Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Malu setengah mati.


__ADS_3

Setelah sore,


Mia sudah selesai mandi dan juga sudah bersiap menyambut kepulangan suami nya. Pria yang akhir akhir ini sukses membuat Mia berdebar debar jantung nya jika dekat dekat dengan nya. Serasa seperti kena Serangan Jantung ringan atau malah kadang bisa di bilang parah.


Sambil masih memikirkan ucapan Yuri yang mengatakan jika Sekretaris Ang mengetahui di mana keluarga Ayahnya tinggal setelah di usir dari rumah besar mereka.


Mia berpikir kali ini tidak akan bertanya langsung pada Sekretaris Ang, melainkan akan meminta Garra yang menanyai sekretaris Ang. Atau mengajak Garra pergi untuk mencari Keluarga nya.


Sore merayap, sudah hampir senja.


Mia melirik jam, tapi saat ini yang di lirik bukan lagi jam dinding yang bergantung di sana, melainkan jam yang ada di Hp yang saat ini di genggam nya. Sudah tau, sudah sedikit pintar. Saat siang tadi Mia menanyakan jam pada Yuri, lalu Yuri menjawab jika lihat saja di Hp.


Mia baru sadar, ternyata hp nya ada jam nya juga. Dia pikir tidak ada.


Sambil menatap jam dilayar itu, sambil mengusap wallpaper nya. Tampan , pemilik wajah yang menghiasai hpnya. Sangat tampan.


Lalu menyentuh bibirnya. Jantung nya berdebar kembali. Lalu mengingat kejadian kemarin, semalam juga. Mia senyum senyum sendiri, jadi Merasa kangen. Kangen sama yang ada di wallpaper nya.


"Bang Garra. Kok aku jadi sayang banget ya padamu." bisik Mia., sendiri.


"Sudah tampan, banyak uang, Sayang lagi sama Mia."


"Tau tidak sih, selama ini cuma bang Garra lho yang benar benar peduli sama Mia itu. Sampai sampai mau nurutin apa saja yang Mia impikan. Makan Seafood, Hp baru.Kira kira kalau Mia minta beli rumah baru di beliin gak ya?"


"Rumah buat Ayah. Yang kecil aja. Kasian ayah. Tidak punya rumah lagi."


"Tapi, nanti uang bang Garra abis bagaimana?"


Mia menghela nafas. Kembali melihat jam.


"Bang Garra kenapa belum pulang ya? Harusnya jam segini sudah."


Mia mulai gelisah. Berjalan mondar mandir. Lalu mencoba menghubungi Garra dengan hp nya. Saat gagal, Mia kembali mengulangi nya. Sampai berkali kali. Tetap tak ada jawaban.


"Tidak bisa. Kenapa sih? Apa hp nya rusak?"


Makin gelisah.


"Apa bang Garra bertemu Citra di sana.?" tiba tiba Mia jadi memikirkan Citra. Sedikit ada kekhawatiran tentang itu. Khawatir Citra nekad menemui suaminya lagi dan mencoba untuk kembali menggoda Garra. Sedikit , lalu semakin banyak dan akhirnya menumpuk.


Mia mulai resah. Mulai takut yang dipikirkan jadi kenyataan.


"Pasti ada Citra di sana. Sudah pasti ini."


Duduk melamun di sofa.


Lama.


Jenuh.


Masih saja yang di tunggu belum juga datang.


Menguap!


Berjalan, lalu merangkak ke ranjang. Berbaring .


Masih memikirkan Citra. Kemudian teringat bayangan Citra kemarin memeluk Garra.

__ADS_1


"Aaa...." Mia memejamkan mata. Bayangan itu masih saja mengusik pikiran nya. Sampai terbawa mimpi. Labas..!!


Pintu terdengar di ketuk seseorang dari luar. Merasa tak ada sahutan, yang mengetuk pintu jadi penasaran. Mendorong pintu pelan.


"Mia..!"


Rupanya Garra sudah datang. Terlambat pulang hampir tiga jam, karena ada miting penting sore tadi. Pulang saja Garra Ter buru buru karena memikirkan Mia. Garra lupa dengan hp nya yang masih ada di tas hitam milik nya yang sedari tadi ada di tangan Ang dan baru pindah ke tangan nya sesaat sebelum Garra memasuki kamarnya.


Garra melangkah masuk, matanya langsung menyapu ruangan. Menangkap tubuh kecil istrinya yang sudah terbaring di ranjang.


Garra menghampiri nya. Tersenyum menatap wajah itu.


"Mia pasti menunggu ku sampai ketiduran." Garra duduk di sisi ranjang. Menatap istrinya, lalu membelai rambut nya. Mia tidak bergeming. Hanya menggeliat kecil.


"Manis nya istri ku." Garra mencium pelan kening Mia. Lalu merambat ke bibirnya.


Mia terkejut ketika merasakan ada yang mencium bibir nya. Langsung membuka mata.


"Bang Garra. Sudah pulang ya?"


Garra tersenyum dan mengangguk.


Mia meriah Hpnya untuk melihat jam. Terlambat sampai dua jam lebih. Lalu menatap Garra.


"Kenapa terlambat? Tidak seperti Biasanya?" tanya Mia.


"Maaf. Tadi itu sebenarnya sudah mau pulang. Tapi tiba tiba ada tamu datang. Tamu yang kemarin datang dan belum sempat bicara serius karena ada urusan lain. Jadi terpaksa deh, meladeninya dulu. Tidak apa apa kan? Maafkan bang Garra ya?" jawab Garra.


'Tamu yang kemarin datang dan belum sempat bicara serius?'


Entah kenapa pikiran Mia langsung tertuju pada Citra.


"Bukan begitu sayang... Mana nya juga tamu penting. Jika tidak di ladeni dengan baik nanti.._"


"Nanti rugi , begitu?" potong Mia.


"Itu tau. Istri ku sudah mulai pintar." Garra mencubit pipi Mia. Tapi Mia menepis tangan Garra.


"Tadi bang Garra pegang pegang dia ya?"


"Tidak. Hanya jabat tangan dan mengobrol. Sambil minum kopi."


"Sempat pandang pandangan juga?"


"Ya iyalah. Namanya duduk berhadap hadapan dan bicara. Masa iya tidak menatapnya. Gak sopan namanya kalau bicara sambil melihat ke arah lain." jawab Garra santai saja memberi penjelasan tidak tau jika istrinya sedang berpikiran lain.


Hati Mia panas mendengar penjelasan dari Garra. Terbayang bagaimana suaminya sedang pandang pandangan dengan Citra, apalagi mengingat ganjen nya citra. Sudah pasti bukan hanya memandang suaminya. Itu pasti! Senggol senggol, lalu nempel nempel.


Bug....!!!


Mia memukul dada Garra dan beranjak dari ranjang.


"Kenapa tidak mengusirnya???" Mia teriak.


"Mia.. tidak bisa donk. Itu tidak sopan?" Garra masih gak ngeh.


"Pantas saja di telepon tidak di angkat. Sedang asyik rupanya di sana."

__ADS_1


"Mia.. tadi menelepon? Bang Garra tidak tau. Tidak pegang hp nya. Kan tadi sudah mau pulang. Hp sudah masuk tas."


"Bang Garra kenapa masih mau menemui nya. Katanya janji akan setia pada Mia. Dia itu penggoda. Pasti menemui bang Garra sengaja ingin menggoda bang Garra lagi." Mia mulai menangis.


"Mia.. Ini maksud nya apa sih? Siapa yang menggoda. Tidak ada Mia.?" Garra mulai bingung melihat istri nya marah dan menangis.


"Aku tidak percaya. Aku tidak percaya. Dia itu suka pada bang Garra. Datang pasti ada mau nya. Tidak mungkin tidak. Dasar pelakor.!! Dasar bang Garra juga suka di godanya. Aku tidak mau..!"


"Mia.. Mia.. kau kenapa?" Garra semakin bingung. Lalu berdiri menghampiri Mia yang semakin menangis.


"Kenapa bang Garra masih peduli padanya. Bang Garra tidak sayang lagi pada Mia? Lebih menjaga perasaan perempuan itu dari pada istri nya? Hiks.. hiks..!"


"Perempuan? Siapa?" semakin tak mengerti.


"Siapa lagi kalau bukan Citra. Apa ada yang lain? Siapa lagi?" menatap tajam.


Glubrak..!


Garra baru sadar, rupanya istrinya salah paham. Mengira yang datang adalah Citra.


Lalu cepat mendekap Mia.


"Mia.. yang datang itu bukan Citra. Kau salah paham? Seorang pria dari perusahaan sebelah."


Mia langsung menoleh, berhenti menangis. Wajahnya memerah. Malu!


"Benar?"


Garra mengangguk.


"Rupanya istri ku salah paham. Rupanya istri ku sedang cemburu." ucap Garra semakin suka melihat wajah cemberut istrinya.


"Bang Garra ini, kenapa tidak bilang dari tadi? Mia sudah menangis nangis begini juga.."


Garra tergelak,


"Kan sudah bilang. Ada tamu. Mia kenapa tiba tiba mengira kalau tamu nya Citra. Hayo.. tadi mikirin apa? Seharian mikirin bang Garra terus ya..?" Garra mengerat kan pelukan nya.


Mia merasa sangat malu, sudah salah paham sama Garra.


Kemudian memutar tubuhnya , menatap Garra.


"Kalau begitu Maaf. Mia sudah salah mengira."


"Tidak apa apa.. Lain kali tidak boleh begitu. Dengar dulu kalau bang Garra bicara. Tanya dulu siapa yang datang. Jangan asal menebak." jawab Garra kembali memeluk Mia.


"Senengnya di pikirin Mia seharian. Seneng nya.. Di cemburui Mia. Berarti Mia itu cinta banget sama bang Garra, sampai sampai memikirkan bang Garra seharian tanpa henti." ucap Garra malah girang.


Mia semakin malu.


"Diam! Mia kan cuma salah paham!"


"Sama saja. Artinya Mia beneran cinta sama bang Garra. Ngaku aja.! " mempererat pelukan.


Yang di peluk malu setengah mati.


_____________

__ADS_1


BERSAMBUNG.....!!!!!!


__ADS_2