
Pagi harinya,
Masih di Apartemen sekretaris Ang.
Masih di kamar yang terlihat berantakan itu.
Sekretaris Ang tentunya masih meringkuk di bawah selimut.
Terlihat sedikit bergerak, lalu perlahan membuka matanya. Meraba sisinya. Seketika bangun, menoleh kesamping.
"Yuri!" mendapati yang dicari tidak ada di tempat.
"Apa dia mandi?" batinnya, matanya melirik kamar mandi yang sedikit terbuka. Tidak ada tanda tanda manusia di dalamnya. Ang menyibakkan selimutnya. Menjajakan kakinya kelantai. Namun berhenti ketika matanya menangkap noda darah yang lumayan banyak di sprei.
Sekretaris Ang menyentuh itu dengan jarinya.
" Darah ini, semalam kau pasti kesakitan. Kenapa mesti berbohong padaku."
"Itu pasti sakit. Argh..! Apalagi aku tidak bisa menahan diri ketika sudah berada di dalam. Maafkan aku!" Sekretaris Ang bangun, mengambil handuk. Melilit tubuh bagian bawahnya lalu menarik sprei kasur itu dan melipatnya.
Sekretaris Ang kemudian menyimpan sprei itu di lemari. Di tempat yang khusus. Berkeinginan untuk menjadikan sprei itu kenang kenangan.
Kemudian mengambil sprei baru untuk penggantinya.
Lalu kembali duduk di tepi ranjang setelah selesai memasang seprei sambil memijit bahunya. Merasakan rasa lelah dan pegal di sekujur tubuhnya. Belum lagi rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya.
"Aku saja seperti ini. Apalagi Yuri? Tapi kemana dia? Apa di dapur?" belum saja sekretaris Ang bergerak, berniat ingin melihat Yuri di dapur. Pintu sudah terbuka, Yuri melangkah masuk dengan nampan berisi sarapan, segelas susu hangat dan secangkir kopi hitam.
"Kak Ang? Kau sudah bangun rupanya." sapa Yuri, meletakkan nampan di atas meja dan menghampiri sekretaris Ang yang menatapnya serius. Meniti dari bawah hingga atas.
'Makan apa sih anak ini. Bisa sekuat itu. Tubuhnya bisa segar bugar begitu. Aku saja rasanya tidak ingin bangun karena lelah. Benar benar cabe rawit!' batin Ang.
"Selamat pagi kakak sayang!!" mencium kening sekretaris Ang.
Ang tersenyum. "Dari mana?"
"Membuat sarapan untuk mu."
"Memang bisa?" tanya sekretaris Ang, sedikit meledak.
"Hanya mencoba. Siapa tau berhasil." jawab Yuri, duduk di sebelah sekretaris Ang.
"Sudah mandi belum?"
Sekretaris Ang menggeleng saja.
"Mandi dulu geh, setelah itu baru sarapan." suruh Yuri.
Sekretaris Ang belum juga beranjak. Masih menatap Yuri.
"Sayang..? Kamu beneran tidak apa apa?" sekretaris Ang yang sungguh penasaran merengkuh tubuh Yuri. Pria itu sedang ingin mencari kebenaran.
"Semalam itu, sampai berdarah banyak. Aku tidak percaya jika kau tidak merasa sakit."
"Itu kan sudah lewat! Kenapa mengungkitnya lagi sih?" sahut Yuri kesal dengan rasa penasaran suaminya dan dengan pertanyaan yang terus di ulangnya.
"Aku hanya ingin tau, jangan tidak berbagi dengan ku Yuri. Apapun itu aku perlu tau."
"Kalau pun sakit, itu sudah semalam kak? Tidak perlu di khawatirkan lagi kan?"
"Jadi , semalam sakit? Astaga!!" Seru Ang.
" Kenapa tidak mengatakan terus terang saja sayang.!! Semalam bahkan aku tidak mengontrol tenaga ku." sekretaris Ang mengangkat wajah Yuri, menatap penuh penyesalan.
"Kalau aku bilang sakit, kak Ang pasti akan berhenti. Dan membiarkan malam pertama kita gagal. Aku tidak mau! Aku maunya malam pertama ya malam pertama. Jangan ditunda apapun alasannya. Aku bukan Mia! Yang nikahnya kapan, malam pertama nya kapan." ucap Yuri, kali ini membuat sekretaris Ang tergelak sambil memeluknya.
"Kau ini, kenapa bisa senakal itu. Hanya tidak ingin sama dengan kakak mu sampai nekat seperti itu? Jelas kau bukan Nyonya Mahendra. Jelas cerita kita dan mereka berbeda. Mempunyai versi masing masing dan masalah masing masing." sahut sekretaris Ang menyentil hidung Yuri.
"Maka dari itu, aku sengaja menggoda mu agar tidak tahan. Dan ternyata aku berhasil. Kak Ang, kau kalah kan? Kau yang menjerit dan berteriak. Bukan aku! Aku bilang apa dulu?"
Ang tersipu,
"Dasar nakal, sudah jangan membahasnya lagi." sekretaris Ang menunduk, menggigit kecil bahu Yuri.
"Kau tidak memikirkan aku yang sangat gugup semalam. Dan pagi ini aku bangun dengan penuh penyesalan." sambung sekretaris Ang.
Yuri tak menjawab lagi, dia sudah mengerti apa yang di maksud penyesalan oleh suaminya. Memilih untuk diam saja. Jika tidak, maka akan merembet lagi. Masalah hamil. Takut dirinya hamil. Itu lagi itu lagi yang akan di bahas suaminya.
"Kakak mandi lah! Akan ku siapkan air hangat untuk mu." Yuri beranjak.
"Tidak perlu." Sekretaris Ang buru buru bangun dan melangkah ke kamar mandi.
Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, sambil terus memikirkan yang semalam.
"Kalau semalam itu berhasil bagaimana? Argh... Aku tidak ingin istri ku hamil dulu. Tidak! Aku harus mencari solusinya." sekretaris Ang cepat menyelesaikan mandinya. Dengan pikiran kalut yang tetap memikirkan semalam.
Bayangan tentang kehilangan ibu yang belum sempat ia lihat kembali melanda pria tegas yang semalam mendadak berubah cengeng itu. Pria yang sanggup menolak puluhan wanita dan bisa langsung lemah ketika di dekat Yuri itu.
Sekretaris Ang keluar dari kamar mandi. Sempat menegang kembali ketika Yuri menghampiri nya dan mendekapnya dari belakang.
"Sudah wangi."
__ADS_1
"Biarkan aku berganti dulu sayang?" pinta Ang dengan lembut sambil melepaskan tangan Yuri.
"Hihi.. Iya kakak. Maafkan aku. Tubuhmu terlalu menggodaku." ucap Yuri. Menyisih dengan cepat ke sisi ranjang.
Ang hanya tergelak melihat tingkah Yuri lalu segera berganti dan menghampiri nampan sarapan yang di bawa istrinya tadi.
"Kau membuat roti rupanya."
"Hanya itu yang bisa ku buat. Kakak tidak suka?"
"Suka? Siapa bilang tidak suka." sekretaris Ang langsung menyantap sepotong roti. Melirik secangkir kopi hitam.
"Ini kopi ku?" bertanya.
"Tentu saja. Aku tau , kakak suka kopi di pagi hari." jawab Yuri.
"Ternyata selama ini kau memperhatikan kebiasaan ku."
"Jelas lah. Aku kan bercita cita menjadi istrimu. Aku selalu memperhatikan kebiasaan mu."
Sekretaris Ang tergelak, ia jadi ingat pertama kalinya adalah Yuri yang terus mengejarnya. Adalah Yuri yang terus mengatakan cinta padanya. Sementara dia selalu menolaknya.
Ang menoleh, menatap wajah yang tersenyum padanya itu. Sungguh pagi ini begitu berbeda dari biasanya.
Biasanya pagi hari, Ang hanya mengawalinya dengan mandi dan langsung berkemas tanpa ada percakapan atau kegiatan lain. Sempat menyeruput sedikit kopi buatan pelayan. Lalu terburu menghampiri Tuan muda Garra untuk ke kantor.
Sarapan pun di kantor, makan siang bahkan makan malam pun kadang di sana.
Tapi pagi ini, awal baru yang indah dalam hidupnya. Yuri, benar benar membuat perubahan besar dalam hidupnya. Rasanya udara di sekeliling Ang pun berubah menjadi hangat.
Senyumannya membuat semangat tersendiri di hidup Ang. Semangat yang besar dan menggebu...
"Apa kau sudah sarapan sayang?" tanya sekretaris Ang pada Yuri sambil mendekat.
"Sudah. Maaf, aku tadi tidak tahan. Lalu sarapan duluan di dapur."
"Tidak apa apa! Kau boleh duluan. Tidak perlu menungguku, aku tidak mau kau menahan lapar." balas Ang, lalu duduk di samping Yuri.
Tangan Ang, sibuk mengulik hpnya. Mengirim pesan singkat berkali kali pada Garra.
"Yuri! Aku akan keluar sebentar. Aku harus menemui Tuan Muda. Apa tidak apa apa kau ku tinggal? Sebentar saja."
"Jangan bilang mau bekerja?"
"Tidak mungkin. Ada sedikit hal yang harus kami bahas. Hanya sebentar saja." sekretaris Ang segera bangun mengecup singkat kening dan bibir Yuri.
"Kau boleh kemana pun kau suka. Asal jangan keluar dari Apartemen ini." ucap sekretaris Ang lalu melangkah setelah meraih sepatunya dan memakainya.
Yuri tidak tau, jika yang mengirim pesan pada Garra dan ingin bertemu adalah suaminya sendiri.
**
Sekretaris Ang sudah duduk dengan memegangi keningnya di ruangan milik nya di Rumah utama Garra.
Sementara di depan nya , Garra Mahendra berjalan kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu setelah sekretaris Ang selesai berbicara dan meminta pendapat padanya.
"Ang, seharusnya kau berkonsultasi langsung dengan dokter Sinta. Bagaimana? Jika kau mau aku akan memanggilnya kemari."
"Tapi Tuan."
"Kau tidak perlu malu. Katakan semuanya. Aku juga akan membantumu berbicara nanti. Hanya Dokter Sinta yang bisa memberimu solusi yang terbaik tentang masalah yang kau takutkan ini." ujar Garra kembali.
Sekretaris Ang nampak berpikir dulu. Sebelum akhirnya mengangguk.
"Tunggu sebentar. Aku akan mengambil hp ku untuk menghubunginya."
"Terimakasih Tuan Muda. Saya sudah mengganggu waktu anda dan merepotkan."
"Kau tenang saja Ang. Aku senang kau sangat memikirkan Yuri. Dia adalah Adik Mia. Jadi aku ada hak untuk melindunginya juga. Dan aku juga tau betul tentang masa lalu orang tuamu yang membuatmu takut."
Sekretaris Ang lagi lagi mengangguk mendengar penuturan Garra, sedikit bernafas lega setelah berbagi gelisah di hatinya dengan Tuan Mudanya itu.
Lalu Garra melangkah meninggalkan sekretaris Ang untuk menghubungi Dokter Sinta.
Lama sudah.
Sekretaris Ang terlihat melirik jam di hpnya, rasa tak sabar menunggu.
Setelah cukup lama menunggu, Garra kembali. Kali ini benar benar sudah bersama dokter Sinta.
"Ang.. Dokter Sinta sudah datang kemari. Dokter silahkan." ucap Garra menoleh pada dokter Sinta.
Dokter Sinta mengangguk dan sekarang duduk di sofa di hadapan sekretaris Ang.
"Kau bisa bicara empat mata padanya Ang. Aku akan meninggalkan kalian." ucap Garra lagi dan beranjak pergi meninggalkan mereka.
Sepeninggal Garra, Ang masih nampak canggung melirik Dokter Sinta yang sedang menunggu ucapan darinya.
"Dokter Sinta!" panggil Ang.
"Iya Tuan sekretaris."
__ADS_1
"Apa kau tau, kenapa aku memanggilmu kemari?"
"Tentu saja. Sedikit banyak Tuan Muda Garra sudah berbicara pada saya ditelepon tadi." jawab dokter Sinta.
"Jadi kau sudah tau permasalahan ku?"
Dokter Sinta mengangguk.
"Anda ingin menunda kehamilan Nona Yuri?"
"Panggil dia Nyonya Ang. Sekarang dia istriku!" pamer.
"Oh iya. Mohon maafkan saya. Anda ingin menunda kehamilan untuk Nyonya Ang? Benar begitu?"
Ang mengangguk.
"Apa kau bisa memberi solusi terbaik untuk kami? Kau pasti sudah tau alasanku kenapa ingin menunda kehamilan istriku." tanya sekretaris Ang.
"Usia Nyonya Ang, adalah alasan satu satunya Tuan Sekretaris. Saya sungguh mengerti itu."
"Lalu apa solusi yang bisa kau berikan?"
"Kalian bisa ikut progam keluarga berencana atau KB Tuan sekretaris."
"Apa itu tidak berbahaya untuk istriku. Kau pasti juga tau kekhawatiran ku jika Istriku mengikuti KB."
"Saya mengerti. Saya akan jelaskan terlebih dahulu. Pemakaian kontrasepsi tidak terbatas usia sebetulnya, baik yang sudah pernah melahirkan ataupun belum. Tidak perlu takut kandungan kering seperti mitos yang tidak benar yang beredar di masyarakat. Boleh melakukan kontrasepsi segera setelah menikah.
Demikian juga dengan pemilihan alat kontrasepsi. Menurut saya sendiri, metode kontrasepsi sesungguhnya sangat personal, dalam artian tergantung kecocokan satu dengan lainnya. Sebab tidak semua yang cocok pada seorang wanita maka akan cocok pada wanita lain.
Tidak ada alat kontrasepsi terbaik, adanya adalah yang paling cocok. Setiap orang mempunyai kecocokan yang berbeda. Apabila Nyonya Ang tidak keberatan minum obat setiap hari dan bukan orang yang mudah lupa, bisa memakai pil KB.
Mengenai efek samping, pada umumnya kembali lagi pada kontrasepsi yang digunakan. Pada pil KB di awal pemakaian kadang memberikan perasaan mual dan kadang timbul flek-flek di wajah. Sementara pada pemakaian spiral mengakibatkan perdarahan haid yang lebih banyak dari biasanya selama sekitar 4 bulan setelah pemasangan dan sebagian besar akan berangsur-angsur membaik hingga akhirnya menjadi normal.
Apabila tidak keberatan dilakukan pemasangan spiral di dalam rahim, maka bisa dicoba menggunakan spiral. Spiral ini sangat nyaman sebetulnya, karena pemasangan sekali dapat digunakan untuk kontrasepsi hingga 5 tahun." Tutur Dokter Sinta dengan gamblang.
Ang manggut manggut, rupanya dia sangat paham.
"Baiklah, aku akan membicarakan ini pada istriku dahulu. Setelah itu aku akan menghubungi mu."
"Tapi Tuan, ada hal penting yang harus kita perhatikan sebelum anda memutuskan untuk Nyonya Ang Ber-KB."
"Apa itu?"
Dokter Sinta tak langsung menjawab, terdiam seperti canggung saat ingin bertanya.
"Katakan saja. Apa?"
"Mohon maafkan atas kelancangan pertanyaan saya Tuan. Tapi ini harus."
"Tanyakan saja."
"Saya tau, semalam adalah malam pertama anda, apakah anda sudah.." dokter Sinta tidak melanjutkan pertanyaannya, melirik dulu wajah Sekretaris Ang.
Ang paham apa yang ingin ditanyakan dokter Sinta. Ang mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas.
"Itulah kecorobohanku. Aku sudah melakukan nya."
"Kalau begitu tidak bisa Tuan."
"Maksud mu?"
"Setidaknya , tunggu dulu dalam waktu seminggu. Dan dalam waktu seminggu itu anda harus bisa menahannya. Kemudian kita bisa melakukan tes pack pada Nyonya Ang. Kita bisa memilih alat Test pack kehamilan yang terbaik, cara kerjanya adalah mendeteksi hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang diproduksi saat kehamilan. Hormon HCG bisa terdeteksi pada test pack terbaik paling cepat sekitar 1 minggu setelah berhubungan badan. Jika Nyonya Ang tidak hamil maka bisa langsung Ber-KB. Kita tidak tau, jika Tuan dan Nyonya sama sama subur,satu kali berhubungan saja sudah memungkinkan untuk kehamilan Nyonya Ang." penjelasan dokter Sinta kali ini sungguh membuat Ang frustrasi.
'Argh... sekali berhubungan? Bagaimana ini? Semalam bahkan aku berkali kali melakukannya!' meremas rambutnya.
"Apa kau tau Dokter Sinta. Ibuku melahirkan ku pada saat usianya bahkan belum genap tujuh belas tahun. Sama persis dengan Usia istriku saat ini. Ibu ku meregang nyawa karena itu. Aku tidak ingin itu terjadi pada Istri ku. Tidak! Aku sangat ketakutan sekali saat mengingat itu. Aku sungguh takut!"
"Tuan, anda tidak perlu cemas. Andaikan Nyonya Ang benar benar hamil. Anda bisa melakukan kelas hamil terbaik buat Nyonya Ang. Dan melakukan operasi Caesar untuk persalinannya nanti. Anda tidak perlu khawatir. Saya bersedia untuk mendampingi nyonya Ang."
Mendengar itu, Ang sedikit lega. Walau masih ada kecemasan di hatinya.
"Kalau begitu, bantu aku Dokter Sinta. Bantu aku menjaga istriku!"
Dokter Sinta mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi. Satu Minggu lagi kita akan bertemu kembali. Saya sendiri yang akan datang." ucap dokter Sinta.
"Baiklah. Terimakasih dokter Sinta."
Dokter Sinta tersenyum lalu melangkah keluar untuk kembali ke rumah sakit.
Sementara Ang sendiri, langsung meninggalkan ruangan nya dan segera Pulang ke Apartemen nya setelah berpamitan pada Garra.
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobilnya sekretaris Ang terlihat sangat frustrasi.
'Seminggu?'
"Hanya menunggu satu malam saja aku tidak bisa. Apalagi selama itu? Payah sekali aku ini? Dasar lemah!" memaki diri sendiri.
___________________
__ADS_1
bersambung....!!!