Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Histerektomi Mia!


__ADS_3

Diluar ruangan, kepanikan kembali melanda mereka. Lebih lebih Garra Mahendra, Pria itu terlihat semakin gusar dengan sesekali menengok ke arah pintu yang di tutup.


Saat pintu di buka , Garra segera berlari mendekat.


Lutut Garra serasa tertimpa besi yang cukup berat. Gemetaran dan mendadak lemas ketika melihat beberapa suster tengah mendorong Istrinya yang terbaring diatas ranjang dorong.


"Apa yang terjadi, apa yang terjadi?? Apa yang terjadi pada istriku???" berteriak.


"Tuan Muda. Nyonya Mahendra butuh perawatan intensif. Kami hanya ingin memindahkan ruangannya." Sahut dokter, tidak peduli lagi pada Garra , dengan melawan takut pada Pria yang sudah menahannya itu. Sang Dokter tetap mengikuti Para suster dengan melepaskan tangan Garra.


"Brengsek!! Apa yang terjadi, apa..??" menyusul, namun segera ditahan oleh sekretaris Ang.


"Tuan Muda, bersabarlah. Biarkan Dokter menangani Nyonya dulu."


"Ang.. Ada apa? Mia kenapa??"


"Tuan, duduk dulu!"


"Aku harus mengetahui apa yang terjadi pada istri ku Ang!! Mereka pasti sedang menutupi sesuatu!"


"Biar saya saja. Biar saya. Tuan Muda sebaiknya disini dulu."


"Kalau begitu cepatlah Ang, cepat susul mereka. Aku tidak tenang. Aku takut Ang! Mia tadi berdarah sangat banyak!!"


Sekretaris Ang mengangguk, lalu menyuruh Garra untuk duduk disebuah kursi di jaga oleh Gani Kuncoro. Sementara Tiara Jihan dan Yuri saat ini sedang berada di ruangan lain bersama bayi Mia.


Sekretaris Ang segera berlalu untuk menemui Sang Dokter. Sekretaris Ang sudah bisa memastikan jika Garra yang menyusul pasti tidak akan bisa mengendalikan emosinya.


Epilog.


"Lama sekali, apa yang mereka lakukan Disana?" berdiri.


"Tuan Muda. Nak! Sabarlah. Kita tunggu sebentar lagi."


"Ayah Mertua, saya benar benar tidak tenang!" menoleh saat suara langkah kaki mendekat.


"Ang? Bagaimana keadaan Mia?" segera mendekat.


"Tuan Muda. Dokter ingin berbicara dengan Anda."


Tanpa bertanya atau pun bicara, Garra langsung melangkah ke ruangan di mana istrinya dimasukkan disusul Ang di belakangnya.


"Mia..!" bukannya bertanya pada sang dokter, melihat istrinya tersenyum dengan terbaring lemah itu, Garra langsung menghampiri dan memeluknya.


"Apa yang terjadi padamu Mia? Apa yang kau rasakan sekarang sayang? Katakan padaku!" terisak kembali.


"Bang Garra, Mia tidak apa apa? Jangan menangis." Mia mengusap air mata suaminya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin tidak apa apa. Jika tidak apa apa , kenapa mereka memindahkan mu kemari?" sekarang menoleh pada sang Dokter yang sudah berdiri dan melangkah mendekat.

__ADS_1


"Tuan Muda. Bisakah kita bicara sebentar?"


"Ya. Kau memang harus berbicara! Katakan apapun tentang istriku. Apapun itu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sedikitpun pada istriku!"


Sang Dokter terlihat menarik nafas. Sempat menegang saat melirik mata Garra yang memerah dan menatapnya tajam. Namun Dokter itu harus tetap menyampaikan hasil pemeriksaannya.


"Tuan Muda. Sebenarnya keadaan Nyonya Mahendra baik baik saja. Pendarahan tadi adalah hal wajar yang dialami setiap wanita yang selesai melahirkan." ucap sang Dokter. Namun Garra bisa menangkap hal lain yang masih disembunyikan di wajah dan cara bicara sang Dokter.


"Lalu kenapa? Kenapa istriku Kau bawa keruangan ini? Katakan! Apa ada hal lain?" penuh selidik.


"Tuan Muda. Kami.. kami..!"


"Katakan!!" Garra sudah tak sabar meraih kerah jas putih sang Dokter.


"Tuan, maafkan saya." tercekik.


"Tuan Muda. Hentikan. Tolong biarkan Dokter menjelaskannya dulu!" lagi lagi disini Ang harus menjadi tameng sang Dokter dan berusaha menenangkan Garra.


Melepaskan, lalu menarik kursi dan duduk.


Sang Dokter pun demikian, menarik kursi dan duduk. Mereka saling berhadap hadapan, terhalang sebuah meja.


Dokter masih terdiam, merangkai kata untuk memulai pembicaraan.


Garra juga terdiam, lalu terlihat menghela nafas.


"Maafkan aku. Apa kalian tau jika kalian sudah sekali lagi membuatku takut setelah ketakutan ku yang tadi." ucap Garra.


"Tuan Muda. Pendarahan Nyonya sebenarnya tidak berbahaya. Itu hal wajar yang terjadi setelah proses melahirkan." Dokter kembali mengulang penjelasannya tadi.


"Tapi, kami menemukan kabar buruk saat kami melakukan pemeriksaan tadi." menjeda, membuat hati Garra semakin tak karuan, namun pria itu kali ini nampaknya bisa mengendalikan dirinya.


"Kami menemukan Kanker di rahim Nyonya Mahendra."


DUAR!!!!.......


Seketika Garra, seperti disambar petir. Jiwanya terasa luruh. Mendongak , menatap pekat wajah sang Dokter.


"A..apa? Apa??" terbata.


Sekretaris Ang yang lebih tau dari awal sebelum menjemput Garra tadi sudah bersiap.


"Kanker Rahim dan sudah memasuki Stadium Lanjut." Dokter itu menunduk.


"Mana mungkin? Istriku, mana mungkin?" tangan Garra bergetar, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa tidak ada yang menyadarinya? Kenapa baru menemukannya sekarang!!!!" Garra berteriak.


"Maafkan Kami Tuan Muda. Maafkan kami. Kami tidak menyadarinya. Selama ini baik Nyonya maupun janinnya sehat sehat saja. Dan fisik Nyonya kuat, sama sekali tidak ada tanda tanda penyakit berbahaya sedikitpun. Kami juga tidak mengerti, kenapa penyakit itu baru bisa terdeteksi saat pendarahan terjadi tadi."

__ADS_1


Air mata Garra sudah mengalir deras.


"Selamatkan Nyonya Mahendra. Bagaimanapun caranya!"


"Dengan kemoterapi atau berobat rutin bisa saja Tuan Muda. Tapi masih ada kemungkinan jika kanker itu tidak tuntas dan masih tertinggal. Satu satunya jalan yang tepat hanya Histerektomi atau operasi pengangkatan rahim, yaitu rahim akan “dibuang” dari tubuh Nyonya. Dan resikonya adalah, Nyonya sudah tidak bisa hamil lagi setelah menjalani operasi histerektomi atau pengangkatan rahim.


Bahkan, Nyonya sudah tidak akan mendapatkan periode menstruasi lagi setiap bulannya atau menstruasi berhenti." ucap sang Dokter.


"Tuan Muda, Kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim Nyonya Mahendra sebelum Kanker itu menyebar kebagian lain. Jika sampai menyebar, itu akan sangat berakibat fatal. Anda bisa membicarakan ini terlebih dahulu pada Nyonya Mahendra begitu juga dengan efek sampingnya. Jika sudah setuju kami akan segera melakukan Operasi pada Nyonya Mahendra." sambung sang Dokter.


"Aku tidak peduli dengan kehamilan berikutnya. Bagiku, Istriku yang paling penting. Kami juga sudah mempunyai seorang Putra."


Dengan wajah yang kembali pucat dan tubuh bergetar menahan kesedihan yang memuncak, Garra menoleh pada Mia. Berusaha untuk tegar, dia berdiri dan melangkah pelan mendekati Mia.


Mia tiba tiba bangun dan duduk. Melihat itu Garra langsung berlari.


"Mia..! Jangan begini, jangan begini.Kau belum boleh bangun. Berbaring lagi berbaring. Ayo!" meriah tubuh Mia dan membaringkan kembali.


"Bang Garra, aku tidak mau dioperasi. Aku tidak mau mengangkat rahimku. Aku tau, itu artinya aku tidak bisa hamil lagi kan?" ucap Mia.


"Mia.. Dengarkan aku."


"Tidak bang Garra. Bagaimana nasib Tuan Muda Mahendra nanti. Dia akan sendirian. Jika kita bisa menemaninya sampai tua, jika tidak? Dia tidak akan punya saudara kandung seperti bang Garra. Apa bang Garra tega?"


"Mia..! Jangan memikirkan itu , ku mohon. Saat ini kesehatan mu lebih penting. Ku mohon mia.?"


"Bagaimana mungkin bang Garra? Bagaimana mungkin kita hanya memiliki satu anak saja? Tuan Muda akan kesepian!!" Mia menangis, Garra pun menangis.


"Mia, dengarkan aku kali ini!"


"Tidak!! Aku tidak peduli harus sakit,aku tidak peduli harus mati sekalipun. Aku tidak mau membiarkan Anak ku sendirian. Aku ingin hamil lagi bang Garra. Aku tidak mau diangkat rahimku,!!" Mia pun menjerit. Meronta, memukul-mukul dada Garra yang mendekapnya.


"Mia.. kau satu satunya yang paling berharga dalam hidupku. Kau satu satunya penyemangat hidupku. Meskipun saat ini ada Anak kita. Aku tidak bisa Mia. Aku tidak bisa tanpamu, aku tidak bisa melihatmu harus sakit. Aku akan melakukan apapun agar kau tetap baik baik saja disisi ku. Ku mohon Mia! Ku mohon jangan memberiku pilihan yang sulit."


"Bang Garra!"


"Mia.. Lihat aku. Tuan Muda Mahendra tidak akan kesepian. Ada Ang dan Yuri. Mereka bisa memberi Adik untuk Tuan Muda Mahendra kelak. Benarkan?" mengusap air mata istrinya.


Mia masih terisak. "Tapi.. Tapi aku akan menjadi istri yang tidak sempurna."


Mendengar itu Garra langsung mendekap Mia kembali. Mendekap dengan sangat erat.


"Percayalah Mia! Kau istriku, sampai aku mati. Kau tetap sempurna di mataku, bagaimana pun bentuk mu!"


"Tidak bang Garra, aku tidak mau. Jangan lakukan itu!!"


"Maafkan aku , Kali ini aku tidak mau menurutimu Mia! Maafkan aku! Aku tidak ingin mengambil resiko apapun. Tanpa persetujuan mu, rahimmu harus tetap diangkat!" menoleh pada sang dokter.


"Siapkan semuanya. Dan lakukan operasi itu pada Nyonya Mahendra secepatnya!"

__ADS_1


"Baik Tuan Muda!"


_______________________


__ADS_2