Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Ciuman yang kedua.


__ADS_3

"Bang Garra bagaimana ini? Nomor Yuri tetap tidak bisa di hubungi. Jangan jangan terjadi apa apa dengan Yuri??"


"Mia , jangan panik dulu ya? Aku juga sedang menghubungi nomor Ang." Garra meraih pundak Mia, menenangkan nya dengan satu tangan terus mengulik hp nya.


"Ni orang kenapa juga tidak di angkat angkat sih ??? Gak biasa biasa nya Ang seperti ini.!!" Garra kesal. Tapi sedikit ada ke khawatiran juga.


"Bang Garra sudah melihat ke kamarnya tadi?"


"Sudah Mia.. Ang tidak ada di kamar nya, Yuri juga tidak ada. Tapi Bu asri memang melihat mereka keluar bersama."


"Tuh kan? Berarti ada yang tidak beres ini bang Garra. Sekretaris mu yang sudah membawa Yuri. Jangan jangan sekretaris Ang sudah mencelakai Yuri??" Mia semakin panik.


"Mia.. Tenangkan dirimu. Ang tidak seperti itu. Mana mungkin juga Ang berani macam macam pada adik ipar ku. Yuri itu kan adik ipar ku."


"Buktinya, Yuri tiba tiba menghubungi ku dan bicara aneh padaku?"


"Bicara apa memang Yuri tadi?"


"Seperti menyebut nama ..." Mia mengingat ingat.


"Kak Sam.. Sam siapa ya..? Pokok nya kak Sam begitu. Terus minta di jemput, minta diantar pulang. Lalu panggilan tiba tiba mati. Dan sampai saat ini nomor nya tidak aktif. Bang Garra, Mia khawatir. Sekretaris Ang itukan tidak suka pada Yuri. Jangan jangan Yuri di buangnya."


"Mia.. mana ada Ang seperti itu. Ang itu menyukai Yuri, cuma gengsi aja dia. Sudah lah. Mungkin mereka sedang bertengkar. Sudah sudah. Kita tunggu saja. Jika malam ini mereka tidak pulang dan tetap tidak bisa di hubungi, kita akan mencarinya. Bila perlu lapor polisi." Garra meraih tubuh istrinya.


"Ang pasti bisa menjaga Yuri. Ang itu bisa di andalkan." ucap Garra meyakinkan Mia jika tidak akan terjadi apa apa pada Yuri dan Meyakinkan jika Ang pasti akan menjaga Yuri dengan baik. Garra sendiri sebenarnya sempat heran, kenapa Ang tidak juga mengangkat panggilan nya.


Mereka tidak tau jika yang sedang di khawatir kan saat ini sedang berdua dua an di kamar Yuri. Sedang bertatap tatapan mesra, beberapa menit sesudah Garra mendatangi kamar Yuri dan juga kamar sekretaris Ang untuk melihat mereka tadi.


"Tuan Ang, terimakasih ya makanan nya. Jadi merepotkan."


Ang hanya tersenyum mendengar ucapan si bocah.


"Tapi ngomong ngomong Tuan Ang kapan memesan makanan ini?"


"Saat kita masih di taman tadi, sebelum kau datang. Aku sempat menelpon dan menyuruh mbak Endang yang memesannya. Aku sengaja ingin mengajak mu makan di rumah saja karena sudah malas makan di sana. Aku juga tau, kamu pasti lapar kan?"


Yuri tersenyum, dalam hatinya menjadi kagum pada Sekretaris Ang. Ternyata ini alasan sekretaris Ang tidak mau melanjutkan makan malam di restoran tadi. Sekretaris Ang sudah punya rencana untuk mengajaknya makan malam di rumah. Yuri tidak menyangka jika Panglima es ternyata juga menyimpan hati yang hangat dan masih mau peduli dengan nya.


"Tuan Ang, apa benar akan memberikan hp ku besok pagi?" tiba tiba Yuri bertanya tentang hp nya yang saat ini masih di kuasai sekretaris Ang.


"Kenapa? Kau tidak bisa jauh dari benda itu walau hanya untuk semalam saja?"


"Hehe, tidak kok. Bukan begitu. Saya hanya ingin. Ah baik lah. Tidak apa apa simpan saja. Saya bisa mendatangi Mia ke kamarnya."


"Nyonya muda maksudmu? Kenapa mendatangi Nyonya muda? Untuk apa?" Tanya Ang.


"Supaya Mia.. Maksud saya supaya nyonya muda tidak khawatir. Tadi saya.._"


Ang seperti nya langsung menangkap maksud dari ucapan Yuri. Lalu untuk memastikan tebakan nya , ia merogoh dua hp yang masih ada di sakunya.


Belum sempat sekretaris Ang memeriksa hp Yuri. Ia melirik hp milik nya.

__ADS_1


Belasan panggilan tak terjawab.


"Tuan muda Garra, ada apa menghubungiku sebanyak ini? Tidak biasanya." sekretaris Ang segera memeriksa hp nya kenapa bisa tidak mendengar jika Tuan Muda Garra sudah menghubungi nya belasan kali. Rupanya Ang tidak sadar jika hp nya termode senyap tanpa sengaja.


Ang segera menghubungi Garra.


"Tuan muda. Maafkan saya. Tadi hp saya termode senyap. Sungguh saya tidak sengaja. Ada apa ini?" tanya Ang, setelah di sana Garra mengangkat panggilan nya.


"Ang.. Kau di mana? Mana Yuri? Apa yang terjadi pada kalian?" suara penuh kekhawatiran milik Garra.


"Saya. Saya ada di rumah tuan. Yuri bersama saya. Tidak terjadi apa apa pada kami Tuan muda. Kami baik baik saja. Memang ada apa?" jawab Ang semakin tidak mengerti kenapa Garra bisa sepanik itu.


"Apa kalian tadi keluar?"


"Iya tuan. Tapi kami sudah kembali hampir satu jam yang lalu."


"Bodoh kau ini Ang! Kenapa Yuri bisa menghubungi nomor Mia dan bicara sesuatu yang membuat Mia khawatir.


jika tadi Yuri bersama mu, Kau apa kan Yuri hah??"


Ang terperangah, melirik Yuri yang meringsut dan langsung menunduk kan wajahnya.


'Habis lah aku..' Yuri sudah paham situasi dan sadar akan kesalahannya yang sudah membuat Mia dan Tuan muda khawatir.


"Maafkan saya Tuan muda. Ini hanya kesalahpahaman kecil. Maafkan saya. Tidak akan terjadi lagi."


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak ingin ikut campur urusan mu Ang. Tapi kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat kami berdua jantungan. Itu semua pasti karena ulah mu sendiri. Dan ingat Ang, Yuri itu adik ipar ku. Kau akan berhadapan dengan ku jika kau membuatnya sedih."


"Baiklah, urus dulu percintaan mu. Aku tidak mau mendengar kalian bertengkar atau salah paham lagi." Disana Garra menutup panggilan. Menoleh pada istri nya yang mendengar obrolannya dengan sekretaris Ang.


"Kau dengar Mia. Mereka sudah pulang. Mungkin mereka hanya sedang bertengkar kecil. Tidak ada yang perlu di khawatir lagi." ujar Garra pada Mia yang menghela nafas lega.


"Memang mereka pacaran ya bang Garra?"


"Tidak tau juga. Tapi percayalah.


Ang itu adalah pria baik. Dia tidak biasa bermain wanita. Jika dia benar menginginkan Yuri sudah pasti akan serius dan tidak akan main main." jelas Garra dengan cukup serius.


Mia mengangguk, Mia percaya dengan ucapan suaminya.


Sementara di kamar Yuri, Ang menatap tajam Yuri setelah menghidupkan hp Yuri. Yang di tatap benar benar jantungan.


"Nomor siapa ini? Yang kau beri nama Samsudin ini? Jawab Yuri?" pelan tapi penuh penekanan.


"Aku.. aku.. Saya. Maaf Tuan Ang. Maafkan saya. Saya tadi cuma iseng saja." menggeser duduknya ketika Ang mendekat.


"Apa maksud nya??" meletakkan kedua hp itu di atas meja.


"Saya hanya ingin mengerjai Tuan Ang."


Seketika Yuri berdiri dan berlari menjauh.

__ADS_1


Ang tidak mungkin melepaskan Yuri begitu saja. Segera ikut berdiri dan berlari mengejar. Belum juga Yuri berhasil menggapai gagang pintu, Ang sudah berhasil menangkap tubuhnya.


"Katakan apa maksud mu?" mendekap dari belakang dan menarik tubuh Yuri ,menjauhi pintu.


"Saya .. saya..!" Yuri tidak berani berontak. Sudah pasrah.


"Kau ingin membuat ku cemburu?" suara Ang pelan.


Kini menarik tubuh Yuri dan membawa nya duduk di ranjang milik Yuri dengan tidak melepaskan tubuh Yuri hingga Yuri ikut terduduk dengan posisi di pangkuan Ang.


"Tuan maafkan saya. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulangi nya. Aaa...!!" Yuri menjerit kesakitan ketika Ang mengigit bahunya.


"Dasar bocah nakal. Kau berhasil ya! Kau berhasil membuat ku cemburu." bisik Ang , lalu memutar wajah Yuri untuk menghadap nya.


Dengan satu tangan menahan kedua tangan Yuri dan satu tangan untuk menahan tengkuk Yuri.


Ang mencium bibir Yuri membuat Yuri hampir pingsan mendapatkan ciuman kedua dari Ang. Tapi yang ini berasa lain bagi Yuri. Lama Ang melakukan ciuman itu, lalu melepasnya. Mengusap kepala Yuri dengan lembut.


"Aku tau, aku yang sudah merenggut ciuman pertama mu. Tapi kau harus tau juga. Jika itu juga adalah ciuman pertama ku. Dan aku akan bertanggung jawab dengan melamar mu secara resmi pada Tuan Gani Kuncoro." ucap Ang. Entah kenapa Yuri sama sekali tidak bersuara. Seperti nya Yuri benar benar di buat syok dengan ciuman kedua Ang saat ini.


Lalu Ang menurunkan tubuh Yuri di kasur.


Kembali menatap Yuri yang masih memerah wajahnya. Mengusap bibir Yuri yang masih basah karena ulahnya.


"Aku tidak akan lagi menunggu mu tumbuh besar. Biar lah. Aku akan merawat mu sendiri agar besar bersama ku. Jadi, jangan lakukan apa pun lagi yang bisa membuat ku marah atau cemburu. Aku tidak akan peduli lagi siapa pun kau. Adik ipar Tuan muda sekalipun aku tidak peduli. Aku akan menghukum mu jika kau mengulanginya lagi." ucap Ang. Yuri masih terdiam.


"Kau mengerti bocah?"


"Eh, iya Tuan. Iya. Saya mengerti. Saya mengerti." gugup.


"Mengerti apa?"


"Mengerti.. Itu tadi.. Tidak boleh membuat Tuan Ang marah atau cemburu lagi." jawab Yuri cepat.


Ang tersenyum. Menepuk kepala Yuri.


Sontak Yuri menepis nya. "Jangan menepuk kepala ku!!"


Ang tergelak, lalu mencium pucuk kepala itu. "Jangan marah, aku sudah menggantinya dengan kecupan. Sekarang tidur lah. Ini sudah malam." Ang berdiri, lalu melangkah keluar.


"Hei,.!" Yuri ingin memanggil sekretaris Ang. Namun pintu sudah ditutup sekretaris Ang.


"Kan aku belum menjawab mau atau tidak di lamar? Main pergi saja.!" Yuri membanting tubuhnya di kasur.


Terlihat memegangi bibirnya. Kalau waktu itu ia menangis ketika Ang mencium nya untuk pertama kalinya. Tapi kali ini Yuri merasa senang dengan ciuman kedua sekretaris Ang.


"Aaaa... aku bahagia sekali. Aku bahagia.. Tuan Ang akan melamar ku.. Hihi... kenapa bisa sebahagia ini hati ku." berguling guling.


"Tuan Ang tidak akan menunggu ku besar. Akan merawat nya sendiri. Hah! Dia bicara? Dia pikir aku ini kelinci apa?" Yuri cemberut, tapi tak lama Yuri tersenyum kembali. Senyum senyum sendiri.


bersambung.....!!!!!

__ADS_1


__ADS_2