Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Di luar nalar!


__ADS_3

"Kau benar benar akan menunda pernikahan mu Ang? Hanya karena memikirkan aku masih seperti ini?" sekali lagi Garra bertanya.


Sekretaris Ang mengangguk, " Iya Tuan Muda. Maafkan saya, apapun itu saya tidak tidak bisa tenang melihat Tuan Muda seperti ini."


Garra menghela nafas, menoleh ke pintu. Mia sudah berdiri di sana, mungkin sejak tadi. Mia sudah banyak mendengar obrolan mereka.


Lalu Mia mendekati mereka, menaruh mangkok bubur di tangannya ke atas meja.


"Tuan Ang. Tuan Muda Garra tidak sendirian. Aku akan selalu disampingnya setiap detik. Seharusnya,kau tidak boleh terlalu khawatiran." ucap Mia seraya duduk di samping Garra.


"Saya tau Nyonya, tapi.._"


"Kau tidak percaya padaku? Kau meragukan aku dalam menjaga dan mengurus suamiku sendiri?"


"Bukan begitu Nyonya!"


"Kau lupa bagaimana Tuan Muda sebelum ini? Anda jangan lupakan itu Tuan Ang. Jangan lupa bagaimana aku bertaruh hari hariku demi kesembuhan Tuan Muda, bertaruh seluruh waktuku untuk menjaga dan merawat nya. Dan sekarang keadaannya tidak seperti dulu lagi. Tapi kau malah mengkhawatirkan nya. Apa Kau tidak ingin bertanya dulu pada dirimu sendiri kemana kau saat itu? Ketika Tuan Muda lebih membutuhkan mu dari pada saat ini?" potong Mia menatap tajam ke arah sekretaris Ang.


"Saya mengerti Nyonya, saya mengerti. Mohon maafkan saya Nyonya . Bukan tidak percaya kepada Nyonya, tapi saya mohon, izinkan kali ini saya mendampingi Tuan Muda di setiap keadaannya. Saya hanya ingin menebus kesalahan saya di hari kemarin, yang terlalu sibuk dengan perusahaan hingga mengabaikan keamanan dan kesembuhan Tuan Muda. Saat ini saya hanya ingin memastikan jika Tuan Muda akan terus baik baik saja, dan tidak mengulangi kesalahan saya yang kemarin." jawab Sekretaris Ang, menunduk. Tidak berani membalas tatapan sangar milik Mia.


"Lalu bagaimana dengan Ayah dan ibuku? Apa kau tidak memikirkan itu Tuan Ang? Apa kau tau, jika mereka sudah menyiapkan pesta kecil di rumahnya untuk kalian? Bahkan mereka sudah membagi sedekah pada para mantan tetangganya dulu di komplek kumuh itu. Dan meminta doa mereka untuk hari pernikahan kalian yang sudah ditentukan? Mereka pasti akan kecewa hatinya, walau bibir mereka tidak akan berani mengatakan itu."


Sekretaris Ang terkejut, mendongak. Memberanikan diri menatap Mia.


"Benarkah Nyonya?"


"Ya, mereka sudah menelepon ku dan sengaja tidak menelepon Yuri, bahkan nanti malam mereka berencana untuk menjemput Yuri dan membawa Yuri pulang pada Mereka, sampai pada hari H kalian. Dan mereka ingin pernikahan kalian dilaksanakan di Rumah mereka." ucap Mia sekali lagi.


Ang terdiam, tidak tau harus menjawab apa. Ang memang belum mengajak bicara Gani Kuncoro tentang pengunduran hari pernikahan nya. Ang hanya baru mengajak Yuri berbicara. Tentu saja Yuri setuju karena Yuri sendiri memikirkan Mia yang akan kesulitan jika harus menjaga Tuan Muda Garra sendiri. Rencana nya , nanti malam Sekretaris Ang baru akan menemui Gani Kuncoro untuk membicarakan nya.


Garra yang tadinya hanya terdiam mendengar istrinya menceramahi sekretaris itu kini mulai membenarkan ucapan Mia dan angkat bicara.


"Kau tidak boleh sampai mengecewakan mertuaku Ang, apalagi Mia ku. Jika mereka kecewa , maka aku akan lebih kecewa."


"Jangan menunda pernikahan mu Ang. Lanjut kan rencana awal. Dan ini perintah dari ku! Kau tau, aku paling tidak suka di bantah!" sambung Garra.


Ang kembali terdiam, kembali menunduk. Terlihat sedang berpikir keras, menimbang.


Akhirnya, Ang mengangguk.


"Baiklah Tuan. Saya akan menjalankan perintah Tuan Muda!"jawab Ang. Lalu beranjak dari duduknya.


"Hari ini, saya akan membawa Yuri menemui orang tua saya. Setelah itu, saya sendiri yang akan mengantar nya ke rumah Tuan Gani."


"Baguslah Ang, cepat lah kalau begitu."


Ang tersenyum, "Kalau begitu, saya permisi Tuan Muda, Nyonya Mahendra."


Mia dan Garra hanya mengangguk sambil membalas senyuman Ang.


Ang, membalikkan badan dan melangkah.


"Ang!" panggil Garra setelah Ang, sudah mencapai pintu.


"Jangan memikirkan aku dulu. Fokuslah pada hari pernikahan mu! Selamat berjuang lagi!"


Ang mengangguk lagi.

__ADS_1


"Jangan lupa tutup pintu ku!" seru Garra.


Ang, lagi lagi hanya tersenyum lalu melangkah keluar dan tidak lupa menutup pintu kamar Garra.


Setelah kepergian Sekretaris Ang, Mia kembali menyuapi Garra dengan sisa bubur yang ia buat tadi.


Garra kembali membuka mulut nya.


Tapi baru saja satu suapan, Pintu terdengar di ketuk seseorang.


Baru saja Mia berdiri untuk hendak membuka nya, pintu sudah terbuka.


Kakek Abian dan Nenek Sulis sudah melangkah masuk.


"Hai cucu hebat ku, apa kabar??" Kakek Abian menghampiri Garra sambil tertawa.


"Apa kabar apa kabar, puas kakek melihat Garra menderita seperti ini!!" celetuk Garra.


Kakek Abian terbahak mendengar jawaban Garra.


"Kau kenapa?Ha..ha..ha.. Kupikir hanya wanita ngidam yang bisa sensitif, tenyata seorang Tuan Muda Garra yang keren saja bisa jadi lebih sensitif saat ngidam."


"Kakek! Kenapa begitu senang dengan penderitaan ku??"


"Mana mungkin aku tidak senang Garra, penderitaan mu ini adalah kebahagiaan ku. Aku sudah menunggu lama. Dan akhirnya penantian ku tidak sia sia. Cicit ku sebentar lagi akan lahir ke dunia dan kau harus baik baik melewati masa ngidam mu. Jika tidak , cicit ku nanti akan menjadi seorang yang bandel seperti mu. Harus banyak banyak bersabar biar cicit kakek juga akan menjadi seorang yang penyabar."


"Apa hubungan nya kek???"


"Ada lah, jika wanita hamil di masa ngidam nya rewel, Bayinya kelak juga akan rewel. Jika masa ngidamnya penyabar, bayinya juga akan jadi anak yang penyabar juga." jawab kakek Abian.


"Sama saja lah!"


"Yang benar kek?" Garra terlihat khawatir menyadari bagaimana sikapnya akhir akhir ini sering rewel dan sensitif.


"Haha.. bercanda Garra. Tidak Garra tidak. Semua anak tergantung didikan orang tuanya. Kau tidak perlu begitu cemas. Cicit ku pasti akan mewarisi sifat Ayahnya." sahut Kakek Abian.


Sementara Nenek Sulis dan Mia hanya terkekeh saja mendengar obrolan mereka.


"Mia, bagaimana keadaanmu. Kau baik baik saja kan? Tidak merasakan apapun?" tanya nenek Sulis meraba perut rata Mia.


"Baik baik saja Nek, kemarin juga Dokter Sinta baru kemari memeriksa Mia dan perut Mia. Kami berdua sehat." jawab Mia.


"Ah, syukurlah. Kau harus menjaga baik baik Cicit kami. Makan yang banyak dan jangan capek capek."


"Nek, kau tenang saja. Makan Mia banyak. Yang tidak doyan makan itu aku! Harusnya aku yang Nenek khawatir kan!!" seru Garra.


"Ah kau ini, jadi laki laki jangan manja! Demi istri dan calon bayimu kau harus belajar bersabar." sahut Nenek Sulis.


"Iya, iya. Garra akan bersabar! Pokoknya bersabar. Hadeh!!" Garra menoleh pada Mia yang kembali tertawa.


"Mana buburnya sayang?? Perutku pedih nih??"


"Eh iya." Mia kembali meraih mangkok buburnya yang sempat ia taruh tadi karena kedatangan kakek dan nenek. Mia duduk disebelah Garra lagi dan menyuap Garra kembali.


"Garra! Apa tanganmu sakit?" tiba tiba Kakek Abian bertanya.


"Tidak!" jawab Garra di sela kunyahan mulut nya.

__ADS_1


"Apa ngidam mu berpengaruh pada tanganmu?" lagi lagi Kakek Abian bertanya.


"Tidak kek, tangan Garra baik baik saja."


"Kalau begitu makan sendiri! Kenapa harus minta disuapin istrimu. Kau ini manja sekali!" bentak Kakek Abian membuat Garra langsung cemberut.


"Sekali kali manja pada istri sendiri tidak apa apa kek. Kenapa di permasalahkan? Kakek ini, Garra sedang menderita begini masih saja dimarahi terus!"


"Lagian , tangan masih berfungsi juga. Jangan jadikan alasan ngidam mu buat bermanja manja pada istri mu. Kasian dia, dia bukan pelayanmu. Dan kau harus ingat, dulu Mia sudah puas mengurus mu , memandikan mu dan menyuap mu sebelum tanganmu bisa berfungsi." ucap Kakek Abian semakin sewot.


"Hehe, Iya kek. Maaf maaf. Mia, maafkan bang Garra. Bang Garra akan makan sendiri saja." Garra malu, segera mengambil alih mangkok di tangan Mia. Tapi Mia buru buru mencegahnya.


"Tidak apa Bang Garra, Mia senang kok menyuapi bang Garra. Memang menyuapi bang Garra harus karena tangan bang Garra tidak berfungsi? Ini tanda nya romantis . Begitu kek, bukan karena bang Garra manja. Bang Garra juga sering menyuapi Mia kan?" sahut Mia , menoleh pada Kakek Abian dan Garra.


"Tuh, kakek dengar sendiri. Jangan terus menyalahkan Garra. Kita ini pasangan yang romantis. Bukan nya berterima kasih Garra sudah berhasil membuatkan Calon cicit kakek, malah adanya mau marah terus pada Garra." protes Garra.


"Siapa bilang kakek tidak berterima kasih. Kakek bahkan sampai bersujud berkali kali saking berterima kasih nya pada Tuhan. Dan , Terimakasih Cucu ku, atas keberhasilan usahamu. Sudah, habiskan buburnya." jawab Kakek Abian.


Mereka semua tersenyum penuh kebahagiaan,. Mia kembali menyuap Garra, dan Garra menghabiskan kembali satu mangkok bubur ayam itu sambil tak berhenti mengelus perut Mia.


"Apa mual lagi?" tanya Mia, setelah suapan terakhir Garra.


"Tidak!"


"Aneh ya. Tadi juga tidak mual. Bang Garra mual dan muntah terakhir tadi bukan karena bubur ini kan? Melainkan karena mencium aroma Sabun." ucap Mia seperti sedang ingin menebak sesuatu.


"Kau benar Mia. Tadi aku muntah karena bau sabun bukan karena makan bubur ini. Kenapa bisa tidak mual ya, padahal apapun yang ku telan biasanya keluar lagi." sahut Garra.


Nenek Sulis yang mendengar itu langsung bertanya.


"Selama Garra begini, apa kau pernah memasak untuk nya Mia?" tanya Nenek Sulis.


"Tidak Nek, baru kali ini." jawab Mia.


"Oh, Nenek tau sekarang."


"Tau apa Nek?" Garra dan Mia bersamaan.


"Berarti, Garra bisa memakan apapun tapi harus dari hasil tangan Mia sendiri."


"Benarkah?" Mia seperti belum percaya.


"Sepertinya begitu, coba saja dulu. Kau masak apapun dan suapin suamimu. Jika dia tidak mual, berarti dugaan Nenek benar. Jika bayimu mau Ayahnya hanya makan masakan ibu nya saja."


Garra dan Mia saling berpandangan.


"Baiklah, Mia akan mencobanya."


***


Sejak ucapan Nenek Sulis itu, mulai hari ini juga Mia mulai mencoba nya. Memasak makanan untuk Garra dengan tangan nya sendiri.


Dan terbukti, Garra tidak lagi memuntahkan makanan hasil masakan Mia. Meskipun ada sedikit mual, tapi Garra tidak lagi muntah muntah. Meskipun Garra masih tersiksa dengan rasa pusing, lesu , pegal pegal di seluruh tumbuhnya dan masih mual jika mencium aroma lain selain aroma jeruk. Setidaknya Garra masih bisa makan, asal masakan dari tangan Mia sendiri.Garra lalu mencoba masakan lain , bukan masakan Mia, dan benar Garra memuntahkan nya kembali. Padahal sama sama jenisnya. Kan aneh! Tidak masuk akal Ya?? Tapi lagi lagi, itulah yang dinamakan ngidam. Kadang di luar nalar!


Garra tersenyum senang dan berpikir jika bayinya benar benar ingin berbuat adil pada kedua orang tuanya. Sama sama harus payah dengan kehadiran nya di dalam perut Ibunya.


__________________

__ADS_1


__ADS_2