
Sudah tidak bisa di pungkiri lagi. Sudah tidak mungkin berbohong lagi. Walau dengan alasan tidak tau atau tidak mengerti.
Bahwa Mia, saat ini sudah benar benar mencintai Garra. Terbukti saat jauh dari Garra, Mia merasa rindu, ingin cepat bertemu.
Jika sudah bertemu, lalu menempel tanpa ingin lepas lagi.
Seperti malam ini, setelah salah paham Mia pada Garra, setelah sudah hilang rasa malu setengah matinya tadi , Mia menggelendot di tubuh Garra. Terus menggelendot sampai Garra merasa gerah. Bukan gerah karena Mia tak mau lepas. Tapi gerah karena belum sempat mandi.
"Mia. Tunggu sebentar ya. Bang Garra mandi dulu." ucap Garra , dengan posisi kepala Mia masih berada di dadanya.
"Tidak mau!!" rengek Mia. Malah melingkarkan tangannya di pinggang Garra.
Garra menghela nafas, entah rengekan Mia begitu membuat Garra senang.
Semakin menggemaskan bagi Garra. Membelai lembut rambut Mia.
"Bau apa ini ya..?" tiba tiba Garra mengendus mengendus, lalu menutup hidungnya.
Mia langsung menarik tubuhnya.
" Bau apa memang? " Mia ikut mencari tau bau yang di maksud Garra.
"Tidak ada bau apa apa.."
"Ada Mia. Kecut kecut masam begitu."
"Masa sih? Tapi bau apa?" Mia terlihat bingung karena memang tidak mencium bau apa apa seperti yang di katakan Garra.
"Oh...ketek bang Garra rupanya!" ucap Garra, membuat Mia langsung ikut menutup hidungnya.
"Iih, masa iya bau ketek bang Garra.?"
"Benar, tidak percaya? Sini bau in sendiri." Garra menarik kepala Mia.
" Tidak mau.. iih jorok amat sih?"
"Bener tidak mau?"
Mia menggeleng, terlihat begitu lucu di mata Garra.
"Mandi dulu gih..!" Mia akhirnya menyuruh Garra mandi.
"Begitu donk dari tadi." Garra tersenyum, bisa juga melepas pelukan Mia tanpa memaksa.
Garra pun mandi, dan Mia masih setia menunggu suaminya.
Tidak ingin ketiduran lagi Mia memainkan Hp nya.
__ADS_1
Garra sudah selesai dan kini sudah duduk kembali di samping Mia yang duduk di sofa.
Garra menarik tubuh istrinya dan kembali membawa kepala Mia ke dadanya.
"Wangi kan sekarang?"
Mia mengangguk, sambil tersenyum mendongakkan kepalanya menatap Garra.
Tidak bisa di gambarkan bagaimana perasaan Garra saat ini, kebahagiaan yang tiada tandingnya mengerumuni hatinya. Bahkan dunia terasa milik nya sendiri. Yang lain hanya lah ngontrak.
Hidup berlimpah harta, menikahi Mia. Bisa mencintai Mia, lalu Mia juga kini sudah membalas cinta nya. Dan yang terpenting adalah, cicit kakek bakalan Otw jadi.
Tinggal usaha lebih keras lagi. Yang pastinya harus rutin teratur.
Sambil terus mendekap Mia, angan nya sudah jauh melambung. Bayangan menggendong bayi mungil hasil jerih payahnya. Bayi nya kembar lagi, laki laki dan perempuan. Ya Tuhan... bahagianya Garra. Sampai senyum senyum sendiri.
Tangan kemana, pandangan kemana!
Mia sampai heran melihat suaminya. Menarik tubuhnya untuk memperhatikan suaminya. Tangan Garra masih terlihat membelai, padahal yang di belai sudah tidak di tempat nya. Entah apa yang di belai Garra. Tatapan nya pun kosong menerawang ke depan.
Mia menyapu kan tangan nya di depan muka Garra. Garra tak bergeming. Masih saja begitu, masih senyum senyum sendiri.
Sampai Mia mengguncang tubuh Garra dengan kuat karena khawatir Garra Kesambet.
"Bang Garra? Bang Garra..?" teriak Mia.
"Hah, ada apa Mia , ada apa?"
"Bang Garra melamun?"
"Astaga...!" Garra mengusap wajah nya dengan tangan.
"Maaf maaf..!" menarik lagi tubuh Mia.
"Maafkan bang Garra..!"
"Melamun apa sampai segitunya?" tanya Mia mulai curiga lagi.
Garra tersenyum malu.
"Mau tau?"
Mia mengangguk ragu.
"Membayangkan kita punya bayi. Kembar dua. Laki laki dan perempuan." jawab Garra berterus terang.
Mendengar ucapan suaminya, Mia sebenarnya senang. Tapi karena masih belum mengerti Mia diam tak menjawab. Melihat itu Garra paham. Lalu meraih tangan Mia, menggenggam nya di dadanya.
__ADS_1
"Mia.. bang Garra tau kamu tidak paham. Tapi nanti , Mia pasti paham sendiri. Kalau Mia akan hamil, lalu melahirkan anak kita
Anak bang Garra." ucap Garra.
Entah Kenapa, mendengar itu Mia begitu damai. Kembali merebahkan kepalanya pada suaminya. Kali ini di pangkuan Garra.
"Bang Garra tenang saja. Yuri akan mencarikan buku panduan hamil untuk Mia. Mia akan mempelajari nya dan segera paham tentang hamil dan melahirkan. Jadi kalian tidak perlu repot repot memberi tahu Mia. Bukan kah selama ini Mia memang banyak tau dari buku? Bukan dari guru atau sekolah." ucap Mia.
Ucapan Mia kali ini begitu menusuk hati Garra. Hati Garra semakin teriris membayang kan kehidupan masa lalu istrinya. Coba saja dulu Mia bersekolah, setidak nya di beri sedikit saja waktu untuk berteman, mungkin Mia tidak akan seperti ini. Apalagi saat Mia mengatakan jika Yuri yang akan mencarikan buku panduan hamil untuk Mia, Garra menjadi yakin, jika Yuri tidak sejahat perkiraan nya dan ternyata memang Yuri peduli pada istrinya.
"Sayang... Jangan pernah berkecil hati meskipun Mia tidak pernah bersekolah dan kurang berpengalaman. Ingat ya, Mia punya bang Garra yang sayang pada Mia. Ada kakek ada nenek yang juga sayang pada Mia. Sekarang ada Yuri juga. Dan sebentar lagi ada anak kita. Kami akan menemani Mia selalu, akan ada di samping Mia selamanya. Kita berdua juga akan terus bersama, menua bersama, sampai ajal yang memisahkan kita. Mia mau kan..?" ucap Garra sambil mengusap wajah Mia yang berubah sendu.
Mia mengangguk, mata nya berkaca kaca.
"Terimakasih bang Garra. Sudah mau bersama Mia. Menerima Mia yang tak sebanding dengan bang Garra."
"Hus, jangan bilang seperti itu. Jangan pernah. Jika masalah terimakasih bukan kah seharusnya aku yang berterimakasih padamu? Tanpa kehadiran mu, mungkin aku sudah tidak bernafas lagi. Bahkan seluruh harta dan seumur hidupku tidak akan bisa untuk membayar mu. Ketulusan mu saat merawat ku dulu, hingga menyembuhkan aku yang sempat putus asa. Berjanji lah Mia. Semua milik ku , juga milik mu. Harta , uang, rumah , jiwa raga ku juga. Kau boleh memiliki nya seutuhnya. Ini semua milikmu." Garra merentangkan kedua tangan nya. Mia segera bangun dan berhambur memeluk Garra.
Lama mereka berpelukan. Saling merasakan kebahagiaan. Mia begitu bersyukur bisa bertemu dan menikah dengan pria seperti Garra. Lalu teringat tentang pertemuan pertama nya , di mana ia sempat sedih, menangis dan mengutuk orang tua nya yang sudah menjualnya. Menjodohkan nya dengan pria Cacat demi uang. Ternyata begini cara Tuhan untuk mempertemukan dia dengan Garra. Begini cara Tuhan, untuk mengganti penderitaan nya dengan kebahagiaan.
Mia sempat menyesal sudah memaki keluarga nya, lalu berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik. Akan mengucapkan terimakasih pada mereka dengan caranya. Tak lupa berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga apa yang kini ia miliki, bahkan dengan nyawanya.
Mia kembali menarik tubuhnya, lalu menatap Garra.
Meriah tengkuk Garra dan mencium kening Garra. Lama kecupan Mia berhenti di sana. Dan pada akhirnya , pelan.. merambat ke bibir Garra.
Garra hanya diam, ingin tau bagaimana istri nya akan memperlakukannya.
Ternyata di luar perkiraan Garra, Mia menggerakkan bibirnya untuk memperdalam ciuman nya. Lama, sampai berhasil membuat Garra gemetaran.
Tangan Garra mulai tak terkondisikan lagi.
Menerobos ke dalam baju Mia.
Dan...
Akhirnya, Garra mengangkat tubuh Mia , membawanya keranjang.
"Kita akan mengulangi nya lagi bang Garra?" bisik Mia.
Garra mengangguk, sudah tak kuat bersuara.
Malam panjang yang kedua pun di mulai kembali...!!!
Dengan penuh cinta , kedamaian dan tentu nya saling menikmati. Bukan hanya Garra, tapi kali ini Mia pun sama!
________________
__ADS_1
bersambung.....!!!!