
Sekretaris Ang memapah Istrinya ke kamar. Membawanya duduk di sofa.
Yuri masih terisak.
"Tenangkan pikiranmu Yuri. Tuan Muda pasti hanya terbawa perasaan saja. Tidak mungkin dia akan serius menikahi Putri kita." ucap sekretaris Ang.
"Tapi jika Tuan Muda serius bagaimana?"
"Berarti mereka jodoh!"
"Kakak.. Kau merestuinya?" Yuri terbelalak,menatap suaminya.
"Tentu saja. Kenapa tidak. Tidak ada alasan untuk menolaknya." jawab sekretaris Ang.
"Kak! Kau ikut gila ya? Mereka itu.."
" Sama-sama cucu Gani Kuncoro?"
"Itu kau ingat!"
"Kau lupa siapa Nyonya Mahendra?" Sekretaris Ang menatap Yuri.
"Pada Nyonya Mahendra saja, Tuan Gani Kuncoro tidak ada hak. Apalagi untuk Tuan Muda Rayyan. Kau pasti tidak lupa itu Yuri!"
Seketika Yuri teringat itu. Teringat siapa posisi Mia di keluarga Kuncoro. Gani Kuncoro hanya sekedar Ayah biologisnya. Bahkan nasab Mia kepada Ibunya.
"Sekarang, jika di pikir ulang. Semua ucapan Rayyan Miga ada benarnya. Ara Putri kita punya banyak kekurangan. Siapa laki laki yang bisa menerimanya secara tulus. Jika pun ada, hanya karena memandang harta saja. Apa yang dilakukan Tuan Muda demi putri kita. Karena dia sangat menyayangi Ara dan tidak mau Ara sampai menderita."
Yuri terdiam. Sebenarnya hati kecilnya pun berkata demikian, sama persis dengan ucapan suaminya. Sempat resah saat memikirkan Yura yang sakit sakitan dan sedikit bodoh. Tapi haruskah Tuan Muda menikahinya? Apa kata dunia jika sesama cucu menikah? Mengingat umur Yura yang masih sangat muda. Sudah pasti akan sangat lama jika harus menunggunya dewasa.
Lalu?
Haruskah kisahnya terulang lagi. Menikah disaat usia muda dengan Sekretaris Ang yang sudah dewasa? Kemudian trauma suaminya bisa kembali lagi. Takut hamil diusia muda, menunda kehamilan. Pada akhirnya susah hamil. Jalan terakhir yang ditempuh adalah menjalani prosedur bayi tabung. Hasilnya?
Memang benar berhasil hamil. Tapi!
Kelahiran prematur dengan resiko mendapatkan anak yang tidak sempurna seperti keinginan mereka.
Bayi yang dilahirkan hingga saat ini sakit sakitan. Mempunyai fisik lemah dan IQ dibawah rata rata.
"Tidak!" jerit Yuri membuat Sekretaris Ang terkejut. Seketika merengkuh istrinya.
"Yuri..!"
"Meskipun ini semua demi kebaikan Ara, kisah kita tidak boleh terulang pada mereka."
"Kak Ang. Aku takut! Aku takut jika Yura harus menikah muda."
Sekretaris Ang menghela nafas, ia tau pa yang diresahkan istrinya.
"Tuan Muda pasti mau menunggu Yura dewasa. Percayalah."
"Tapi , apa Tuan Garra akan merestui mereka?"
Sekretaris Ang lagi lagi menghela nafas. "Entahlah. Tidak tau juga."
Semua orang tua sudah pasti ingin kebaikan buat anak anaknya. Jika Sekretaris Ang dan Yuri merasa jika Rayyan Miga mungkin yang terbaik untuk Putrinya karena mungkin hanya Rayyan Miga lah yang bisa tulus pada putrinya, tapi untuk Garra dan Mia tidak sepemikiran dengan mereka.
Garra dan Mia yang terlanjur menganggap Yura anak mereka , adik dari Rayyan Miga. Lalu mana mungkin mereka merestui keinginan Rayyan. Apapun alasannya.
"Kau tidak mungkin menikahi Yura. Dia adikmu dan selamanya akan tetap menjadi adikmu. Jangan membuat malu keluarga besar mu Rayyan!"
"Papa! Malu itu jika berzinah. Jika memilih perempuan yang salah dan dari keluarga yang salah. Papa tau alasannya dan siapa Ara! Orang tua Rayyan juga sudah jelas siapa. Paman Ang? Dia orang kepercayaan Papa. Apa Papa meragukan keturunan Sekretaris Utama Papa itu?"
"Bukan begitu Rayyan." Garra mulai merendahkan nada bicaranya.
Kedua bapak anak itu masih saja adu Argumen.
__ADS_1
Mia, tentu hanya bisa menyimak saja.
"Tapi Yura masih anak anak. Dia tidak akan mengerti maksud dan keinginanmu Rayyan!"
"Aku akan menunggunya dewasa."
"Bagaimana jika dia tidak menyukaimu. Pernikahan harus didasari rasa saling mencintai."
Rayyan tergelak. Menoleh pada Ayahnya.
"Papa lupa bagaimana Papa dan Mama menikah dulu? Apa Mama saat itu mencintai Papa?"
Garra terdiam seribu bahasa. Apa yang diucapkan Rayyan sungguh mengena hatinya. Wajah Garra seketika memerah dibuat Putranya, menoleh pada Mia seperti meminta bantuan.
"Tuan Muda. Kisah kami berbeda."
"Apanya yang berbeda Ma? Bukankah Mama sendiri yang sering bercerita, jika wanita itu hanya butuh ketulusan maka hatinya akan luluh? Itu yang akan Rayyan berikan pada Ara seumur hidup. Maka Ara dan Rayyan akan hidup saling mencintai seperti kalian. Seperti Paman Ang dan Bibi Yuri. Tidak perlu lagi pusing memikirkan siapa yang akan menjaga Ara kelak. Rayyan yang akan melakukannya."
Sudahlah! Kedua orang itu sudah tidak bisa berkomentar lagi. Apa yang diucapkan putranya tetap saja benar dan masuk logika.
"Lalu bagaimana jika Ara tetap tidak mau menikah denganmu? Tidak mungkin kau akan memaksanya bukan?" tanya Mia.
"Rayyan akan pergi ke Mahattan. Setelah Rayyan kembali nanti, Rayyan akan berusaha memenangkan hati Ara. Rayyan hanya perlu restu kalian." Rayyan menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Papa dan Mama harus percaya pada Rayyan. Aku bukan sekedar menyayangi Ara, tapi aku mencintainya. Sejak Ara lahir, aku sudah mencintainya. Seiring waktu berjalan, seiring Ara tumbuh, perasaan Rayyan semakin dalam. Dan itu tidak bisa dipungkiri lagi." ucapan Rayyan sungguh membuat Garra tercengang. Mia semakin lemas mendengarnya.
Mana mungkin? Terdengar tidak masuk akal. Mencintai Ara sejak lahir? Apa itu waras?
Rayyan melangkah, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih penuh dengan sejuta keheranan.
"Rayyan. Tunggu Yura mengerti dulu." ucap Mia.
Rayyan menoleh, kemudian mengangguk.
"Tenang saja, aku akan menunggu sampai Ara mengerti."
Rayyan kembali melangkah, langsung menuju kamar Yura.
Tidak terlihat Yura di sana. Rayyan melangkah masuk perlahan.
"Ara!"
"Der...!!"
Rayyan terkejut, Yura sudah berdiri dibelakangnya sambil terbahak.
"Ara mengagetkan kak Mig. Ku pikir Ara tidak ada di kamar." Rayyan langsung memeluk tubuh gadis kecil itu yang juga langsung meringkuk mesra dipelukannya.
"Memangnya Ara bisa kemana selain di kamar hah!" sahut Ara.
"Suatu saat nanti, kau akan puas jalan jalan di luar bersama kak Mig." ucap Rayyan membawa Yura ke ranjang.
"Benarkah?" tanya gadis kecil itu.
"Tetaplah bersama kak Mig. Kita akan bersama selamanya jika begitu." Rayyan membelai rambut Yura.
"Tapi kak Mig akan pergi ke Mahattan bukan?"
"Kau mendengarnya?"
"Kapan dulu. Pernah mendengar Ayah dan Uncle berbicara demikian." wajah itu mendongak. Beradu mata dengan Rayyan.
"Kau akan menunggu kak Mig?"
"Tentu saja. Ara tidak punya teman dan saudara selain kak Mig. Ara akan menunggu kak Mig. Jangan pulang membawa pacar ya? Ara akan sedih."
"Tidak akan. Tidak ada pacar. Hanya akan ada Ara di hati kak Mig."
__ADS_1
Rayyan mendekatkan wajahnya. Sekilas mencium bibir Ara.
Ara mendorong wajah Rayyan.
Mengusap bibirnya yang basah. Menatap penuh keheranan Rayyan.
"Kenapa mencium bibir Ara? Tidak boleh kak Mig. Kata ibu, bibir seorang gadis tidak boleh dicium siapapun."
"Maafkan kak Mig. Itu karena kak Mig.. Kak Mig sayang Ara." Rayyan juga terkejut dengan sikapnya. Buru buru merengkuh adiknya dan membawanya lagi ke pelukan.
"Maafkan kak Mig. Jangan bilang pada ibu dan Ayahmu. Maafkan kak Mig." Rayyan menggaruk kepalanya.
"Kau takut mereka marah?"
"Tentu saja. Tentu saja kak Mig akan dimarahi mereka."
Yura tersenyum, menangkap jelas ketakutan di wajah Rayyan.
"Ini akan jadi rahasia kita berdua. Soal ciuman pertama kita."
Rayyan bengong mendengar ucapan Yura.
"Kau tau ciuman?"
"Dari Drakor. Setiap orang yang sudah pacaran akan melakukan ciuman pertamanya. Apa kita pacaran?"
"He.. Bu.. bukan begitu. Tadi itu.." Rayyan kali ini malah gelagapan.
"Kita bukan sekandung kak Mig. Jadi boleh berpacaran. Aku tidak akan bilang pada Ayah dan Ibu. Ini rahasia kita. Jadikan Ara pacar kak Mig ya?"
'Hah. Kenapa Ara tiba tiba berpikiran dewasa begini? Ini pasti gara gara keseringan nonton drakor.'
"Kak Mig!"
"Eh iya. Ara.. Ara masih kecil. Kenapa sudah memikirkan pacar?"
"Karena Ara takut!"
"Takut apa?"
"Takut kak Mig di ambil gadis lain. Dan meninggalkan Ara!"
"Ara menyukai kak Mig?"
"Tentu saja. Ara ingin bersama kak Mig. Terus bersama selamanya. Jika Ara dewasa nanti. Ara ingin..."
"Ingin apa?" Rayyan penasaran dengan kalimat Yura yang terhenti.
"Kak Mig tidak akan marah?"
Rayyan menggeleng. "Katakan Ara ingin apa setelah dewasa. Kak Mig tidak akan marah."
"Ingin menjadi istri kak Mig!" ucap polos Yura. Seketika wajah Rayyan berubah merah. Rasa senang langsung menusuk hatinya.
"Benarkah?"
Yura mengangguk dengan tatapan serius.
"Rahasia kita berdua ya? Hanya kita yang tau." bisik Yura ditelinga Rayyan.
"Kak Mig mau?"
"Ah.. Tentu saja. Tentu saja sayang!" cepat cepat memeluk erat Yura.
Rasa bimbang ketika sudah memutuskan untuk pergi ke Mahattan, Rayyan malah mendapati perasaan Yura yang sebenarnya padanya. Rayyan seketika berat untuk meninggalkan Yura.
Takut. Takut perasaan Yura berubah ketika ia pergi nanti. Takut perasaan Yura saat ini hanya sekedar cinta monyet seperti kebanyakan gadis remaja yang baru mengenal jatuh cinta. Apalagi saat ini Rayyan sadar, jika Ara hanya dekat dengannya saja. Belum pernah dekat dengan pria lain. Lalu jika ia pergi? Yura bertemu dengan pria lain yang seumuran?
__ADS_1
Rayyan menjadi gelisah memikirkannya.
'Papa! Rayyan tidak mau pergi!'