Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Penyesalan Sekretaris Ang!


__ADS_3

___________


Ini sudah hampir Subuh.


Setelah hampir semalaman suntuk mereka menghabiskan waktu untuk bersenang senang di Pesta megah dan mewah milik keluarga Mahendra di Hotel Royal Kuningan.


Para Reporter, Wartawan dan Jurnalis terlihat menyeret kaki mereka menuju mobil masing masing. Letih! Kantuk pun bergelayut di mata mereka.


Ada yang tertidur didalam mobil ada juga yang diusahakan untuk tetap pulang ke rumah mereka.


Bagi yang pulang, langsung melempar tas ransel mereka di atas kasur berbarengan dengan tubuh yang terhempas begitu saja di dekat ransel. Mengorok sudah!


Tidak banyak berbeda dengan keadaan keluarga Mahendra maupun Kuncoro yang saat ini masih berada di Hotel Royal Kuningan. Menempati kamar masing-masing. Mendengkur halus juga.


Garra pun sama, mendengkur lembut sambil memeluk tubuh Mia yang lelah itu. Rayyan Miga pun tertidur pulas di ranjang bayinya seperti ikut merasakan kelelahan kedua orang tuanya usai Pesta besar mereka.


Sementara Anggara dan Yuri, tak sempat merangkak ke ranjang. Tertidur tumpang tindih di sofa.


Hingga Sekretaris Ang menggeliat dan terkejut saat matanya terbuka kecil, melihat tubuh istri kecilnya merongsot hampir ke lantai.


Segera beranjak. Dengan sisa tenaga meraih tubuh istrinya untuk memindahkannya ke ranjang kamar Hotel itu.


Menarik selimut tebal menutupi tubuh Yuri dan ikut masuk kedalam selimut yang sama. Tidak sempat memikirkan apapun lagi, melanjutkan mimpi.


Pagi mulai menjelang!


Suara tangisan Rayyan Miga mengejutkan Garra. Mengucek matanya dan mengusap berkali kali wajahnya kemudian menoleh kearah ranjang bayinya.


Tak ingin menganggu Mia yang sedang terlelap, Garra menyikap selimut, beranjak turun. Dengan sempoyongan menghampiri Rayyan. Segera meniti.


"Kau ngompol Tuan Muda?"


Inisiatif sendiri! Garra mengganti popok Rayyan Miga. Meraih botol susu dan segera membuat Susu.


Sebulan terakhir ini Garra memang sudah belajar membuat susu untuk bayinya sendiri. Garra tidak ingin Bayinya terlalu diasuh oleh Baby Sister.


Ia lebih memilih mempercayakan dirinya sendiri dan Mia untuk merawat bayinya. Seperti Ibunya dulu, bahkan tidak pernah menggunakan jasa perawat atau Baby Sister saat mengasuhnya.


Begitu lah Garra, ingin seperti kedua orang tuanya.


Garra mengangkat Rayyan dengan hati hati. Kemudian memberinya susu dengan membawanya duduk di samping Mia yang terbaring pulas.


Sambil tersenyum menatap Rayyan yang begitu lahap menyusu.


"Sayang! Lihat Mama mu. Dia sangat kelelahan hingga tidak mempedulikan mu lagi." menusuk pipi Rayyan.


"Tidak apa apa sayang! Sama Papa ya? Kasian Mamamu. Dia sudah banyak menderita karena kita berdua. Kau harus mencintainya seperti Papa mencintainya."


Mia menggeliat, membuka matanya perlahan. Melihat Garra sedang menimang bayinya.


"Bang Garra, apa Tuan Muda terbangun?" beranjak bangun dan mendekat.


"Lihatlah, Mama ternyata bangun karena terganggu dengan suara kita sayang..!"


Mia tergelak, meminta Rayyan Miga dari tangan Garra.


"Bang Garra membuat susu ini?" tanya Mia sambil menggendong bayinya dan melanjutkan susunya.


Garra hanya tersenyum dan sambil mengangguk.


"Kenapa tidak membangunkan Mia?"


"Kau sangat pulas. Aku tidak tega membangunkan mu. Tidak apa apa, aku sudah bisa membuat susu untuk Rayyan."

__ADS_1


Mia mendongak menatap Suaminya. Dia sungguh Pria idaman sekali. Hati Mia semakin penuh syukur.


"Aku akan berkemas kemas. Siang ini kita akan pulang ke rumah."


"Bang Garra, Terimakasih atas semuanya. Atas Pesta kita semalam."


Garra mengulurkan tangannya, membelai rambut Mia.


"Diantara kita tidak harus ada ucapan terimakasih. Milik ku adalah milik mu, begitu juga sebaliknya." ucap Garra. Kemudian berdiri dan segera meraih Hpnya. Menghubungi Ang untuk mengajak berkemas.


Siang itu, mereka kembali ke Rumah Utama.


Sedangkan Gani Kuncoro dan Tiara serta Jihan , pulang ke kediaman mereka sendiri.


Bi Sumi yang sekarang sudah dipanggil Ibu oleh Garra dan Mia, harus kembali tinggal di Rumah mereka untuk beberapa hari lagi. Dan setelah beberapa hari Bi Sumi pun pulang kembali ke kampung halamannya, meninggalkan Mia setelah memastikan Mia benar benar baik baik saja.


Epilog!


Dua tahun sudah berlalu setelah pernikahan Yuri.


Hari ini,


Giliran di Rumah Keluarga Kuncoro di adakan Pesta besar juga. Pesta untuk Resepsi pernikahan Ang dan Yuri, Hari Anniversary pernikahan mereka yang kedua tahun juga Ulangtahun usia Yuri yang kesembilan belas tahun di adakan sekaligus hari ini juga.


Reporter kembali berbondong bondong memenuhi undangan.


Setelah penantian panjang mereka, akhirnya hari ini publik bisa mendapat jawaban pertanyaan yang belum terjawab saat mereka lontarkan pada sekretaris Ang mengenai pernikahan diam diam sekretaris Ang dengan Putri bungsu Gani Kuncoro saat di pesta besar Garra Mahendra ketika dulu.


Dan hari ini, mereka mendapat jawaban secara langsung dari sekretaris utama Mahendra group itu dan juga bisa bertanya kepada Gani Kuncoro selaku Ayah mertua dua pria hebat milik Mahendra Group itu.


Suasana meriah penuh kebahagiaan kembali dirasakan oleh kedua keluarga itu.


Usai Pesta.


Sepasang suami istri berbeda usia jauh itu terdengar bercakap cakap.


Yuri duduk di tepi ranjang. Sekretaris Ang meraih kedua tangan Yuri dan menggenggamnya erat.


"Terimakasih sudah menemaniku selama dua tahun ini sayang!"


Yuri hanya tersenyum.


"Mulai hari ini kau boleh tidak meminum pil KB itu."


Yuri tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya sekretaris Ang.


"Aku sudah tidak meminumnya beberapa bulan yang lalu!" jawab Yuri.


"Hah!"


"Bukan kah kakak pernah bilang, jika usiaku sudah lebih delapan belas tahun saja aku sudah boleh berhenti meminumnya? Jadi aku sudah tidak meminumnya selama beberapa bulan terakhir ini."


"Kau ini, tidak mau memberitahu dulu jika akan berhenti! Dasar nakal!" mencubit hidung Yuri.


Yuri hanya tertawa lalu beranjak.


"Aku akan mandi dulu kak? Setelah itu baru kakak!" Yuri melangkah ke kamar mandi meninggalkan sekretaris Ang yang terus menatap langkah istri kecilnya itu.


"Berati selama ini Yuri sudah tidak meminum Pil itu? Tapi kenapa belum ada tanda tanda kehamilan darinya?" sekretaris Ang mulai khawatir.


Sekretaris Ang menghela nafas. Lalu mengambil Hp nya dan menghubungi Dokter Sinta. Mengajak dokter Sinta ketemuan siang nanti.

__ADS_1


Epilog!


Siang itu sekretaris Ang membawa Yuri menemui Dokter Sinta.


Sekretaris Ang meminta pendapat pada Dokter Sinta mengenai rencana untuk kehamilan Yuri.


Dokter Sinta menyarankan agar Mereka mulai mengikuti Program Hamil.


Yuri setuju dengan saran Dokter Sinta dan hari ini juga mulai menjalani Program Hamil.


Program Hamil, hanyalah sebuah usaha. Bertahun mereka menjalaninya bertahun pula tidak ada hasilnya. Bahkan Bi Sumi dari kampung pun sudah dijemput mereka, lagi lagi untuk meminta ramuan penyubur kandungan untuk Yuri..


Namun apa?


Semua usaha tidak membuahkan hasil. Dua garis merah muda belum juga Yuri dapatkan.


Padahal Dokter kandungan sudah melakukan cek kesuburan Yuri dan juga sekretaris Ang. Keduanya memiliki kesuburan yang normal.


Entah kenapa hingga kini, Yuri belum juga hamil?


Bukan hanya sekretaris Ang dan Yuri yang dibuat resah. Garra Mahendra dan juga Mia pun sama resah nya. Apalagi ketika Rayyan Miga yang kini sudah berusia lima tahun itu selalu menanyakan tentang adik yang sudah dijanjikan oleh mereka.


Suatu sore,


"Bibi!"


"Tuan Muda! Ada apa? Kenapa cemberut?" Yuri segera memeluk Rayyan.


"Kata Papa, Bibi Yuri dan Paman Ang akan memberiku seorang Adik? Tapi kapan?"


Pertanyaan Rayyan sungguh membuat hati Yuri sedih.


Sekertaris Ang yang melihat itu pun terlihat khawatir. Melangkah mendekati Yuri.


Menepuk halus bahu istrinya.


Yuri hanya tersenyum, senyum penuh tekanan. Ang tau itu.


"Tuan Muda. Meminta lah juga pada Tuhan. Agar Tuhan cepat memberimu seorang adik. Baik itu dari Mama atau dari Bibi." ucap Ang, menenangkan Rayyan.


Rayyan tersenyum." Baiklah Paman, aku akan sering sering meminta kepada Tuhan setiap doaku. Semoga aku akan cepat memiliki adik." Rayyan berlari kecil ke kamarnya.


Sekretaris Ang menoleh pada Yuri yang masih termenung.


"Maafkan aku!" sekretaris Ang tiba tiba memeluk Yuri dan menangis.


"Kakak! Kenapa menangis?" meraih pipi suaminya. Mengusap air mata milik Ang.


"Ini semua salahku Yuri. Salah ku!"


"Jika saja aku tidak menyuruhmu ber-KB, mungkin kau tidak akan kesusahan untuk hamil."


" Apa ini karma untuk ku? Dulu aku sangat berharap kau tidak hamil. Dan sekarang saat aku begitu menginginkannya, hal itu sangat sulit."


"Kakak , ini bukan salah mu! Bukan salah kita. Tuhan belum mempercayai kita saja."


Sekretaris Ang kembali memeluk istrinya.


",Aku menyesal Yuri.. Sungguh menyesal! Maafkan aku!"


Rasa sesal pernah tidak menginginkan istrinya hamil, dan sekarang Sekretaris Ang harus terus bersabar menantikan kehamilan istrinya dengan penuh penyesalan!


______________

__ADS_1


__ADS_2