
Saat ini giliran Mia yang mendatangi Rayyan di kamarnya. Mendekati Rayyan yang masih terlentang di ranjangnya, menatap langit langit kamar dengan kedua tangan tertumpu di bawah kepala.
Melihat Ibunya datang, Rayyan langsung bangun.
"Mama, kenapa repot repot kemari?"
Mia tersenyum, "Tidak. Mama hanya ingin melihatmu." kemudian duduk disebelah Rayyan.
"Rayyan. Ada yang ingin Mama bicarakan."
"Ara?" Rayyan langsung menebak.
"Mama akan menganggap Rayyan gila juga. Menyuruh Rayyan untuk melupakan Ara?"
"Bukan begitu Rayyan?"
"Lalu apa?"
Mia menghela nafasnya.
"Mencintai itu tidak harus memiliki."
"Kau salah Ma. Mencintai itu harus bisa memperjuangkannya."
"Tapi cinta itu butuh pengorbanan juga Rayyan!" Mia melotot.
"Itu Mama tau. Mencintai memang butuh pengorbanan. Dan Rayyan akan mengorbankan apapun untuk cinta Rayyan. Termasuk, keluar dari keluarga terhormat Mahendra ini!"
"Rayyan! Bicaramu. Kau itu Putra Mama. Kenapa jadi seperti ini?"
"Mama ingin putramu ini tersiksa selama nya begitu?"
"Baik, aku akan lakukan!" sambung Rayyan.
"Rayyan, kau ini sudah dewasa. Harusnya kau bisa berpikir lebih bijak. Yura, dia punya pilihan lain. Yura berhak menentukan masa depannya sendiri. Seharusnya, jika kau benar mencintainya. Biarkan dia bahagia. Kau tidak bisa menekannya untuk mencintaimu. Kebahagiaan orang yang kita cintai akan menjadi kebahagiaan kita juga."
"Aku akan buktikan, jika bahagia Ara hanya dengan Rayyan. Ara mencintai Rayyan! Aku akan buktikan itu. Jika terbukti, kalian tidak bisa menghalangiku lagi." Rayyan beranjak.
Mia hanya bisa menghela nafas melihat langkah kaki Rayyan yang meninggalkannya.
Rayyan melangkah ke kamar Yura.
"Ara." menghampiri Yura yang masih berbaring. Mendengar suara Rayyan, Yura langsung bangun.
"Kak Mig."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Ara, baik baik saja."
"Maafkan yang tadi." Rayyan meraih tangan Yura. Tapi Yura langsung menarik tangannya.
"Tidak apa apa. Ara yang salah."
"Bukan begitu, ini hanya kesalahpahaman Ara." Rayyan menggeser duduknya, Yura pun menggeser duduknya, menjauhi Rayyan.
Melihat itu Rayyan seperti ingin menebak.
"Apa Ara, benar benar sudah melupakan kak Mig?"
Ara menunduk. "Itu tidak mungkin."
"Jujur pada kak Mig, apa Ara masih mencintai kak Mig?" Rayyan kini mengangkat wajah Yura.
"Ara..!" Ara tidak melanjutkan ucapannya. Ara bingung harus menjawab apa. Gadis itu takut salah bicara. Mengingat apa yang diinginkan Ayahnya, Uncle dan Aunty nya.
"Ara, jawab kak Mig."
"Ara tau, sudah salah. Waktu bisa merubah segalanya kak. Begitu juga dengan perasaan Ara dulu dan sekarang. Sudah tidak sama lagi." ucap Yura, menunduk tanpa ingin melihat wajah Rayyan.
Jawaban Yura sudah cukup membuat Rayyan sesak, matanya berkaca kaca. Ia tidak mengira jika yang dikatakan Ibunya benar. Ara tidak mencintainya lagi. Seketika tubuh Rayyan terasa lemas. Sakit menghujam ulu hatinya dengan teramat sangat.
__ADS_1
"Benar begitu Ara?"
Mata Yura sudah berkaca kaca akhirnya Yura terisak.
"Maafkan Ara Kak?"
Rayyan pun meneteskan air mata.
"Baiklah. Ini memang salahku. Kau tidak bersalah. Baiklah Ara. Setidaknya kak Mig tau perasaanmu yang sebenarnya. Tidak apa apa Ara." Rayyan menghapus air mata Yura.
"Berbahagialah Ara. Bersama siapapun kamu. Kak Mig sudah berjanji akan menjagamu dengan hidupku. Ara boleh pergi, tapi kak Mig tidak akan pergi. Kak Mig akan tetap bersama Ara." Rayyan bangun. Melangkah pelan, dan akhirnya meninggalkan kamar arah.
"Ara mencintai kak Mig. Aku mencintaimu kak!" rintih Yura mendekap bantal dan terus terisak.
Rayyan terus melangkah keluar menuju mobilnya. Cepat memasuki mobilnya. Melaju dengan cepat meninggalkan kediaman Mahendra tanpa tujuan.
"Arg....! Arg....!" Rayyan berteriak sambil terus mengemudi.
"Tidak mungkin Ara. Mana mungkin kamu melupakan aku! Aku mencintaimu sejak kecil. Ya Tuhan. Apa aku salah? Aku tidak salah."
"Papa..! Ini semua gara gara Papa yang sengaja menjauhkan Ara dariku. Papa..! Kau menghancurkan putra mu sendiri." Rayyan masih terus berteriak.
Akhirnya dia lelah, memilih untuk membelokkan mobilnya di sebuah Cafe.
Dengan tubuh yang masih lemas Rayyan turun. Lunglai melangkah memasuki Cafe itu. Duduk memesan minuman.
Rayyan meneguk minuman itu, pikirannya masih terus tak karuan memikirkan Yura.
"Aku tidak mungkin bisa melupakan Ara. Tiga tahun tidak bertemu saja tidak bisa merubah sedikitpun perasaanku. Dan ini aku harus melupakannya sementara harus tinggal satu atap. Setiap hari bertemu, dan harus siap melihat Ara bersama pria lain?" pikiran Rayyan terus berkecamuk.
"Edo! Aku mau kopi putih." suara manja seorang Wanita.
Suara itu berasal dari meja di sebelah Rayyan. Seketika Rayyan menoleh ketika mendengar suara wanita itu menyebut nama yang tidak asing ditelinganya itu.
"Bukankah pria itu pacar Ara?" Rayyan langsung membelalak ketika menatap pasangan yang baru datang itu sedang bergandengan mesra.
"Duduklah Baby, aku akan memesannya untukmu." ucap si pria.
"Brengsek!" bogem mentah mendarat di perut pria itu. Membuat pria muda itu jatuh.
"Berani Kau mempermainkan Yura!"
Edo cukup terkejut melihat orang yang sudah meninjunya.
Sementara yang wanita langsung merengkuh tubuh Edo.
"Sayang...!"
"Kenapa kau memukul pacarku? Apa salahnya?" wanita itu berteriak ke arah Rayyan.
Rayyan tidak menghiraukan wanita itu kembali menghampiri Edo yang sudah berdiri.
"Kau..!" mencengkeram kerah Edo.
"Taun Muda Rayyan, tunggu sebentar. Ini salah paham." ucap Edo.
"Hah. Jadi dia Tuan Muda Rayyan?" wanita itu melongo.
"Tidak perlu mengenalku, yang perlu kamu tau pacar kamu ini..?"
"Taun Muda tunggu, ini salah paham! Dia pacarku bukan pacar Yura. Yura hanya pura pura.!" wanita itu cepat berbicara.
"Andin!" Edo melotot pada Wanita itu.
"Kita tidak bisa berbohong lagi kalau begini ceritanya?" ucap Wanita yang bernama Andin itu pada Edo.
"Apa yang kalian bicarakan?" Rayyan seperti curiga dengan pembicaraan mereka.
"Tuan Muda. Ini salah ku! Aku yang menyarankan Yura untuk berbohong pada semua orang. Aku tidak tahan melihatnya menangis meratapi mu setiap saat. Aku menyuruhnya buat berpura pura mempunyai pacar. Karena tidak ada laki laki yang bisa dipercaya, kami sepakat untuk meminta tolong pada Edo untuk berpura pura menjadi pacar Yura!"
"Apa yang kau katakan?" Rayyan langsung menarik tangan Andin.
__ADS_1
"Jelaskan yang benar!"
**
Suasana sejenak hening. Ketiganya kini sudah duduk.
Edo dan Andin masing saling menatap, sementara Rayyan menatap mereka secara bergantian.
"Berikan penjelasan!" pinta Rayyan.
"Aku satu satunya sahabat Yura sebelum Akhirnya Edo juga menjadi sahabatnya." Andin mulai membuka suara.
"Andin! Kita ini sahabat Yura, dan sudah berjanji padanya untuk merahasiakan ini." ucap Edo berusaha untuk mengingatkan Andin.
"Sudah diam! Kalau aku tidak bicara yang sebenarnya, kau akan bonyok oleh Tuan Muda. Kau mau?" sahut Andin.
"Cepat katakan, apa sebenarnya rahasia kalian?"
Andin sempat terkejut mendengar Rayyan berteriak, kemudian ia menarik nafas panjang dahulu.
"Nyonya Mahendra dan Tuan Garra selalu membujuk Yura agar melupakan Tuan Muda. Itu cerita Yura padaku. Tapi Yura tetap tidak bisa meski sudah berusaha. Lalu aku menyarankan Yura untuk berbohong saja kepada semua orang termasuk kepada Orang tua Tuan Muda. Agar mereka percaya jika Yura sudah bisa melupakan Tuan Muda."
"Setiap kali Edo menjemput atau mengajak Yura pergi, aku akan datang menyusul mereka dari belakang. Jadi semua orang mengiraa Edo pacar Yura. Padahal kami yang sebenarnya pacaran."
"Tuan Muda, maafkan kami. Kami hanya ingin membantu Yura. Yura sangat tertekan Tuan Muda. Yura tau, kalau cinta kalian tidak mungkin direstui oleh orang tua kalian. Yura selalu sedih setiap kali memikirkan itu."
Seketika Rayyan memegangi pelipisnya.
"Apa kalian bisa dipercaya?" menatap kearah keduanya.
"Sumpah Tuan Muda. Yura mencintaimu. Dan aku sedang tidak berbohong. Jika Tuan Muda tidak percaya boleh melihat ini." Andin segera merogoh hpnya. Cepat mengulik nya kemudian menunjukkannya pada Rayyan.
Rayyan langsung meneliti. Banyak sekali Poto dan video kebersamaan mereka bertiga disana. Dan jelas menampakkan jika Edo dan Andin tengah asik berdua sementara Yura malah duduk menganggu mereka.
"Aku mau pulang saja." suara Yura didalam video itu.
"Yura , sebentar lagi?"
"Aku malas jadi obat nyamuk kalian!"
"Hahaha, siapa suruh mau melakukan ini. Makanya cari pacar sungguhan. Jadi kau bisa berpacaran sungguhan seperti kami." Seru Andin didalam video itu sambil memeluk Edo.
"Aku sudah punya pacar! Pacarku sedang pergi dan sebentar lagi akan kembali!" teriak Yura.
"Siapa pacarmu?" kali ini suara Edo.
"Edo ya? Dia pacarku Yura?" teriak Andin.
"Pacarku Tuan Muda Rayyan Miga. Kak Mig... Aku mencintaimu!"
Rayyan sungguh tertegun dengan video itu.
"Jika Tuan Muda masih tidak percaya. Masih banyak video kami lainnya. Aku sering menyuruh orang untuk sengaja mengambil video kami sebagai kenang kenangan. Karena setelah lulus ini kami berdua akan pergi ke Luar, melanjutkan studi kami disana."
Tangan Rayyan gemetaran terkepal keras. Kemudian dia langsung berdiri.
"Terimakasih!" hanya itu yang diucapkan Rayyan , segera melangkah.
"Tuan Muda!" Andin memanggil.
Rayyan masih sempat menoleh.
"Sekali lagi Maafkan kami. Kami hanya ingin membantu Yura."
Rayyan hanya tersenyum simpul kemudian cepat melangkah kembali ke mobilnya.
"Ara.. Kau berbohong padaku.!" Rayyan berteriak kembali sambil melaju.
"Aku tidak peduli meskipun kedua orang tua kita menghalangi kita Ara. Aku akan membawamu pergi saja. Aku sudah pernah mengatakan itu sebelumnya."
Pikiran Rayyan saat ini hanya satu, membawa pergi Yura!
__ADS_1
_____________