
Sekretaris Ang yang masih bahagia karena kedatangan bulan istrinya itu segera menghubungi Dokter Sinta dan mengatakan perihal tentang datang bulan Yuri.
Disana Dokter Sinta ikut lega mendengar nya. Dan mengatakan jika begitu keadaannya tidak perlu melakukan tes pack pada istrinya. Karena bisa di positif kan jika Yuri tidak mungkin hamil dengan kedatangan masa menstruasi nya.
Hanya perlu menunggu masa menstruasi Yuri selesai lalu segera melakukan KB agar aman.
Namun lagi lagi sekretaris Ang belum merasa puas jika Yuri belum melakukan tes pack. Karena pengalaman sekretaris Ang dari seorang teman. Istri temannya positif hamil setelah menstruasi.
Dokter Sinta kemudian menjelaskan jika secara medis, mengalami menstruasi saat hamil adalah kondisi yang tidak mungkin terjadi. Fase menstruasi terjadi karena sel telur yang tidak dibuahi, sehingga hanya dialami oleh wanita yang tidak hamil.
Tapi kemungkinan hamil setelah menstruasi memang bisa saja terjadi, walau tanpa berhubungan badan setelahnya . Namun kemungkinan ini sangatlah kecil.
Meskipun kecil tetap bisa terjadi.
Pasalnya, ****** bisa bertahan dalam tubuh selama 7 hari setelah berhubungan seksual. Artinya, wanita tetap bisa hamil setelah menstruasi selesai, bila masa ovulasi lebih awal.
[ Ovulasi adalah salah satu proses yang terjadi dalam siklus menstruasi pada wanita. Proses ovulasi terjadi ketika folikel telur yang matang pecah dan melepaskannya melalui tuba falopi ke arah rahim untuk mendapatkan pembuahan. Perlu di ketahui jika siklus haid pada setiap wanita dapat berbeda-beda.]
Dengan penjelasan Dokter Sinta kemudian akhirnya mereka sepakat untuk melakukan tes pack setelah Yuri selesai Menstruasi untuk memastikannya apakah Yuri hamil atau tidak sebelum memutuskan untuk Ber-KB.
Sekretaris Ang harus menunggu lagi. Menunggu selama beberapa hari kedepan. Tidak bisa berbuat apa apa selain gigit jari.
Lalu jika ia tidak tahan, sekretaris Ang akan lari ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin dalam waktu yang cukup lama sambil mengutuk dirinya yang payah, yang tidak bisa tahan menghadapi kenyataan jika istrinya sedang kedatangan tamu dan tidak bisa di sentuh dulu.
Beruntung Yuri tau diri. Tidak ingin melihat suaminya tersiksa, selama menstruasinya Yuri menjaga jarak. Tidak berusaha untuk menggoda suami nya. Dan demi menjaga kemungkinan besar yang pasti tak bisa di hindari, dua malam ini mereka terpaksa tidur berpisah. Yuri di ranjang, sekretaris Ang di sofa. Meskipun Yuri sebenarnya tidak terima hatinya harus tidur berpisah, namun Yuri mau tidak mau harus pasrah.
"Kakak!" pada suatu sore, mendekati sekretaris Ang yang berbaring di sofa, lalu duduk di sebelahnya.
Sekretaris Ang langsung bangun dan duduk. Menatap wajah sedih istrinya.
"Sayang.. Jangan seperti itu. Aku sedih melihatnya."
Yuri tidak langsung menjawab melainkan memasang bibir kecurut panjang panjang kedepan.
"Pagi sampai sore kakak pergi. Malam juga.._"
"Hus.. Malam kan Kakak menemanimu." bantah Sekretaris Ang.
"Menemani apa??"
"Makan, nonton. Ngobrol!"
"Tapi kakak membiarkan aku tidur sendirian!! Walaupun tidak ngapa ngapain, setidaknya temani aku sampai tidur." protes Yuri.
Sekretaris Ang terdiam. Dia paham, bukan hanya dia yang merasa hampa. Yuri pun pasti begitu, apalagi ini adalah masa masa bulan madu mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Untuk menemani Yuri di ranjang? Mana bisa. Yang ada nanti kelabasan. Tidak boleh! Yuri sedang halangan! Bukan takut hamil lagi. Tapi itu beresiko dan haram dalam ajaran Islam.
"Sayang!!" sekretaris Ang merangkul pinggang istrinya. Menaruh wajahnya di leher Yuri.
"Apa kau tidak ingin menginap di rumah Jihan? Atau menemani Nyonya Mahendra?"
Yuri sejenak berpikir. Mungkin maksud suaminya agar mereka sama sama bisa menahan diri. 'Ada baiknya juga'
"Ah baiklah! Aku ingin menginap di rumah ibu saja. Sebab untuk ke rumah Mia, mana bisa aku tidur bersama Mia. Yang ada aku akan di tendang oleh Tuan Muda. Jika mau tidur sendiri sendiri di kamar masing masing, aku sangsi. Yang pasti nanti aku menerobos ke kamar mu. Kau juga pasti akan begitu! Kalau di rumah ibu, aku bisa minta di temani tidur ibu atau Jihan."
"Kau benar. Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja."
Yuri mengangguk, segera bersiap siap.
****
Malam itu, mobil sekretaris Ang sudah tiba di depan kediaman Sang Mertuanya.
Mereka di sambut oleh Gani Kuncoro, Tiara dan juga Jihan setelah seorang pelayan berlari memberi tahu mereka tentang kedatangan sang sekretaris Ang bersama istrinya.
Bukannya senang, tapi wajah Tiara nampak kebingungan. Pertanyaan pertanyaan bermunculan di otaknya. Apalagi setelah sekretaris Ang menjelaskan jika Yuri akan menginap di sini untuk beberapa malam dan sekretaris Ang sendiri tidak bisa menemaninya.
Sama hal nya dengan Gani Kuncoro yang resah melihat menantu hebatnya itu mengantar Putri nya pulang dan berkata demikian.
"Mohon maafkan saya Ayah mertua. Saya.. Saya tidak menemani istri saya untuk menginap disini. Ah, tapi saya akan sering kemari untuk menengoknya. Titip istri saya."
"Tidak masalah Tuan Ang. Kami akan menjaganya dengan baik. Tidak perlu khawatir."
Tiara menuntun Yuri ke dalam setelah sekretaris Ang pergi.
"Yuri! Apa kau berbuat masalah dengan Suamimu?" Tiara langsung bertanya sesaat setelah mereka duduk di ruang tengah.
"Tidak! Memang kenapa Bu?"
"Kenapa Tuan Sekretaris sampai mengantar mu kemari dan menyuruh mu menginap beberapa malam disini. Ini masih masa bulan madu kalian! Jika tidak ada masalah mana mungkin seorang suami tega melakukan hal seperti ini hah!"
"Kami memang sedang ada masalah Bu,!" jawab Yuri.
"Tuh kan Yah ! Yuri membuat masalah dengan suaminya. Bahkan baru menikah beberapa hari saja." geram Tiara menoleh pada suaminya.
"Tenang Bu, sepertinya tidak begitu. Biar Yuri menjelaskan."menepuk lembut bahu istri nya.
"Yuri, kau ini. Sudah beruntung jadi istri Sekretaris Ang. Malah bertingkah. Tau gitu, biar aku saja yang menjadi istrinya. Aku pasti akan menjadi istri yang baik untuknya." celetuk Jihan.
"He kau! Lancang sekali bicara seperti itu. Sekretaris Ang itu suamiku, dan hanya mencintai aku. Berani macam macam kau akan di lemparnya dari dunia ini!" berdiri, langsung berkacak pinggang.
"Aku hanya bercanda. Kau ini serius sekali! Mana aku tega. Aku tidak mungkin juga jadi pelakor!!"
"Sudah sudah, kalian ini!" Tiara melerai, kembali menatap Yuri.
__ADS_1
"Sayang..!" meraih tangan Yuri.
"Ada masalah apa? Coba cerita pada ibu nak?" menatap khawatir.
Yuri tergelak.
"Ibu, jangan terlalu khawatir begitu. Ibu lucu dengan wajah begitu."
"Yuri! Walau bagaimana pun juga kau ini anak ku! Bagaimana ibu tidak khawatir??"
"Iya, iya. Yuri tau. Ibu tenang saja, Ayah juga ya? Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Yuri menghela nafas. Mereka pun sama, menanti cerita Yuri yang sebenarnya.
Yuri pun bercerita apa adanya tentang masalah mereka dan trauma suaminya.
"Bukan hanya mencintaiku, tapi Tuan Ang sangat ingin menjagaku Bu?"
Tiara langsung memeluk Yuri.
"Aku benar benar jatuh cinta pada menantu ku sendiri. Sungguh Yuri, kau akan mendapatkan pria seperti itu dimana lagi? Jaga dia Yuri. Jaga dia. Dia benar benar laki laki sejati. Hanya karena takut kau kenapa kenapa sekretaris Ang rela berpisah dengan mu di masa bulan madunya. Jangan marah padanya Yuri. Ketakutannya beralasan kuat. Dia takut sendirian lagi dalam hidupnya. Makanya dia menjagamu agar kau tidak hamil dulu. Percaya lah, suamimu itu sangat mencintaimu."
Yuri tersenyum, bangga dengan pilihannya.
"Iya Ibu. Yuri akan menjaganya, termasuk dari pelakor!" melirik Jihan.
Yang dilirik langsung melotot. " Apa! Melirik padaku hah! Kau pikir aku sudah gila ya??"
"Siapa tau!"
"Yuri, aku masih waras! Lebih baik jomblo seabad abad dari pada harus merusak rumah tangga adik sendiri. Lagian , sekretaris Ang itu kan sangat mencintaimu. Mana dia akan tergoda dengan wanita lain."
Mereka gotoh gotohan mulut, namun tak lama berakhir tertawa.
"Kasian mereka, bulan madunya harus terganggu dengan si tamu yang tak diundang! Hahaha...!" Jihan tertawa meledek.
Yuri merengut, menatap punggung Jihan yang berlalu.
"Yuri, sebaiknya ke kamar saja. Ibu akan menemanimu tidur malam ini."
"Benar Bu?"
Tiara mengangguk, kemudian membimbing Yuri ke kamar.
Segera merapihkan bantal dan menepuk nya. Yuri merangkak saja dan menarik selimut.
"Tidur lah Nak? Jangan memikirkan sesuatu mengenai suamimu. Kau dan Mia itu sama sama beruntung. Mendapatkan suami yang hebat dan sangat mencintai istrinya. Semoga Jihan juga akan bernasib sama seperti kalian." mengusap usap lembut punggung Yuri.
"Ah, sudah lama ibu tidak memperlakukan aku seperti ini. Terakhir kali yang ku ingat, saat aku masih kelas lima SD."
Hening,
Malam merambat terasa begitu pelan. Lambat. Bagi Yuri, mungkin juga bagi sekretaris Ang di sana. Sama. Terasa sepi dan waktu terasa lambat menyiksa.
Terdengar dengkuran halus. Yuri menoleh, si ibu sudah pergi ke alam mimpi.
"Ibu, menemani ku apa aku yang menemani nya?" menggerutu.
Bolak balik badan. Meraih bantal untuk menutup wajahnya. Di sana pun sama rupanya.
Sama sama merasa ada yang Hilang, terasa hampir separuh dari jiwa mereka menghilang. Bukan, malah terasa tersisa seperempat saja.
Sama sama membuka bantal, melirik ke samping. Yang disini ada ibu yang mendengkur. Di sana ada guling saja yang teronggok.
" Huh!" menghela nafas berat. Dua tangan di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda itu, sama sama meraih hp masing masing. Yuri menyandar di sisi ranjang. Ang pun ternyata sama.
Jemari mulai menarik kunci layar Hp. Menatap wajah penghias Wallpaper.
"Kenapa semenakutkan ini Bulan madu ku?" tidak tau, tidak menyadari jika ucapan mereka bisa sama.
Lalu jari Yuri yang sudah gatal itu tidak bisa di kendalikan lagi, mengikuti kata hati untuk menekan kontak atas nama Kakak sayang.
Sekretaris Ang tersenyum di sana. Baru saja ia juga akan melakukannya.
Wajah Yuri langsung sumringah menatap wajah suaminya.
"Kakak? Kau sudah sampai dari tadi ya??" tanya Yuri. Padahal bukan itu yang ingin ia katakan.
Sekretaris Ang tergelak, tau apa yang ada di pikiran istri kecilnya itu.
'Ya Tuhan! Wajahnya makin manis saja. Padahal belum juga satu jam aku tinggalkan. Kok bisa bertambah secepat itu? Sepertinya aku ingin kembali kesana untuk menjemputnya saja.'
"Kakak? Kau tidak mendengar ku?"
"Eh iya. Sudah dari tadi. Bukan itu yang ingin kau tanyakan bukan?" tertawa meledek.
"Kakak! Aku tidak suka menginap disini. Jemput aku?"
Sekretaris Ang menunduk, menutup mulutnya. Tertawa terbahak.
'Tenyata bukan hanya aku yang merasa tertekan. Yuri juga.'
"Kau tidur dengan siapa itu?" sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ibu."
__ADS_1
"Oh, ibu mertua rupanya."
"Kakak! Aku kangen!"
Sekretaris Ang terdiam. Tidak ingin berlarut larut dalam kegalauan, cepat berucap.
"Tidurlah, ini sudah malam. Akan ku beri ciuman pengantar tidur untukmu. Muach... muach... sudah ya?"
"Kakak kau jahat?"
"Apa nya? Bukan kah ini kesempatan kita? Jangan membuatku bersedih Yuri?"
"Tapi aku tidak mau ditinggal di sini?"
"Besok pagi pagi, aku mampir kesana sebelum ke kantor. Tidurlah, lihat ibumu terbangun karena mendengar suaramu."
"Hah!" Yuri langsung menoleh ke arah ibunya.
"Mana ada! Ibu masih mengorok!!"
Sekretaris Ang tergelak.
"Ayolah sayang?? Tidur saja. Kita bertemu di dalam mimpi."
Yuri merengut.
"Aku mencintaimu bocah. Istriku, aku mencintaimu. Aku mencintaimu!" ucap sekretaris Ang berulang ulang sambil menyentuh layar Hpnya dengan ujung telunjuknya. Menatap dengan mata sendu. Kemudian menciumnya berkali kali, lalu menantikan Vc nya.
Yuri membanting hpnya ke kasur. Menarik selimut dengan kasar dan menyembunyikan wajahnya ke bantal.
Dengan susah payah, Yuri maupun Ang sama sama melawan galau nya. Dan baru bisa tertidur setelah hampir subuh.
Pagi pagi, sesuai dengan janji sekretaris Ang. Pria itu sudah berada di depan pintu.
Yuri berlari kecil menyambutnya. Langsung memeluk erat tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Aku kangen!" rengek Yuri.
"Maafkan aku, kau harus menderita seperti ini." mengelus kepala Yuri, menghujaninya dengan kecupan tanpa menghiraukan Ibu mertua yang memperhatikan dari sisi pintu.
Tiara hanya tersenyum saja melihat tingkah mereka. Bisa merasakan perasaan mereka.
Lalu mempersilahkan sekretaris Ang untuk masuk.
"Sekalian sarapan di sini Tuan Ang? Saya sudah menyiapkan sarapan untuk kalian."
"Ah baiklah. Maafkan saya sudah merepotkan ibu mertua."
"Jangan bicara seperti itu Tuan. Tidak ada yang direpotkan."
Mereka melangkah ke arah meja makan. Terlihat Gani Kuncoro yang sudah berada di sana langsung berdiri melihat kedatangan sekretaris Ang.
"Tuan Ang. Mari silahkan!"
Sekretaris Ang mengangguk, lalu menarik kursi untuk Yuri dan dirinya.
Suasana mendadak hening beberapa saat. Nampak sekali kecanggungan di antara menantu dan mertua itu. Tidak seperti menantu dan mertua pada umumnya.
Jika yang lain, seorang menantu yang akan sungkan , menunduk di depan Mertuanya. Tapi ini, malah kebalik.
Gani Kuncoro sungguh sungkan, sarapan satu meja dengan sekretaris Ang.
Sebenarnya sekretaris Ang pun begitu, tapi bisa tersembunyi di balik karismanya yang kuat.
"Yuri! Ambilkan sarapan suamimu!" perintah Gani melirik Yuri.
"Eh, iya." Yuri cepat cepat mengisi piring sarapan untuk sekretaris Ang.
"Ayo Tuan Ang, di cicip sarapan nya. Entah enak atau tidak roti selai buatan saya sendiri." Ucap Tiara.
"Oh iya Bu. Ini pasti enak." sekretaris Ang menusuk rotinya dengan garpu lalu memasukkan ke mulutnya. Mengunyah sambil melirik mereka yang saling melempar senyuman. Sekretaris Ang sadar, jika senyuman itu masih terasa sangat canggung.
"Ayah mertua, ibu mertua. Bisa kah, mulai detik ini tidak lagi memanggil ku dengan sebutan Tuan? Bukan kah saya ini, sudah menjadi menantu kalian?" ucap sekretaris Ang di sela makan mereka.
"Anda benar Tuan. Seharusnya memang begitu. Tapi entahlah, lidah ini masih terlalu kaku." jawab Gani Kuncoro.
"Aku tau Ayah, Ibu. Tapi sebaiknya kalian mulai membiasakan diri. Sedangkan pada Tuan Muda saja, Ayah sudah pernah memanggilnya Nak. Benar kan?" protes Yuri.
"Ah, ya ya ya. Ayah akan belajar untuk membiasakan diri kalau begitu. Ibu juga ya?" menoleh pada Tiara yang tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih Ayah, Ibu. Saya berharap agar kita akan terus menjadi keluarga sampai akhirat." ucap sekretaris Ang.
"Amin!" Gani dan Tiara hampir bersamaan.
Mereka tersenyum bahagia, melanjutkan sarapan mereka sampai selesai.
Lalu sekretaris Ang dan Gani Kuncoro berangkat ke kantor bersama dengan mobil yang berbeda dan tujuan yang berbeda juga tentunya.
Dan pada akhirnya, sekretaris Ang dan Yuri menjalani pisah ranjang sementara mereka dengan terpaksa karena harus saling menekan perasaan mereka sekuatnya.
____________________
[ Mohon maaf, sinyal rusak di sini dari pagi. Baru bisa up jam segini.]
__ADS_1