Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Giliran Mia yang Ngidam!


__ADS_3

Minggu sudah berganti, Bulan pun cepat menyusul berganti dan berganti lagi.


Pasangan sekretaris Ang dan Yuri sudah berpindah tinggal ke rumah keluarga Mahendra sesuai janji mereka yang hanya akan tinggal sekitar dua Minggu saja di Apartemen milik sekretaris Ang. Namun dilebihi satu Minggu lagi karena yang satu minggunya kan tidur berpisah. Buat menggantinya. Hihi..


Perut Mia bagaimana? Tentu sudah terlihat membuncit karena kehamilan nya rupanya sudah memasuki bulan ke delapan.


Persiapan pun sudah sangat lengkap. Dari segi apapun sampai rencana kelahiran normal yang diinginkan Mia. Apapun itu, Garra setuju. Asal Mia dinyatakan sehat dan bisa melahirkan normal oleh sang Dokter. Namun untuk jenis kelamin, Garra sendiri yang meminta untuk jangan di sebutkan. Untuk kejutan katanya. Biar deg deg ser menebak nebak calon bayinya apa? Laki laki kah? Perempuan kah? Sama saja. Garra tidak menuntut, akan menerima dengan senang hati! Kembar sekali pun malah akan sangat senang. Yang penting sehat semua. Ibu dan Bayinya! Hanya itu doa Garra setiap saat.


Keadaan Garra saat ini bagaimana ya?


Hanya tiga bulan saja dia merasakan ngidam. Setelah itu kembali Garra bisa menghirup udara bebas. Tidak lagi terganggu pusing kepala. Tidak lagi merasakan mual tiba tiba. Tidak lagi lungkrah letih lesu dan loyo lagi.


Segar dan bugar. Tambah gagah dan perkasa nampaknya.


Tapi lagi lagi Garra yang mengira akan terbebas dari penderitaannya meleset dari perkiraan. Jauh!


Hanya beberapa bulan saja ia terbebas dari siksaan ngidamnya, rupanya penderitaan belum berakhir malah terkesan semakin dalam.


"Apa ini? Apa lagi? Ah.. Jangan bilang jika istriku yang gantian ngidam. Ya Tuhan.. cukup tiga bulan sudah yang lalu. Apakah harus tersiksa lagi?"


Bagaimana Garra tidak mengeluh seperti itu, Mia mulai malas bergerak. Mia mulai kehilangan selera atas dirinya. Mia seperti bosan pada Garra. Tidak suka dia sentuh. Benci dengan aroma keringat Garra. Benci pada bibir Garra. Dan benci pada tangannya juga.


Suatu malam.


"Mia sayang?" merengkuh tubuh Mia yang sedang berbaring miring menghadap tembok.


Yang direngkuh cepat melepaskan diri.


"Bang Garra, gerah!" meletakkan guling disebelahnya. Menarik selimut.


"Kau ini ya? Gerah tapi menarik selimut?" mengambil selimut itu dan membuangnya sembarangan ke lantai.


"Bang Garra, kenapa membuangnya?" langsung bangun melotot pada suaminya.


"Kau bilang gerah kan? Kenapa menarik selimut?" Garra tak kalah melotot.


"Suka suka Mia donk! Yang gerah Mia, kenapa bang Garra yang mengatur hah!" Cemberut.


"Mia, kalau begitu aku ingin memelukmu sebentar saja. Bang Garra kangen seharian tidak ketemu. Malah disuguhi muka cemberut begini?" Garra mulai merayu.


"Tidak mau! Tidak mau! Aku tidak mau kau peluk!" mencakar cakar dada Garra dan segera turun dari ranjang beralih ke sofa.


Garra bengong, 'Mia kenapa tiba tiba begitu membenciku?'


Tidak menyerah, menyusul ke sofa.


"Sayang..! Kau sebenarnya kenapa? Apa bang Garra ada salah?"


Menoleh, "Salah? Tidak ada. Memang bang Garra merasa punya salah?" tangannya membelai rambut gondrong itu dan menyibakkan ke belakang.


"Oh, syukurlah." merengkuh tubuh istrinya.


"Jangan membuatku bersedih, dengan menjauhi ku Mia!"


Mia tersenyum, menggelengkan kepalanya lalu menenggelamkannya ke dada Garra.


"Tidur yuk! Sudah malam." ajak Mia. Seperti kejatuhan Bulan, Garra girang.


"Ah.. Iya sayang??" segera membopong tubuh istrinya. Dengan hati hati membaringkannya di ranjang. Memandangi wajah istrinya yang tersenyum manis itu, kemudian dari ujung rambut ke ujung kaki. Berhenti di perut buncitnya.


Garra merabanya. Mengelus ngelus. Menempelkan mulutnya untuk mencium perut istrinya berkali kali.


"Hey Garra Junior! Kau sedang apa?" berbisik keras.


"Apa??? Merindukan Papa ya??"


"Mia , dia bilang merindukan aku!" mendongak menatap istrinya.


"Jangan beralasan!" sahut ketus Mia.


"Sungguh!"


"Halah bohong! Mia susah tau. Bang Garra Suka berbohong tentang hal itu. Tidak mau! Tidak ada rindu rinduan." menepis tangan Garra.


"Eh, dia bergerak. Hah! Mia .. terlihat sekali dia bergerak!" Garra kembali girang ketika menangkap pergerakan lembut di kulit perut istrinya.


"Iya benar Bang Garra, aku merasakannya. Ah.. dia menendang ku Bang Garra!!!" Mia segera mengelus ngelus perutnya yang sedikit ngilu karena tendangan kaki mungil di dalam perutnya.


"Astaga! Kenapa kau nakal begitu sayang? Tidak boleh menendang Mama ya? Tidak boleh. Ini adalah wanita kesayangan Papamu!" Garra menusuk nusuk lembut perut Mia.


Mia tertawa, terbahak mendengar Garra terus berbincang dengan perutnya.


"Mia, dia ingin tidur di peluk Papanya mungkin? Makanya tidak mau tenang!" akal Garra kembali ingin mengelabuhi istrinya ketika melihat Mia sudah tidak badmood lagi.


"Iya mungkin ya??" sahut Mia.


"Kalau begitu aku akan memeluknya." Garra segera mengambil kesempatan. Memposisikan dirinya disisi istrinya dan memeluk tubuh Mia. Sambil terus meraba raba perutnya. Lama! Lama kelamaan rabaannya merambat pelan ke dada Mia.


"Jangan menyentuhnya!" seru Mia menahan tangan Garra.


"Sebentar saja. Hanya ingin menyentuhnya saja. Janji tidak akan lebih!"

__ADS_1


"Sakit bang Garra!"


"Hah! Sakit?? Maksudmu?" Garra langsung bangun dan menatap serius Mia.


"Apanya yang sakit?" kembali bertanya.


"Ini." menunjuk kedua daging gembulnya.


"Apa yang terjadi Mia?" Garra terlihat khawatir.


"Tidak tau! Tadi nyeri. Makin hari semakin nyeri." jelas Mia.


"Kok bisa? Kenapa tidak bilang? Coba ku lihat."


Pelan Mia membukanya, menunjukkan pada suaminya jika itunya juga benar-benar membesar lebih dari biasanya.


Garra pun heran. Memang akhir akhir ini Garra juga merasakan jika itu Mia semakin membesar. Tapi melihat yang sekarang, sepertinya semakin besar.


"Ini bengkak Mia! Apa yang terjadi? Kau makan apa Mia sampai begini?"


Mia menggeleng. Merasa tidak pernah makan yang aneh aneh.


"Aku akan menghubungi dokter Sinta. Aku akan bertanya, apakah ini ada hubungannya dengan kehamilan mu!" Garra beranjak.


"Besok saja. Ini sudah malam. Aku sudah mengantuk." cegah Mia.


"Tapi Mia. Jika ini berbahaya bagaimana? Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.!"


"Tidak! Sepertinya ini karena kehamilan ku yang semakin besar bang Garra." sahut Mia.


"Jangan sepertinya, Kita belum tau yang sebenarnya terjadi!" Garra sudah menyambar Hpnya.


"Sungguh bang Garra?? Mia pernah membacanya begitu."


"Tapi kau kesakitan Mia..!"


"Hanya sedikit nyeri Bang Garra, besok saja ya? Mia sungguh mengantuk. Garra junior juga bergerak terus, mungkin dia ingin tidur juga."


"Baiklah! Katakan apapun segera padaku jika kau merasakan sesuatu."


Mia mengangguk, dan kembali ke posisinya semula. Begitu juga Garra. Rasa rindu yang tadinya ingin menengok Garra Junior ia batalkan. Garra sepertinya begitu khawatir memikirkan keluhan Mia tadi.


Garra menempel kan tubuhnya dipunggung Mia. Mendekap erat. Mia pun menikmati dekapan suaminya.


Belum begitu lama, Mia mendongak. Mengendus ngendus tubuh Garra.


Lalu bangun seketika.


"Astaga!" Garra terkejut, duduk menatap Mia yang sudah menudingnya.


"Ada apa?"


"Aku tidak mau tidur bersamamu! Bang Garra belum mandi kan?"


"Sudah! Sudah mandi, sudah keramas. Sudah pakai parfum kesukaan Mia kok!" bantah Garra.


"Tapi bang Garra bau keringat!"


"Tidak sayang?? Cium lah!" memajukan dadanya.


"Em..!" Mia menutup hidungnya.


"Bau keringat bang Garra! Aku tidak bisa tidur jika dekat dekat denganmu!"


"Baiklah baiklah, aku akan tidur di pinggir. Ya. Ini sudah malam. Cepatlah tidur kalau begitu." bujuk Garra.


"Jangan dekat dekat!" kembali menuding.


"Iya." Garra mengangguk. Mencari aman saja.


Mia berbaring lagi, menarik selimut membelakangi Garra.


Garra hanya bisa pasrah, boro-boro dapat mengunjungi Garra Juniornya, memeluk Mia saja tidak bisa.


Garra terbaring lesu dipinggir ranjang, membiarkan Mia menguasi ranjang mereka. Hanya bisa menatap punggung Mia dengan memeluk bantal guling. Merasa merana.


Dan itu terjadi, bukan cuma di malam ini. Malam malam berikutnya pun selalu begitu. Bujuk rayu Garra, bualan Garra dan akal bulusnya tidak mempan lagi.


***


"Ang! Aku sedang bersedih." suatu hari di kantor.


"Tuan Muda. Apa yang sudah membuat anda bersedih?" bertanya , heran. Melihat raut gusar Tuan Mudanya.


"Istriku sekarang sangat membenciku!"


"Mana mungkin Nyonya Mahendra seperti itu?" mendekat.


"Kau tidak percaya? Kau pikir aku tukang berbohong. Kau pikir aku memfitnah istriku sendiri."


"Kenapa bisa begitu? Apa anda melakukan kesalahan. Misalnya menyakiti hati Nyonya Mahendra?" penasaran.

__ADS_1


"Apa kau bilang?? Kau pikir aku ini suami yang jahat begitu?"


"Lalu kenapa Nyonya Mahendra bisa membenci Anda? Apa alasannya? Tidak mungkin jika tidak ada alasan kan?"


"Entahlah. Aku sendiri saja bingung memikirkan ini. Jika ku tanya, tidak ada kesalahan apapun. Tapi kadang kadang Mia mengatakan jika aku bau keringat. Aku sampai mandi berkali kali. Tapi tetap saja begitu Ang! Apa yang harus aku lakukan? Sampai kapan aku akan tersiksa seperti ini?" Garra lesu, duduk meremas rambutnya.


"Aku tidak bisa hidup dijauhi Mia Ang! Aku tidak bisa jika harus tidak memeluknya sebentar saja!" berteriak.


Sekretaris Ang terdiam, ia sedang berpikir.


"Ini pasti ada hubungannya dengan kehamilan tua Nyonya Mahendra, Tuan Muda." ucap Ang, tiba tiba.


"Bisa jadi."


"Kalau begitu hanya Dokter Sinta yang bisa menjawabnya."


Garra menoleh, "Kau benar! Cepat panggil dia kemari. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya."


"Baiklah, saya akan menghubungi nya sekarang juga." Sekretaris Ang meraih Hpnya.


Dan lagi lagi disini Dokter Sinta lah yang menjadi korban repot dibuat dua pasangan suami-istri ini.


Setelah masalah sindrom suami ngidam, lalu kasus Sekretaris Ang yang ingin menunda kehamilan istri nya. Dan sekarang apa lagi ini? Lagi lagi dokter Sinta harus menghela nafas beratnya saat harus duduk dihadapan Garra dan di cerca berbagai pertanyaan dari Tuan muda Garra.


"Dokter Sinta!"


"Iya Tuan Muda!" menunduk.


"Jelaskan padaku, kenapa Istriku sangat membenciku, tidak mau ku dekati tidak mau ku sentuh. Bahkan dia mencakar cakar ku dan mengusirku???" memukul meja.


"Tunggu Tuan Muda! Anda jangan emosi dahulu. Mungkin Nyonya Mahendra sedang mengalami Ngidam." jawab Dokter Sinta sekenanya saja.


"Omong kosong apalagi ini? Memangnya ngidam itu sebenarnya sampai kapan? Kau pernah bilang hanya akan terjadi selama hamil muda, kurang lebih tiga bulanan. Aku masih mengingat itu! Lagian aku yang mengalami nya. Lalu ini apa?" wajah Garra sudah memerah.


"Tuan Muda! Sabar!" sekretaris Ang menepuk halus bahu Garra yang langsung menepisnya.


"Ang! Dokter Sinta ini berbohong! Cepat kau buat dia di pecat saja dari dokter spesialis kandungan. Jadikan dia perawat di RSJ saja!" menuding dokter Sinta yang langsung gemetaran.


"Tuan Muda. Harap bersabar. Biar dokter Sinta menjelaskan dahulu." tahan sekretaris Ang.


"Dokter Sinta. Tolong jelaskan pada Tuan Muda dengan sejelas jelasnya agar Tuan Muda tidak gusar lagi." menoleh pada dokter Sinta.


"Jelaskan! Ayo jelaskan! Bisa tidak! Jika tidak, lihat saja. Sekretaris Ang akan membuat gelar Dokter Kandungan mu menghilang selamanya dalam hidupmu!" ancam Garra.


Dokter Sinta semakin ketakutan. 'Ya Tuhan! Selamat hidup ku kali ini? Apa yang harus aku jelaskan?'


"Hey.. Kau diam! Ang, sudah usir dia!" sudah berdiri berkacak pinggang.


Sekretaris Ang buru buru menahan bahu Garra dan membujuknya agar mau duduk kembali.


"Tuan Muda jangan emosi. Bagaimana Dokter Sinta akan menjelaskan jika anda marah marah begini?"


"Dokter Sinta silahkan." Ang mengedipkan matanya.


'Ayo lah Dokter Sinta! Selamatkan hidupmu sendiri. Sungguh aku tidak bisa menolong mu.'


"Baik Tuan. Jadi begini." menghela nafas panjang panjang.


"Sebenarnya masa ngidam itu biasanya terjadi sekitar 12 Minggu usia kehamilan atau bisa lebih sedikit. Tapi pada intinya, ngidam bisa terjadi kapan saja selama masa kehamilan bahkan sampai hamil tua pun. Apalagi di kasus kehamilan Nyonya Mahendra, anda yang mengalami Morning Sickness nya. Jadi sekarang ini mungkin adalah waktu dimana yang hamil sendiri yang mengalami nya dengan artian jika saat ini Nyonya Mahendra lah yang giliran mengalami nya." Dokter Sinta berusaha menjelaskan nya walau dengan sedikit kebohongan. Asal bisa aman dari amukan Garra.


"Apa benar yang kau ucapkan?" tanya Garra penuh selidik.


"Percayalah Tuan. Begitu pengetahuan yang saya ketahui selama menjadi Dokter kandungan selama ini. Seharusnya ini tidak perlu di khawatirkan karena kondisi ini hanya akan terjadi selama masa kehamilan saja."


"Terus kenapa istriku tidak.. tidak .. Ah, dia tiba tiba tidak berselera padaku dan.. dan Payyudarra istriku membengkak, katanya sakit?"


"Tuan Muda, Perubahan fisik pada wanita hamil bukan saja perut yang bertambah besar, melainkan juga ukuran payyudara yang semakin membesar dan terasa nyeri, itu karena persiapan produksi ASI saat sudah melahirkan nanti. Bahkan, payudara Calon Ibu juga bisa menjadi bengkak. Kondisi itulah yang menjadi keluhan Calon Ibu sehingga tidak bergairah lagi untuk berhubungan suami istri." jelas Dokter Sinta yang langsung paham maksud Garra.


Garra terdiam, kembali memberi kesempatan pada Dokter Sinta untuk menjelaskan lagi.


"Percaya lah Tuan, jika seorang istri benci suami saat hamil adalah hal yang normal. Karena Tubuh seorang wanita hamil itu berubah secara drastis dan hormon-hormonnya berfluktuasi atau maksudnya naik turun tidak stabil. Berubah ubah. Itulah yang membuat ibu hamil terkadang benci suami mereka atau terkadang sangat menyukai suami nya."


Setelah penjelasan panjang lebar dari Dokter Sinta, akhirnya Garra paham dan bisa mengerti. Dokter Sinta pun selamat.


Sekarang meskipun Mia membencinya, atau mau memukulnya, mencakar nya bahkan mengusir nya, dan tidur membelakangi nya, Garra tidak bersedih lagi. Garra tidak gusar lagi.


'Ah, hanya sementara!' menghibur diri. Menarik selimut.


Dan apa yang dipikirkan Garra benar saja.


Baru beberapa menit memejamkan mata.


"Bang Garra, mau peluk!"


Garra membuka mata.


"Eh iya. Sini sini. Dengan senang hati!" segera mendekati, mengatur posisi. Mendekap erat dan tersenyum di balik punggung Mia.


"Tidurlah , tidurlah Mia ku. I Love You!" membelai lembut.


Saat ini, hanya sebatas bisa memeluk saja Garra sudah sangat bahagia. Sungguh tidak ingin lebih. Menyadari perut Mia semakin besar, Garra sadar diri, Garra mengerti, jika Mia sudah malas. Garra pun begitu. Tapi bukan malas. Bukan! Lebih mengkhawatirkan kandungan Mia. Ingin membuat Mia senyaman nyamannya dalam masa kehamilan Tuanya.

__ADS_1


_________________


__ADS_2