
Masih ada sisa sisa tawa di bibir Mia dan Garra, sementara yang di depan rupanya tak kalah hebohnya dengan injak injakan kaki.
Akhirnya Yuri mengalah dan lebih memilih untuk diam, memojok di dekat pintu sambil menatap luar dengan wajah yang tertekuk tekuk.
Sekretaris Ang, memaki dalam hati. 'Puber.., puber! Ni adik ipar Tuan muda pasti lagi puber pertama.'
Kembali suasana hening. Mia ternyata sudah tertidur di pelukan Garra. Garra sendiri masih mencuri curi ciuman untuk istrinya.
Hingga sekretaris Ang membelokkan arah mobilnya memasuki sebuah komplek dengan menyebrangi rel kereta api.
Karena mobil tidak bisa lewat, akhirnya sekretaris Ang terpaksa memarkirkan mobil nya di depan sebuah rumah warga dengan meminta ijin pada pemiliknya dahulu sesaat sebelum Sekretaris Ang memarkirkan mobilnya.
Melihat Ang sudah berhenti , Yuri sempat terheran. Ia bisa mengenali tempat itu sebagai komplek kumuh dengan melihat situasi dan kondisi keadaan kompleknya.
Bertanya dalam hati, benarkah jika orang tuanya kini tinggal di situ?
Dengan ragu, Yuri turun dari mobil setelah sekretaris Ang mengintruksikan nya agar turun.
Garra pun mulai membangunkan Mia.
Mia mengusap wajah nya sambil masih menguap.
Lalu ikut turun setelah Garra membukakan pintu mobil untuk nya.
Baik Mia maupun Yuri sama sama memutar kepala mereka, menatap keadaan sekitar. Kumuh, dan berantakan sekali komplek itu.
"Bang Garra.. kenapa kita kemari? Apa Ayah kami tinggal di sini?"
"Entah lah." jawab Garra, menoleh pada Sekretaris Ang.
"Ang, apa kau yakin mereka ada di sini?" tanya Garra.
Sekretaris Ang mengangguk sambil menunjuk ke arah yang masih jauh di sana dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Saat saya mengikuti mereka tempo lalu, saya melihat mereka di sana.
Sedang menawar Kontrakan." jawab sekretaris Ang.
"Kita akan coba bertanya pada warga. Ayo kita kesana untuk memastikan nya." ucap Garra meraih tangan Mia dan menggenggam nya erat. Lalu membawanya berjalan mengikuti Sekretaris Ang dan Yuri yang sudah mendahului mereka.
__ADS_1
Setelah berjalan sekitar lima menitan, mereka berhenti di dekat kerumunan ibu ibu komplek yang sedang mengerumuni tukang sayur.
Para ibu ibu itu menoleh pada mereka, tersenyum ramah. Lalu berbisik bisik.
[ Pasti orang kaya mereka. Lihat saja penampilan nya.]
[ Iye Pok.. liat aja, yang laki pada ganteng, yang bini pada cantik, kinclong kinclong kaya artis.]
[ Iya orang kaya. Tu liat, mobil mereka di parkir di ujung sono. Mengkilap.]
[ Siapa mau kemana yak. ? Jangan jangan ini artis dari uang kaget. Lagi nyari mangsa. Aduh... mapan gue, mapan.!! Siapa tau gue yang beruntung kali ini.]
"Maaf, ibu ibu. Boleh numpang tanya?" Sekretaris Ang menyapa mereka.
Para ibu ibu itu langsung bersorak, melihat pria bening tampan hendak bertanya, rebutan menghampiri.
"Boleh donk bang, tanya aja. Mampir juga boleh kok kalau mau..!" jawab seorang emak emak ganjen sambil memelintir dasternya.
"Apa di sekitar sini ada pengontrak baru yang bernama Ibu Tiara dan bapak Gani Kuncoro?"
Seorang ibu ibu dari belakang emak emak tadi langsung angkat suara.
"Di tanya in malah ngegosip. Jawab aja kalau tau Pok...!" tegur teman nya itu.
"Eh, Maap bang. Tapi memang kok, anak perawan nya itu sok kecantikan. Jemur baju aja pakek Payung. Katanya takut item. Padahal mah, cantik Nona ini kemana mana." kembali nyinyir sambil menoleh pada Mia.
"Ibu tau Kontrakan nya di mana?" kali ini Mia yang bertanya dengan lembut.
"Noh.. di ujung sono Non. Pintu paling pinggir tuh." tunjuk ibu itu.
"Oh, baiklah. Kalau begitu terimakasih ya Bu?" ucap Sekretaris Ang.
"Sama sama bang. Tapi ngomong ngomong kalian ada perlu apa sih? Nagih utang ya? Memang orang itu banyak utang nya bang. Orang baru aja udah berani ngutang ke tukang sayur sampai numpuk!"
"Tidak Bu, kami adalah keluarga nya yang sedang mencari nya. Kemarin sempat ada masalah. Dan mereka meninggalkan rumah. Biasa lah. Masalah dengan anak nya. Kami datang untuk menjemput mereka." jelas sekretaris Ang, setelah itu segera mengajak mereka bergegas.
Para ibu ibu itu langsung berkumpul. Berbisik bisik lagi.
[ Ternyata mereka itu dari keluarga orang kaya? Pantas saja kelakuan mereka seperti orang kaya.]
__ADS_1
Mereka berempat terus berjalan , mendekati Kontrakan pintu nomor terakhir sesuai petunjuk ibu tadi.
Garra semakin mempererat genggaman tangan nya pada jari jemari Mia.
Sesaat mereka tertegun, setelah berhenti hanya dengan jarak beberapa meter dari kontrakan itu. Menatap keadaan kontrakan di depan mereka itu yang sangat tidak layak untuk ditinggali seorang keluarga Kuncoro. Ada rasa pedih di hati Mia dan Yuri. Terlihat dari kedua wanita itu saling melempar pandang , lalu mengusap titik air bening yang perlahan menetes ke pipi masing masing.
"Jangan begini Mia.? Kita akan segera menjemput mereka. Jangan bersedih lagi ys.??" Ucap Garra menoleh pada istrinya dan mengusap sisa air mata Mia yang masih ada di ujung matanya.
"Benarkah? Bang Garra berniat seperti itu?"
"Tentu Mia. Mereka juga kan sudah menjadi keluarga ku. Keluarga kita. Kita akan sama sama membantu mereka." jawab Garra. Mia sungguh terharu, lalu memeluk Garra.
"Terimakasih bang Garra.."
Garra tersenyum, mengangguk sambil mengelus kepala Mia.
Yuri yang melihat itu pun ikut terharu dengan kebaikan Garra, tak sadar tangan nya meraih dan memegang erat lengan Sekretaris Ang.
"Sungguh pasangan yang luar biasa. Bukan hanya romantis, tapi sama sama baik dan tulus!" Yuri merobohkan kepalanya di pundak Ang.
"Tuan, bisakah anda menenangkan Hati saya yang sedang sesak ini? Pemandangan itu sungguh membuat ku tak tahan menahan haru." ratap Yuri.
"Tentu saja. Sini aku tenangkan." jawab Sekretaris Ang, menunduk pelan mencopot sepatunya.
"Aaa.. ampun Tuan ampun.!! Saya kan cuma bercanda." jerit Yuri segera menggeser jauh kakinya, ketika melihat Sekretaris Ang sudah siap dengan sepatu di tangan nya.
"Dasar! Carper si bocah.." gumam sekretaris Ang, menebah bahu nya bekas sandaran kepala Yuri.
"Huh, es batu. Lihat saja kau ya, setelah ini kau akan mengekor di belakang ku." Seru Yuri, berlari ke sisi Mia , mencari perlindungan.
Mia dan Garra lagi lagi hanya bisa terkekeh melihat tingkah Mereka berdua.
'Jomblo abadi Vs Little girl. Cocok! Bakalan berantem terus...!' batin Garra.
Lama mereka di situ, saat Mia ingin melangkah ke pintu, pintu di buka seseorang. Tiara muncul dengan berbalut daster kumel, rambut acakan acakan di Gelung tinggi ke atas. Mata cekung dan badan yang terlihat kurus.
Sesaat Tiara bengong menatap mereka, hingga akhirnya menjerit kuat.
"Mia... !! Yuri...!!" Sangat kuat sampai Gani Kuncoro dan Jihan ikut lari keluar pintu bersamaan.
__ADS_1
________________.