Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Minta HP.


__ADS_3

Melihat Garra sudah datang, Mia terburu menghambur untuk menyambutnya.


Lalu cepat cepat menyambut tangan nya dan mencium nya. Membuat Garra senang. Sungguh merasa menjadi suami seutuhnya.


"Bang Garra sudah pulang? Cepat sekali?" tanya Mia.


"Iya sayang.. tadi kan aku sudah bilang kalau hanya sebentar saja. Kenapa? Mia sudah kangen.?" Garra balik bertanya sambil merengkuh pinggang Mia.


Mia hampir berontak ketika Garra memeluk nya.


'Cinta itu adalah perasaan bahagia ketika kita dekat dengan seseorang. Kita akan berdebar jika sedang bersama nya , lalu akan rindu jika orang itu jauh dari kita. Menatap nya akan terlihat indah, lalu menyentuh nya akan terasa nyaman.'


Penjelasan dari Yuri tiba tiba terlintas di benak Mia. Mia yang ingin berontak kini mengurung kan niatnya. Mia lalu membalas pelukan Garra. Menempel kan kepalanya di dada Garra. Sengaja berlama lama. Ingin tau apa benar yang di katakan Yuri.


'Jantung ku berdegup kencang sekali kalau posisi begini. Tapi nyaman. Nyaman sekali. Apa benar aku jatuh cinta pada bang Garra ya?' bertanya di hati pada dirinya sendiri.


Lalu Mia menarik tubuhnya, mendongak untuk menatap Garra. 'Indah.. Ah tidak juga ,itu karena memang dia tampan.'


Garra pun melakukan hal yang sama, menatap Mia.


"Mia kenapa?" tanya Garra seperti merasa ada yang aneh dengan tatapan Mia.


Mia diam, tidak menjawab. Masih ragu dalam menebak hatinya. Ingin sebenarnya bertanya pada Garra, tapi lebih ke malunya. Memilih untuk menggeleng saja.


"Beneran?"


Mia menggeleng lagi, lalu melangkah untuk duduk di tepi ranjang. Garra mengikuti Mia.


"Apa saja yang kau lakukan tadi dengan saudara tengil mu itu?" tanya Garra.


"Belajar. Yuri mengajari ku banyak hal."


"Oh ya. Apa saja.?" tanya Garra penuh selidik.


"Banyak!"


"Salah satu nya apa??" Garra sungguh ingin tau apa yang sudah Yuri ajarkan pada Mia. Ada kekhawatiran sebenarnya di hati Garra. Garra belum bisa sepenuhnya percaya pada Yuri dan takut Yuri akan mengajari Mia hal hal yang tidak Garra inginkan, seperti kabur dari rumah misalnya.


"Salah satunya adalah cinta."


"Apa?? Cinta? Memang Yuri bicara bagaimana?"


"Ketika aku bertanya pada Yuri apa itu cinta. Lalu Yuri memberitahu. Jika ,Cinta itu adalah perasaan bahagia ketika kita dekat dengan seseorang. Kita akan berdebar jika sedang bersama nya , lalu akan rindu jika orang itu jauh dari kita. Menatap nya akan terlihat indah, lalu menyentuh nya akan terasa nyaman. Begitu katanya."


"Oh.." Garra mendengus lega. Huh, Ternyata Yuri ada gunanya juga ya? Tidak seburuk yang Garra kira. Kalau begini, lebih baik Mia sering sering saja berdua dengan Yuri. Dengan begitu Mia akan semakin mengerti dengan apa itu cinta.


"Lalu Mia percaya?"


"Tidak juga."


Jawaban Mia ternyata bukan seperti harapan Garra.


"Mia.. kau harus belajar mempercayainya." ucap Garra.


"Kenapa? Apa Bang Garra juga percaya apa kata Yuri?"


"Ya.. ku rasa apa yang di katakan Yuri benar Mia. Karena aku juga merasakan seperti itu. Dan Mia.. bukan kah juga merasa begitu? Sudah jatuh cinta padaku?" tanya Garra.


"Tidak. Siapa bilang." jawab Mia mengelak. Dia tidak juga mau mengakui nya. Entah karena masih malu, atau masih ragu. Hanya Mia dan Tuhan lah yang tau.


"Mia.. mengaku saja. Apa susah nya sih?" Garra kini merapatkan duduk nya, menarik tubuh Mia dan mendaratkan kepalanya di dada Mia. Ingin mendengar detak jantung Mia.


"Apa sih??" Mia mendorong tubuh Garra.


"Tuh kan... Jantung mu saja tidak bisa di bohongi. Berdebar kencang seperti suara bedug."


"Tidak. Ini hanya.. hanya .."


"Hanya apa? Hayo ngaku saja..?" Garra memeluk tubuh Mia dari belakang sambil tergelak mengejek Mia. Tangan Garra usil menggelitik.


Mia pun terbahak ketika Garra menggelitik pinggangnya.

__ADS_1


"Sudah Bang Garra.. sudah!!" Mia menjerit sambil tertawa menahan geli.


"Ngaku dulu, baru ku hentikan."


"Tidak... Berhenti Bang Garra. Berhenti... ampun..!!! " Mia berontak dan berguling di ranjang mereka. Garra tak berhenti, merangkak mengejar Mia. Kembali mendapatkan tubuh Mia dan melanjutkan aksinya. Hingga tubuh Mia kini sudah terbelenggu di bawah tubuh Garra.


Sesaat kedua nya sudah saling tatap, kemudian mendadak saling terdiam. Menikmati mata masing masing dan bahasa kalbu yang mulai bicara.


Lalu tercipta hening.


Keheningan yang membuat desiran indah di antara keduanya. Tak sadar tangan mereka saling terpaut dan menggenggam erat.


Tapi sayang nya detik berikut nya, Deringan yang kuat dari hp milik Garra mengejutkan mereka. Garra menoleh pada hp yang tergeletak di atas meja dan terus bersuara keras itu.


Sebenarnya Garra tidak ingin peduli itu, memilih mengabaikan panggilan hp nya, dan kembali fokus pada Mia.. Tapi Mia memberi tahu Garra agar mengangkat nya dahulu.


"Siapa tau penting bang Garra, angkat dulu."


Garra mendengus kesal, lalu meraih hp nya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih di gunakan untuk mendekap tubuh Mia.


Garra melirik nama si pemanggil dan menggeser tombol hijau di sana.


"Kenapa mengganggu ku saja Ang, ada apa? Tidak bisa nanti atau besok kah? Kau ini?" suara kesal Garra.


"Maaf tuan muda. Maaf kan saya jika sudah mengganggu." sahut Ang di sebrang saja.


"Ckk, kau memang mengganggu ku. Sangat menggangu! Ada apa??? Cepat!"


"Maaf tuan muda. Sekali lagi maaf. Tapi ini mengenai kabar terkini Gani Kuncoro. Ayah Nyonya muda. Mertua Anda." jawab Ang, di sana.


"Hah!! Benarkah? Baiklah.. tunggu tunggu.."


Garra melepaskan pelukan nya pada Mia.


"Tunggu sebentar Mia ku. Rupanya Ang ada hal penting. Nanti kita lanjutkan." Garra beranjak. Menyisih agak jauh dari Mia.


Setelah merasa cukup jauh dari Mia, Garra kembali pada hpnya.


"Tuan muda. Hari ini keluarga Gani Kuncoro di usir dari rumah besarnya."


"Lalu mereka kemana?" tanya Garra masih setengah berbisik sambil melirik Mia yang kebetulan memang tidak memperhatikan nya.


"Tidak tau tuan muda. Apa anda ingin saya menyelidiki nya?"


"Ya. Lakukan. Ingat, jangan terlibat langsung. Kau hanya perlu memastikan agar mereka baik baik saja."


"Mengerti Tuan."


Garra menutup panggilan nya. Lalu kembali melangkah menghampiri Mia.


"Maaf Mia. Ang, benar benar mengganggu kita saja."


Mia hanya tersenyum, lalu matanya melirik benda yang masih di genggam oleh Garra itu. Tiba tiba Mia teringat ucapan Yuri tadi pagi masalah hp.


"Bang Garra, boleh lihat hp nya tidak?"


"Hp? Boleh." Garra memberikan hp nya pada Mia. Mia dengan antusias menerima hp itu dan meneliti nya. Membolak balik benda pipih itu.


"Mia.. ada apa dengan hp nya?" tanya Garra melihat Mia seperti tidak pernah melihat hp saja.


"Bagus ya bang Garra. Seumur hidup Mia belum pernah menyentuh hp seperti ini. Pasti harga nya mahal ya?"


Deg...!! Ucapan Mia membuat hati Garra seperti di tusuk seribu jarum. Garra baru menyadari maksud Mia.


Garra lalu duduk di samping Mia. Membelai rambut Mia dengan lembut. Setitik air bening milik Garra terlihat bergantung di sudut matanya.


Selama ini Garra tidak berpikir sejauh itu. Tidak berpikir untuk membelikan hp buat istrinya.


"Mia ingin mempunyai Hp?"


Mia mendongak, tersenyum malu lalu mengangguk.

__ADS_1


"Tapi.. harga nya mahal."


"Tidak semahal kebahagian mu Mia. Aku akan belikan untuk mu." sahut Garra.


"Tidak usah bang Garra. Nanti uang mu habis.. Terus kalau uang mu habis, perusahaan mu bisa bangkrut seperti perusahaan ayah dulu bagaimana..? Perusahaan ayah bangkrut katanya karena ibu dan Jihan suka berbelanja barang barang mahal seperti ini."


Ucapan Mia membuat Garra tersenyum.


"Mia tenang saja, uang bang Garra kan banyak. Untuk membeli seratus hp seperti ini saja tidak akan berkurang. Kau mau??"


"Benar kah?"


Garra mengangguk.


"Kalau begitu, beliin Mia satu saja ya..? Yang seperti milik bang Garra ini.."


"Tentu Mia , tentu. Sekarang juga aku akan menyuruh Ang untuk membelikan mu hp yang seperti ini. Mia mau warna apa?"


"Pink. Pink saja. Ada kan?" jawab Mia cepat dengan semangat.


"Ada.. pasti ada. Jika tidak ada, Ang bisa memesan nya khusus untuk mu." sahut Garra.


Mendengar itu, Mia terbelalak.


"Bang Garra... Terimakasih..!!! Aku senang sekali..!" Mia sumringah, meraih tangan Garra dan menciumnya berkali kali.


"Akhirnya, aku akan mempunyai Hp. Aku akan meminta Yuri untuk mengajari cara melihat Drama Korea dan membaca novel online. Jadi, mbak Endang tidak perlu lagi mencari kan aku keping keping DVD dan buku novel lagi. Kata Yuri bisa menggunakan hp model seperti ini. Terimakasih Bang Garra ya...!" Mia memeluk Garra dengan erat.


"Ya Tuhan... Terasa mimpi.! Ku pikir seumur hidup , aku tidak akan bisa memiliki hp bagus. Ternyata suami ku akan membelikan nya untuk ku. Terimakasih Tuhan... terimakasih sudah mempertemukan aku dengan Bang Garra yang kaya dan murah hati, yang mau membelikan ku sebuah Hp." sambung Mia.


Garra semakin tertegun, menekan kepala Mia di dadanya. Memeluk Mia dengan dalam dan membelai rambut istrinya.


"Bang Garra!! Tau tidak.." ucap Mia masih dengan kepala di dada Garra.


"Apa?" tanya Garra sambil terus membelai rambut Mia.


"Kata Yuri ada aplikasi novel online yang bisa di pasang di hp. Bisa baca banyak novel romantis gratis di sana. Tanpa harus bayar. Yang penting ada data, begitu. Benar tidak?"


"Iya sayang.. ada banyak!" jawab Garra.


"Kata Yuri, Aplikasi Novel Online kalau gak salah. Yuri juga bilang kalau kemarin dia nemu cerita bagus.. Karya seorang penulis amatiran yang lagi hits. Kata Yuri, judul nya Suamiku bukan pria Cacat! Mirip seperti cerita kita ya..? Jangan jangan alurnya juga sama. Jadi gak sabar pingin baca." celoteh Mia.


"Kata Yuri..."


Plup...!!! Garra menutup mulut Mia dengan tangan nya.


"Hus... sudah. Kata Yuri Mulu. Besok biar Bang Garra yang mencarikan Aplikasi NovelToon nya. Memasang nya untuk Mia. Dan mencarikan judul karya nya , tadi apa tuh..."


"Suamiku Bukan Pria Cacat!"


"Ya itu, Suamimu Bukan Pria Cacat. Tapi Pria Gagah."


"Suamiku Bukan Pria Cacat bang Garra.?" Mia memukul dada Garra.


"Ya memang bukan Mia... Siapa bilang Suami mu pria Cacat."


"Bang Garra...!!" Mia mendongak sambil mencubit pinggang Garra karena kesal.


"Iya iya... bercanda Mia ku. Aku mengerti maksud mu. Cari novel romantis yang judulnya Suamiku Bukan Pria Cacat!. Begitu kan maksud mu?"


"He'em."


Garra tersenyum, merengkuh kepala Mia, kembali membawa nya dalam pelukannya.


Rasa gairah Garra yang tadi ingin sekali mencumbu Mia, yang tadi ingin sekali menerkam Mia ,hilang lah sudah. Lebur semua oleh celoteh Mia. Terganti rasa sedih yang mencekam ulu hatinya.


Menyesal karena kurang memperhatikan Mia hingga tidak tau jika Mia tidak pernah memiliki hp dan ternyata sangat mengimpikan benda itu.


"Mulai saat ini, katakan apapun yang kau inginkan. Katakan saja, apapun itu. Aku akan membelikannya untuk mu Mia. Apapun! Berjanji lah akan mengutarakan apapun keinginan mu."


Mia mengangguk di dada Garra.

__ADS_1


Garra mendekap Mia dengan erat. Mengganti gairah cinta nya yang semula menggebu, menjadi gairah kasih sayang yang dalam.


__ADS_2