
Yuri masih sesenggukan, merangkak di lantai menggapai tepi ranjang. Sempoyongan lalu berdiri. Duduk melamun di tepi ranjang.
"Omes Omes.. Dia kan yang Omes. Dia yang otak mesum!!
"Hiks.. hiks... kenapa di pertemukan orang seperti nya. Kenapa harus jatuh cinta pada beruang kutub itu??" masih mengeluh.
Lalu tiba tiba terdiam, seperti ingat sesuatu.
"Dia tadi bicara apa ?"
"Hah, jadi .. Tuan Sekretaris menunggu ku besar untuk menikahi ku..??" baru mengingat ucapan Sekretaris Ang.
Segera menyeka air matanya. "Ya ampun..!! Aku terharu..!" kini tersenyum. Kembali berdiri lalu kembali ke cermin.
Memperhatikan wajahnya, memperhatikan bodinya.
"Tidak. Jika menunggu usiaku matang, kelamaan. Keburu di embat orang tuan Sekretaris. Aku harus melakukan sesuatu. Harus!!" kini Yuri bersemangat. Kembali ke ranjang. Baringan. Lalu meraba bibirnya.
"Bekasnya."
"Kenapa tiba tiba mencium ku. Apa maksud nya? Apa dia sebenarnya menyukaiku?" bertanya tanya sampai ketiduran .
Yang di sana rupanya tak bisa tidur. Bayangan beberapa menit yang lalu merusak otaknya.
"Bisa bisa nya aku mencium nya. Padahal niatku ingin marah. Ingin memarahi nya karena sudah berani menentang ku."
"Lihatlah, baru di cium saja sudah menangis. Mau menjadi kekasih ku. Aku tidak sedang mencari seorang kekasih. Melainkan seorang istri. Di cium saja sudah menangis , kalau ku nikahi, bagaimana coba. Bisa bisa kasus Tuan muda akan pindah padaku. Hanya beda judul saja. Kalau tuan muda, istri ku polos. Kalau aku, istri ku bocah." menepuk jidat. Lalu menyentuh bibirnya sendiri .
"Kenapa bisa semanis itu. Padahal pemaksaan. Bagaimana kalau sama sama ikhlas. Sama sama memberi."
"Aku sudah gila. Aku gila...!!"
Menyambar bantal, menutup wajahnya. Ingin melupakan kejadian barusan.
**
Pagi menyingsing, embun pagi setitik demi setitik telah lebur oleh hangatnya sinar mentari.
Di kamar besar Garra.
Sinar Matahari menerobos masuk, sesaat setelah Mia menyingkapkan gorden jendelanya. Menyilaukan mata Garra yang baru saja terbuka.
"Mia.. Apa sudah siang?" mengusap matanya.
"Sudah sayang... ini sudah siang. Kau mau bangun apa tidak sayang..?"
'Eh, kok jadi sayang? Makin manis saja istriku..'
Mia mendekat, lalu duduk di samping tubuh Garra. Menunduk memberi ciuman selamat pagi di kening Garra. Otomatis Rambut basah Mia menempel di wajah Garra. Cukup lama.
Wangi aroma sampo khas milik Mia menyeruak masuk ke Indra penciuman Garra. Membuat hormon Garra kembali meningkat.
"Mia.. kau sengaja mau menggodaku lagi?"
Grep!
Menarik tubuh Mia dan memeluknya.
"Tidak kok. Tapi kalau bang Garra tergoda lagi juga tidak apa apa?" Mia malah menekan tubuhnya. Junior rupanya tersentuh, dan terusik. Selanjutnya terbangun.
Garra terhenyak bangun.
'Tidak. Jangan lagi. Bisa bisa lutut ku tidak bisa di gerak kan nanti. Ada pertemuan penting, ada pertemuan penting.' lalu mendorong pelan tubuh Mia.
"Mia.. bang Garra mandi dulu ya.?"
Mia hanya mengangguk, lalu Garra mulai turun dari ranjang.
Grep..!! Tangan Mia melingkar di pinggang Garra sebelum Garra sempat melangkah.
__ADS_1
Kepala Mia bersandar di punggung Garra. Lalu ciuman ciuman bibir Mia mendarat bebas di sana, membuat darah Garra berdesir lagi dan lagi.
'Aduh Mia. Ku mohon lepaskan! Aku tidak akan sanggup menahan nya jika kau terus menggodaku!' Pertahanan Garra mulai melemah. Perlahan melepaskan pelukan tangan Mia, lalu memutar tubuhnya kembali untuk menghadap Mia.
Wajah manis itu tersenyum kearahnya, "Maaf!"
"Tak ada kata maaf Mia!" mendorong tubuh Mia ke ranjang. Lalu Garra sudah tertumpu pada lututnya sendiri. Menciumi bibir Mia.
"Bang Garra katanya mau mandi." berusaha menghindari bibir Garra.
"Tidak jadi." melanjutkan aksinya, tangan nya sudah masuk di baju Mia. Kusek kusek di dalam sana.
"Bang Garra mau apa?"
"Mau lagi." menciumi dada Mia.
"Jangan. Kan mau ada pertemuan penting?"
Garra mendongak. Tanpa melepaskan satu tangan nya dari tubuh Mia. Tangan satunya cepat meraih hp. Menekan tombol panggilan.
"Ang, mundurkan jadwal pertemuan kita."
"Baik Tuan.!"
Melempar hp sembarangan. Lalu menunduk lagi.
"Em.. em.. bang Garra?? Nanti kamu capek??"
"Sudah capek dari kemarin. Sekali lagi buat penawaran nya."
Mia tak bisa lagi mencari alasan. Garra sudah menarik semua pakaiannya.
Mia meraba raba selimut. Hampir kena, tapi kaki Garra segera menyingkirkan benda itu dari ranjang.
"Ah..!" Mia hanya bisa mengeluh merdu. Pagi ini Garra kembali mendapat kan apa yang dia inginkan.
Di bawah, Sekretaris Ang masih duduk dengan tenang di depan laptop nya. Sambil menyeruput kopi hitam di cangkir.
Melirik jam,
Menoleh ke arah tangga.
Kemudian menelpon seseorang.
"Mundurkan satu jam lagi."
Huh, menghela nafas. Lalu menutup laptopnya dan beranjak. Melangkah ke dapur.
Semua pelayan segera mengangguk memberi hormat. Yang sedang di jalan segera menyisih ketika melihat Sekretaris Ang muncul di dapur .
Tak biasanya sekretaris Ang ke dapur, apalagi jam jam segini. Biasanya sudah ada di kantor. Pertanyaan di otak mereka.
Sekretaris Ang menarik kursi meja makan. Lalu duduk. Menoleh pada mbak Endang yang kebetulan di sana. Ada Yuri juga terlihat sedang sibuk. Entah apa yang diurus. Seperti nya sengaja mencari kesibukan saat melihat panglima es batu datang tadi.
"Endang!" sekretaris Ang memanggil. Mbk Endang segera berlari mendekat.
"Iya Tuan Sekretaris. Apa anda ingin sarapan di rumah? Saya akan siapkan."
"Mana Yuri? " tanpa menoleh. Padahal sudah melihat tapi masih bertanya.
"Ada Tuan. Anda ingin saya memanggilkan nya?"
"Hem."
Mbak Endang segera memutar badan dan menghampiri Yuri.
"Yuri. Tuan Sekretaris memanggilmu."
"Ck, mau apa lagi sih tu beruang kutub. Menyebalkan." sungut Mia. Dengan malas menghampiri Sekretaris Ang.
__ADS_1
"Anda memanggil saya Tuan?" berusaha lembut.
"Siapkan sarapan. Aku lapar."
'Eh,ni orang ada banyak pelayan , kenapa harus aku sih. Kan bukan bagian ku?'
"Kau tidak dengar?"
"Eh, iya tuan. Saya siapkan." secepat kilat Yuri menyiapkan sarapan untuk Sekretaris Ang.
"Silahkan Tuan." lembut.
Ang mendongak, menatap wajah manis yang langsung berubah kesal ketika bertemu mata dengannya itu.
"Duduk!"
"Saya?"
"Siapa lagi. Masa Mbk Endang?"
Yuri masih diam.
"Tidak dengar! Duduk, temani aku sarapan."
Brug.
Dengan kesal Yuri duduk.
"Kenapa jauh jauh, mendekat!" Sekretaris Ang menarik kursi Yuri hingga berdekatan dengan nya setelah menendang kasar kursi kosong penghalang jarak mereka.
Semua yang ada di ruangan itu tersentak, kaget dengan perlakuan sekretaris Ang yang tak biasa.
Semakin terheran ketika melihat kedekatan mereka.
Wajar , mereka belum tau status Yuri di rumah itu kecuali Bu Asri.
"Kau sudah sarapan?" tanya sekretaris Ang lembut sambil menoleh.
Yuri hanya menggeleng.
"Kenapa? Takut gendut?"
Yuri menggeleng lagi.
"Kau kenapa? Lupa aku menyuruh mu apa pagi ini. Mau membuat ku marah lagi. Dan menghukum mu lebih dari semalam??"
"Hah.." Yuri terkejut. Apa.. apa? Mengingat.
"Tersenyum padaku pada saat bertemu dengan ku." Ang mengingatkan.
Yuri tak menggubris, malah semakin cemberut.
"Kau ini. Ayo tersenyum dan sarapan!" Ang menyodorkan piring sarapan nya.
"Aku tidak mau! Aku tidak berselera untuk sarapan. Aku tidak berselera untuk tersenyum padamu. Pria perusak!" teriak Yuri mengejutkan seluruh mereka yang ada.
Lalu memukul bahu Sekretaris Ang dengan kuat.
"Dasar tidak tau malu! Sudah berbuat salah padaku , tidak mau meminta maaf malah merasa tidak berdosa! Aku akan mengadukan mu pada Mia. Atas kelakuan mu. Biar kau di pecat!" Yuri berdiri, menendang kursi dan berlari.
"Yuri!" Ang panik, langsung berdiri.
Menoleh ke sekeliling. Semua mata tertuju padanya.
"Apa liat liat! Bubar semua..!! " bentak Ang, menutupi malu nya. Semua meringsut, menyingkir untuk menyelamatkan diri masing masing.
Ang berlari kencang menyusul Yuri yang sudah hilang di pandangan.
_______________________
__ADS_1