banyak bertanya Garra cepat menyerang Mia dengan ciuman mautnya tepat di bibir Mia.
Mia pun tak sempat lagi bertanya tentang kebingungan nya ketika Garra sudah menarik lembut tubuhnya hingga terbaring di bawah kukungan tubuh Garra . Lalu tangan Garra mulai menarik pakaian yang masih tersisa di badan Mia.
Garra menenggelamkan wajahnya di dada indah Mia, lama, meninggalkan bekas merah di bagian kanan kiri dan juga tengah. Kembali ke bibir Mia, lalu kembali lagi turun ke dada Mia. Lalu turun dan semakin turun hingga ke bagian Mia yang paling sensitif, sambil merenggangkan kedua paha Mia. Berlama lama di sana sampai terdengar Mia mengeluh dengan nafas nya terburu.
Garra mendongak, untuk menatap wajah istrinya yang juga menatap nya dengan tatapan yang sudah sendu itu.
Garra tersenyum, lalu mengambil posisi.
"Bang Garra, jangan!" berniat merapatkan pahanya.
"Kenapa? Mia tidak ingin?" kembali membuka lebar paha istrinya.
" Bukan begitu?? Takut Kau akan capek!" akhirnya pasrah juga, karena juga menginginkan nya.
Garra tak menjawab, malah mulai bergerak pelan. Pelan namun pasti dengan irama yang sangat di hati hati.
"Ah..!" Mia mengeluh lagi, lagi dan lagi. Sampai beberapa saat eluhannya berubah rengekan yang sanggup menyentuh jiwa raga Garra, membuat pria itu melambung dan semakin bersemangat untuk bergerak lebih cepat .
Mia meremas rambut berantakan Garra dengan kuat. Sementara Garra , mencengkeram sprei dengan kedua tangan nya. Kedua tubuh itu terlihat sama sama bergetar untuk beberapa saat. Lalu melemas bersama. Garra segera mendekap tubuh lemas istri nya dengan tenaga miliknya yang tersisa. Kemudian menarik selimut dan Garra pun ikut tenggelam ke dalam selimut yang sama.
"Tidurlah Mia ku. Terimakasih..!" mengecupi kepala Mia.
"Maafkan aku, maafkan aku sudah membuatmu repot, lagi lagi kau harus mengurus ku kembali." bisik nya di telinga Mia. Padahal Mia sudah tidak dapat mendengar dengan jelas. Meskipun sempat tersenyum padanya sebelum akhirnya terlelap.
Garra masih tersenyum menatap wajah istrinya, lalu meraba kembali perut Mia.
"Anakku ini, nantinya akan sangat menyayangi mu Mia. Terlihat dari sekarang. Dia tidak mau kau menderita dan lebih memilih agar aku yang menderita." ucap Garra , masih membelai wajah Mia yang sudah tak sadarkan diri itu alias sudah ke alam mimpi.
"Akan tambah satu orang lagi yang akan menyayangi mu sayang. Jadi berjanjilah padaku untuk terus berbahagia. Bahagia selalu istri ku. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!" Garra terus berbisik sampai ikut terlelap di bantal yang sama dengan Mia. Bantal yang sama selimut yang sama berguling kan tubuh Mia. Tapi dengan perkiraan yang matang, jangan sampai menyentuh perut Mia..
__ADS_1
_____________________
bersambung.....!!!!