
Seperti rencana mereka.
Hari ini juga Sekretaris Ang dan Yuri kembali ke Rumah sakit untuk melakukan Step demi Step Prosedur Bayi tabung yang sudah diterapkan Dokter special dari luar Negeri itu.
"Kira kira berapa lama Prosesnya Dokter?" tanya sekretaris Ang, sebelum dokter memulai Step pertamanya.
"Mulai dari induksi ovulasi, pengambilan sel telur, pengambilan sel spermaa, pembuahan, transfer embrio, hingga proses tahap akhir yakni memastikan embrio berhasil berkembang menjadi janin. Kurang lebih 1,5–2 bulan waktu yang dihabiskan hingga dapat dipastikan bahwa wanita tengah hamil hasil dari proses bayi tabung." jawab Sang Dokter Pria dari Luar Negeri itu.
Sekretaris Ang hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasan sang dokter. Memakan waktu lama juga. Sekretaris Ang khawatir pada Yuri yang pasti akan kelelahan.
Lalu setelah Dokter menanyakan tentang kesiapan Nyonya Ang, dan Yuri mengatakan jika sudah siap, maka Dokter pun memulainya.
Mula mula Dokter pemberian suntikan hormon pada Yuri.
Suntikan ini dijelaskan oleh sang Dokter jika berfungsi untuk memproduksi beberapa sel telur sekaligus. Setelah itu, obat-obatan pun diberikan untuk membantu mematangkan sel telur yang berkembang dan merangsang proses ovulasi atau pelepasan sel telur.
Pengujian melalui tes darah atau USG akan dilakukan setelah satu bulan kemudian demi menentukan kesiapan tubuh Yuri untuk proses pengambilan sel telur.
Satu bulan setelah pemberian suntikan pada Yuri, Yuri diperiksa kembali. Setelah Dokter mengatakan jika sel telur di tubuh Yuri sudah matang, Dokter lalu mengambil sel telur tersebut dengan jarum khusus. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan USG dan berlangsung sekitar 30–60 menit.
Setelah itu, sel telur milik Yuri yang sudah berhasil diambil oleh sang Dokter kemudian dipertemukan dengan spermaa milik Sekretaris Ang. Spermaa ini pun diambil di hari yang sama dengan pengambilan sel telur Yuri. Kemudian, sel telur yang telah dibuahi, disimpan dan dipantau di laboratorium.
Harus menunggu sekitar dua Minggu lagi.
Saat embrio atau bakal janin hasil pembuahan sel telur dan spermaa tersebut dianggap cukup matang, Dokter kembali menghubungi Sekretaris Ang untuk kembali membawa Yuri ke Rumah Sakit guna melakukan Step berikutnya.
Setelah kedatangan mereka di Rumah Sakit kembali, Yuri di bawa keruangan khusus.
Disana Yuri dibaringkan disebuah ranjang khusus. Kemudian embrio itu dimasukkan melalui vaginna Yuri ke dalam rahimnya dengan menggunakan tabung penyalur yang disebut kateter. Untuk memperbesar kemungkinan hamil, 3 embrio ditransfer sekaligus.
"Dua Minggu setelah ini, kita akan melakukan Tes Pack pada Nyonya Ang. Untuk mengetahui apakah ini berhasil atau tidak. Jika tidak, kita bisa mengulanginya sekali lagi. Dan untuk yang kedua kalinya, kemungkinan kami akan memasukan lebih dari tiga embrio." tutur sang Dokter.
Sekretaris Ang menarik nafas beratnya. Menoleh pada Wajah lelah Yuri. Menyeka keringat dingin yang mengalir ke rahang istrinya itu.
"Maafkan aku! Kau pasti lelah dengan semua ini."
Yuri tersenyum. Menggenggam erat jemari Sekretaris Ang.
"Lelahku ini adalah usaha untuk keberhasilan kita. Kau tidak perlu cemas. Aku tidak apa apa."
"Kalau begitu kita pulang!"
Yuri mengangguk. Dan mereka pun pulang kembali ke Rumah Utama.
Sekertaris Ang meluncurkan mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Walau dalam hati berbicara masing masing. Berbisik, mengucapkan doa dan harapan. Berharap jika usaha mereka kali ini bisa berhasil sempurna.
Mobil mereka sudah berhenti di depan Rumah Utama Mahendra. Mereka bergegas turun. Sekretaris Ang cepat membuka pintu.
Baru saja membuka pintu, Rayyan sudah berdiri menyambut mereka. Berlari kecil menubruk Yuri.
"Bibi? Apakah Bibi sudah hamil?" mengusap perut Yuri.
Sekretaris Ang tergelak. Mengelus kepala Rayyan.
"Kita harus menunggu dua Minggu lagi Tuan Muda. Anda harus bersabar ya?"
__ADS_1
"Yaaah....Kenapa harus menunggu lagi? Bukan kah kemarin sudah menunggu? Dua Minggu, kemudian dua Minggu lagi dan sekarang harus menunggu dua Minggu lagi?" Rayyan mendengus kesal.
Garra dan Mia yang juga menyambut mereka ikut tergelak mendengar keluh kesal Putranya.
"Rayyan, semakin besar rasa sabar kita , hasilnya akan semakin memuaskan. Jadi tidak boleh mengeluh." ucap Mia membelai kepala Putranya.
"Baiklah Ma. Tapi bibi Yuri harus hamil ya? Rayyan benar benar ingin seorang adik. Rayyan tidak ingin sendirian terus seperti ini." rengek Rayyan.
"Pergilah ke kamarku. Dan berdoalah yang banyak. Semoga Tuhan, mengabulkan doa kita segera." kaki ini Garra yang ganti berkata pada Rayyan.
Rayyan hanya mengangguk, tanpa membantah langsung berlari ke kamarnya.
"Bagaimana?" tanya Garra pada Sekretaris Ang sambil duduk di sofa di ikuti yang lain.
"Kami harus menunggu dua Minggu lagi untuk melakukan tes pack pada Yuri." jawab sekretaris Ang.
"Apa tadi berjalan lancar?"
"Iya Tuan, semua berjalan lancar. Hanya tinggal menunggu hasilnya."
Garra terlihat menarik nafas, melirik wajah Yuri yang terlihat lelah. Kemudian menoleh pada Mia yang terlihat khawatir.
"Baiklah, sebaiknya ajak istrimu beristirahat. Sepertinya dia sangat lelah."
Sekretaris Ang mengangguk, meraih tangan Yuri dan mengajaknya ke kamar.
Garra pun sama mengajak Mia ke kamar mereka kembali.
"Apa bang Garra khawatir jika mereka tidak berhasil?" tanya Mia.
Menoleh pada Mia yang menepuk halus bahunya.
"Mia.. aku egois. Aku tau, Ang menerima apapun keadaan Yuri. Bahkan meskipun Yuri tidak bisa hamil sekalipun. Tapi aku yang menuntut mereka. Aku yang sangat ingin Yuri hamil karena ingin agar Tuan Muda mempunyai saudara. Maafkan aku!"
"Kalau begitu, kau bisa juga berusaha agar aku bisa hamil lagi. Bukankah ada obat khusus untuk menyuburkan kandungan? Bagaimana? Dengan begitu bang Garra tidak perlu membebani mereka." ucap Mia.
"Mia.. Tapi rahimmu sudah kering. Mana bisa?"
"Kita belum mencobanya bang Garra?"
"Jika berhasil, aku akan bersedia di Cesar saat melahirkan nanti. Bang Garra tidak akan terlalu cemas seperti saat kelahiran Tuan Muda Rayyan dulu." sambung Mia.
Mendengar usul istrinya Garra tergelak.
"Kau benar. Baiklah. Kita akan segera berusaha kalau begitu. Mengikuti prosedur bayi tabung juga." jawab Garra.
Mia senang mendengar ucapan suaminya. Akhirnya, Mia punya harapan untuk hamil lagi.
Sementara di kamar sekretaris Ang, pria itu masih tak melepaskan pandangan pada wajah Yuri. Kelelahan begitu terlihat di wajah itu. Bukan lelah karena terkuras tenaganya. Tapi lelah karena terkuras pikiran.
Sekretaris Ang menarik tubuh itu ke pelukannya.
"Kak Ang. Kita akan berhasil kan?" bisik Yuri berada di dada sekretaris Ang.
Sekretaris Ang menghela nafas. Membelai lembut rambut Yuri.
__ADS_1
"Kita akan mengulangi lagi jika tidak."
Yuri menarik tubuhnya. Menatap tajam ke arah sekretaris Ang.
"Mengulangi?"
"Kenapa? Apa kau keberatan?"
Yuri menghela nafas.
"Bukan masalah keberatannya. Tapi itu sungguh memalukan. Bayangkan saja! Dokter laki laki harus mengutak atik bagian yang selama ini hanya kau saja yang menyentuhnya." jawab Yuri.
Sekretaris Ang tergelak.
"Karena hanya dengan begitu mereka bisa memasukkan calon bayi kita. Lalu harus bagaimana lagi? Melalui mulut?"
Yuri cemberut. Membayangkan tim Dokter memperlakukannya. Meskipun itu hal wajar pekerjaan seorang dokter. Tapi Yuri sungguh merasa malu mengingatnya, saat bagian sensitifnya harus dilihat dan disentuh oleh orang lain selain suaminya.
"Baiklah! Tenangkan dirimu. Ini adalah pengorbanan kita. Dokter itu sudah melakukan yang terbaik. Dan semoga kita tidak perlu mengulanginya lagi."
Epilog!
Sehari berlalu, kemudian berlalu kembali. Satu Minggu sudah berlalu, lebih dua hari malah. Dan hari ini mereka mengalami kekhawatiran yang teramat sangat. Bagaimana tidak, dua hari terakhir ini Yuri terus mengeluh.
Merasa sakit pinggang dan kram di perutnya. Sering kali buang air kecil hingga bolak balik ke kamar mandi.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Yuri mengalami sedikit pendarahan. Akhirnya sekretaris Ang segera membawa Yuri menemui Dokter lagi tanpa menunggu dua Minggu dari waktu yang diberikan oleh Dokter specialis luar Negeri itu.
**
Sekretaris Ang nampak sangat resah,berjalan mondar mandir tak tenang. Tidak bisa duduk di kursi tunggu. Sebentar sebentar menoleh pada pintu, disana Yuri sedang melakukan pemeriksaan dengan Dokter Sinta.
Tak lama pintu di buka. Tanpa di suruh sekretaris Ang langsung berlari masuk keruangan itu.
"Dokter Sinta. Apa yang terjadi pada istriku? Apa proses bayi tabung kami gagal? Apa dia sedang mengalami Menstruasi?" Sekretaris Ang bertanya bertubi tubi pada dokter Sinta.
"Tuan Sekretaris, tenanglah. Silahkan duduk dulu." ujar dokter Sinta. Menarik kursi.
Sekretaris Ang menggenggam tangan Yuri dan membawanya duduk di kursi didepan meja kerja Dokter Sinta.
Dokter Sinta mengulurkan sesuatu yang dari tadi ia genggam ditangannya.
"Tuan! Lihatlah!" Dokter Sinta memberikan sesuatu itu pada sekretaris Ang yang ternyata adalah sebuah alat Tes Pack yang baru ia pakai untuk mengecek urine milik Yuri.
Sekretaris Ang dengan ragu menerimanya, dengan hati berdebar memeriksa.
Sekretaris Ang reflek berdiri. Matanya membelalak lebar.
"Benarkah? Benarkah ini?"
Meloncat girang ketika sadar dengan apa yang dilihatnya itu.
Dua garis merah muda benar benar berada di alat itu!
____________________
__ADS_1
[ Mohon maaf atas keterlambatan Up. Saya lagi kena demam kakak! ]