
Setelah selesai dengan makan siang di restoran seafood Pondok Laguna, Garra membawa istrinya untuk jalan jalan.
Sebelum sekretaris Ang melajukan mobilnya, Garra bertanya kepada Mia tentang keinginan Mia ingin pergi kemana dulu.
"Kita mau kemana dulu ini?" tanya Garra sembari mengatur posisi PW nya.
Mia menggeleng.
"Kata nya Mia mau ke Monas?"
"Tidak jadi." jawab Mia.
"Lho.. kenapa?"
Mia menggeleng, "Oammmmm....!!" sambil menguap.
"Kita pulang saja ya? Seperti nya karena kekenyangan , aku jadi mengantuk berat." jawab Mia . Memang benar kata Mia, tadi Mia makan melebihi porsi biasa. Satu piring kepiting, lobster juga kerang. Semua makanan yang ada dicobanya. Mungkin kalau perut Mia muat, semua makanan itu sudah pindah semua ke perutnya.
Bahkan sisa nya pun tak luput di bungkus oleh Mia. "Buat oleh oleh.." kata Mia. Garra hanya bisa mengiyakan saja. Asal Mia senang...
**
Garra menghela nafas. Menatap mata Mia yang memang sudah terlihat mirip lampu bohklam lima waatt.
"Tidak penasaran dengan Monas?" tanya Garra, meyakinkan Mia. Takut Mia nanti menyesal tidak jadi melihat Monas.
"Seperti nya tidak terlalu, bisa kapan kapan saja." jawab Mia, menguap lagi.
"Baiklah." Garra menarik lembut pinggang Mia.
"Begini saja." Garra menaruh kepala Mia di pahanya.
"Tidurlah, kita akan ke rumah Gani Kuncoro. Kalau sudah smpai aku bisa membangunkan mu." ucap Garra.
Mungkin karena sangat mengantuk, Mia menurut saja. Menenggelamkan kepalanya di paha Garra dengan posisi tubuh meringkuk dan wajah menghadap ke depan membelakangi perut Garra.
Terbuai dengan sentuhan sentuhan lembut tangan Garra di kepalanya, dan terlelap sudah.
"Ang, kita ke rumah Gani Kuncoro dulu. Kau masih ingat rumah nya bukan?" ucap Garra pada sekretaris Ang.
"Masih Tuan muda." jawab Ang.
"Baik lah, kita kesana."
Ang mengangguk dan kembali melajukan mobil mereka ke arah yang dituju. Perjalanan memang sedikit jauh. Memakan waktu sekitar setengah jam. Namun karena Garra menginginkan Ang untuk tetap melambat, mungkin akan memakan waktu hampir satu jam. Garra bermaksud agar Mia bisa tidur sedikit lebih lama.
Sepanjang perjalanan, Garra tak henti nya memainkan jari Mia, menggenggam lalu menciumi nya.
Ang hanya bisa melirik itu.
"Apa kau tau Ang, kehidupan Mia dahulu penuh penderitaan. Tidak pernah mengecam bangku pendidikan. Dan tidak pernah di pedulikan oleh keluarganya?"
Ang mengangguk.
"Saya tau itu Tuan Muda. Tau, bahkan detail nya."
__ADS_1
"Apa kau sudah memberi pelajaran pada Gani Kuncoro Ang, seperti yang ku inginkan?" tanya Garra.
"Sudah tuan muda. Saya sudah melakukan sesuai seperti keinginan Tuan muda. Nanti Anda akan melihat nya sendiri." jawab Ang.
Garra tersenyum lega, rasa marahnya pada keluarga yang sudah membuat istrinya menderita terbalas sudah. Tapi ini bukan akhir dari penderitaan mereka. Belum impas jika di banding penderitaan yang sudah mereka berikan pada Mia istrinya. Garra ingin membuat mereka kapok dan mau menerima Mia dengan ketulusan mereka.
Ya, sebulan yang lalu, sekretaris Ang melaksanakan perintah Garra, yang menginginkan perusahaan Kuncoro bangkrut.
Dengan sangat mudah, perkara itu bisa di laksanakan dengan baik oleh Ang. Dengan hanya mendatangi rekan rekan kerja sama Gani Kuncoro, Lalu mengajak mereka bekerja sama dengan perusahaan Mahendra dengan syarat membatalkan seluruh kerja sama dengan Gani Kuncoro.
Siapa yang mampu menolak berkerja sama dengan Perusahaan Mahendra? Itu adalah impian semua perusahaan perusahaan di kota ini. Satu kebanggaan dan kehormatan bagi mereka. Alhasil, mereka dengan suka rela memutuskan kerja sama mereka dengan Gani Kuncoro. Tidak tanggung tanggung, bahkan mereka menarik semua saham yang pernah mereka tanam di perusahaan Gani Kuncoro.
Bisa ditebak, apa yang terjadi dengan keluarga Gani Kuncoro saat ini.
Garra puas, namun belum sepenuhnya. Garra merasa mereka pantas mendapat itu. Walau sebenarnya , menghancurkan mereka bukan lah niat Garra. Garra hanya sekedar ingin memberi mereka sedikit pelajaran saja. Karena jauh di lubuk hati Garra, ada ucapan terimakasih yang besar pada keluarga jahat itu .Terimakasih sudah mau menjual Mia pada Abraham dulu. Mungkin jika tidak, atau jika menunggumu Garra sembuh dari sakitnya , kapan? Atau jangan jangan , kesempatan untuk bertemu Mia malah tidak akan pernah terjadi.
"Tuan muda. Apa anda tidak khawatir jika Nyonya muda tau tentang ini?" tanya Ang, melirik wajah Garra melalui kaca kecil di depannya.
"Hus.. jangan keras keras Ang?" Garra menampol pelan kepala Ang.
"Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran. Setelah aku mendapat kan restu sesungguhnya dari Gani Kuncoro. Aku akan kembali menyehatkan perusahaan mereka. Aku juga tidak mau menjadi Menantu Durhaka. Karena walau bagaimana pun juga, Gani Kuncoro adalah ayah dari istri ku." ucap Garra.
Mereka kembali terdiam, menyepikan suasana. Hingga beberapa lama kemudian Ang, menghentikan mobil mereka.
Menyadari mobil berhenti, Garra bertanya.
"Apa sudah sampai Ang..?"
"Sudah tuan muda."
Benar, Garra masih mengingat halaman rumah itu. Dua tahun lebih yang lalu, Garra pernah memasuki nya. Menolong Mia dari amukan Tiara , ibu tiri Mia.
'Apa mereka masih mengenaliku?' terbesit tanya di hati Garra.
Lalu Garra membangun kan Mia dengan menepuk lembut pipi Mia.
"Mia.. Bangun."
Mia menggeliat, membuka matanya. Lalu menarik tubuhnya untuk bangun.
"Kita sudah sampai." ucap Garra membetulkan rambut Mia dengan sisir kecil dari tas Mia.
"Sampai di mana?" tanya Mia.
"Di rumah Gani Kuncoro."
"Hah! Apa? Benar kah?" Mia terperangah, lalu mengintip keluar dari balik kaca.
"Benar..!" Mia tak sabar, menarik gagang pintu mobil.
"Tunggu dulu Mia. Betulkan dulu makeup mu. Luntur terkena iler mu tuh..." ucap Garra mencegah Mia.
"Ah, iya." Mia segera mengambil kaca dari tas nya. Dan dengan bantuan Garra , Mia membetulkan makeup nya.
Setelah merasa cukup, Garra dan Mia turun dari mobil. Melangkah membuka gerbang yang tidak di kunci. Garra melangkah bersama Mia dengan tak melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1
Mereka sudah berdiri di depan pintu itu. Mia seperti ragu untuk mengetuk pintu. Ada rasa perih di hati Mia ketika mengingat bagaimana kehidupan dia di dalam sana dulu. Tapi rasa rindu Mia dengan suasana tempat tinggal nya dulu lebih besar dari pada rasa perih nya. Lalu Mia menoleh pada Garra yang mengangguk padanya.
Mia mengetuk pintu.
Tak lama seseorang membuka pintu.
Yuri , sudah berdiri menatap Mia dengan seksama, dari bawah hingga atas. Tidak melihat pria di samping Mia yang tetap tak melepaskan genggaman tangan nya.
"Apa kabar Yuri?" sapa Mia.
"Mia.. ini benaran kamu Mia..!" jerit Yuri.
"Iya.. Yuri. Apa kamu tidak mengenali ku lagi?"
"Mia..!!" tidak percaya jika Yuri tiba tiba memeluk Mia.
"Mia.. Mia.. kenapa balik kesini lagi. Cepat cepat, pergi. Hidup mu lebih baik di luar rumah ini." ucap Yuri di luar dugaan mereka.
"Yuri, aku hanya ingin menemui ayah saja."
"Tidak, tidak. Tidak boleh sekarang. Kalau ibu dan Jihan melihat mu, mereka bisa berbuat tidak baik lagi padamu. Percayalah Mia. Percaya padaku untuk kali ini."
Lalu Yuri mendorong tubuh Mia dan Garra keluar. Lalu setelah di luar, Yuri menutup pintu dan kembali menatap Mia. Kini mata Yuri beralih kepada Garra.
Garra sempat aneh dengan sikap sok peduli Yuri. 'Bukan kah dia juga termasuk orang yang membenci Mia.?'
"Kau siapa?" tanya Yuri pada Garra,melirik tangan Garra yang menggenggam erat tangan Mia.
"Mia.. dia siapa? Seperti pernah melihat nya?" Yuri beralih bertanya pada Mia.
"Dia.. dia ini.."
"Yuri.... siapa yang datang...??" suara Tiara dari dalam.
"Aduh!!! " Yuri semakin panik.
"Heh... Siapapun kamu. Bawa Mia pergi saja. Bahaya!! Bahaya jika ibu tau Mia di sini. Cepat selamat kan hidup Mia kali ini." ucap Yuri pada Garra.
"Yuri, tidak bisa begitu. Aku jauh jauh kemari untuk melihat Ayah." bantah Mia.
"Aduh Mia.. kamu tidak tau ya.. Ayah dan ibu itu bangkrut. Hidup kami sekarang sekarat. Dan ibu sedang mencari mu. Nanti kalau kamu di jual lagi bagaimana. Melihat perubahan mu sekarang kamu pasti jauh lebih baik kan? Jadi sebaiknya pergi lah. Aku tidak mau terlibat dosa lagi untuk menyiksa mu seperti dulu." jelas Yuri.
"Tapi Yuri.. Aku ingin bertemu ayah dulu..?"
"Sudah jangan pedulikan ayah. Kondisi ayah memang sedang tidak baik. Tapi ayah sehat kok. Ayo lah Mia.. Selamat kan hidupmu. Jika ibu melihat mu, aku tidak bisa membantu mu lagi." Yuri tetap kokoh mengusir Mia.
"Tapi..."
Brak....!
Pintu di buka.
Ketiga orang itu menoleh. Dan Tiara sudah berdiri bersama Jihan di sampingnya.
"Kau.....!!!" mulut Tiara menganga, seperti tak percaya melihat Mia datang dengan pria yang masih Tiara ingat dengan baik wajah nya itu.
__ADS_1
bersambung....!!!