
Pagi ini begitu indah, membuai lembut wajah Garra yang berdiri menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Dengan pakaian yang sudah rapi tinggal memasang dasi saja.
Bibir Garra tersenyum,
'Mia mulai mencintai ku. Mia mulai menerima cinta ku.'
'Sabar Garra, pelan pelan saja. Semakin kau pelan , semakin pasti yang akan kau dapatkan.'
Garra tos dengan bayangan tangan nya sendiri. Lalu cepat bergerak mundur saat mendengar suara pintu kamar mandi di buka.
Mia keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut Handuk saja. Menghampiri Garra tanpa risih lagi.
"Kenapa bang Garra?" tanya Mia , melihat wajah Garra tegang memandang dirinya. Semakin tegang ketika Mia mendekat.
Mia meraih dasi yang kebetulan sudah di tangan Garra.
"Mau di bantu memakai dasinya?" Mia menarik kerah baju Garra, hingga tubuh Garra bergerak maju menabrak tubuh Mia.
"Oh.. Tidak, tidak perlu. Ah, iya , iya." Garra gugup, mundur satu langkah.
"Bang Garra kenapa? Kok gugup sih?"
"Tidak.. siapa yang gugup. Hanya... hanya!"
"Hanya apa?"
Garra membalikkan tubuhnya. Berusaha menekan perasaan nya sekuat kuatnya.
'Pagi hari Garra. Ang sudah menunggu mu di bawah.'
"Sial...!!" gumam Garra. Berpikir jika ini bukan pagi hari, bukan waktunya Garra harus pergi ke Perusahaan, mungkin Garra tidak akan mungkin melepaskan Mia lagi.
"Bang Garra, bagaimana mau memasang dasinya kalau menghadap kesana?" seru Mia.
"Pakai dulu bajumu sebelum memasang dasi ku Mia!" sahut Garra tanpa menoleh.
"Eh iya. Sampai lupa. Tapi tidak apa apa, sudah pernah melihatnya bukan? Katanya tidak boleh malu lagi. Ayo ayo...!" Mia menarik tangan Garra dan memutar tubuh Garra untuk menghadap nya kembali.
Bodohnya Garra menurut saja.
"Kalau menunggu Mia berganti, nanti Bang Garra terlambat. Ini saja sudah kesiangan. Semalam kita tidur nya kelelapan sih?" celoteh Mia, serius memasang dasi Garra. Tak melirik wajah Garra yang semakin tegang karena pemandangan yang begitu menyiksa hatinya. Tangan Garra sampai terlihat gemetaran. Apalagi ketika aroma sampo Mia menyeruak masuk menusuk penciuman Garra karena kepala Mia begitu dekat di hidung Garra, membuat hormon di tubuhnya semakin meningkat tajam.
"Mia..!"
Grep..!!
Garra menarik cepat tubuh Mia. Menempelkan tubuh Mia ke badan nya dengan kuat.
Mia terkejut, mendorong tubuh Garra namun gagal. Garra sangat kuat memeluknya, sambil menatap lapar pada nya.
Garra memutar tubuh Mia, dan mendorong nya pelan hingga Mia mentok di pinggir ranjang. Garra terus mendorong Mia hingga jatuh di kasur, lalu segera mengurung tubuh Mia dengan kedua tangan kekar nya.
"Kenapa kau memancing ku pagi pagi Mia? Kau sengaja..?" suara Garra terdengar berat.
"Apa..? Memancing? Tidak. Aku.. tidak memancing. Apa maksud nya bang Garra?" Mia polos, sungguh tidak mengerti ucapan Garra. Malah ketakutan melihat wajah Garra yang memerah. 'Apa bang Garra marah? Tapi kenapa??'
"Kau memancing ku Mia. Secara langsung bahkan!"
"Tidak Bang Garra. Tidak. Sumpah , tidak. Aku tidak mengerti maksudmu? Memancing apa? Mia tidak punya pancing?" Mia takut, merengek minta di lepaskan.
"Dengan hanya memakai handuk, dan mendekati ku. Lalu menempel nempel di tubuh ku. Kau sudah memancing ku." sahut Garra.
"Memancing Junior ku! Tanggung jawab." sambung Garra ,kini tangan nya mulai merambat ke tubuh Mia.
"Junior? Siapa itu? Mia tidak kenal?" Mia yang masih saja tidak mengerti semakin bingung.
"Kau mau kenal?"
Mia bingung mau menjawab apa, sebenarnya bukan bingung mau menjawab apa. Tapi Mia sedang sibuk menahan tubuh Garra yang sudah menindihnya.
"Sebenarnya kau sudah mengenalnya, bahkan sering menyentuh nya. Tapi kau tidak menyadarinya. Tidak mengerti arti kehadirannya. Tidak memperdulikan keberadaan nya. Kau menyiksa nya Mia..!! Apa kau sadar itu Mia..?"
"Berat bang Garra, stop. Apa sih.. Siapa memang nya junior itu? Ah, kenapa membingungkan saja!" Mia marah mendorong kuat tubuh Garra, bersamaan dengan suara ketukan pintu dan suara mbak Endang memanggil.
Mia melepaskan diri, melirik wajah Garra yang terlihat kesal, dengan nafas Garra yang tidak beraturan. Kesempatan buat Mia untuk menyingkir dan segera memakai baju.
Cepat cepat, sangat cepat. Sambil masih kepikiran siapa Gerangan Junior yang di sebutkan Garra tadi.
Lalu berlalu meninggalkan Garra tanpa bicara. Membuka pintu.
"Nyonya Muda. Apa tuan muda sudah siap? Tuan Sekretaris sudah menunggu di bawah. Katanya pagi ini ada pertemuan penting." sapa mbak Endang. Sekalian membawa sarapan untuk Mia.
"Tunggu sebentar." jawab Mia melangkah mendekati suaminya yang masih diam di sisi ranjang.
"Bang Garra?"
Garra tidak menjawab, hanya melirik Mia sedikit.
__ADS_1
"Bang Garra masih marah? Mia sungguh tidak memancing siapapun bang Garra? Apalagi si junior itu? Sungguh aku tidak mengenalnya?" Mia berbicara setengah berbisik, takut di dengar mbak Endang. Takut di kira mereka sedang bertengkar.
Garra menarik nafas dalam dalam, lalu tersenyum pada Mia. Garra mengerti. Bahasanya tidak di mengerti oleh Mia. Garra mengerti. Seharusnya tidak perlu memakai bahasa istilah. Bila perlu, tidak usah berbicara memakai bahasa apapun.
Mending langsung saja memakai bahasa tubuh, Mia pasti akan lebih paham.
'Ya, tunggu nanti malam. Akan ku tunjuk kan siapa junior padamu Mia.'
"Banga Garra? Sekretaris Ang, katanya sudah menunggu. Ada pertemuan penting hari ini katanya."
Garra mengangguk, lalu berdiri merapihkan kembali kemejanya dan cepat mengenakan dasinya. Mia pun segera mengambil jas milik Garra dan membantu memakaikan pada Garra.
Tak lupa sambil berbisik. "Junior siapa bang Garra?"
'Astaga...!!!' pekik Garra, dalam hati.
"Nanti malam aku akan memberitahumu! Simpan rasa penasaran mu ya?" Garra menarik cepat Tengkuk Mia dan mencium pucuk kepalanya.
"Jaga diri di rumah, bang Garra berangkat dulu. Pertemuan kali ini penting, jika tidak , mungkin sudah ku batalkan saja untuk mengenal kan mu pada junior ku. Memberi tahu mu sejelas jelasnya. Tapi sudah lah. Nanti malam saja." ucap Garra.
Mia mengangguk, masih dengan rasa penasaran hebat nya.
Garra pun melangkah,
"Nanti malam bang Garra akan mengajak ya kemari?" Mia sempat bertanya lagi.
Garra sekali lagi menarik nafas, menoleh.
"Tentu saja. Sudah! Jangan banyak bertanya. Dan jangan sekali kali menanyakan pada siapa pun termasuk pada Yuri. Hanya boleh bertanya pada ku tentang junior ini. Mia paham?"
Mia kembali mengangguk, dalam hatinya kenapa dia bisa tau jalan pikirannya. Padahal Mia benar sudah berencana untuk menanyakan pada Bu asri atau mbak Endang. Apa mengenal junior yang di maksud Garra. Atau bisa curhat pada Yuri tentang Garra yang marah dan menuduh dirinya sudah memancing si Junior.
Garra akhirnya pergi, meninggalkan Mia dengan sejuta kebingungan.
Mbak Endang masuk setelah memastikan tuan mudanya pergi. Menghampiri Mia untuk menyuruh Mia sarapan.
"Mbak Endang. Boleh panggilkan Yuri saja. Biar Yuri yang menemaniku lagi hari ini." pinta Mia pada mbak Endang.
Mbak Endang mengangguk, " Baik Nyonya muda. Akan mbak Endang panggil kan Yuri kalau begitu." lalu melangkah keluar kembali.
Dalam hatinya bersorak, ' Jika tiap hari Nyonya meminta Yuri yang melayani nya sungguh bahagia nya aku. Bisa bersantai ria terus. Ah, hari ini aku mau ke salon saja.'
Mia menunggu Yuri, dengan tidak sabar. Banyak hal yang ingin di sampaikan pada Yuri. Salah satunya mengenai junior. Tapi segera ingat pesan Garra.
"Ah, tidak tidak. Tidak boleh membantah suami."
"Kau mau ku temani hari ini?"
"Eh, iya Yuri." jawab Mia , sumringah.
Cepat berdiri dan mengambil HP barunya.
"Lihat, Suamiku sudah membelikan HP baru untuk ku. Bagus tidak?"
Mata Yuri membelalak lebar. Menyambut HP itu.
"Wah... ini HP mahal Mia. Harga nya saja setara dengan sepuluh HP milik ku. Hebat sekali Tuan muda Garra , membelikan kau HP semahal ini."
" Benarkah?" Mia cengar-cengir , merasa bangga.
"Tau tidak. Ini sama persis dengan milik suamiku. Hanya beda warna saja."
"Astaga Mia.. So sweet....!!!" meraih dagu Mia.
"Ayo sarapan dulu. Setelah itu baru aku ajari cara bermain Hp."
Mia mengangguk saja. Tak terlalu berselera untuk sarapan pagi nya
Tak terlalu menggebu untuk memainkan Hp baru nya.
Junior... Junior....!
Junior ku.... Kau memancing Junior ku..!!
'Siapa dia..? Kenapa bang Garra sepertinya marah? Mengatakan jika aku sudah memancing Junior nya. Karena menempel nempel kan tubuh ku padanya. Ah... !!'
Kata kata itu terus mengganggu pikiran Mia. Sambil mengunyah makanan. Sambil melirik Yuri yang sibuk dengan Hp baru miliknya.
Melirik jam dinding.
'Lama sekali..? Baru jam segini.' Mia serasa ingin meloncati waktu saja.
"Mia .. kau kenapa? Menengok jam Mulu..? Lihat ini.. Aku menemukan Drakor romantis."
"Ckk, aku tidak berselera. Aku sedang tidak sabar menunggu sore!" jawab Mia menaruh kepalanya di ujung sofa.
"Hah! Yang benar saja Mia.. ini saja baru pagi. Kenapa terburu menunggu sore. Sebenarnya ada apa?" Yuri bertanya dengan keheranan.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang menggangu pikiran ku. Ini mengenai Suami ku."
"Kenapa?" Yuri kepo, mendekat pada Mia.
"Apa suamimu selingkuh?"
Mia menggeleng.
"Seperti nya tidak!"
"Dia menyukai perempuan lain?"
"Tidak tau.."
"Terus apa?"
Mia bangun, "Yuri, cepat lalukan panggilan video pada suamiku. Aku ingin berbicara padanya."
Heh, dengan masih bingung, Yuri melaksanakan perintah Mia. Melakukan panggilan video pada suami Mia.
"Nih, sudah." Yuri memberikan Hp Mia yang sudah tersambung.
Mia tersenyum lebar menatap wajah Garra yang terlihat sangat tampan di layar Hp nya. Cepat menyisih menjauh dari Yuri.
"Mia sayang... Belum juga aku duduk. Kau sudah menghubungi ku. Mia kangen sama bang Garra?" ucap Garra di sana sambil tersenyum menatap Mia.
Mia menggeleng.
"Terus, ada apa?"
"Bang Garra kapan pulang?"
"Mia.. baru saja masuk ruangan kantor ku. Kok bertanya kapan pulang? Nanti sore sayang... Ada apa, ada apa? Katakan. Mia mau jalan jalan?"
Mia menggeleng.
"Mia mau makan seafood lagi?"
Mia menggeleng.
"Huh..! Lalu apa? Mia sedang tidak enak badan? Mau bang Garra temenin. Apa mau oleh oleh. Minta di beliin apa gitu?"
Mia tetap menggeleng.
"Lalu kenapa..? Bilang donk.. Jangan bikin bang Garra khawatir. Gak tenang nih kerjanya nanti."
"Bang Garra, cepat pulang nanti ya. Mia menunggu Junior mu. Pingin tau..."
Glubrak.....!!!
'Astaga Mia.... rupanya masih kepikiran itu.'
"Tenang saja, bang Garra cepat pulang dan akan segera memberitahu."
"Benar??"
"Tapi janji akan baik baik sama dia ya.. Gak boleh jahat padanya dan jangan menyiksa nya lagi. Harus tanggung jawab juga sudah membuat nya menderita selama ini."
"Masa sih? Mia tidak sadar melakukan nya?"
"Kau memang tidak menyadarinya. Tidak pernah sadar. Sudah sudah. Tunggu bang Garra pulang. I love you Mia..! Muach...!" Garra mengakhiri panggilan.
Di sana terkekeh memikirkan istrinya. 'Tunggu saja Mia ku.. Bang Garra akan mengobati rasa penasaran mu nanti.' tersenyum menang.
Sementara Mia hanya bisa menelan rasa penasaran nya. Kembali menaruh kepalanya dengan lesu. Kali ini tidak lagi di ujung sofa , melainkan di atas meja dengan badan yang merongsot di lantai.
Yuri mendekat, membelai rambut Mia. Ada rasa khawatir melihat Mia lesu.
"Mia..!!"
"Em... " tak menoleh sedikit pun.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Suamimu.? Cerita donk.!"
"Junior nya. Dia marah karena aku sudah memancing Junior nya. Aku kan tidak tau. Kenal saja tidak."
[ ???.... ] Yuri.
Ikut lemas , menjatuhkan kepalanya di sofa. Menepuk jidatnya.
'Segitu polosnya kau Mia.....!!" menjerit dalam hati.
_______________
Bersambung.....!!!!!!
< Jangan ketawa kalau takut Dosa! >
__ADS_1
Wkwkwkwkwk***......