Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Keinginan Garra!


__ADS_3

Hari berganti lagi,


Sebulan dari hari persalinan Mia.


Pagi itu dari Minggu,


Nampak Garra Mahendra sedang menggendong Tuan Muda Rayyan dengan senyum senyum diselingi ocehan merdu dari mulutnya.


Sementara Mia sendiri sedang berada di luar, di taman milik keluarga Mahendra untuk melatih ototnya yang masih kaku pasca melahirkan bersama Bi Sumi yang masih setia berada di rumah itu guna mengobati Mia.


Menoleh kesamping, menatap Sekretaris Ang yang sedang berdiri memandang kebahagiaan sang Ayah baru itu.


"Ang! Kau tidak ingin seperti ku?" sambil melangkah. Memamerkan bayinya.


Sekretaris Ang hanya tersenyum saja.


"Lihatlah! Betapa tampannya jagoan ku. Haha... Sudah pasti. Dia lahir dari seorang wanita yang cantik dan manis!"


'Tentu saja Tuan. Istri ku juga cantik dan manis seperti istri anda. Saat kami mempunyai bayi nanti , pasti akan tampan juga.'


"Ang.. Kau tidak mendengar ku?"


"Ah, iya Tuan. Tentu. Tentu saya juga ingin menjadi seorang Ayah. Tapi..!" berhenti.


"Ah, aku lupa. Aku lupa dengan masalahmu Ang. Baik lah. Setelah Yuri genap berusia Sembilan belas tahun, berjanjilah akan langsung memberi Tuan muda seorang Adik. Kau tau, aku tidak ingin Mia kecewa. Aku tidak ingin dia ngotot untuk hamil lagi. Aku tidak mau Ang. Aku sungguh trauma dengan keadaannya sekarang ini."


Sekretaris Ang hanya bisa menghela nafas.


"Anda tidak perlu cemas Tuan. Setelah waktunya tiba, kami akan segera memikirkan keinginan Tuan Garra."


"Berapa usia Yuri Sekarang? Ah iya. Baru tujuh belas. Artinya..." berpikir.


"Artinya sekitar tiga tahun lagi, Tuan Muda akan mempunyai seorang Adik. Haha. Tidak lama lagi. Dia tidak akan kesepian. Tidak akan!"


Lagi lagi sekretaris Ang hanya bisa tersenyum saja.


"Ang!" Garra melangkah, menaruh bayinya di ranjang. Lalu mendekati Sekretaris Ang.


"Jika kelak anakmu laki laki. Dia akan menjadi penggantimu. Putra putra kita akan seperti kita yang selalu kompak. Generasi penerus keluarga Mahendra."


"Jika.. Yuri melahirkan seorang Putri. Lalu bagaimana Tuan?"


"Hah! Anak perempuan maksudmu?"


Sekretaris Ang mengangguk.


"Ah, itu pasti akan sangat buruk Ang. Tidak tidak. Anak mu pasti akan laki laki. Haha... iya. Aku harap begitu. Jadi,mereka akan menjadi saudara setia Penerus Mahendra Group dan menjaga kejayaannya seperti apa yang Ayah Ayah mereka lakukan."


Sekretaris Ang menghela nafas. "Baiklah Tuan. Kita memang ingin berencana. Tapi hanya Tuhan yang bisa menentukan nya bukan?"


"Kau benar Ang. Kau benar! Andai anak mu perempuan.. Ah..bukan akan menjadi pelindung tapi mungkin malah sebaliknya. Rayyan yang akan melindunginya. Baiklah baiklah, tidak mengapa. Dia akan tetap menjadi adik Rayyan. Ya. Adiknya." Garra tergelak.


"Bagaimana keadaan Nyonya Tuan? Apa sudah ada perubahan?" tanya Sekretaris Ang.


"Menurut Dokter yang menanganinya, tidak ada perkembangan berarti di sel kankernya. Sel kanker itu seperti di pot. Hanya pada tempatnya saja. Mungkin ini pengaruh dari ramuan buatan Bi Sumi." jawab Garra.


"Semoga saja Nyonya Mahendra segera sembuh Tuan."

__ADS_1


"Iya Ang, aku sungguh tidak tenang memikirkan ini." jawab Garra bertepatan dengan masuknya Mia.


"Bang Garra, Apa Tuan Muda menangis?"


"Tidak Mia. Dia sedang tertidur. Apa kau sudah selesai dengan olahraga mu?" tanya Garra segera membimbing Mia ke ranjang.


"Sudah bang Garra. Apa kalian sedang mengobrol serius?" menoleh pada sekretaris Ang.


"Ah, tidak juga. Kami hanya sedang membahas tentang adik untuk Tuan Muda." jawab Garra.


" Membahas Adik untuk Tuan Muda? Maksudnya?"


"Mia. Tidak ada maksud. Hanya sekedar mengingatkan Ang agar ia tidak lupa untuk segera merencanakan kehamilan setelah Istrinya berusia sembilan belas tahun nanti."


Mia tergelak mendengar ucapan Suaminya.


"Bang Garra tidak boleh terlalu ikut campur urusan mereka. Itu adalah hak pribadi mereka, kenapa kau yang sibuk?"


"Mia.. aku melakukan ini demi Tuan Muda, agar dia tidak kesepian. Dan Ang sendiri sudah berjanji demikian. Benarkan Ang? Kau bersedia memberi Tuan Muda Seorang Adik?"


Sekretaris Ang tersenyum dan mengangguk. "Setelah Usia Yuri sudah tepat nanti, kami akan segera memikirkan permintaan Tuan Garra. Anda tidak perlu khawatir." jawab sekretaris Ang.


"Kau dengar itu Mia. Ang sudah berjanji. Jadi kau tidak perlu memikirkan untuk memberi Adik untuk Tuan Muda."


Mia hanya diam saja, dalam hati Mia, ia masih ingin hamil dan melahirkan minimal satu anak lagi.


"Kalau begitu, kami permisi Tuan, Nyonya." sekretaris Ang pamit. Meninggalkan pasangan itu.


Melangkah ke kamarnya menjumpai Istrinya.


Melihat wajah murung sekretaris Ang, Yuri langsung menghampiri dan bertanya.


Sekretaris Ang menggeleng. "Ada apa? Tidak ada apa apa. Memang kenapa?" sambil memeluk Yuri.


"Wajahmu murung setelah menemui Tuan Muda. Apa ada kabar buruk dari Mia?"


"Jangan memanggilnya Tuan Muda lagi. Bukankah sudah ada Tuan Muda Rayyan?"


"Ah iya. Lalu ada apa, tidak mau bercerita?"


Sekretaris Ang melepaskan pelukannya. Memutar tubuh Yuri untuk menghadap padanya. Menyentuh pipi Yuri ,menariknya pelan dan mencium keningnya.


Kemudian menarik pinggangnya membawanya lagi ke pelukan.


"Tuan Garra, sungguh ingin kau hamil setelah kau genap Berusia Sembilan belas tahun nanti."


Yuri tersenyum, "Itu karena kakak ipar ingin kita memberi Adik untuk Tuan Muda. Dia tidak mau Kalau Mia hamil lagi. Kita harus menghargai kekhawatirannya."


"Kau setuju?"


"Tentu saja. Hari ini, jika kakak menginginkan aku menghentikan KB pun aku akan bersedia." jawab Yuri.


"Tunggu Setahun lebih lagi. Tidak harus kau berusia tepat Sembilan belas tahun juga tidak mengapa. Setidaknya pas sembilan belas tahun kau sudah siap untuk melahirkan."


Yuri mengangguk , kemudian bertanya kembali.


"Apa masih ada yang di khawatirkan?"

__ADS_1


"Tuan Garra, ingin kita memiliki anak Laki laki juga."


Kini Yuri terbahak.


"Dasar aneh. Memang kita bisa menentukan sebuah jenis kelamin. Itu sudah takdir pemberian Tuhan. Mana bisa diubah!"


"Kau benar. Tapi apa salahnya jika kita berusaha?"


Yuri kini menatap suaminya.


"Memang jenis kelamin bisa diubah?"


"Tidak bisa jika sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi jika masih bisa berusaha."


"Ada caranya?"


"Tentu saja ada. Ingin memiliki anak laki laki atau perempuan, baik di Agama ataupun di Ilmu kedokteran ada caranya tersendiri. Kita akan mempelajari keduanya bersama nanti." jawab sekretaris Ang.


"Masalah akan diberi anak laki laki ataupun perempuan itu urusan belakangan. Setidaknya kita sudah berusaha."


"Jika Tuan Garra kecewa karena kita gagal memberinya Adik laki laki untuk Tuan Muda bagaimana?"


"Tidak akan. Itu hanya harapan Tuan Garra. Diluar harapan, tidak mungkin akan membuatnya kecewa."


Yuri mengangguk, membenarkan ucapan suaminya.


*


Epilog.


Dua bulan sudah Mia menjalani perawatan dan pengobatan baik secara herbal maupun terapi totok saraf dari Bi Sumi.


Keadaan Mia semakin membaik. Bahkan di bulan selanjutnya saat Dokter yang menangani Mia memeriksa. Kenyataan yang begitu mengejutkan.


Dokter menemukan jika sel kanker di rahim Mia benar benar menghilang tanpa bekas. Setelah melakukan pemeriksaan secara medis, Dokter pun menyatakan jika Mia benar benar sembuh dari Kanker nya.


Kabar itu sungguh membuat kebahagiaan yang meluap luap bagi keluarga Mahendra terutama Garra.


"Entah apa yang harus aku ucapkan padamu Bi. Aku tidak bisa mengucapkan kata kata lagi selain kata terimakasih yang tiada Taranya." memeluk Bi Sumi. Bi Sumi sampai terkejut dibuat Garra yang juga menangis tersedu itu.


"Tuan. Anda tidak perlu berterimakasih pada Bibi. Berterimakasih lah kepada Allah saja. Dia , Dia yang telah memberi mukjizatNya." jawab Bi Sumi.


Garra melepaskan pelukannya.


"Benar Bi, kau benar. Tapi melalui tangan Bi Sumi lah semua ini bisa terjadi."


Kemudian menoleh pada Mia dan menghampiri.


"Sayang...! Kita akan mengadakan pesta terbesar untuk merayakan ini!"


"Tidak perlu bang Garra!" cegah Mia.


"Tidak bisa! Ini harus. Ang..!" kini menoleh pada Ang yang langsung mendekat.


"Dengarkan aku! Buat Pesta terbesar untuk merayakan Pesta nama Tuan Muda Rayyan juga resepsi pernikahan kami yang tertunda. Ini juga akan menjadi Pesta perayaan kesembuhan Nyonya Mahendra. Undang seluruh stasiun TV yang ada di kota ini!" ucap Garra.


"Baik Tuan Garra. Saya akan segera mempersiapkannya!"

__ADS_1


Bersambung....!!!!


__ADS_2