Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Yuri mendadak Ustadzah.


__ADS_3

Tiara masih menatap Mia dengan seksama. Meneliti dari kepala hingga kaki. Tampak begitu heran dengan perubahan Mia yang begitu drastis, berubah hingga delapan puluh derajat Celsius.


Dari rambut, wajah dan pakaian hingga perhiasan yang Mia pakai. Menampakan jika Mia yang sekarang adalah menjadi Nyonya Nyonya kaya yang terhormat. Lalu melirik mobil yang terparkir di luar sana. Mercedes putih keluaran terbaru.


Lalu menoleh pada Yuri. Yang di toleh langsung gelagapan. Merasa akan hendak diintrogasi, Yuri cepat angkat suara.


"Bu, tadi Yuri sudah mengusir Mia. Tapi Mia ngotot ingin bertemu ayah. Aku tidak mau Mia masuk ke rumah ini lagi. Jijik melihat dia. Sudah sudah, usir saja Mia Bu." seru Yuri. Semakin membuat Garra heran. Tadi saja berlagak seperti ingin melindungi, tapi sekarang malah menghina Mia.


Sementara Jihan, melirik tangan Garra yang masih menggenggam tangan Mia.


Tiara sendiri, tidak menggubris ucapan Yuri, malah Tiara menghampiri Mia. " Kau ingat pulang?"


"Tentu Bu, Mia ingin melihat kabar kalian."


"Melihat apa mau menertawakan?" tanya Tiara sadis.


"Melihat Bu,,, ingin tau keadaan kalian. Kenapa mesti menertawakan?" tanya Mia.


"Hidup kami saat ini sedang tidak baik. Ku kira kau kesini hanya untuk mengejek kami karena kau sudah menjadi seorang Nyonya sekarang." jawab Tiara.


"Tidak mungkin Mia seperti itu Bu.."


"Lalu siapa dia? Bukan kah kau sudah menikah dengan Tuan muda Garra dari Keluarga Mahendra yang kaya raya itu. Kenapa masih membawa pria lain. Dan pria ini, bukan kah yang pernah mengantar mu dulu itu?" tanya Tiara, kembali melirik Garra.


"Ibu.. dia ini.?"


"Saya.. Saya pengawal nyonya Mia langsung dari Tuan muda Garra suami Nyonya Mia." potong Garra segera.


Mia menoleh pada Garra, tidak menyangka jika Garra akan berbohong. Tapi merasakan tekanan tangan Garra, Mia paham. Mungkin Garra ada rencana tersendiri.


"Iya, dia hanya pengawal. Iya pengawal saja. Begitu." ucap Mia meyakinkan Tiara.


Jihan menyeringai sadis. Sambil mendekat pada Mia.


"Pengawal apa selingkuhan? Pengawal kok sedekat ini? Pakek genggaman tangan segala." ucap Jihan nyinyir.


Mia langsung melepaskan genggaman tangan Garra.


"Tidak, aku tidak selingkuh. Dia memang.."

__ADS_1


"Saya memang harus menjaga Nyonya Mia dengan baik. Jika hanya menggenggam tangan Nyonya Mia , itu tidak masalah. Saya hanya ingin menjaga nya dari hal hal yang tidak di inginkan. Bukan kah dulu kalian semua selalu menyakiti nyonya Mia? Jadi, saya hanya ingin melindungi nya. Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya." Garra berpura pura .menjelaskan.


"Alah.. bilang saja kalian selingkuh." sahut Jihan.


"Jihan.. aku tidak selingkuh.." bantah Mia.


"Ooh.. Aku paham... mungkin karena suami mu Tuan muda yang cacat ya.. Makanya kamu sengaja mencari pria lain yang normal, yang bisa memuaskan kamu. Begitu kan ? Dasar perempuan tidak benar, kelakuan sama dengan ibunya." ucap Jihan lagi.


"Jihan.. Jangan bawa bawa ibuku...! Dan Suamiku Bukan Pria Cacat. Kamu harus tau itu...!!." seru Mia.


Jihan tergelak tipis,


"Kalau bukan cacat apa namanya.. Lumpuh..? Tidak bisa ngapa ngapain..? Kasihan sekali hidup mu Mia. Sekali nya menikah dengan orang kaya, eh.. pria Cacat." ejek Jihan.


"Tidak , Suamiku bukan pria Cacat seperti yang kau katakan. Dengar ya...??"


"Sudah sudah.. jangan bertengkar." Tiara segera mencegah pertengkaran mereka.


"Jihan, diam lah. Dan kau Mia.. masuk lah. Katanya mau menemui ayah mu. Temui saja ayahmu. Dia juga terus menanyakan kabarmu." ucap Tiara.


Mia mengangguk, melangkah masuk di ikuti oleh Garra.


"Hei.. kau tidak boleh masuk. Di sini saja." Jihan mencegah Garra yang hendak masuk mengikuti Mia dengan menahan tangan Garra. Tapi Garra langsung menarik tangannya.


"Heh. Aku yang akan mengadukan kalian padanya bahwa kalian sudah selingkuh. Biar Mia di usir dari rumah suaminya. Dan kau di pecat." Jihan tak mau kalah, mengancam Garra.


"Adukan saja. Memang kamu berani menemui suamiku yang orang kaya nomer satu di kota ini hah! Baru mau masuk gerbang, aku sudah akan menyuruh penjaga mengusir mu.." sahut Mia tak mau kalah lagi, menarik tangan Garra dan cepat membawanya melangkah masuk. Garra tersenyum, dalam hati bangga dengan keberanian istrinya yang mau melawan Jihan.


"Dasar sombong..!" teriak Jihan.


"Lihat Bu Mia, mentang mentang sudah jadi istri orang kaya. Sombong sekali. Tidak malu, suami nya cacat bukan nya di urus malah selingkuh sama pengawalan nya pula." rengek Jihan pada Ibu nya.


"Sudah diam..! Jangan seperti itu dengan Mia." bentak Tiara.


"Ibu , kenapa sekarang membela Mia..? Apa karena Mia sudah menjadi orang kaya begitu..?" protes Jihan.


"Itu kamu tau. Saat ini hidup kita lagi ngenes. Satu satunya yang bisa menolong kita hanya lah Mia. Jadi, kita harus berbaik baik sama Mia. Siapa tau Mia mau membantu kita." ucap Tiara.


"Tapi aku malas Bu, berbaik baik sama Mia..!" bantah Jihan.

__ADS_1


"Tidak bisa..!! Kamu harus berbaik baik sama Mia. Pokoknya harus..!!"bentak Tiara.


"Ibu..!!"


"Menurut, atau ku jual kau di pasar gelap.!" ancam Tiara pada Jihan.


"Ibu , kenapa tega.!!!" teriak Jihan. Lalu diam, tampak sedang berpikir.


"Tapi , iya juga ya... Baiklah kalau begitu. Aku akan baik baik sama Mia. Siapa tau, ada untungnya juga." Akhirnya Jihan menurut. Pikiran nya langsung kemana mana untuk memanfaatkan Mia.


Sementara Yuri yang mendengar obrolan mereka kesal.


"Kalian ini ya?? Tidak mau bertobat. Tidak sadar apa, yang menimpa kita ini adalah karma karena kita sering menyakiti Mia." ucap Yuri, membuat dua orang di depannya membelalakkan mata mereka ke arah Yuri.


"Kau ini, sok benar saja. Sendirinya juga sering menyakiti Mia." sentak Jihan.


"Tapi setidaknya aku sering melempar nya dengan coklat dan permen, tidak seperti kalian. Melempar sampah dan kemoceng. Kalaupun , jika aku tidak ikut menyakiti Mia, pasti aku yang akan kalian siksa. Iyakan..?" bantah Yuri.


Jihan terperangah, mengingat Yuri sering sekali memaki Mia di depan nya sambil melempari Mia dengan coklat, permen bahkan Snack ringan. Dan Jihan mengira, Yuri mekakukan itu karena Yuri sangat membenci Mia.


"Apa Yuri? Jadi , kau sering melempar dia dengan makanan itu karena..!"


"Iya. Jika aku tidak melemparnya bagaimana mungkin aku bisa berbagi dengan Mia. Kalau aku memberi makanan ringan baik baik pada Mia. Pasti kalian akan melarang nya." potong Yuri.


"Dasar penghianat!!" bentak Jihan kesal pada Yuri yang ternyata selama ini tidak benar benar benci pada Mia.


"Aku ini bukan penghianat, tapi terhasut oleh kalian. Pokoknya mulai sekarang, aku tidak mau lagi ikut ikutan membenci Mia. Terserah kalian kalau tidak mau tobat juga. Denger nih ya.... Menurut guru agama di sekolah ku. Dunia ini sudah tua. Tanda tanda Dajjal keluar sudah nampak. Artinya, sebentar lagi bakalan kiamat. Jika itu terjadi, Pintu taubat akan ditutup. Nah loo, Ibu dan Jihan bakal masuk neraka. Hiiih... aku tidak mau ikut kalian masuk neraka." ucap Yuri panjang lebar, lalu melangkah masuk tanpa beban. Meninggalkan Tiara dan Jihan yang bengong , terdiam seribu kata.


Hingga Jihan tersadar lalu menoleh pada ibunya.


"Bu..!"


"Yuri.. kenapa mendadak ustadzah begitu??" Jihan.


Tiara menggeleng juga. Tidak bisa menebak pikiran Yuri. Apa dia selama ini hanya berpura pura membenci Mia karena takut pada mereka, atau Yuri memang sudah bertobat.


"Ah, sudah. Jangan pedulikan Yuri. Kita tetap pada tujuan kita. Membaiki Mia."


Jihan mengangguk, lalu Mereka melangkah menyusul Mia yang sudah berada di ruangan atas menemui Ayahnya.

__ADS_1


________


Bersambung......!!!!!


__ADS_2